RANTAU 5 - Uang Saku Mulai Menipis

1444 Kata
Hari-hari berikutnya setelah OSPEK dilalui Damar tanpa masalah berarti. Bangun tidur dia langsung mandi dan membeli sarapan di sekitar tempat kosnya. Damar sering membeli nasi uduk dengan harga lima ribu rupiah. Hanya berisi tempe orek dan bihun tanpa ada gorengan yang melengkapi. Setelah sarapan Damar akan langsung berangkat kuliah menggunakan angkot. Di kampus pun Damar lebih sering tidak menghabiskan uangnya untuk membeli makanan atau minuman ringan. Damar membeli makan siang di sebuah warteg yang berada di luar kampusnya. Karena makanan yang disediakan di kantin kampus lebih mahal daripada di luar sana. Terkadang Farel suka memaksa Damar untuk makan bersamanya di kantin. Farel yang akan membayar makan siang Damar. Hal tersebut sering membuat Damar jadi tidak enak hati. Sepulang kuliah Farel sering mengantarkan Damar terlebih dahulu ke kosannya. Farel juga sering singgah sejenak melepas penat setelah seharian belajar. Tidur di kasur Damar hingga malam dan baru pulang setelah memastikan Damar sudah makan malam. Namun, kesulitan yang lebih besar baru dirasakan oleh Damar setelah persediaan uangnya menipis. Meski kuliahnya dibiayai dari beasiswa, tetapi untuk kebutuhan praktek dan kebutuhan hidupnya tidak ditanggung dalam beasiswanya. Kini Damar tampak merenung di kamar kosnya seorang diri. Tok … tok … tok …. “Mar, ada di dalam nggak?” suara Gibran terdengar dari balik pintu. “Ada, A’! Masuk saja. Tidak dikunci kok pintunya,” sahut Damar dari dalam kamar. Gibran pun membuka pintu kamar Damar. Dia juga langsung melangkah masuk ke dalam kamar Damar dan melempar bokongnya ke sisi kasur Damar. “Mar, beli makan yuk! Gue lapar nih. Lo juga belum makan kan?” Gibran mengajak Damar membeli makan. Namun, mengingat persediaan uang sakunya yang semakin menipis membuat Damar menolak ajakan Gibran. “Saya sudah makan, A’. Sudah kenyang,” katanya. “Yakin? Kayaknya teman lo hari ini tidak datang deh. Gue juga nggak lihat lo beli makan tadi,” ungkap Gibran. “Oh iya by the way jangan panggil gue pakai sebutan Aa’ dong. Panggil saja Gibran ya,” pintanya kemudian. “Ya sudah kalau begitu, saya sudah makan, Gib. Saya temani kamu saja ya beli makan, nanti saya balik ke kamar lagi.” Damar tetap memilih menahan rasa lapar di perutnya daripada harus mengeluarkan sejumlah uang malam ini. Damar bangkit berdiri. Mengambil sweater yang ia sangkutkan di balik pintu. Namun, kemudian Gibran menawari Damar sesuatu. “Mar, gue kan baru beli magic jar baru, yang lama masih bagus, lo mau nggak?” Gibran menawarkan magic jar lamanya pada Damar. Damar menolehkan kepalanya. “Magic jar? Untuk masak nasi?” “Iya. Masak nasi, kadang gue pakai untuk masak mie instan, masak sayur. Teman kos lain ada yang pakai magic jar untuk bikin kue loh,” jawab Gibran. “Bikin kue memangnya bisa pakai magic jar?” Damar melotot tak percaya. “Ya itu buktinya bisa. Lo mau nggak?” Gibran menawarkannya lagi. Sejenak Damar berpikir. Dia tidak boleh malu menerima pemberian barang dari orang lain sekalipun itu adalah barang bekas. Selama masih bermanfaat untuknya menyambung hidup, maka dia harus menerimanya. “Boleh kalau begitu. Nanti setelah saya antar kamu beli makan saya ambil ya magic jar-nya,” ucap Damar. Kemudian Gibran bangkit berdiri. Merangkul bahu Damar dan menggiringnya keluar kamar. Tidak lupa Gibran membiarkan Damar mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu. Setelah itu mereka berdua pergi mencari makan di sekitar kosan mereka dengan menggunakan motor. Mereka berhenti di kedai yang menjual pecel lele. Di sana juga menjual ayam goreng. “Bang, mau makan di sini ayam goreng dua ya bagian paha. Nasinya nasi uduk ya. Jangan lupa lalapannya!” seru Gibran pada abang yang berjualan di sana. Gibran menarik kursi lalu duduk di depan sebuah meja panjang. Di hadapannya sudah tersedia kaleng kerupuk serta tissue dan tusuk gigi. “Duduk, Mar!” kata Gibran mempersilahkan Damar untuk duduk. “Gib, kok kamu pesan makanannya dua? Kamu lapar banget sampai makan dua porsi? Terus kenapa kita tidak bawa pulang ke kosan saja?” Damar banyak melontarkan pertanyaan pada Gibran. “Kita makan di sini saja ya, Mar. Enak makan pas ayamnya baru matang,” jawab Gibran. Damar kemudian duduk di sebelah Gibran lalu menggeser kursinya agar lebih dekat. “Tapi saya tidak bawa uang, Gib,” bisik Damar pelan. Gibran tersenyum lalu menjawab, “Gue yang bayarin. Kebetulan gue baru gajian, makanya gue juga beli magic jar baru.” “Beneran ini, Gib? Saya nggak enak loh.” “Beneran, Damar. Sudah, sekarang kita makan ya. Suatu saat nanti kalau lo punya rejeki kamu boleh traktir gue,” pungkas Damar. Seketika Damar menghela nafas lega. Dia tidak