Another Man

2576 Kata
Wanita berambut panjang sepunggung dengan bola mata berwarna coklat muda dan bibir tebal penuh itu bernama Andriana Sarah. Tubuhnya seksi dengan tinggi semampai dan sempurna.  Andriana Sarah diberikan kesempurnaan wajah dan tubuh. Sebuah karya Tuhan yang sempurna melebihi wanita bernama Monalisa 'milik' Leonardo da Vinci yang diakui kecantikannya seluruh dunia. Karena kesempurnaan itu berhasil membuat Nick mematung melihatnya tanpa kedip. Dan itu menjadi perhatian Riska. "Aku Riska Anggraeni, istri Nicholas sekaligus pemilik Resort ini, Andriana Sarah." Riska memperkenalkan diri, berjalan mendekati Sarah sambil menyodori tangan. Pandangan Riska menelisik tatapan Sarah yang tertuju ke arah Nick lalu berpindah ke arahnya dengan senyum penuh misteri. Sarah membalas genggaman Riska dengan tersenyum, walau sedikit memaksa. "Panggil aku Sarah saja, Bu," pintanya yang merasa nyaman dengan panggilan 'Sarah'. Riska menoleh melihat Nick yang masih terdiam. "Nick?" Panggilannya berhasil menyadarkan Nick yang seketika jadi gelagapan. "Eh? Oh..silahkan duduk." Tawar Nick gelagapan. Sarah menuju sofa lalu mengulurkan tangan pada Nick, "Panggil aku Sarah, Pak Nicholas." Ia meminta dan kembali mengembangkan senyumnya yang seksi. "Selamat datang di resort kami, Sarah. Silahkan duduk. Aku akan menjelaskan semua tugas dan isi kontrak selama kau menjadi asistenku," ucap Nick  menoleh ke arah Mario yang mendekat lalu menerima beberapa lembar kertas. Nick dan Mario duduk berdampingan didepan Sarah. Mario membaca isi dari kertas yang ada di meja sementara Sarah menyimak pada kertas salinan yang ada di genggamannya. Sesekali wanita cantik itu mengangguk dan bertanya tentang hal yang kurang ia pahami pada mereka berdua. Melihat perbincangan mereka yang serius, Riska pamit ke kamar sebelah dan membiarkan mereka berdiskusi. Riska membuka kamar ketiga anaknya dan menemukan mereka sedang bermain bersama pengasuh mereka, Mbok Karti dan dua pengasuh lainnya. Melihat tawa ketiga anaknya membuat Riska berpikir, Apakah kebahagiaan keluarga kecil kami abadi? Apakah Nick akan selalu menjadi suami dan ayah yang selalu mencintai kami?  Seketika Riska menghela nafas pasrah dan yakin, jika Nick memegang janjinya untuk terus bersama hingga ajal menjemput. Seperti cinta yang Aldi berikan. Walaupun Nick dikelilingi wanita-wanita cantik. Seperti Sarah. Riska menyambut Richie yang berlari kecil dan memanggil 'Mama' ke arahnya. Ia memeluk Richie yang tubuhnya lebih besar daripada si kembar Elina dan Carlos.  Dengan usia yang terpaut 3 bulan, Richie tumbuh menjadi anak yang tampan. Berwajah oriental seperti Ryan dan berambut coklat tua seperti Jeny. Ketika senyum, Richie mengingatkannya pada Ryan. Dan tiba-tiba ia jadi teringat hubungan Ryan dengan Laura yang sedang dalam masalah. Riska berharap Ryan bisa segera berdamai dan hidup bahagia karena itulah yang menjadi doa nya sejak dulu, semenjak mereka tak berjodoh. Pandangan Riska tertuju pada pintu kamar yang terbuka dan Jeff masuk lalu menghampirinya. "Apa kita jadi meeting dengan Pak Beny?" Tanya Jeff lalu melirik arloji. Riska terkejut. "Oh iya, aku lupa!" Menepuk dahi dan melirik Jeff yang menggeleng. "Jam berapa jadwal kita meeting dengannya, Jeff? Apa kau sudah menyiapkan semua berkas?" Ia memberikan Richie pada Minah, pengasuh yang paling muda tapi Richie berontak dan menangis. Jeff mengangguk. "Satu jam dari sekarang, Ris. Semua berkas sudah aku siapkan