Bermalam di sel tahanan dan tidur di lantai yang dingin tanpa alas apapun membuat Damar tak bisa memejamkan kedua matanya. Rasa sakit di wajah dan tubuh yang babak belur akibat adu jotos dengan Aditya seolah menjadi teman bagi Damar saat menyesali segalanya. Kini dalam benak Damar terbayang bagaimana raut wajah kedua orang tuanya di kampung saat mengetahui putranya yang sedang belajar di perantauan kini sedang mendekam di sel tahanan. Bisa dipastikan ibunya akan histeris mendengar hal tersebut, dan bapaknya akan sangat marah padanya.
“Damar, kamu dipanggil untuk dimintai keterangan lagi.” Seorang petugas polisi membuka jeruji besi tempat Damar berada.
“Baik, Pak.” Damar bangkit berdiri dan berjalan keluar dari sel tahanan itu.
Dibawanya Damar menemui petugas yang akan meminta keterangan lagi darinya. Petugas tersebut juga kini memegang ponsel Damar yang disita sebagai barang bukti, karena ada percakapan antara Aditya dengannya di sana.
“Saya akan menghubungi pihak keluarga kamu. Saya akan meminta mereka datang untuk menjamin kamu,” kata petugas tersebut pada Damar.
“Menjamin maksudnya gimana, Pak?” tanya Damar yang tidak mengerti maksud dari petugas tersebut.
“Ya kalau kamu mau bebas, harus ada yang menjamin kamu. Harus ada yang dibayarkan agar kamu bisa bebas,” jawab petugas.
“Ja-jadi saya bisa bebas, Pak? Saya benar-benar tidak bersalah kan?” Damar menyunggingkan senyum sumringah di wajahnya.
“Hasil pemeriksaan urin kamu dan yang lainnya sudah keluar. Kamu negatif mengkonsumsi obat-obatan terlarang, tetapi dua temanmu itu positif dan harus menunggu keputusan lebih lanjut,” ungkap petugas tersebut pada Damar.
Kelegaan dalam diri Damar pun membuncah. Dia tidak akan ditahan lebih lama lagi di sana. Dia akan segera dibebaskan. Damar membayangkan dia akan memeluk kasur di kamar kostnya, atau mungkin dia ingin kembali ke Garut untuk menenangkan diri sejenak sampai ia siap kembali ke kampus.
Namun, sayangnya kelegaan itu tidak berlangsung lama hingga petugas polisi kembali menanyakan pihak keluarga yang bisa menjamin Damar.
“Jadi, siapa kira-kira keluarga kamu yang bisa saya hubungi untuk membicarakan masalah jaminan kamu?” tanya petugas tersebut.
“Jaminan ya? Memangnya saya tidak bisa membayarnya setelah bebas saja, Pak?” Damar meminta keringanan.
“Ya tentu saja tidak bisa. Kalau tidak ada yang bisa menjamin kamu maka saya akan kembali memasukkan kamu ke sel tahanan,” jawab petugas.
“Tapi, Pak, saya mohon sekali ini saja boleh ya saya bayar jaminannya setelah bebas. Saya janji akan bekerja keras untuk membayarnya.” Damar memohon dengan sangat pada petugas, bahkan suaranya pun terdengar lirih.
Petugas polisi tersebut menggelengkan kepalanya lalu menertawakan Damar. “Ha … ha … ha …. Anak muda, jika memang membayar jaminan bisa setelah bebas, maka sudah banyak narapidana yang bebas karena bisa membayar jaminannya belakangan. Jadi, siapa yang bisa saya hubungi? Ibu dan bapak kamu, atau ada keluarga lain?”
“Jangan, Pak!” larang Damar. “Orang tua saya jangan sampai tahu ya, Pak. Kasihan mereka di kampung. Mereka juga pasti tidak punya uang, Pak,” jelasnya kemudian.
“Lalu siapa? Tidak ada yang bisa saya hubungi? Kalau begitu ya kamu ikut sidang saja dan terima hukuman kamu. Padahal saya sudah berusaha bantu kamu biar bisa bebas loh.” Sepertinya petugas itu sengaja mengatakan hal tersebut dengan maksud dan tujuan lain.
Ucapan petugas polisi tadi tentunya membuat Damar tertekan. Dia tidak mau mendekam lebih lama lagi di tempat tersebut. Tempat di mana banyak ia melihat serta merasakan lantai yang dingin, makanan yang tidak layak, bahkan perlakuan yang tidak baik karena dianggap penjahat. Bahkan orang-orang di dalam satu sel yang sama pun saling melempar tatapan dingin menganggap semuanya adalah musuh. Damar tidak ingin lagi berada di tempat itu.
“Pak, saya mohon bebaskan saya. Saya mohon, Pak.” Lagi-lagi yang bisa dilakukan oleh Damar adalah memohon kebaikan hati petugas polisi tersebut.
“Makanya siapa yang bisa menjamin kamu keluar dari sini? Saya sudah bantu loh,” balas sang petugas.
Damar berpikir sejenak siapa yang sekiranya mau dan bisa membantunya. Farel? Damar sudah mengecewakannya, dan dia akan sangat malu untuk meminta bantuan temannya itu. Gibran? Rasanya tidak mungkin Gibran menyimpan banyak uang untuk membantunya. Damar juga tidak mau merepotkannya.
“Jadi, siapa yang bisa saya hubungi?” Petugas polisi juga semakin mendesak Damar hingga ia menjadi semakin tertekan dan frustasi.
“Dosen saya saja kalau begitu, Pak!” jawab Damar asal.
“Yakin ini saya hubungi dosen kamu?” tanya petugas polisi.
Damar menjawab, “Tidak yakin sih, Pak. Tapi boleh kita coba saja hubungi dia?”
“Oke. Asal dia berani menjamin kamu maka tidak masalah,” kata petugas itu.
Damar mengangguk. Di dalam hati kecilnya pemuda itu hanya berharap dosennya bisa membantu kali ini. Tidak masalah bagi Damar nama baiknya tercoreng di mata dosen atau orang-orang lain, asalkan bukan di mata kedua orang tuanya. Damar tidak ingin membuat kebanggaan kedua ambu dan bapak pada dirinya luntur karena permasalahan yang dihadapi oleh Damar saat ini.
Kemudian petugas polisi menghubungi dosen yang nomornya disimpan oleh Damar. Damar dikembalikan untuk sementara di sel tahanan sampai dosen tersebut datang dan menjaminnya keluar dari sana.
Namun, setelah menunggu berjam-jam dosen yang dihubungi pun tak kunjung datang. Damar putus asa. Dia meremas rambut dengan kedua tangannya sambil terus merapalkan penyesalan di dalam hati.
Tiba-tiba terdengar sedikit keributan dari arah sel tahanan Aditya. Damar serta beberapa tahanan lain langsung mencari tahu dengan merapatkan diri mereka ke pintu sel.
“Cepat bawa mereka berdua! Cepat! Sebelum dua-duanya meninggal di sini!” Teriak seorang petugas pada rekannya yang menggendong tubuh Aditya keluar dari sel tahanan tersebut.
“Aaarrgghh …! Aaarrgghh …!” Sementara Aditya mengerang dengan kedua tangan menyilang memeluk dirinya sendiri. Dia menggigil, dan mengerang.
“Aditya? Kenapa dia?” Damar bertanya-tanya.
Damar hanya melihat sekilas wajah Aditya yang tampak sangat pucat. Rasa khawatir langsung menghinggapi Damar. Meski Aditya sudah menjebaknya, tetapi jika melihat pemuda itu sampai sakit tak berdaya tentu membuat Damar merasa kasihan dan khawatir.
“Wah, sakau tuh kayaknya,” celetuk seorang tahanan di sel yang sama dengan Damar.
Damar mengernyitkan dahi. “Sakau? Apa itu, Bang?”
“Kecanduan obat-obatan terlarang,” jawab singkat tahanan itu.
“Kecanduan? Ja-jadi Aditya ….” Damar bahkan tidak ingin melanjutkan kalimat yang keluar dari bibirnya.
Entah dibawa ke mana Aditya saat itu. Kemungkinan Aditya dibawa ke pusat rehabilitasi untuk menghilangkan efek kecanduannya.
Beberapa hari kemudian dosen yang dihubungi oleh petugas pun datang. Dosen yang dimaksud adalah Pak Mulyana.
“Selamat siang,” kata Pak Mulyana saat menginjakkan kakinya di sana.
“Selamat siang, Pak. Ada keperluan apa?” tanya petugas yang berjaga.
“Saya Mulyana, dosennya Damar. Saya datang karena beberapa hari lalu mendapat informasi kalau salah satu mahasiswa saya ditangkap,” jawab Pak Mulyana.
“Silahkan masuk, Pak. Akan ada rekan saya yang membantu di dalam.” Pak Mulyana dipersilahkan masuk.
Pak Mulyana kemudian masuk ke dalam ruangan di mana petugas yang menghubunginya sudah menunggu di dalam sana. Petugas tersebut menceritakan kronologi penangkapan Damar dan Aditya, serta seorang pria lain bersama mereka secara detail pada Pak Mulyana. Kemudian petugas tersebut juga menyampaikan jika Damar meminta bantuan Pak Mulyana untuk membebaskannya karena tidak berani menghubungi kedua orang tuanya.
“Boleh saya bertemu dengan Damar dulu, Pak?” pinta Pak Mulyana pada petugas.
“Boleh. Saya akan panggilkan dia,” jawab petugas tersebut.
Petugas itu pun beranjak dari tempatnya dan menghampiri Damar di sel tahanannya. Diajaknya Damar menemui Pak Mulyana sesuai permintaan dosennya itu.
“Ini Damar. Saya akan beri kalian waktu untuk berbicara sebentar,” kata petugas polisi pada Pak Mulyana dan Damar.
Wajah Damar tertunduk. Rasa bersalah bercampur malu membuatnya tak sanggup menatap dosennya tersebut.
“Saya tidak menyangka kalau kamu seperti ini, Damar. Saya kecewa sama kamu. Mahasiswa yang mendapat beasiswa prestasi kini mendekam di penjara.” Pak Mulyana menyampaikan kekecewaannya pada Damar.
“Maafkan saya, Pak. Tetapi saya dijebak.” Damar membela diri.
“Dijebak atau tidak, kamu tetap saja sekarang ada di sini kan? Berita kalian sudah menyebar ke penjuru kampus. Beasiswa kamu kini sedang diujung tanduk, Damar!” ungkap Pak Mulyana.
Damar tak bisa berkata-kata. Kecerobohannya ini membuat beasiswanya terancam. Terbayang lagi wajah ambu dan bapaknya yang akan sangat kecewa pada putra kebanggaan mereka.
Tidak terasa air mata Damar pun menetes membayang hal tersebut. Tubuh Damar tiba-tiba luruh. Wajahnya menengadah menatap sang dosen. Diraih tangan dosennya itu lalu Damar memohon.
“Pak, tolong bantu saya keluar dari sini. Tolong, Pak. Saya benar-benar tidak tahu menahu masalah obat-obatan terlarang itu. Saya hanya mencari kerja sampingan untuk tambahan biaya hidup di Jakarta, Pak. Tolong saya, Pak, hu … hu … hu ….” Damar menangis. Meraung. Memohon pada dosennya agar bisa menolongnya.
“Kalau untuk membebaskanmu dari sini saya masih bisa. Tetapi jika untuk mempertahankan beasiswa kamu, saya tidak bisa berjanji. Keputusan itu sepenuhnya ada di tangan lembaga yang memberikan beasiswa kepadamu.” Pak Mulyana tidak memiliki kuasa perihal beasiswa Damar.
“Tolong saya, Pak, hu … hu … hu …. Orang tua saya pasti kecewa kalau tahu beasiswa saya dicabut, Pak. Tolong saya ….” Damar terus memohon. Berlutut hingga ingin mencium kaki Pak Mulyana agar beliau bersedia membantunya.
Hati Pak Mulyana yang juga seorang ayah tentunya merasa tersentuh melihat Damar sampai menangis dan memohon padanya hanya agar orang tuanya di kampung tidak kecewa padanya.
“Saya tidak bisa janji sama kamu, Mar. Tapi saya akan coba bicarakan dengan dosen lainnya, rektor, dan juga lembaga tentang masalah ini. Jika mereka masih mengizinkan kamu mendapat beasiswa, berarti itu memang rejeki kamu. Tapi kalau kamu tidak lagi bisa mendapatkannya, kamu harus ikhlas. Jadikan semua ini pelajaran berharga bagimu,” ucap Pak Mulyana seraya menasihati Damar.
Dalam tangisnya Damar menganggukkan kepala. Mencium punggung tangan Pak Mulyana sebagai ungkapan rasa terima kasih karena beliau masih mau membantunya.
Kemudian Pak Mulyana menjamin Damar keluar dari sel tahanan dengan memberikan sejumlah uang pada pihak kepolisian. Damar pun bebas bersyarat. Jika sekali lagi Damar tertangkap dengan profesi yang sama, maka Damar tidak akan bisa lagi bebas dengan mudah. Damar harus menjalani persidangan jika hal tersebut sampai benar-benar terjadi.
Pak Mulyana bahkan mengantarkan Damar ke kost tempat tinggalnya. Namun, Pak Mulyana tidak sempat untuk singgah ke kamar kost Damar karena beliau harus segera pulang ke rumah.
Lama Damar berdiri di depan rumah kostnya karena kedua kakinya yang tiba-tiba terasa berat. Rasanya ia juga sedikit malu untuk bertemu dengan para penghuni di kost tersebut.
“Damar! Kenapa bengong di sini?” sapa Gibran yang baru saja pulang bekerja.
Kepala Damar menoleh ke arah Gibran. Kemudian Damar menjawab, “Saya jadi sungkan masuk ke dalam.”
“Kenapa?” tanya Gibran. “Karena baru pulang?” tambahnya.
Entah sebenarnya Gibran sudah mengetahuinya atau belum jika beberapa hari kemarin Damar menginap di sel tahanan. Tetapi pertanyaan Gibran barusan membuat detak jantung Damar lebih kencang. Seperti ada ketakutan dalam diri Damar jika ada orang lain yang mengetahui masalahnya.
Gibran menepuk bahu Damar. “Masuk yuk! Kebetulan gue beli nasi goreng dua bungkus. Pas banget memang rejeki lo ini, Mar. Kita makan di kamar lo ya!”
Damar mengangguk lalu mengikuti Gibran masuk ke dalam rumah kost. Kedua pemuda tersebut langsung melangkahkan kaki menuju ke kamar Damar.
“Lo jadi pendiam. Apa ada masalah? Lo nggak mau cerita sama gue ya, Mar?” tanya Gibran di sela-sela kegiatan makan mereka.
“Bukan begitu, Gib. Mungkin saya butuh introspeksi diri saya saja. Saya ingin menenangkan diri,” jawab Damar.
“Besok lo kuliah nggak? Ajak gue ke kampung lo dong!” pinta Gibran.
Damar bungkam. Dia tidak bisa menjawab Gibran. Dia tidak tahu apakah dia masih boleh datang ke kampusnya untuk kuliah atau tidak.
“Mar, gue sudah tahu kok masalah lo. Tapi tenang saja, di sini nggak ada yang tahu lagi selain gue,” kata Gibran.
Sontak Damar menolehkan kepalanya cepat pada Gibran. Tatapan matanya juga menunjukkan jika ia sangat terkejut.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Damar.
“Nggak penting gue tahu dari mana. Karena yang terpenting sekarang lo sudah menyesal dan nggak akan mudah menerima kerjaan nggak jelas kayak sebelumnya,” ujar Damar.
“Iya, Gib. Saya sungguh menyesal. Saya tidak mendengarkan kamu dan Farel. Saya benar-benar dibuat bodoh karena uang.” Nada suara Damar terdengar penuh dengan penyesalan.
“Kita hidup memang butuh uang, tetapi bukan artinya segala pekerjaan yang menghasilkan uang itu boleh kita lakukan, Mar. Jangan ceroboh lagi ya.” Gibran mengacak rambut Damar seolah menganggapnya seperti adik sendiri.
Damar mengangguk. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Penyesalan masihlah menguasai diri Damar. Namun, dia harus terus menjalani kehidupannya. Karena dia tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mencegah dirinya di masa itu untuk tidak menerima pekerjaan Aditya. Penyesalan akan selalu menang jika kita tidak berhati-hati dalam mengambil tindakan.