RANTAU 6 - Uang Pinjaman

1455 Kata
Di bawah pohon rindang yang tumbuh berjajar di salah satu sudut kampus, terlihat Damar tengah duduk bersila sambil membaca sebuah buku dengan sangat serius. Di tangan kanannya ia memegang sebuah stabilo berwarna hijau. Jika dia menemukan sebuah kata atau kalimat yang menurutnya penting, maka ia akan menandainya menggunakan stabilo tersebut. Dari kejauhan Farel melihat temannya tersebut. Pemuda itu pun melangkah cepat menghampirinya. Bruk! “Sorry, sorry! Gue nggak sengaja. Gue buru-buru,” kata Aditya yang tidak sengaja menabrak Farel hingga terjatuh. Farel bangkit berdiri dengan bantuan Aditya. “Lo buru-buru mau ke mana sih, Dit? Jam selanjutnya kan masih satu jam lagi,” celetuk Farel kemudian. “Sorry ya, gue ada janji sama orang soalnya. Gue duluan ya!” Aditya segera melangkah pergi setelah memastikan Farel sudah berdiri tegak dan tidak terluka sama sekali. “Oke deh. Bye! Hati-hati lo!” seru Farel saat Aditya berlalu. Kemudian Farel melanjutkan langkah kakinya menghampiri Damar yang tetap fokus pada bacaannya. “Woy, Mar! Serius amat sih lo,” sapa Farel seraya ikut duduk di sebelah Damar. “Eh kamu, Rel. Habis dari mana?” tanya Damar berbasa-basi. “Dari kantin tadi, Mar. Tadi gue nggak lihat lo di kantin. Lo sudah makan siang belum? Apa sudah makan di warteg yang di luar kampus?” jawab Farel sekaligus balas menanyakan Damar. Damar pun menjawab dengan singkat, “Sudah tadi.” “Beneran nih?” Farel meragukan jawaban Damar. Damar memilih tidak menjawab pertanyaan Farel tersebut. Dia benar-benar harus menghemat uang sakunya. Damar menutup buku yang sedang dibacanya. Lalu ia menolehkan kepalanya ke arah Farel. “Rel, menurut kamu kalau saya tiba-tiba telepon ambu sama bapak di kampung minta tambahan uang saku, kira-kira tanggapan mereka gimana ya?” Damar meminta pendapat Farel. “Kalau mereka ada pasti mereka langsung kirim uang ke lo. Nah, menurut lo sendiri gimana? Pasti orang tua lo sudah nyiapin uang untuk biaya hidup lo di Jakarta kan, Mar?” Farel merasa yakin jika orang tua Damar sudah menyiapkan uang untuk keperluan Damar. Karena yang dia tahu seperti itu. Tetapi dia lupa kalau keadaan ekonomi antara dirinya dan Damar jauh berbeda. Damar menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, pasti ambu sama bapak di kampung juga nyiapin uang untuk saya hidup di sini meski tidak banyak. Tetapi … saya nggak mau kalau mereka sampai jual sawah lagi,” ungkapnya kemudian. “Jual sawah? Kenapa harus jual sawah?” Farel mengernyit bingung. “Rel, kalau orang tua kamu mungkin kerja kantoran yang sudah pasti ada penghasilan bulanan. Kalau orang tua saya itu petani, hanya mengandalkan hasil dari sawah yang tidak semua panennya setiap bulan. Belum kalau ada yang gagal panen, ya tidak dapat penghasilan.” Damar mencoba memberi penjelasan pada Farel agar temannya itu bisa sedikit mengerti dengan perbedaan profesi kedua orang tua mereka. Mendengar hal tersebut tentunya membuat Farel merasa tidak enak hati. Farel bahkan sampai meminta maaf pada Damar karena merasa sudah menyakiti temannya itu dengan ucapannya. “Mar, sorry ya. Gue nggak bermaksud sampai bikin lo tersinggung. Pikiran dan sudut pandang gue memang masih belum luas, sampai gue kira meski profesi tiap orang itu berbeda tetapi mereka masih memiliki penghasilan setiap bulannya seperti orang kantoran,” tutur Farel. “Nggak perlu bilang sorry atuh, Rel. Biasa saja. Saya juga nggak tersinggung kok heheh …,” balas Damar terkekeh. Kemudian Damar kembali membuka buku yang ia baca tadi. Lebih baik merasa pusing karena pelajaran daripada harus pusing memikirkan beban hidup. Begitulah yang ada dalam benak Damar saat ini. Rasa penasaran mulai hinggap dalam benak Farel. Pemuda itu ingin mengetahui untuk apa Damar meminta tambahan uang saku pada keluarganya. “Hmm … Mar, gue mau nanya, tapi jangan tersinggung ya,” ucap Farel hati-hati. “Ya ampun, Farel. Kalau mau nanya ya silahkan nanya saja. Saya nggak akan tersinggung kok!” balas Damar seraya menepuk bahu temannya tersebut. “Lo mau minta tambahan uang saku sama orang tua lo memangnya untuk apa?” Farel melontarkan pertanyaan yang membuatnya penasaran. Damar menoleh dan menjawab, “Saya butuh untuk tambahan bayar kos. Sebenarnya sisa uang yang saya simpan cukup untuk bayar kos bulan ini, tetapi tidak cukup kalau harus sama makan dan ongkos. Makanya saya mau minta tambahan sama ambu dan bapak di kampung. Tetapi kalau dipikir-pikir, kasihan juga kalau harus memberatkan mereka lagi. Mereka pasti punya kebutuhan yang harus dipenuhi di kampung.” Mendengar jawaban langsung tentang kebutuhan Damar membuat Farel sedikit prihatin dengan kehidupannya. Mendapat beasiswa prestasi nyatanya masih belum mampu menjamin kehidupan Damar. Justru kini di perantauan seorang diri Farel melihat Damar terbebani oleh biaya hidupnya. Farel beranggapan bagaimana seseorang yang cerdas bisa fokus belajar dan mengejar cita-citanya jika dia masih harus memikirkan ‘besok makan apa atau besok bayar kos bagaimana?’