Chelsea menatap pantulan diri di cermin, ia tersenyum miris pada bayangan dirinya di sana. Mempertanyakan mengapa ia bisa sebodoh ini? Jelas-jelas lelaki itu telah memiliki wanita lain yang mengisi hatinya, lalu mengapa ia masih mau terus terjebak dalam semu? Tak pernah ada yang tau, mengapa cinta bisa begitu menghancurkan. Ketukan pada pintu membuyarkan lamunan Chelsea. Ia menoleh ke sumber suara dan tersenyum pada lelaki yang berdiri di sana. Lelaki itu berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Chelsea. Sedetik kemudian, Chelsea dapat merasakan sesuatu yang dingin melingkar di jari manisnya. Ia mengangkat tangannya ke udara. Cinin bermata satu itu tampak indah. Melihat cincin itu membuatnya teringat akan cincin pernikahan mereka yang harus ia jual karna tak ada lagi uang untuk makan s

