Kaos oblong, kemeja biru kotak-kotak lengan pendek serta celana jeans biru dongker kini sudah melekat di tubuh Damar. Rambut yang masih setengah basah disisir olehnya, dibuat belahan di pinggirnya dan sedikit dibuat naik pada tengah rambutnya. Damar memindai wajahnya dari pantulan cermin kecil ukuran saku milik adik perempuannya yang tidak sengaja terbawa olehnya ke Jakarta.
“Mar, sudah rapi?” Gibran tiba-tiba membuka pintu kamar Damar.
“Sudah. Ada apa?” Damar menanyakan keperluan Gibran.
Gibran pun menjawab, “Gue mau pergi, kebetulan lewat kampus lo. Mau sekalian bareng nggak?”
“Eh, boleh atuh. Nanti saya turun di depan kampus ya,” sahut Damar.
“Ya sudah ayo cepat!” seru Gibran seraya menjauh dari pintu kamar Damar.
Damar pun segera menyambar tas ransel berisi buku-buku pelajarannya. Dia tergesa keluar kamar. Tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya. Meski tidak ada barang berharga tetap saja kamar itu adalah tempat ia tinggal dan harus memiliki privasi. Kemudian dia menyusul Gibran yang berjalan di depannya.
Dengan diboncengi oleh Gibran, Damar bisa menghemat ongkos beberapa ribu rupiah untuk tiba di kampus. Setidak uang itu bisa digunakannya membeli sesuatu untuk mengganjal perutnya saat makan siang.
“Gib, terima kasih ya sudah mau antar saya ke kampus,” kata Damar saat menuruni motor Gibran.
“Nggak perlu makasih gitu, Mar. Kan gue sekalian mau pergi juga,” balas Gibran.
“Saya masuk ya, Gib. Kamu hati-hati di jalan.” Damar melambaikan tangannya pada Gibran. Lalu Gibran pun melajukan motornya pergi dari hadapan Damar.
Damar melangkahkan kedua kakinya memasuki area universitas tempatnya menimba ilmu. Dari gerbang tadi ia masuk hingga ke fakultasnya ia harus berjalan sedikit jauh karena area perguruan tinggi yang luas. Hitung-hitung olahraga di pagi hari.
Dari arah belakang Aditya berlari cepat sambil sesekali menolehkan kepalanya ke belakang. Raut wajahnya tampak panik. Namun, saat dia melihat Damar di depannya, Aditya langsung menepuk bahunya dan menghentikan langkah kakinya.
“Damar!” sapa Aditya.
“Eh, kamu!” sahut Damar. “Kamu baru sampai juga, Dit?” tanyanya kemudian.
Aditya tampak membungkuk sambil memegangi kedua lututnya. Sejenak mengatur nafasnya yang terengah-engah.
“Kamu kenapa sampai kehabisan nafas begitu? Kamu lari datang ke kampus?” tanya Damar bingung.
“Iya, gue lari tadi. Takut telat,” jawab Aditya.
“Masih ada lima belas menit lagi, Dit. Tidak perlu buru-buru begitu. Hayuk masuk ke kelas bareng,” ajak Damar yang masih belum menaruh curiga apapun pada Aditya.
Keduanya kemudian berjalan bersama-sama. Pada kesempatan ini Aditya menanyakan kembali tentang pekerjaan yang akan diberikannya pada Damar.
“Hmm … Mar, lo jadi mau kerja sampingan?” tanya Aditya.
“Jadi, Dit!” jawab Damar cepat.
“Kalau begitu nanti sore pulang kuliah lo ikut gue ya. Gue nggak bawa motor, tapi tempat ketemuannya nggak jauh dari kampus kok.”
“Oke kalau begitu. Nanti sore saya ikut kamu.”
Damar yang belum mencari tahu pekerjaan sebenarnya yang akan diberikan oleh Aditya langsung menerima ajakan tersebut. Sementara Aditya tampak menahan senyumnya. Ada hal lain yang direncanakan oleh Aditya.
Pagi hingga sore Damar melewatinya hanya dengan belajar, belajar, dan belajar. Saat makan siang dia hanya membeli semangkuk mie rebus di warung kopi dan minum segelas air putih hangat untuk menghemat pengeluaran. Bagi Damar perutnya bisa terganjal hingga makan malam nanti.
Jam kuliah pun berakhir. Di mata kuliah terakhir kelas yang diambil oleh Damar dan Aditya tidaklah sama. Mereka mengambil kelas yang berbeda. Kelas Damar berakhir sedikit lebih lama dari yang lainnya karena sang dosen mengajarkan materi baru hari itu, sehingga membuat interaksi tanya jawab antara dosen dan mahasiswa menjadi lebih banyak.
