RANTAU 4 - Senioritas OSPEK

1349 Kata
OSPEK dimulai. Seluruh mahasiswa baru yang dibagi sesuai dengan fakultas mereka kini berbaris di lapangan hingga halaman yang luas di universitas tempat Damar mendapatkan beasiswa. Sudah tentu Damar juga termasuk salah satu di antara mahasiswa-mahasiswa baru tersebut. “Sekarang saya mau kalian mengumpulkan tanda tangan dari senior-senior kalian yang mendampingi masa orientasi kalian ini!” perintah salah seorang senior laki-laki yang diketahui adalah ketua pelaksana. “Siap!” jawab seluruh mahasiswa baru secara serentak. Kemudian seluruh mahasiswa menyebar ke segala arah. Mencari para senior yang mengenakan almamater untuk bisa mendapatkan tanda tangan mereka satu per satu. “Damar!” Farel menepuk bahu Damar dari belakang. Damar pun menoleh dan balas menyapa Farel. “Kamu, Farel. Sudah dapat tanda tangan berapa orang?” “Belum sama sekali. Kalau lo?” Farel balik bertanya. Damar memperlihatkan buku yang ia bawa. Belum ada satu pun tanda tangan yang tercetak di dalam buku tersebut. “Sama seperti kamu, saya juga belum dapat sama sekali,” jawab Damar. “Eh, eh, eh, lihat deh! Di sana ada senior lagi nganggur. Kita minta sama dia saja dulu.” Farel menarik tangan Damar, mengajaknya menghampiri seorang senior yang duduk di sebuah gazebo. Senior tersebut melihat kedatangan Danar dan Farel. Dia sangat yakin jika kedua pemuda itu menghampirinya untuk meminta tanda tangan. Terbesit ide dalam benak senior tersebut untuk mengerjai Damar dan Farel. “Permisi, Kak. Kita mau minta tanda tangannya,” ucap Damar saat ia dan Farel sudah berada di hadapan senior tersebut. Sang senior melihat name tag yang dipakai oleh Damar. Tertulis nama Damar di sana. “Nama kamu Damar?” tanya senior tersebut. Damar pun menjawab, “Betul, Kak.” “Lalu kamu ….” Sang senior melempar pandangannya ke arah Farel. Melihat bame tag yang dipakai oleh Farel. “Farel?” sambungnya. “Iya betul,” jawab Farel. “Kalian mau dapat tanda tangan gue?” tanya senior tersebut. “Iya. Boleh tanda tangan di sini?” Damar menyodorkan buku dan kertas pada sang senior. Namun, senior tersebut malah tersenyum misterius. Senior tersebut bangkit berdiri lalu mengajak Damar serta Farel menuju ke tengah lapangan. Diminta buku beserta pulpen yang dibawa oleh keduanya. “Sekarang kalian berdua squad jump sampai gue bilang berhenti. Sambil squad jump, kalian harus bernyanyi. Pokoknya sampai gue bilang berhenti kalian baru boleh berhenti. Baru setelah itu gue pikir lagi akan kasih tanda tangan gue atau tidak.” Senior tersebut memang berniat mempermainkan Damar dan Farel. Damar tidak bisa menerimanya. Begitu juga dengan Farel. Damar merampas kembali buku dan pulpen miliknya dari tangan sang senior. “Saya berkuliah di sini bukan untuk dipermainkan begini. Kakak senior saja atuh yang squad jump, baru habis itu tanda tangani buku saya. Kasihan yang biayai saya kuliah kalau saya hanya untuk disuruh-suruh atau dipermainkan seperti ini,” protes Damar. Melihat keberanian Damar melayangkan protes pada sang senior membuat Farel melongo. Kedua mata Farel dikerjapkan beberapa kali dengan raut wajah takjub yang terpasang. “Lo berani melawan senior?” Bahkan sang senior sendiri tampak tidak bisa mempercayai jika ada mahasiswa baru yang berani padanya seperti Damar. “Kenapa saya musti takut? Bukan senior kok yang membiayai saya kuliah di sini. Justru saya akan malu jika kuliah di sini hanya untuk di suruh-suruh. Malu sama ambu di kampung juga!” balas Damar dengan tegas. Farel refleks bertepuk tangan atas keberanian Damar. Dia berharap bisa seberani Damar. Namun, sayangnya dilirik sesikit saja oleh senior tersebut Farel sudah ciut dan menundukkan wajahnya. “Lo, orang kampung berani membantah gue? Lo anak beasiswa ya? Tanpa beasiswa lo nggak akan bisa masuk ke sini. Turutin aja perintah senior lo kalau mau tenang kuliah di sini,” ancam sang senior pada Damar. “Loh, memangnya kenapa kalau saya anak beasiswa? Ada yang salah? Kamu saja yang squad jump daripada mengusik saya,” tantang Damar. Namun, dengan cepat Farel menarik tangan Damar dan mengajaknya berbicara sejenak. “Mar, nurut saja. Kita sedang OSPEK. Memangnya kamu mau dipermalukan terus?” Farel meminta Damar untuk menuruti perintah sang senior. “Justru karena saya tidak mau dipermalukan makanya saya tidak mau melakukan apa yang diperintahkan oleh dia,” sahut Damar. “Tapi nanti kita malah-“ “Hey, kalian berdua! Kenapa malah bisik-bisik di belakang gue!” lantang senior tersebut. Suara lantang sang senior mengundang perhatian senior-senior lain dan juga beberapa mahasiswa baru yang ada di sekitar sana. Beberapa selainnya menghampiri Damar dan Farel. Menatap mereka berdua dengan sinis dan dengan senyum miring tersungging di wajah masing-masing dari mereka. “Bayu, mereka berdua kenapa?” tanya senior yang lainnya pada Bayu, kakak senior yang diprotes oleh Damar. “Kayaknya enak kalau mereka kita ajarkan sopan santun,” ujar Bayu pada teman-temannya. Para senior tersebut kemudian mengerubungi Damar dan Farel. Semakin merapat hingga Damar dan Farel tak bisa melarikan diri lagi. Beberapa saat kemudian Damar dan Farel berdiri dengan satu kaki di tengah lapangan sambil memegang sebuah kertas di depan d**a mereka bertuliskan ‘Mahasiswa Baru Belagu’. Wajah mereka berdua juga dicoret-coret oleh para senior. “Hahahaha ….” Para senior yang mempermalukan mereka merasa senang dan tertawa bersama. Tak lupa para senior tersebut mengabadikan momen memalukan bagi Damar dan Farel dengan ponsel mereka. Meng-upload foto yang mereka ambil ke media sosial. Seorang dosen yang kebetulan sedang berjalan melewati lapangan menghentikan langkah kakinya di hadapan Damar dan Farel. Dosen tersebut membaca tulisan yang dipegang oleh kedua pemuda tersebut. “Mahasiswa baru belagu. Kalian berdua memangnya melakukan apa sampai senior kalian menghukum kalian seperti ini?” tanya sang dosen. Damar dan Farel saling melempar pandang. Kemudian Damar menjawab pertanyaan sang dosen. “Saya hanya menolak melakukan perintah Kak Bayu.” Dosen tersebut langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok Bayu. Setelah matanya menemukan sosok pemuda yang dimaksud, ia langsung memanggilnya. “Bayu! Ke sini!” Sang dosen juga melambaukan tangannya. Bayu yang saat ini sedang bersama dengan satu orang mahasiswa baru lainnya langsung menghampiri dosen tersebut. “Ada apa, Pak Mul?” tanya Bayu pada sang dosen yang bernama Pak Mulyana. “Kenapa dua anak ini kamu beginikan?” Pak Mulyana bertanya balik. Bayu tampak menggaruk kepalanya sambil tersenyum kikuk. “Iseng saja sih, Pak. Mereka berdua membantah saya sih,” jawabnya sambil terkekeh. “Mereka butuh tanda tangan kamu ya?” “Iya, Pak,” jawab sang senior Bayu dengan cepat. Pak Mulyana kemudian mengambil kertas yang dipegang oleh Damar dan Farel. Pak Mulyana juga mengambil buku yang diletakkan di bawah tepat di samping kaki Damar dan Farel. “Cepat berikan tanda tangan kamu!” perintah sang dosen. “Yah, kok Pak Mul membela mereka sih? Mereka berdua sudah membantah saya loh, Pak,” keluh Bayu. “Sudah, kamu jangan membantah. Kamu harus kasih contoh yang bagus ya. Cepat tanda tangan!” Pak Mulyana terus menyodorkan buku dan pulpen pada Bayu. Pada akhirnya mau tidak mau Bayu membubuhkan tanda tangannya di buku milik Danar dan Farel. “Untuk sekarang kalian berdua selamat karena ada Pak Mulyana. Besok-besok jangan harap kalian bisa terbebas dari hukuman ya,” gerutu Bayu saat menandatangani buku Damar dan Farel. Setelah selesai memberikan tanda tangannya Bayu langsung pergi meninggalkan Damar dan Farel. Pak Mulyana juga melangkahkan kakinya kembali setelah memastikan jika Damar dan Farel benar-benar sudah mendapat tanda tangan. “Kita tertolong ya, Mar,” ucap Farel. “Iya. Bersyukur ada dosen yang lewat,” balas Damar. “Kalian berdua, boleh kenalan?” sapa seorang pemuda dari belakang. Damar dan Farel menolehkan kepala mereka ke belakang. Dilihatnya seorang pemuda yang mengenakan name tag seperti Damar dan Farel. Bisa dipastikan pemuda tersebut adalah mahasiswa baru sama seperti mereka. “Kamu mahasiswa baru juga ya?” tanya Farel. “Iya. Kenalin nama gue Aditya. Panggil gue Adit saja.” Pemuda tersebut memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya. Farel menyambut uluran tangan Aditya terlebih dahulu. “Nama gue Farel,” balas Farel. Kemudian setelah itu gantian Damar yang berjabat tangan dengan Aditya dan memperkenalkan dirinya. “Nama saya Damar.” Damar mendapat teman baru lainnya selain Farel. Setelah ini pasti akan bertambah lagi teman-teman baru untuk Damar. Hanya saja kehidupan Damar akan berubah setelah ia semakin dekat dengan Aditya. Pemuda yang nantinya akan memberikan pekerjaan sampingan pada Damar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN