“ Akan kutunjukkan bukti bahwa dirimu memang cantik dan banyak pria mengincarmu disini, saat ini" bisik Ash seraya tersenyum licik padaku.
Belum sempat aku mempertanyakan maksudnya Ash sudah menundukkan wajahnya untuk mencium bibirku. Awalnya hanya berupa kecupan manis, namun semakin lama terdapat gairah didalamnya dan tubuhku mulai memanas. Kutangkupkan wajahnya dengan kedua tanganku, membiarkan lidah kami saling bertemu, kedua tangan kokohnya mengunci punggungku kokoh, saat tubuh kami mulai bergesekan kesadaranku kembali sepenuhnya.
Kulepaskan diriku darinya, badanku seperti ditempa diatas batu bara oleh tukang besi, terengah-engah kualihkan pandangan menatap sekitar, kurasakan pipiku berubah menjadi kepiting rebus saat menyadari semua mata disekitar kami didalam alun-alun kota terfokus pada kami. Pupil mereka melebar, beberapa diantaranya tersenyum, cukup banyak gadis dan pemuda baik lajang maupun berpasangan memandang cemburu ke arah kami, tapi tak sedikit yang menatap kami cukup jijik. Anehnya, aku tak peduli.
“ Dia kekasihku.....” kalimat yang keluar dari mulut Ash terdengar biasa tapi cukup lantang.
Aku terkejut seraya menyikut sikunya sambil membisikkan namanya. Malu. Sayangnya Ash mengabaikanku.
“ DIA KEKASIHKU! KAMI AKAN SEGERA MENIKAH!!” Jeritnya lantang seraya meninju udara dan menengadahkan kepalanya keatas cerahnya awan berbintang di malam berbintang hari ini.
Seperti dalam kisah-kisah film, Ash berlari memutari seperti orang gila kemudian memegangi kakiku dengan kedua tangannya dan mengangkatku tinggi-tinggi. Kangguru didalam perutku seakan terlempar hingga ke tenggorokan, perasaan ini sungguh mengasyikkan! Campuran terbang serta phobia!
Seseorang bertepuk tangan terlebih dulu kemudian diikuti gema tepukan serta seruan penyemangat kepada kami, gelegak tawa serta kebahagiaan dari Ash menyebar cepat memenuhi sekitar kami. Saat diturunkan kembali ke tanah, rambut coklat ikal sepunggungku berantakan akibat angin, memenuhi wajah hatiku. Seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“ Kita memang perlu menunjukkan sebetapa besar rasa cinta kepada pasangan” suara merdu Yuki muncul dari belakang kami.
Gadis itu tampak sangat manis dalam busana Yukata hijau muda, rambutnya di kuncir kuda kali ini. Disebelahnya, berdiri wanita cantik berumur pertengahan kepala empat serta pria diawal umur limapuluhan. Aku mengenali mereka didalam foto berpigura dari penginaan. Dan Yuki memperkenalkannya sebagai Kisaki Hana dan Matsuo Shiginuchi, pemilik tempat kami menginap. Mereka sama-sama memakai yukata warna sama dengan putri mereka hanya saja milik Kisaki lebih banyak aksen bunga bakungnya.
“ Well, aku belajar dari pakarnya” jawab Ash ramah. Dan kuperhatikan kerumunan yang mengerubuti kami mulai memudar.
“ Pemuda nekad yang beruntung, pacarmu sangat cantik” kata Matsuo terang-terangan, mengerling nakal padaku.
Ash tertawa sementara pipiku memanas. “ Trims, ...eh, Sir...” jawabku lirih.
“Jangan ganggu pasangan ini lagi. Kurasa mereka ingin melakukan banyakkk hal malam ini” Kisaki tersenyum lebar kemudian memberi isyarat pada suaminya dengan tangan.
“ Selamat bersenang-senang para pendatang, semoga kalian beruntung malam ini” goda Matsuo dan kami semua terbahak.