Kini Damar berlari kecil meninggalkan ruang kelas menuju ke gerbang kampus, tempat janjiannya dengan Aditya. Ponsel Damar berdering, dan ia pun segera menerima panggilan masuk di ponselnya.
“Mar, di mana?” tanya Aditya.
“Sebentar, Dit. Ini lagi jalan ke depan gerbang kampus,” jawab Damar.
“Lo sendirian kan?” Aditya memastikan.
“Iya, Dit. Saya sendirian kok,” jawab Damar lagi.
“Oke. Cepat ya, Mar. Biar nggak telat nganternya,” pungkas Aditya seraya mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Damar mempercepat larinya, tetapi kemudian dia seorang dosen karena tidak terlalu memperhatikan kiri dan kanannya.
Bruk!
“Hati-hati, anak muda! Jangan lari-larian!” seru Pak Mulyana, dosen yang ditabrak Damar. Tubuh pria itu tidak goyah sama sekali, yang ada Damar yang kalah tenaga dan terjatuh karena bertabrakan dengannya.
“Ma-maaf, Pak. Saya sedang buru-buru,” ungkap Damar.
Pak Mulyana kemudian membantu Damar berdiri. Memeriksa apakah ada luka di tubuh Damar karena terjatuh. “Kamu baik-baik saja, Damar?”
“Saya tidak apa-apa, Pak. Maafkan saya ya, Pak. Saya permisi dulu ya, Pak. Saya teh benar sedang buru-buru!” kata Damar. Pemuda itu kembali berlari dan meninggalkan dosen tersebut. Pak Mulyana pun hanya bisa melihatnya berlalu dan hilang dari pandangannya.
Tidak sampai seratus meter lagi Damar sampai ke gerbang. Sambil tetap berlari dia bisa melihat Aditya sedang bersandar di gerbang sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
“Dit! Maaf saya telat!” seru Damar sesampainya di gerbang.
Aditya tampak terperanjat. Dia langsung menyudahi pembicaraannya dan memasukkan ponselnya ke saku celana.
“Ayo kita ketemu orangnya, Mar!” ajak Aditya tanpa menunggu lama.
“Ayo!” sahut Damar.
Aditya mengajak Damar ke pemukiman warga yang terletak tidak terlalu jauh dari kampus. Namun, pemukiman tersebut cenderung sepi. Hanya ada segelintir remaja yang baru pulang sekolah setelah kegiatan ekstrakurikuler. Aditya dan Damar menuju ke sebuah rumah seperti gudang barang-barang bekas. Di sana seorang pria berperawakan tinggi besar dengan telinga yang memiliki beberapa tindikan bangkit berdiri menyambut kedatangan Aditya dan Damar.
“Kalian baru datang? Mau langsung saja?” tanya pria yang belum diketahui namanya oleh Damar.
“Langsung saja, Bang, biar nggak terlalu sore.” Aditya menjawab.
“Oke kalau begitu. Nih, ambil!” Pria tersebut melempar sebuah kotak kecil dilapisi plastik gelembung ke arah Damar.
“I-ini yang mau dikirim?” tanya Damar sambil melihat-lihat benda tersebut.
“Dit, lo sudah kasih tahu sistem kerjanya?” Pria tersebut melirik tajam ke arah Aditya.
“Belum, Bang,” jawab Aditya.
Pria tersebut kemudian menghampiri mereka. Menatap Damar dengan intens, sehingga membuat Damar merasa sedikit tertekan karena tatapan matanya.
“Alamatnya ada di paket itu. Lo antar ke orangnya. Ingat, harus langsung ke orangnya. Lo bisa hubungi nomor teleponnya di sana. Jangan telat. Jangan sampai orang membutuhkannya masuk rumah sakit, apalagi sampai meninggal,” kata pria tersebut memberikan instruksi pada Damar.
“Ba-baik, Bang.” Suara Damar terdengar bergetar menjawab pria di hadapannya itu.
“Ini upah untuk lo. Ingat, harus sampai langsung ke tangan orangnya. Ngerti kan?” Disodorkan oleh pria tersebut empat lembar uang lima puluh ribuan ke arah Damar.
Damar tertegun melihat upah yang akan diterimanya. Dia tidak menyangka bisa mendapat upah sebesar itu untuk sekali mengantarkan barang. Sempat terlintas dalam benak Damar jika barang yang akan diantarkan oleh Damar bukanlah obat biasa. Tetapi setelah melihat Aditya temannya, Damar seakan yakin jika Aditya tidak akan menjerumuskannya. Damar sangat yakin jika Aditya adalah orang baik.
“Lo nggak terima upahnya? Segini kurang? Lo masih anak baru sudah minta lebih?” Pria tersebut terdengar kesal.
“Bukan gitu, Bang.”
“Terus?” Tatapan pria itu semakin menakutkan.
Aditya mewakili Damar menerima uang dari pria tersebut. Kemudian diberikannya pada Damar. “Sorry, Bang. Dia baru ke Jakarta soalnya. Cuma karena butuh uang jadi saya ajak kerja sama saya di sini. Dia terima kok berapa pun yang dikasih.”
“Baguslah kalau begitu. Itu sekalian ongkos cukup kan? Besok datang lagi ke sini karena besok ada pengantaran lagi,” pungkas pria menakutkan itu.
“Sudah sana, Mar. Antar paketnya!” titah Aditya.
Damar mengangguk, lalu melangkah pergi dari tempat tersebut. Dia masih belum hafal jalan-jalan di Jakarta. Oleh karena itu dia menghampiri tukang ojek pengkolan dan meminta untuk mengantarkannya ke alamat yang tertera di paket yang dibawanya. Inginnya dia menggunakan angkot saja, tetapi ini adalah hari pertamanya bekerja dan dia tidak boleh terlambat tiba di alamat pengantaran. Dia akan menggunakan angkot untuk perjalanan pulang nanti.
Tibalah Damar di sebuah komplek perumahan mewah. Baru pertama kali Damar melihat deretan rumah yang semuanya besar dan mewah.
“Di situ rumahnya, Bang! Nomor 127 kan itu!” Damar menunjuk sebuah rumah dengan nomor 127 sesuai dengan alamat yang tertulis.
Ojek yang mengantarkan Damar berhenti tepat di depan gerbang rumah tersebut. Damar membayar ongkos ojek, lalu ojek tersebut langsung pergi dari sana.
“Ini gimana manggil orangnya biar keluar ya?”
Damar tampak kebingungan. Rumah mewah dengan gerbang yang tinggi besar membuat Damar terpaku untuk beberapa saat.
“Rumah mewah kan biasanya ada bel. Ini belnya di mana ya?” Damar mengedarkan pandangannya ke sekitar pagar rumah.
Namun, beruntungnya seorang pemuda seumuran Damar membuka gerbang dari dalam dan hendak melangkah keluar. Dia terkejut melihat Damar sudah berdiri di depan rumahnya.
“Siapa lo?” tanya pemuda itu.
“Permisi, saya mau kirim paket obat-obatan ke rumah ini,” jawab Damar seraya menunjukkan paket yang dimaksud.
Pemuda tersebut langsung menyambar paket tersebut lalu menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan seolah melihat-lihat keadaan sekitar.
“Thank you ya!” kata pemuda tersebut. “Ini buat lo,” diberikannya selembar uang seratus ribu rupiah pada Damar.
“Apa ini?” tanya Damar bingung.
“Uang tip buat lo. Sudah sana pergi!” jawab pemuda tersebut. Uang tadi langsung diberikan langsung ke tangan Damar. Lalu dia menutup pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah ya.
Damar kembali tertegun. Ditatapnya uang seratus ribu yang diberikan padanya sebagai tip. Hanya sekali mengantar paket saja dia bisa menerima upah yang besar beserta tip. Damar tergiur, tetapi nalurinya seolah memberitahu jika ada yang tidak beres dengan pekerjaannya ini. Dia pun bermaksud menanyakannya besok pada Aditya.
Kini Damar melangkahkan kedua kakinya meninggalkan komplek perumahan mewah tersebut. Menaiki angkot dari depan komplek hingga ke depan jalan masuk kosannya.
Di kamar kos Damar mengeluarkan uang yang ia terima hari ini. Memperhatikan uang tersebut sambil sedikit berpikir.
“Kerjaan tadi halal kan ya? Adit sepertinya tidak akan menjerumuskan saya. Jika sehari saja saya bisa mendapatkan uang segini banyak, mungkin dalam sebulan saya sudah bisa menjamin kehidupan saya di Jakarta. Saya tidak akan merepotkan bapak dan ambu lagi,” gumam Damar.
Meski nurani Damar seakan menyuruh Damar untuk berhenti, tetapi kebutuhan yang harus dipenuhinya memaksa Damar untuk membuang kecurigaannya tentang pekerjaan yang tadi ia lakukan.