Keputusan sulit yang Chelsea buat selama hidupnya adalah melepaskan karna terlalu sakit bertahan di sisi lelaki itu, tetapi terlalu besar cinta untuk melepaskan. Ia dilanda kebimbangan, antara tetap bertahan sembari mencengkram erat duri dalam hubungan, atau melepaskan agar hati tak lagi tersakiti. Namun sayang, ia tak tahu apakah keputusannya sudah benar. Jika memang semuanya benar, mengapa hingga saat ini hatinya tercabik? Pedih tak berkesudahaan dan matinya hati yang telah hancur. Siapa yang harus ia salahkan karna keadaannya kini. Dirinya yang terlalu lemah, cinta yang tak pernah ada logika, atau lelaki itu yang tak mau lagi mempertahankannya? Chelsea kembali ke meja kerjanya, menatap kosong layar komputer. Pikirannya masih terhenti di Angga yang tampak jauh berbeda, tak seperti dirin