Kami memandangi kepergian keluarga Shiginuchi. Tanganku bergelayutan pada lengan kokoh Ash dengan manja, sementara matanya tak bisa lepas dariku sedetikpun, kami tak ubahnya seperti remaja dimabuk cinta. Tertawa, saling melemparkan lelucon, ditambah sedikit ciuman.
Kurasakan tatapan iri para perempuan menghujamiku, bukannya terganggu aku malah berjalan dengan d**a membusung merasa bangga. Pacarku memang sangat tampan malam ini. Dia hanya mengganti atasannya dengan kaus hitam ketat pas badan dan rambutnya gelapnya berantakan, namun bagiku disitulah letak daya tariknya. Sementara aku sendiri memakai halter neck merah berbahan rajut lengan pendek pas badan yang di pilihkan sendiri olehnya. Aku suka baju ini, memperlihatkan lekuk tubuhku dengan sempurna tanpa berlebihan. Anggun sekaligus seksi disaat bersamaan. Celanaku sudah kuganti model pensil berwarna abu-abu gelap, dipadu sepasang boot hitam. SEMPURNA.
Kami berdua begitu menikmati malam ini. Mendatangi setiap stand permainan, Ash memperlihatkan kemampuannya padaku, dibuktikan dengan banyaknya hadiah yang kami dapatkan, dan favoritku adalah boneka panda raksasa hadiah kemenangannya di stand ‘menembak-mendapatkan’, dimana dia berhasil menembak tiga lusin gelas dalam waktu 1 menit. Menaiki semua alat bermain, ferris heels, roaller coaster, kuda poni, hingga permainan tembak-tembakkan. Tak lupa kami mengabadikan tiap detik kejadian malam ini didalam kamera.
Secara keseluruhan Festival Red Dawn patut mendapat acungan dua jempol. Alun-alunnya memang tak luas namun kerapian penataan stand dan lokasi, konsep acara, hingga keamanannya membuat pengunjung merasa nyaman. Tak heran dalam waktu beberapa jam tempat festival sudah dibanjiri oleh turis dan warga lokal.
Dekorasinya diatur sedemikian rupa sesuai julukan acaranya.Dipintu masuk alun-alun dipasang gapura buatan dari sterofoam dihiasi aneka rangkaian bunga cantik, beragam bunga ditata melingkari sepanjang tepian alun-alun menjadi semacam pembatas. Aneka lampu taman warna-warni dipasang menggantung pada sekat-sekat kayu diatas kami. Sekumpulan bunga beda jenis satu warna menjadi pembatas tiap beda area. Jika dilihat melalui teleskop dikejauhan tempat ini mirip bunga anggrek raksasa bercahaya aneka warna.
Sebuah area kosong dan cukup luas dipersiapkan ditengah alun-alun. Terdapat tumpukan kayu serta obor yang mengelilingi tempat itu. Dari omongan masyarakat sekitar disanalah acara api unggun akan diselenggarakan tepat pukul 21.00 malam. Akan ada acara menyanyi dan menari mengelilingi api unggun sambil saling berpegangan tangan hingga batas waktu tak ditentukan.
Aku sedang membeli kembang kapas ketika kulihat Ash membagikan secara adil seluruh hadiah permainan yang kami menangkan kepada sekelompok anak kecil warga lokal yang mendatanginya. Nyaris semua, kecuali boneka panda itu.
“ Kamu tidak marah kan?” tanyanya, saat aku duduk disampingnya sambil menyerahkan kembang kapas untuknya. Kami berdua duduk diatas kursi kayu panjang yang memang disiapkan untuk area makanan.
“ Mungkin, kalau kamu juga memberikan itu pada mereka” menunjuk boneka panda raksasa didalam plastik besar pada genggaman tangan kirinya. Menampakkan wajah sok cemberut.
Ash menyeringai, mencubit pipiku. “ Hentikan melakukan itu. Atau akan kugigit pipimu sebagai gantinya kembang gula ini”
Kucebik lengannya, tawa lepas kami menghambur diudara. Kami berlomba menghabiskan kembang gula kapas, yang kalah harus menuruti semua keinginan si pemenang. Dan hasilnya, tentu saja kejuaraan ini dimenangkan olehku. DUARR!!!...
Terdengar bunyi ledakan di angkasa dari belakangku. Kami berdiri, membalikkan tubuh, berikutnya tiga kembang api diluncurkan secara berbarengan. Sontak semua pengunjung didalam festival menghentikan segala aktifitasnya.Kepala kami kompak menatap langit, semuanya dibuat terpesona oleh keindahan kembang api warna-warni yang membentuk gambaran bunga-bunga raksasa. Seakan Tuhan tengah menjatuhkan hujan bunga untuk umatnya.
Kurasakan tangan Ash mengencang diatas bahuku, kualihkan wajahku menatapnya. Dia sama anak kecilnya denganku sekarang. Kemudian, sekelebat keinginan masa lalu kembali muncul didalam benakku. Kupandangi langit, kutunggu moment yang tepat.
“ Ash” bisikku sembari berjinjit. Pemuda itu akhirnya memandangku. Dan ketika itulah. “ Aku mencintaimu” teriakku keras. Sambil berjinjit, kurangkulkan kedua lenganku pada lehernya, dan sebuah ciuman terhebat yang bisa kulakukan, kuberikan untuknya.
Sangat dalam. Begitu berat. Terasa indah. Perasaanku ini adalah hal nyata.
Puluhan hingga ratusan kembang api yang melesat dan meledak memenuhi indra pendengaranku. Jeritan, pekikan, kegembiraan. Mungkin inilah rasanya Surga. Surga adalah suatu kondisi.
Aku tidak ingat siapa yang menyampaikan pemikiran ini padaku, tapi tak masalah karena sekarang aku bisa membuktikan hipotesis orang itu, benar.
Suara genderang ditabuh menyadarkanku dan Ash ke alam sadar. Pelan-pelan kami saling melepaskan diri meskipun masih berpelukan. Hawa panas menguar dari tubuh kami. Terengah-engah, tawa meledak diantara kami.
“ Api unggunnya akan dimulai!” jerit seseorang dari atas podium area tengah.
Dalam sekejab keramaian berubah menjadi kericuhan. Semua orang beradu lari, berlomba mencapai tempat paling awal.Ash menyeringai nakal padaku. Tanpa meminta ijinku dia menggendongku kedalam pelukannya, berlomba bersama warga lain.
Ash menurunkanku diarea api unggun, kami berhasil mendapat tempat terdepan, jarak antara kayu bakar dan tubuhku tak lebih dari enam meter. Warga yang berbondong-bondong datang mulai membentuk lingkaran rapat hingga tercipta duabela baris lingkaran besar mirip cincin tata surya.
Seorang pria berumur awal kepala lima,berambut pirang platinum, dengan tinggi rata-rata dan berperawakan ramping dalam balutan setelan jas merah mahal, berdiri didepan api unggun menghadap kearah kami semua, obor ditangan kanannya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Henry Mc’caville, Walikota Red Dawn. Melakukan pidato pembukaan singkat disertai ucapan terimakasih atas terwujudnya acara tahunan Festival Red Dawn Fire, dan partisipasi warga baik sebagai panitia, pengisi acara maupun tamu. Inti acara pun dimulai.
Walikota Henry meminta kami saling berpegangan tangan satu sama lain. Tangan kananku menggenggam erat tangan kokoh Ash, tapi yang mengejutkanku adalah keberadaan Yuki disamping kiriku. Disamping kanannya ada kedua Orang Tuanya, saling berpegangan. Aku tertawa sekali saat dia menggodaku.
Alunan harpa dan terompet yang dimainkan anak-anak berkumandang di udara. Umur mereka boleh dibawah rata-rata, namun kemahiran mereka dalam bermusik tak perlu di ragukan lagi. Aku kagum pada anak kecil yang sudah pandai memainkan alat musik sejak usia dini. Mengingat saat masih kanak-kanak aku tak tertarik pada satupun kegiatan berbau seni kecuali bermain tenis nyaris sepanjang waktu.
Walikota Henry mulai menyulutkan obor kearah kayu, dalam beberapa kedipan mata si jago merah sudah menjalar melingkar kemudian, mulut mereka melahap cepat bagian tepi kayu. Beberapa anak kecil berumur maju didekat si Walikota dalam busana bermotif bunga aneka warna, mereka mulai menyanyikan hymne lagu Red Dawn diikuti seluruh warga kota. Aku baru menyadari betapa lagu serta musiknya sangat kental akan nuansa budaya Iris. Jika dugaanku benar, besar kemungkinan kota ini ada karena pengaruh bangsa Irlandia.
Liriknya mudah dihafal dan diikuti, musiknya juga begitu menceriakan hati. Dalam sekejab aku dan Ash bersama para turis sudah terhanyut, mengikuti. Kami menari mengikuti alunan musik, satu kaki diangkat sementara yang lain bergerak melompat, tangan terkait kami digerakkan bersama-sama dalam satu kesatuan, bergerak kekiri, kanan dan depan. Menyerupai lingkaran gasing berputar. Hymne terus diulang, kami menari dan tertawa bersama, tak ada kepedihan hanya rasa bahagia.
Inilah hidup yang kuinginkan. Kujalani serta kupilih tanpa penyesalan.
Saat Hymne selesai kami berhenti ditempat, terengah-engah dan berkeringat, tapi terlalu gembira untuk bisa merasakan panas menyengat. Kemudian Walikota Henry bertepuk tangan seraya meneriakkan kalimat.
“ Selamat bersenang-senang semuanya. Nikmati Pesta ini tanpa batas waktu tapi tetap dengan bertanggung jawab” sang Walikota kemudian mengerling pada kami semua, yang dibalas oleh tawa.
Walikota Henry berbaur bersama kerumunan saat sebuah lagu menggema dari player melalui audio–stereo. Iramanya lembut, musiknya menenangkan. Ini lagu kesukaanku dari penyanyi peraih nominasi Grammy favoritku. Ed Sheeran.
Mendadak lapangan berumput berubah menjadi lantai dansa, tak ada penerangan selain cahaya dari api unggun yang tengah berkobar. Tua-muda, anak kecil-Orang tua, para kekasih, saling berpasang-pasangan mulai menggerakan tubuh mereka perlahan.
‘ Settle down with me, cover me up, cuddle me in’
Ash mengulurkan satu tangannya padaku, senyumnya tulus menghiasi ‘ Lie down with me, and hold me in your arms’
Kuterima uluran tangannya, tangan kirinya memeluk punggungku erat, sementara tangan satunya mengenggam satu tanganku yang bebas, dan tangan kiriku berada diatas pundaknya.
‘ And your heart’s again my chest, your lips pressed to my neck. Im falling for your eyes, but they dont know me yet’
Irama tubuh kami begitu kompak, perasaan hangat menyelimutiku, dadaku membun-cah oleh kebahagiaan
‘ And with feeling I’ll forget, I’m in love now’
Kusandarkan kepalaku pada bahu kanannya, dia begitu harum, sangat lembut. Aku mabuk olehnya.
‘ Kiss me like you wanna be loved, you wanna be loved, you wanna be loved’
Ash berhenti mendadak, aku menengadah bersiap memprotes. Namun hanya kutemukan dua cahaya bintang serta seluruh gambar wajahnya didalam retinaku. Meski dia tidak mengucapkan ribuan kalimat cinta, tapi aku tahu kedalaman perasaannya.
‘ This feels like falling in love, falling in love, were falling in love’
Saat Ash menundukkan kepalanya, mataku siap menerima dirinya. Kemudian ledakan kembang api terhebat terjadi didalam kepalaku. Lagi.