RANTAU 14 – Penggerebekan

1536 Kata
“Farel! Farel, tunggu!” Damar mencegat Farel saat jam terakhir kuliah mereka telah usai dan hendak meninggalkan ruangan. Farel tampak menghela napas sebelum menolehkan kepalanya. “Kenapa?” tanyanya sinis. “Kita ngobrol sebentar yuk!” ajak Damar. “Lo bukannya ada janji sama Aditya? Kerjaan lo sudah menunggu. Gue mau balik ke rumah saja.” Farel menolak dengan alasan tersebut. “Tapi saya butuh ngobrol sama kamu, Rel.” “Kalau lo takut gue membocorkan apa kerjaan lo, jangan khawatir karena gue nggak akan bilang siapa-siapa.” Farel maju satu langkah mendekat ke arah Damar. Meletakkan tangannya di bahu Damar dan lanjut berkata, “Gue hanya berharap lo segera sadar dan meninggalkan pekerjaan lo yang sekarang ini.” Kemudian setelah itu Farel meninggalkan Damar yang kini menghela napas lesu karena gagal mengajak Farel berbicara. Damar hanya bisa melihat punggung Farel yang perlahan menghilang dari pandangannya. “Kalau seperti ini, mungkin memang seharusnya saya tidak melanjutkan pekerjaan yang sekarang,” gumam Damar yang telat menyadari kesalahannya. Mungkin seorang Damar memang harus dijauhi dulu oleh teman baiknya baru dia bisa berpikir dengan jernih. Akan tetapi meskipun begitu setidaknya Damar sudah sadar dan akan menjadikan kesalahannya sebagai pelajaran berharga baginya. Walau sangat membutuhkan uang, tetapi Damar harus pandai memilah dan memilih pekerjaan yang akan ia jalani. Ponsel Damar berdering. Dirogoh saku celananya dan dikeluarkan ponsel dari dalam sana. Dilihat layar ponselnya ternyata yang menghubunginya adalah Aditya. Tentu Damar langsung menerima panggilan masuk tersebut. “Halo, Dit!” “Lo di mana? Sudah on the way ke sini kan?” Aditya menanyakan keberadaan Damar. “Saya belum jalan ke sana. Rasanya saya juga sudah tidak bisa datang ke sana lagi. Saya berhenti saja, Dit,” jawab Damar sekaligus menyampaikan pengunduran dirinya. “Loh? Nggak bisa begitu dong! Lo nggak bisa berhenti begitu saja, Mar.” Aditya mencegah Damar agar tidak meninggalkan pekerjaannya tersebut. Namun, keputusan Damar sudah bulat. Ya, sudah bulat sejak Farel menolak untuk berbicara dengannya tadi. “Maaf, Dit. Saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini,” ucap Damar. “Temui gue dulu di tempat biasa. Kita bicarakan di sini saja. Cepat! Gue sudah nunggu di sini!” pungkas Aditya seraya mengakhiri panggilan teleponnya. Damar yang awalnya tidak berniat untuk kembali ke tempat ini kini merasa harus datang untuk menemui Aditya dan juga bos mereka. Damar diterima bekerja dengan baik, dia merasa harus berhenti secara baik-baik juga. Dilangkahkan kaki Damar dengan cepat menuju ke tempat di mana saat ini Aditya menunggunya. Damar harus mengakhiri segala kegelisahan yang melandanya sejak menjalani pekerjaan sebagai pengantar barang. Selain itu Damar juga harus memperbaiki hubungan pertemanannya dengan Farel, orang yang jelas-jelas selalu memberikan bantuan padanya. Namun, tanpa Damar ketahui dua orang pria bertubuh tegap mengikutinya dari jarak yang aman. Satu orang mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dan satunya lagi hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam yang sedikit ketat hingga otot-otot kekarnya di tubuhnya terlihat. Dua orang pria tersebut ternyata sudah memperhatikan gerak-gerik Damar sejak beberapa hari lalu, dan kini kedua pria itu harus menyelesaikan tugas mereka secepatnya. Menangkap pengedar narkoba. Tibalah Damar di rumah, atau yang sebenarnya adalah markas para pengedar narkoba. Damar mengetuk pintu rumah tersebut. Tok … tok … tok …. “Permisi!” seru Damar di depan pintu. Tak lama kemudian Aditya membukakan pintu untuk Damar. “Gue kira lo nggak akan datang,” katanya sambil tersenyum miring. “Ada yang mau saya bicarakan. Saya tidak bisa be –“ “Sssttt …!” Aditya membungkam mulut Damar. “Masuk dulu, kita bicara di dalam.” Damar pun menurutinya. Dia masuk ke dalam rumah tersebut tanpa memiliki firasat buruk apapun. Namun, saat Aditya hendak menutup kembali pintu rumah tersebut. Sebuah tangan berotot menahannya. Mendorong kencang pintu rumah tersebut hingga membuat Aditya dan Damar terperanjat. “SEMUANYA JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGAN KALIAN!” Pria berotot yang tadi mengikuti Damar berteriak lantang sambil menyodorkan senjata ke arah Aditya, satu orang lainnya menyodorkan senjatanya pada Damar. “Cih! Sialan!” umpat Aditya saat mengangkat kedua tangannya tinggi ke udara. Damar bingung dengan situasi saat ini. Banyak pertanyaan dalam benaknya, tetapi dia tidak bisa mengutarakannya karena suasana di dalam rumah tersebut jadi mencekam. Setelah Aditya dan Damar mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan mereka, seorang pria yang ternyata adalah polisi serta mengenakan jaket kulit berlari semakin masuk ke dalam rumah untuk menggerebek satu orang lainnya beserta barang bukti obat-obatan terlarang yang sudah siap dikirim. “BERHENTI! JANGAN KABUR!” teriak polisi tersebut saat pria gondrong di dalam sana berusaha melarikan diri. DOR! Sebuah peluru ditembakkan dan melumpuhkan kaki pria gondrong yang berusaha kabur dan tidak mau berhenti. Pada akhirnya pria itu kini mengerang kesakitan setelah dilumpuhkan kakinya. Aditya melirik ke arah pintu, menghitung kesempatan baginya agar bisa melarikan diri dari sana. Polisi yang berjaga di depan pintu tampak sangat waspada dan melekatkan pandangannya pada Aditya dan Damar. “Pak, saya tidak bersalah. Saya tidak tahu apa-apa,” lirih Damar dengan suara bergetar karena ketakutan. “DIAM! Sampaikan semuanya nanti di kantor polisi!” kata polisi yang menjaga mereka. “Huh! Tidak tahu apa-apa. Jelas-jelas lo yang antar barang-barang haram itu!” Aditya mengkambing-hitamkan Damar. “DIAM! SAYA SUDAH BILANG DIAM!” Polisi tersebut mulai geram. Damar menatap Aditya dengan memasang raut wajah tidak percaya. Padahal Aditya yang menyuruhnya, Aditya yang menjerumuskannya, tetapi kini Aditya juga yang melemparkan tuduhannya pada Damar. Kecewa. Menyesal. Sakit hati. Marah. Semuanya menjadi satu dalam hati Damar. Akan tetapi kini Damar melihat sebuah senyuman licik tersungging di wajah Aditya. Kemudian Damar, Aditya, dan pria gondrong yang ditembak kakinya itu digiring keluar rumah. Mereka semua akan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Di kantor polisi Damar menceritakan semuanya saat dimintai keterangan oleh salah satu petugas. “Saya berani bersumpah saya tidak tahu apa-apa, Pak. Saya mohon bebaskan saya, Pak.” Damar sampai memohon pada petugas polisi tersebut. Sayangnya, petugas tersebut tidak begitu saja mempercayai Damar. “Kamu tidak tahu apa-apa tapi kamu bolak balik ke sana dan mengantar barang haram itu? Mana bisa saya percaya sama kamu. Katakan sejujurnya, siapa bos kalian? Ke mana dia pergi?” “Saya bersumpah, Pak. Saya dijebak. Saya tidak diberi tahu kalau isinya barang haram,” ungkap Damar. “Ke mana bos kamu melarikan diri? Kamu belum menjawab pertanyaan saya itu! Cepat jawab atau kamu akan saya nilai tidak kooperatif!” Petugas polisi berusaha menyudutkan Damar demi mendapatkan informasi tentang bos mereka. Pria yang selama ini menjadi bos mereka ternyata sudah lama menjadi incaran polisi. Pria tersebut selalu pandai melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran polisi. Selalu saja jajaran polisi hanya bisa menangkap anak buahnya. “Saya serius, Pak. Saya tidak tahu apa-apa. Saya mohon bebaskan saya, Pak. Saya masih harus kuliah. Saya mohon, Pak. Tolong …,” mohon Damar untuk kesekian kalinya. Air mata Damar tak lagi bisa ditampung. Air mata itu terjun membasahi wajah Damar. Air mata yang berisi penyesalan besar karena Damar harus terjebak dengan pekerjaannya hanya karena membutuhkan uang untuk memenuhi biaya hidupnya. Bahkan jika dibandingkan, uang yang diterima Damar sebelumnya tidak sebanding dengan akibat yang kini menghampiri Damar. Petugas polisi masih tidak menanggapi dengan baik pengakuan Damar. Petugas itu kemudian menempatkan Damar dalan sel tahanan bersama dengan Aditya dan satu orang lain setelah memintanya menyerahkan sample urin untuk diperiksa. “Ini semua gara-gara kamu, Dit. Seharusnya saya percaya pada Farel kalau kamu sudah menjerumuskan saya ke dalam masalah.” Damar melemparkan tatapan penuh amarah pada Aditya yang saat ini duduk di dalam sel bersamanya. “Lo nyalahin gue? Huh, yang benar saja? Lo yang butuh uang kok malah nyalahin gue!” Aditya membela diri. Damar pun menghampiri Aditya. Menarik lengan pemuda itu agar bangkit berdiri. Lalu mencengkram baju kerah bajunya bersiap melampiaskan kemarahannya. “Kamu sudah menjerumuskan saya, Aditya! Kenapa kamu tidak bilang kalau barang yang akan dikirim itu adalah barang haram? Kamu menjebak saya!” kata Damar dengan kedua mata melotot pada Aditya. Merasa tidak terima disalahkan oleh Damar, Aditya pun menyingkirkan tangan Damar dan balas mencengkram kerah baju Damar. “Heh, orang kampung! Lo seharusnya berterima kasih sama gue. Karena gue yang bisa bantu masalah keuangan lo. Persetan lo nggak tahu yang diantar barang haram atau bukan. Lo sudah nikmati hasilnya kan? Lo nikmati uang itu, Damar!” Aditya balas menatap Damar dengan sinis. “Itu kan karena dari awal kamu tidak bilang sama saya kalau yang diantar itu barang haram!” Damar pun tidak ingin mengaku salah di hadapan Aditya. “Lo saja yang bodoh! Terlalu lugu sama bodoh itu tipis. Atau jangan-jangan lo berlagak lugu saja padahal lo senang menikmati uang dari mengantar barang haram? Hahaha … kampungan cara lo, Mar!” Aditya semakin memancing emosi Damar. Tanpa membalas ucapan Aditya lagi, Damar melayangkan sebuah bogem mentah ke wajah Aditya. Keributan terjadi di dalam sel tahanan tersebut. Kedua pemuda itu saling balas memukul hingga wajah mereka babak belur. Beberapa petugas polisi datang untuk menghentikan gulat antara Damar dan Aditya. Keduanya kemudian dipisahkan di sel yang berbeda. Di dalam selnya kini Damar hanya bisa menyesali segala yang terjadi padanya seraya merasakan sakit di wajah dan beberapa bagian tubuhnya karena pergulatan antara dirinya dengan Aditya. Nasi sudah menjadi bubur. Menyesal sekarang pun sudah tidak ada gunanya lagi. Damar harus menunggu hukuman apa yang akan ia terima karena sudah menjadi kurir pengantar barang haram bersama dengan Aditya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN