FESTIVAL

1745 Kata
“ Akan  kutunjukkan  bukti bahwa dirimu  memang cantik dan banyak  pria mengincarmu disini, saat  ini" bisik Ash seraya tersenyum  licik padaku.      Belum  sempat aku  mempertanyakan  maksudnya Ash sudah  menundukkan wajahnya untuk  mencium bibirku. Awalnya hanya  berupa kecupan manis, namun semakin  lama terdapat gairah didalamnya dan tubuhku  mulai memanas. Kutangkupkan wajahnya dengan kedua  tanganku, membiarkan lidah kami saling bertemu, kedua  tangan kokohnya mengunci punggungku kokoh, saat tubuh kami  mulai bergesekan kesadaranku kembali sepenuhnya.      Kulepaskan  diriku darinya, badanku  seperti ditempa diatas batu  bara oleh tukang besi, terengah-engah  kualihkan pandangan menatap sekitar, kurasakan  pipiku berubah menjadi kepiting rebus saat menyadari  semua mata disekitar kami didalam alun-alun kota terfokus  pada kami. Pupil mereka melebar, beberapa diantaranya tersenyum, cukup  banyak gadis dan pemuda baik lajang maupun berpasangan memandang cemburu  ke arah kami, tapi tak sedikit yang menatap kami cukup jijik. Anehnya, aku  tak peduli.      “ Dia  kekasihku.....” kalimat  yang keluar dari mulut  Ash terdengar biasa tapi  cukup lantang.       Aku  terkejut  seraya menyikut  sikunya sambil membisikkan  namanya. Malu. Sayangnya Ash  mengabaikanku.      “ DIA  KEKASIHKU! KAMI  AKAN SEGERA MENIKAH!!” Jeritnya  lantang seraya meninju udara dan  menengadahkan kepalanya keatas cerahnya  awan berbintang di malam berbintang hari  ini.      Seperti  dalam kisah-kisah  film, Ash berlari memutari  seperti orang gila kemudian  memegangi kakiku dengan kedua  tangannya dan mengangkatku tinggi-tinggi. Kangguru  didalam perutku seakan terlempar hingga ke tenggorokan, perasaan  ini sungguh mengasyikkan! Campuran terbang serta phobia!      Seseorang  bertepuk tangan  terlebih dulu kemudian  diikuti gema tepukan serta  seruan penyemangat kepada kami, gelegak  tawa serta kebahagiaan dari Ash menyebar  cepat memenuhi sekitar kami. Saat diturunkan  kembali ke tanah, rambut coklat ikal sepunggungku  berantakan akibat angin, memenuhi wajah hatiku. Seseorang  menepuk pundakku dari belakang.      “ Kita  memang perlu  menunjukkan sebetapa  besar rasa cinta kepada  pasangan” suara merdu Yuki  muncul dari belakang kami.      Gadis  itu tampak  sangat manis  dalam busana Yukata  hijau muda, rambutnya di kuncir  kuda kali ini. Disebelahnya, berdiri  wanita cantik berumur pertengahan kepala empat serta  pria diawal umur limapuluhan. Aku mengenali mereka didalam  foto berpigura dari penginaan. Dan Yuki memperkenalkannya sebagai  Kisaki Hana dan Matsuo Shiginuchi, pemilik tempat kami menginap. Mereka  sama-sama memakai yukata warna sama dengan putri mereka hanya saja milik  Kisaki lebih banyak aksen bunga bakungnya.       “ Well, aku  belajar  dari pakarnya” jawab  Ash ramah. Dan kuperhatikan  kerumunan yang mengerubuti kami  mulai memudar.      “ Pemuda  nekad yang  beruntung, pacarmu  sangat cantik” kata  Matsuo terang-terangan, mengerling  nakal padaku.      Ash  tertawa  sementara  pipiku memanas. “ Trims, ...eh, Sir...” jawabku  lirih.      “Jangan  ganggu pasangan  ini lagi. Kurasa mereka  ingin melakukan  banyakkk hal  malam  ini” Kisaki  tersenyum lebar  kemudian memberi isyarat  pada suaminya dengan tangan.      “ Selamat  bersenang-senang  para  pendatang, semoga  kalian beruntung  malam ini” goda Matsuo  dan kami semua terbahak.         Kami  memandangi  kepergian keluarga  Shiginuchi. Tanganku bergelayutan  pada lengan kokoh Ash dengan manja, sementara  matanya tak bisa lepas dariku sedetikpun, kami tak  ubahnya seperti remaja dimabuk cinta. Tertawa, saling melemparkan  lelucon, ditambah sedikit ciuman.       Kurasakan  tatapan iri  para perempuan  menghujamiku, bukannya  terganggu aku malah berjalan  dengan d**a membusung merasa bangga. Pacarku  memang sangat tampan malam ini. Dia hanya mengganti  atasannya dengan kaus hitam ketat pas badan dan rambutnya  gelapnya berantakan, namun bagiku disitulah letak daya tariknya. Sementara  aku sendiri memakai halter neck merah berbahan rajut lengan pendek pas badan  yang di pilihkan sendiri olehnya. Aku suka baju ini, memperlihatkan lekuk tubuhku  dengan sempurna tanpa berlebihan. Anggun sekaligus seksi disaat bersamaan. Celanaku sudah kuganti model pensil  berwarna abu-abu gelap, dipadu sepasang boot hitam. SEMPURNA.      Kami  berdua  begitu menikmati  malam ini. Mendatangi  setiap stand permainan, Ash memperlihatkan  kemampuannya padaku, dibuktikan dengan banyaknya  hadiah yang kami dapatkan, dan favoritku adalah boneka  panda raksasa hadiah kemenangannya di stand ‘menembak-mendapatkan’, dimana  dia berhasil menembak tiga lusin gelas dalam waktu 1 menit. Menaiki semua  alat bermain, ferris  heels, roaller  coaster, kuda  poni, hingga  permainan tembak-tembakkan. Tak  lupa kami mengabadikan tiap detik  kejadian malam ini didalam kamera.      Secara  keseluruhan  Festival Red  Dawn  patut  mendapat  acungan dua  jempol. Alun-alunnya memang  tak luas namun kerapian penataan  stand dan lokasi, konsep acara, hingga keamanannya membuat  pengunjung merasa nyaman. Tak heran dalam waktu beberapa  jam tempat festival sudah dibanjiri oleh turis dan warga  lokal.       Dekorasinya  diatur sedemikian  rupa sesuai julukan  acaranya.Dipintu masuk alun-alun  dipasang gapura buatan dari sterofoam  dihiasi aneka rangkaian bunga cantik, beragam bunga  ditata melingkari sepanjang tepian alun-alun menjadi  semacam pembatas. Aneka lampu taman warna-warni dipasang  menggantung pada sekat-sekat kayu diatas kami. Sekumpulan bunga  beda jenis satu warna menjadi pembatas tiap beda area. Jika dilihat melalui  teleskop dikejauhan tempat ini mirip bunga anggrek raksasa bercahaya aneka warna.       Sebuah  area kosong  dan cukup luas  dipersiapkan ditengah  alun-alun. Terdapat tumpukan  kayu serta obor yang mengelilingi  tempat itu. Dari omongan masyarakat sekitar  disanalah acara api unggun akan diselenggarakan  tepat pukul 21.00 malam. Akan ada acara menyanyi dan  menari mengelilingi api unggun sambil saling berpegangan tangan  hingga batas waktu tak ditentukan.      Aku  sedang  membeli kembang  kapas ketika kulihat  Ash membagikan secara adil  seluruh hadiah permainan yang  kami menangkan kepada sekelompok  anak kecil warga lokal yang mendatanginya. Nyaris  semua, kecuali boneka panda itu.      “ Kamu  tidak marah  kan?” tanyanya, saat  aku duduk disampingnya  sambil menyerahkan kembang  kapas untuknya. Kami berdua  duduk diatas kursi kayu panjang  yang memang disiapkan untuk area makanan.      “ Mungkin, kalau  kamu juga memberikan  itu pada mereka” menunjuk  boneka panda raksasa didalam  plastik besar pada genggaman tangan  kirinya. Menampakkan wajah sok cemberut.      Ash  menyeringai, mencubit  pipiku. “ Hentikan melakukan  itu. Atau akan kugigit pipimu  sebagai gantinya kembang gula ini”      Kucebik  lengannya, tawa  lepas kami menghambur  diudara. Kami berlomba menghabiskan  kembang gula kapas, yang kalah harus  menuruti semua keinginan si pemenang. Dan  hasilnya, tentu saja kejuaraan  ini  dimenangkan  olehku. DUARR!!!...      Terdengar  bunyi ledakan  di angkasa dari  belakangku. Kami berdiri, membalikkan  tubuh, berikutnya tiga kembang api diluncurkan  secara berbarengan. Sontak semua pengunjung didalam  festival menghentikan segala aktifitasnya.Kepala kami  kompak menatap langit, semuanya dibuat terpesona oleh keindahan  kembang api warna-warni yang membentuk gambaran bunga-bunga raksasa. Seakan  Tuhan tengah menjatuhkan hujan bunga untuk umatnya.       Kurasakan  tangan Ash  mengencang diatas  bahuku, kualihkan wajahku  menatapnya. Dia sama anak  kecilnya  denganku  sekarang. Kemudian, sekelebat  keinginan masa lalu kembali muncul  didalam benakku. Kupandangi langit, kutunggu  moment yang tepat.      “ Ash” bisikku  sembari berjinjit. Pemuda  itu akhirnya memandangku. Dan  ketika itulah. “ Aku mencintaimu”  teriakku keras. Sambil berjinjit, kurangkulkan  kedua lenganku pada lehernya, dan sebuah ciuman  terhebat yang bisa kulakukan, kuberikan untuknya.      Sangat  dalam. Begitu  berat. Terasa indah. Perasaanku  ini adalah hal nyata.      Puluhan  hingga ratusan  kembang api yang  melesat dan meledak  memenuhi indra pendengaranku. Jeritan, pekikan, kegembiraan. Mungkin  inilah rasanya Surga. Surga  adalah suatu  kondisi.      Aku  tidak  ingat siapa  yang menyampaikan  pemikiran ini padaku, tapi  tak masalah karena sekarang  aku bisa membuktikan hipotesis  orang itu, benar.      Suara  genderang  ditabuh menyadarkanku  dan Ash ke alam sadar. Pelan-pelan  kami saling melepaskan diri meskipun  masih berpelukan. Hawa panas menguar dari  tubuh kami. Terengah-engah, tawa meledak diantara  kami.       “ Api  unggunnya  akan dimulai!” jerit  seseorang dari atas podium  area tengah.      Dalam  sekejab  keramaian  berubah menjadi  kericuhan. Semua orang  beradu lari, berlomba mencapai  tempat paling awal.Ash menyeringai  nakal padaku. Tanpa meminta ijinku dia  menggendongku kedalam pelukannya, berlomba  bersama warga lain.      Ash menurunkanku  diarea api unggun, kami  berhasil mendapat tempat terdepan, jarak  antara kayu bakar dan tubuhku tak lebih  dari enam meter. Warga yang berbondong-bondong  datang mulai membentuk lingkaran rapat hingga  tercipta duabela baris lingkaran besar mirip cincin  tata surya.       Seorang  pria berumur  awal kepala lima,berambut  pirang platinum, dengan tinggi  rata-rata dan berperawakan ramping  dalam balutan setelan jas merah mahal, berdiri  didepan api unggun menghadap kearah kami semua, obor  ditangan kanannya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Henry  Mc’caville, Walikota Red Dawn. Melakukan pidato pembukaan singkat  disertai ucapan terimakasih atas terwujudnya acara tahunan Festival  Red Dawn Fire, dan  partisipasi  warga baik sebagai  panitia, pengisi acara  maupun tamu. Inti acara  pun dimulai.      Walikota  Henry meminta  kami saling berpegangan  tangan satu sama lain. Tangan  kananku menggenggam erat tangan  kokoh Ash, tapi yang mengejutkanku  adalah keberadaan Yuki disamping kiriku. Disamping  kanannya ada kedua Orang Tuanya, saling berpegangan. Aku  tertawa sekali saat dia menggodaku.       Alunan  harpa dan  terompet yang  dimainkan anak-anak  berkumandang di udara. Umur  mereka boleh dibawah rata-rata, namun  kemahiran mereka dalam bermusik tak perlu  di ragukan lagi. Aku kagum pada anak kecil yang  sudah pandai memainkan alat musik sejak usia dini. Mengingat  saat masih kanak-kanak aku tak tertarik pada satupun kegiatan  berbau seni kecuali bermain tenis nyaris sepanjang waktu.       