Dengan telaten Chelsea membantu Angga berbaring kembali ke tempat tidur setelah memberikan obat kepada lelaki itu. Chelsea meletakkan punggung tangan pada kening lelaki itu, lalu mengambil thermometer digital dan menyelipkannya pada ketiak Angga. “37,5 sebaiknya kita ke dokter, Ga. Obat warung udah nggak mempan.” Chelsea menatap lelaki itu memohon. Angga menjadi keras kepala sepertinya jika sedang sakit. Angga menggeleng tak setuju, lalu meletakkan kepalanya pada pundak Chelsea. “Aku cuma kecapekan dan terlalu banyak berpikir, makanya sakit begini. Kamu nggak usah khawatir, Chel. Setelah tidur, aku pasti akan kembali segar bugar.” “Kita ke klinik terdekat. Pakai jaket dan aku akan membawamu ke sana.” Cukup sudah, Chelsea tak mau lagi bernegosiasi dengan Angga. Sedari siang ia mengikut

