Masih dalam suasana yang mengharu biru antara Damar dengan keluarganya, tiba-tiba Gibran seperti biasa main muncul dan bersandar di ambang pintu kamar Damar. “Eh, ada Neng Aruni!” sapa Gibran pada adiknya Damar. Melihat ada orang lain di sekitarnya, sontak saja Aruni langsung menyeka air matanya dan menyembunyikan wajahnya. “Loh, kok pada nangis? Ada apa ini, Mar?” tanya Gibran kebingungan. “Mereka kangen banget sama saya, Gib, makanya mereka nangis. Apalagi kata si Ambu dia khawatir kalau saya tinggal di satu tempat kost sama kamu. Benar begitu kan, Ambu?” Damar menggoda Gibran dan meminta pembenaran pada ambunya. Ibu Utari menepuk lengan Damar. Wanita itu juga kemudian menyeka wajahnya yang masih basah dengan air mata lalu menghampiri Gibran. “Nak Gibran, terima kasih ya sudah menj