harus kelaparan malam ini. Dia bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman yang baik di tempat perantauannya ini. Jika Damar datang ke Jakarta dan tinggal di tempat kosnya saat ini untuk menuntut ilmu, maka sedikit berbeda dengan Gibran yang tinggal di tempat kost tersebut untuk mencari nafkah. Tempat tinggal Gibran dengan tempat kerjanya cukup jauh, sehingga membuat Gibran harus mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempatnya bekerja. Setelah perut mereka berdua sudah merasa kenyang, Gibran dan Damar kembali ke kosan. Dalam perjalanan pulang Damar menanyakan tentang pekerjaan Gibran. "Gib, kamu teh kerja apa?" tanya Damar. "Gue kerja jadi customer service di perusahaan operator, Mar," jawab Gibran. "Kerjanya dari pagi?" lanjut Damar bertanya. "Shifting. Jadi kadang dapat jadwal pagi, kadang juga siang," jawab Gibran lagi. "Ada lowongan kerja nggak ya, Gib? Tapi saya masih kuliah. Apa bisa?" Gibran mengernyitkan dahinya. Matanya menatap ke kaca spion sebelah kiri motornya. "Lo kuliah dari pagi sampai sore kan, Mar? Jadwal shift siang di tempat gue aja jam dua siang. Minimal lo sudah harus sampai jam setengah dua di sana." "Jam setengah dua? Nggak bisa saya kalau begitu. Jadwal kuliah untuk semester awal kayak gini paling cepat pulang jam tiga sore. Bahkan ada yang sampai jam lima sore." Seketika Damar lesu dan tak bersemangat. Melihat Damar yang lesu dari pantulan kaca spion membuat Gibran merasa tidak tega. Gibran mengerti jika Damar sudah mulai kesulitan keuangan. Mungkin juga Damar sungkan meminta uang pada keluarganya di kampung. "Sabtu atau Minggu lo kuliah juga nggak?" tanya Gibran. "Kalau Sabtu jarang, paling kalau dosennya mengganti jadwalnya saja. Kalau Minggu selalu libur. Kenapa memangnya?" "Nanti kalau memang tempat kerja gue butuh perbantuan, gue rekomendasiin lo ya. Biasanya di weekend gitu suka butuh perbantuan karena banyak keluhan customer. Gimana?" Gibran menawarkan pekerjaan paruh waktu sebagai perbantuan pada Damar. Tentu Damar tidak akan menolak. Dia langsung menerima tawaran dari Gibran. "Iya, boleh! Saya mau, Gib!" "Ya sudah nanti gue bilang ke supervisor gue dulu ya. Nanti gue kabarin lo lagi," kata Gibran. "Iya, Gib. Saya tunggu kabar baiknya ya," balas Damar. Keesokan harinya Damar berangkat ke kampus dengan menggunakan angkot. Tanpa disangka dia bertemu dengan Aditya di angkot yang sama. "Loh? Ada kamu, Dit!" sapa Damar yang kemudian duduk di sebelah Aditya. "Eh kita ketemu di sini, Mar. Lo naik angkot tiap hari?" tanya Aditya. "Iya. Kan lumayan hemat ongkos," jawab Damar. "Kamu tumben naik angkot. Motor kamu ke mana?" Damar menanyakan motor Aditya, karena sepengetahuan Damar selama ini Aditya datang ke kampus menggunakan motor. Kemudian Aditya menjawab, "Motornya mogok, lagi ditaruh di bengkel dulu. Gue kebetulan harus antar barang dulu, jadi gue naik angkot deh." "Oh gitu. Barang apa?" Damar penasaran. Gelagat Aditya berubah sedikit waspada saat Damar bertanya seperti itu. Aditya mengedarkan pandangannya pada para penumpang yang ada di dalam angkot, khawatir jika ada yang memberikan tatapan curiga padanya. "Dit? Kok malah bengong?" tegur Damar. "Eh, nggak bengong kok," balas Aditya. "Barang apa yang kamu antar?" Damar bertanya kembali. "Barang … itu, Mar. Hmm … obat dari China. Saya kerja sampingan jadi kurir di agen obat-obatan dari China," jawab Aditya. "Oh begitu? Kata ambu saya obat-obatan dari China itu bagus loh, Dit. Ampuh. Nanti kalau saya butuh, saya pesan sama kamu saja ya." Damar menepuk bahu Aditya. Damar begitu polos. Tidak menaruh curiga sama sekali pada Aditya. Kini Aditya tampak menghela nafas lega karena tidak harus mengungkap profesi sebenarnya. "Ngomong-ngomong di toko obat-obatan China itu butuh tambahan kurir nggak ya, Dit?" tanya Damar. Pemuda itu tertarik dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Aditya. Aditya menolehkan kepalanya pada Damar. "Memangnya kenapa?" "Kalau ada, saya mau deh ngelamar di sana. Gajinya kecil juga nggak masalah kok. Saya bisa buat tambahan biaya hidup di Jakarta ini, Dit," ungkap Damar. Tersungging senyum simpul di wajah Aditya. "Nanti gue infoin ya, Mar," jawabnya. Sayangnya Damar tidak terlebih dahulu mencari tahu lebih dalam tentang pekerjaan yang dilakukan oleh Aditya. Benaknya hanya berpikir bagaimana caranya ia bisa mendapatkan tambahan uang di Jakarta. Salah satunya tentu dengan mencari pekerjaan sampingan, sambil ia tetap melanjutkan kuliahnya. Suatu saat nanti akan datang penyesalan dalam diri Damar karena pernah meminta pekerjaan pada Aditya. Pekerjaan itu akan benar-benar membawa Damar masuk dalam kesulitan yang besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN