Adzan subuh berkumandang. Suaranya menyusup masuk ke dalam mimpi Damar, membuat kedua matanya yang terpejam kini perlahan terbuka. Masih dalam posisi berbaring Damar menatap ke langit-langit kamar sambil memasang kedua telinganya mendengarkan lantunan Adzan. Tidak hanya itu, benaknya yang belum sepenuhnya siap diajak berpikir dipaksanya untuk merenungi segala hal yang sudah terjadi dalam kehidupannya di Jakarta. Tepat setelah adzan subuh selesai berkumandang terdengar dering ponsel yang membuat Damar beranjak dari tidurnya. Diraih ponsel yang diletakkan di samping bantal, lalu dilihat layar ponselnya sebelum menerima panggilan telepon yang masuk tersebut. “Bapak,” katanya mengeja nama yang tampil di layar ponselnya. Damar merasa belum siap untuk menerima panggilan telepon tersebut. D

