Bogem mentah yang dilayangkan oleh Damar berhenti tepat di depan wajah rekan kerja yang mengejeknya. Rahang Damar mengerat, serta giginya gemeretak. Namun, pada akhirnya Damar berhasil menguasai amarahnya yang sudah meledak-ledak. Bayangan wajah keluarganya terlintas begitu saja dalam benaknya seakan menahan kepalan tangan Damar. Orang-orang di sekitar Damar langsung menarik Damar mundur. Sedangkan rekan kerja yang mengejeknya itu tampak mematung dengan mata terbelalak. Tak bisa berkata-kata melihat Damar yang biasanya selalu sabar menghadapi mereka kini malah menunjukkan perlawanan. “Damar!” Intan sontak berlari dan memeluk Damar dari belakang. Kehangatan dari pelukan Intan mampu melenyapkan segala amarah dalam diri Damar. Akan tetapi Damar tak ingin terbuai. Pria itu melonggarkan pelu

