Di dalam ruangan Ibu Addawiyah saat hari sudah berganti malam, Damar duduk bersila di lantai, di sudut ruangan tersebut, sambil memangku laptop yang kini digunakannya untuk mengerjakan tugas dari Ibu Addawiyah. Kini pemuda itu sedang memeriksa penawaran-penawaran masuk dari para vendor lalu menggabungkannya menjadi satu file. Sebelum dokumen-dokumen tersebut dicetak dan meminta tanda tangan dari Ibu Addawiyah, serta direktur yang memimpin perusahaan tersebut, Damar memeriksanya berkali-kali agar tidak ada kesalahan kecil yang membuat pengajuan tender itu gagal. “Damar, sudah berapa persen dokumen yang kamu siapkan?” tanya Ibu Addawiyah saat memasuki ruangan. “Sudah hampir delapan puluh persen, Bu. Saya ingin mencetak beberapa persetujuan dari vendor dan minta tanda tangan Ibu,” jawabnya.