Walikota  Henry mulai  menyulutkan obor  kearah kayu, dalam  beberapa kedipan mata  si jago merah sudah menjalar  melingkar kemudian, mulut mereka  melahap cepat bagian tepi kayu. Beberapa  anak kecil berumur maju didekat si Walikota  dalam busana bermotif bunga aneka warna, mereka  mulai menyanyikan hymne  lagu  Red  Dawn  diikuti  seluruh warga  kota. Aku baru menyadari  betapa lagu serta musiknya  sangat kental akan nuansa budaya  Iris. Jika  dugaanku  benar, besar  kemungkinan kota  ini ada karena pengaruh  bangsa Irlandia.      Liriknya  mudah dihafal  dan diikuti, musiknya  juga begitu menceriakan  hati. Dalam sekejab aku dan  Ash bersama para turis sudah  terhanyut, mengikuti. Kami menari  mengikuti alunan musik, satu kaki  diangkat sementara yang lain bergerak  melompat, tangan terkait kami digerakkan  bersama-sama dalam satu kesatuan, bergerak  kekiri, kanan dan depan. Menyerupai lingkaran  gasing berputar. Hymne terus diulang, kami menari  dan tertawa bersama, tak ada kepedihan hanya rasa  bahagia.      Inilah  hidup yang  kuinginkan. Kujalani  serta kupilih tanpa penyesalan.      Saat  Hymne selesai  kami berhenti ditempat, terengah-engah  dan berkeringat, tapi terlalu gembira untuk  bisa merasakan panas menyengat. Kemudian Walikota  Henry bertepuk tangan seraya meneriakkan kalimat.       “ Selamat  bersenang-senang  semuanya. Nikmati Pesta  ini tanpa batas waktu tapi  tetap dengan bertanggung jawab” sang  Walikota kemudian mengerling pada kami  semua, yang dibalas oleh tawa.      Walikota  Henry berbaur  bersama kerumunan  saat sebuah lagu menggema  dari player melalui audio–stereo. Iramanya  lembut, musiknya menenangkan. Ini lagu kesukaanku  dari penyanyi peraih nominasi Grammy favoritku. Ed  Sheeran.       Mendadak  lapangan berumput  berubah menjadi lantai  dansa, tak ada penerangan  selain cahaya dari api unggun  yang tengah berkobar. Tua-muda, anak  kecil-Orang tua, para kekasih, saling berpasang-pasangan  mulai menggerakan tubuh mereka perlahan. ‘ Settle  down with  me, cover me  up, cuddle me in’      Ash  mengulurkan  satu tangannya  padaku, senyumnya  tulus menghiasi ‘ Lie  down with  me, and hold  me in your arms’      Kuterima  uluran tangannya, tangan  kirinya memeluk punggungku  erat, sementara tangan satunya  mengenggam satu tanganku yang bebas, dan  tangan kiriku berada diatas pundaknya.       ‘ And  your heart’s  again my chest, your  lips pressed to my neck. Im  falling for your eyes, but they  dont know me yet’      Irama  tubuh kami  begitu kompak, perasaan  hangat menyelimutiku, dadaku  membun-cah oleh kebahagiaan     ‘ And  with feeling  I’ll forget, I’m  in  love  now’      Kusandarkan  kepalaku pada  bahu kanannya, dia  begitu harum, sangat  lembut. Aku mabuk olehnya.      ‘ Kiss  me like  you wanna  be loved, you  wanna be loved, you  wanna be loved’      Ash  berhenti  mendadak, aku  menengadah bersiap  memprotes. Namun hanya  kutemukan dua cahaya bintang  serta seluruh gambar wajahnya didalam  retinaku. Meski dia tidak mengucapkan ribuan  kalimat cinta, tapi aku tahu kedalaman perasaannya. ‘ This  feels like  falling in love, falling  in love, were falling in love’      Saat  Ash menundukkan  kepalanya, mataku siap  menerima dirinya. Kemudian  ledakan kembang api terhebat  terjadi didalam kepalaku. Lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN