Malam hari di Garut dengan udara yang dingin membuat Farel dan Gibran yang melapisi tubuh mereka dengan jaket, celana training panjang, serta memakai kaus kaki. Kedua pemuda itu menghampiri Damar di teras depan rumahnya. “Mar, lo nggak kedinginan?” tanya Farel yang langsung duduk di sebelah Damar. Damar menolehkan kepalanya dan menjawab, “Dingin sih, tapi sudah biasa.” “Gue belum sempat mandi sore. Tadi gue ke kamar mandi, baru juga nyiram kaki, sudah seperti disiram sama air es. Batal deh mandinya,” ungkap Gibran sambil terkekeh. Gibran kini duduk di lantai di hadapan Damar dan Farel. “Jorok kamu, Gib! Mandi sana! Kan bisa masak air panas dulu biar dicampur di air untuk mandinya,” titah Damar. “Percuma, Mar. Masak air panas sepanci, airnya satu bak, ya nggak jadi hangat itu air es di

