Sebuah kesempatan bagus menghampiri Damar di saat skripsi juga mulai mendekat. Damar tidak yakin akankah dia sanggup mengambil keduanya. Tetapi saat ia mengingat kembali keluarga yang harus ia angkat derajatnya, membuat Damar meyakinkan dirinya sendiri jika dia harus mampu menjalani keduanya. “Woy, Mar! Kapan lo mau mulai skripsi?” tanya Farel pada Damar yang tengah duduk sendirian di taman belakang kampus. Di atas rerumputan hijau, di bawah pohon rindang yang melindungi Damar dari silaunya matahari. “Saya maunya sih cepat. Kamu sendiri kapan?” mbalik Damar bertanya. Farel baru saja meletakkan bokongnya di sebelah Damar. Melepaskan ransel yang ia pakai di punggungnya lalu membaringkan tubuhnya di rerumputan yang sedikit menggelitik saat mengenai punggungnya. “Gue bareng sama lo saja sk