. Damar kembali melanjutkan kegiatannya membaca buku, sedangkan Farel merogoh saku celananya mengeluarkan ponselnya. Farel membuka aplikasi mobile banking yang ia miliki di ponselnya. Farel ingin melihat jumlah saldo tabungan yang ia miliki di rekeningnya. “Hmm … Mar, bayar kos sebulan berapa?” tanya Farel. “Lima ratus ribu. Itu saja katanya sudah yang paling murah di Jakarta ini. Kalau ada yang lebih murah lagi meski lebih sempit mungkin saya akan langsung pindah,” jawab Damar. “Kalau gue pinjamin uang buat bayar kos, lo mau terima gak?” Nada suara Farel melembut agar tidak membuat Damar tersinggung. Mata Danar yang tadi menatap buku kini berpindah cepat pada Farel. Dahinya mengernyit. Otaknya berpikir, haruskah dia menerima bantuan Farel. “Gini, gini, Mar. Gue punya tabungan yang memang nggak bakal gue tarik sampai lulus nanti. Hitung-hitung ini modal hidup gue setelah lulus sih. Gue nyisihin dari uang saku bulanan yang dikasih sama bokap juga. Jadi, kalau memang lo butuh uang dan mau pakai uang tabungan gue dulu nggak apa-apa. Nanti lo ganti kalau lo sudah punya uang,” Farel menjelaskan. Namun, Damar menolak bantuan Farel karena merasa tidak enak hati. “Tapi saya nggak enak, Rel. Masa saya yang butuh bayar kos malah harus pakai uang kamu.” Makasih ya, Rel. Biar saya coba telepon ambu dan bapak di kampung saja.” “Kita kan sudah temenan, Mar. Daripada kamu harus pusing mikirin bayar kos mending kamu terima bantuan gue. Lo masih harus serius belajar biar dapat IP yang bagus dan bisa pertahanin beasiswa lo. Terima ya, Mar,” bujuk Farel. “Tapi, Rel ….” “Terima saja. Nggak usah mikirin harus diganti besok atau bulan depan. Kapan-kapan saja lo ganti kalau sudah punya uang,” ujar Farel. Damar tidak tahu harus bagaimana lagi mengucapkan terima kasih pada temannya itu. Farel sudah terlalu banyak membantu Damar. Kini Damar hanya bisa menjabat tangan Farel lalu memeluknya sambil menepuk punggungnya. “Nuhun nyak, Rel. Terima kasih,” ucap Damar. “Nuhun itu apa? Makasih maksudnya?” tanya Farel yang tidak mengerti bahasa Sunda. Damar melepaskan pelukannya pada Farel. “Hehehe … iya artinya terima kasih,” jawabnya. Akhirnya Damar mendapat jalan keluar atas masalah yang dihadapinya saat ini. Semua berkat bantuan Farel. Akan tetapi betapa terkejutnya saat Farel memberikan uang sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Padahal Damar hanya butuh lima ratus ribu saja untuk membayar uang kos. “Dua ratusnya buat pegangan lo beli makan dan ongkos. Anggap saja ini pajak jadian, karena gue lagi senang baru jadian sama cewek dari Fakultas Kedokteran.” Begitulah kata Farel saat memberikan uang tersebut. Saat Damar sudah kembali ke kosannya. Dia segera memberikan uang kos pada sang pemilik yang kebetulan memang sedang berkeliling tiap kamar kos untuk menagihnya. Beberapa saat kemudian ponsel Damar berdering. Damar melompat ke kasur lalu menerima panggilan telepon yang masuk ke ponselnya tersebut. “Halo,” kata Damar saat menerima telepon. “Mar, Adit nih. Gue cuma mau nanya, lo beneran mau kerja sampingan jadi kurir kayak gue?” tanya Aditya di seberang sana. “Boleh, boleh, boleh! Mau saja kalau memang ada lowongan. Tapi nggak ganggu kuliah kan?” “Nggak kok. Ini gue bilang dulu sama bos gue. Besok kita ketemu ngomongin gimana sistem pengantaran dan bayarannya ya,” ujar Aditya. “Iya, Dit. Terima kasih ya sudah mau bantu,” balas Damar yang juga merasa Aditya sedang membantunya mendapatkan pekerjaan. “Santai saja, Mar. Sampai ketemu besok di kampus ya. Oh iya, kalau bisa besok ketemu berdua saja. Jangan ajak Farel atau teman yang lain ya,” pinta Aditya pada Damar. “Kenapa memangnya?” “Nggak apa-apa. Nggak enak saja nanti kalau ada yang mau lowongan kerja lagi. Ini gue cuma minta buat lo saja,” jawab Aditya. “Oh, oke kalau begitu. Besok saya nggak akan ajak siapa-siapa pas ketemu sama kamu.” Damar tidak terlalu menaruh curiga pada alasan yang diberikan oleh Aditya. Damar masih sangat polos. Dia belum terlalu mengenal bagaimana sisi gelap kehidupan di Jakarta. Dia masih menganggap jika semua orang yang ia temui adalah orang-orang baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN