“Akhirnya lo masuk kuliah lagi, Mar. Memang sudah sembuh?” Farel menyambut kembalinya Damar di kampus setelah pulih dari sakitnya. “Sudah dong, Rel! Nggak betah saya sakit lama-lama,” jawab Damar. “Eh, Mar. Waktu lo sakit kemarin lo sempat dicariin sama Pak Mul,” ungkap Farel. Damar menolehkan kepalanya pada Farel lalu mengernyitkan dahinya. “Kenapa kamu nggak bilang? Kamu kan hampir setiap hari datang ke kosan saya.” “Lupa, Mar. Hehehe ….” Farel terkekeh. Kemudian Damar mengangkat tangan kiri Farel demi melihat waktu dari jam yang melingkar di sana. “Masih ada lima belas menit lagi. Saya ke ruang dosen dulu ya, Rel! Saya mau ketemu Pak Mulyana,” katanya seraya berjalan menjauh dari Farel. “Gue ikut, Mar!” seru Farel mengejar Damar. Sesampainya kedua pemuda itu di ruang dosen, mere