dan kita harus pergi sekarang sebelum terlambat," ajaknya memaksa Riska untuk bergegas menemui klien yang menurutnya disiplin masalah waktu. "Baiklah. Kita pergi sekarang." Riska menyetujui. Ia menghampiri Elina dan Carlos lalu menciumnya, begitu juga dengan Richie yang berada dalam gendongan Minah yang masih menangis. "Mama pergi dulu ya, Richie sayang. Mainlah dengan Carlos dan Elina," ucapnya mencium pipi dan dahi Richie lalu beranjak meninggalkan mereka. "Mengapa akhir-akhir ini Richie rewel? Apa dia sakit?" Jeff berjalan mengiringi Riska yang melangkah cepat. "Tidak, Jeff. Dia baik-baik saja tapi tidak dengan ayahnya." Riska membalas dan menatap Jeff yang kaget. "Maksudmu? Bukankah Ryan sudah sehat dan.." Jeff tersenyum nakal. "Dia makin tampan?" guraunya berhasil membuat Riska tertawa kecil. "Sejak dulu dia memang tampan, Jeff." Riska membalas dengan wajah merona. Tawa Jeff pecah. "Ow..ow..ow..rupanya aku sudah membuatmu bernostalgia tentang Ryan," ledeknya lalu meringis setelah sebuah cubitan mendarat di pinggang kirinya. Jeff mengusap pinggangnya. "Kau belum menjawabnya, Ris." Menagih jawaban Riska.  "Tentang Ryan?" "Ya. Ada apa dengannya? Apa dia bercerai dengan Laura?" Riska menghentikan langkah dan memandang Jeff yang penasaran. "Tidak, Jeff. Dia baik-baik saja dengan Laura. Karena..aku mengharapkan dia bahagia." Suara Riska bergetar dan Jeff tahu benar tentang perasaannya. "Tentu dia akan bahagia, Ris. Kau jangan terlalu mencemaskannya. Yang perlu kau cemaskan adalah pertemuan kita dengan Pak Beny." Ucap Jeff mengingatkan Riska lagi. "Kau benar, Jeff. Kita harus cepat tiba disana." Ajak Riska yang spontan menuruni tangga tergesa-gesa. ❤❤❤ Riska dan Jeff berdiri ketika pria paruh baya bernama Beny dan asistennya tiba menghampiri mereka sambil tersenyum di sebuah coffee shop tak jauh dari Resort.  "Saya tidak menyangka kalau pemilik resort Geulis Paradise secantik ini." Puji Beny membalas uluran tangan Riska. "Terima kasih, Pak Beny. Kehormatan buat saya bisa bertemu dengan produser ternama seperti Bapak." Riska membalas pujian Beny lalu mempersilahkannya duduk setelah bersalaman dengan Jeff. "Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Jane Wang, Bu Riska," Beny menepis pujian Riska sambil menarik kursi ke depan.  Asisten Beny, pria bernama Priyo menyodori beberapa lembar kertas di atas meja.  "Ini berkas yang saya tawarkan selama kami menyewa resort untuk keperluan syuting. Tolong Bu Riska pelajari lagi." Pinta Priyo dengan nada serius. Riska membaca sebentar lalu mengangguk. "Baiklah, saya akan pelajari dan ini.." Jeff memberikan beberapa lembar kertas pada Priyo. "Denah resort kami dan semoga cocok dengan film yang akan bapak buat." Riska membalas lalu melirik ke arah Beny. "Saya rasa resort Ibu sudah sesuai dengan isi dari skenario kami. Tapi sebelumnya, lusa Produser Eksekutif kami akan datang meninjau langsung ke lokasi." Terang Beny. "Bu Riska tidak keberatan kan? Menjelaskan semua lokasi yang kami sewa pada beliau."  Riska menggangguk cepat. "Tentu, Pak Beny. Kalau boleh tahu siapa nama produser eksekutif anda? Agar saya tidak salah orang." "Eugene Arthur. Panggilannya Mr. Arthur." Jawab Beny. "Beliau blasteran Italia-Singapura yang mahir bahasa Indonesia. Kalau besok Bu Riska kedatangan tamu yang wajahnya serius dan jarang senyum, saya pastikan itu dia." Beny melanjutkan kalimatnya dengan gelak tawa. "Baiklah, saya pastikan dia bisa tertawa juga seperti anda, Pak Beny." Riska membalas santai lalu terkekeh.  Arthur. Hmm.. kuharap aku bisa membuatnya tersenyum, pinta Riska dalam hati. Ia juga berharap agar kerjasama mereka terlaksana baik selama syuting dilakukan di Resort miliknya. Selain mendapatkan keuntungan dari hasil sewa, Resortnya akan lebih banyak diketahui orang karena dijadikan sebagai setting dari sebuah film yang akan di tayangkan di Asia. Saat ini Riska bertekad harus mencapai deal saat bertemu dengan pria yang bernama Arthur itu. Walau tahu pria yang menjadi kliennya tipe orang yang serius. Tapi karena pria itu jarang tersenyum dan serius, membuatnya penasaran dan tak sabar. "Semoga saja, Bu Riska. Jika anda bisa membuatnya tertawa dengan tulus, saya rasa dia menyukai anda. Maksud saya sebagai klien." Ucap Beny lalu tertawa lagi. "Semoga saja, Pak." ❤❤❤ "Apa kau mengenal Produser itu, Jeff?" Riska melirik Jeff yang serius mengemudi. "Arthur?" Riska mengangguk. "Tidak, Ris. Sebaiknya kau tanya pada Tia Jane. Aku rasa dia mengenal baik klien kita." Sahut Jeff meliriknya sebentar. "Kenapa? Apa kau takut kesepakatan kita gagal hanya karena pria bernama Arthur itu jarang tersenyum?" tebaknya lalu tertawa kecil. Riska berpikir sebentar. "Sejujurnya ya. Jika mereka deal, resort kita terkenal se Asia, Jeff. Kau bayangkan, se ASIA, bukan se Indonesia lagi." Senyumnya mengembang membayangkan perjuangan Aldi untuk membuat resort itu terkenal tinggal beberapa langkah lagi, walaupun promosi melalui sebuah film buatan Singapura. Bukan Hollywood. "Kau jangan khawatir, Ris. Kau sudah membuat resortmu terkenal. Aku rasa Aldi bangga padamu." Jeff membalas dan teringat keinginan Aldi yang sama dengan Riska. Membuat resort Geulis Paradise dikenal di seluruh negara. Riska tersenyum dan mengangguk walau air matanya mengembang mengingat Aldi. "Tentu saja, Jeff. Aku akan selalu melanjutkan perjuangannya begitu juga sebagai donatur pada panti asuhan. Aku ingin Aldi selalu tersenyum dan tahu jika namanya selalu dikenang, sebagai sosok orang baik dan dermawan." Suaranya bergetar seakan Aldi berada di sekitar mereka, selalu hidup dan tersenyum bahagia. Jeff tersenyum lebar. "Aku percaya padamu, Ris. Itulah alasan Aldi menjadikanmu istri. Kau sudah mengharumkan nama Aldi sebagai penulis, manajer Resort dan donatur." Puji Jeff melirik Riska yang mengangguk setuju. "Karena aku akan selalu mencintainya, Jeff. Mencintai Aldi sampai mati." ❤❤❤ Setelah menyelesaikan sarapan, Riska berhias dan menyandangkan tas di bahu. Melihat istrinya seakan pergi ke suatu tempat, Nick penasaran.  "Kau mau ke mana, Ris? Apa ada meeting dengan klienmu yang dari Singapura itu?"  "Tidak, Nick." Riska membalas, merapikan rambutnya di pantulan cermin besar. "Aku mau ke Toko buku lalu membeli bunga mawar untuk Aldi," sambungnya melirik Nick dari cermin yang berjalan mendekati lalu memeluknya dari belakang. "Cepatlah pulang. Aku sedang menginginkannya, Ris." Nick meminta sambil menciumi leher Riska pelan. Riska mendongak dan memberi ruang di lehernya. "Kita baru saja melakukannya tadi malam, Nick," jawabnya lalu tertawa pelan. "Tapi kau selalu menggairahkan, Ris. Aku--" Nick menghentikan ucapannya setelah mereka mendengar suara ketukan dari balik pintu. "Masuklah," ucap Riska setengah berteriak, melepaskan pelukan Nick dan mengira orang di balik pintu itu adalah Pak Joko, supir pribadinya.  Dugaan Riska meleset setelah melihat Sarah membuka pintu sambil tersenyum lebar ke arah mereka. "Selamat pagi, Pak Nicholas," sapanya lalu melirik Riska. "Pagi, Bu," sambungnya lagi. "Pagi, Sarah." Riska membalas cepat. "Masuklah," pintanya pada Sarah lalu membalikkan tubuh menatap Nick yang terdiam sebentar. "Aku pergi dulu, Nick. Kalau aku kembali, Kita akan melanjutkannya lagi, oke?!" Riska pamit tapi tubuhnya terdorong membentur d**a Nick setelah tangan Nick menarik pinggang lalu mengecup bibirnya. "Cepatlah kembali, aku menunggumu." Nick memohon kedua kalinya dengan tatapan penuh hasrat walaupun didepan Sarah yang seketika membuang wajah melihat kemesraan mereka. Riska mengelus pipi Nick. "Akan ku usahakan, Sayang. Aku pergi dulu." Melepaskan kedua tangan Nick yang melingkar di pinggangnya lalu membalikkan tubuh dan melangkah menuju pintu. "Saya tinggal dulu, Sarah." Pamit Riska pada Sarah yang tak lama mengangguk. "Baik, Bu," balasnya mengikuti gerak langkah Riska menuju pintu lalu keluar kamar meninggalkan mereka. "Duduklah." Pinta Nick membuyarkan pandangan Sarah melihat Riska menghilang dari balik pintu. "Ini jadwal kerjamu Dan kau harus mempelajarinya," Nick menaruh lembaran kertas di atas meja sofa. Sarah mendekat lalu duduk dihadapan Nick. Ia mengambil kertas-kertas itu lalu membaca dengan seksama. "Baiklah, Pak." Sarah menjawab dan melirik Nick yang menatapnya serius. "Sesuai jadwal ini, berati saya harus menghubungi Pak Dany untuk mengkonfirmasi meeting di hari jum'at. Bukan begitu?"  Nick mengangguk sambil menyulut api pada rokok yang sudah ia selipkan di kedua bibirnya. "Ya. Untuk mengerjakan tugas, sementara waktu kau bisa mengunakan komputer di ruang administrasi resort di lantai bawah. Di samping resepsionis. Kau bisa bertanya pada Dini." Terang Nick lalu menghembuskan asap rokok dan pandangannya tertuju pada pakaian Sarah yang mengenakan blouse putih dengan flare skirt di atas lutut. "Mengenai pakaian--" Sarah melihat pandangan Nick tertuju pada pakaiannya. "Ada apa dengan pakaian saya?" Meraba blouse dan rok yang ia kenakan. "Sebaiknya kamu pakai rok yang di bawah lutut. Saya tidak mau asisten saya jadi perbincangan klien karena asisten saya memakai baju yang seksi." Pinta Nick yang tak nyaman melihat Sarah mengenakan rok yang memamerkan paha mulusnya. Terlebih lagi rata-rata kliennya adalah pria berkelas tapi b******n diluar pekerjaan. Ia tak mau Sarah didekati pria b******n selama bekerja dengannya kecuali di luar jam kerja, karena itu sudah bukan urusannya lagi. "Usahakan penampilan kamu sopan dan tidak membuat klien buruk menilai kamu. Karena selama bekerja kamu tanggung jawab saya juga. Apa kau mengerti?"  "Mengerti, Pak. Saya akan menjalani apa yang menjadi perintah, Bapak." Sarah menjawab tegas dan melihat senyum Nick mengembang dari balik asap rokok. ❤❤❤ Riska memasuki Toko buku yang terlihat sedikit ramai di pagi ini. Langkahnya menyusuri rak buku non fiksi dan terhenti tepat pada kumpulan buku yang membahas tentang ruang lingkup perfilman. Jarinya menyusuri buku pada rak lalu membaca pelan tiap judul buku yang tersusun vertikal. Riska mengambil salah satu buku lalu bergumam. "Bukan ini." Kembali menaruh buku itu lagi setelah membaca blurb. Pandangan Riska terus menyusuri satu rak itu dari kanan ke kiri lalu mendongak ke atas dan terhenti pada rak di atas kepalanya. "Akhirnya ketemu!" Serunya bahagia membaca judul salah satu buku yang ia cari ada disana. Riska mengjinjit untuk meraih buku tapi tangannya tak sampai. Ia terus berusaha mengambil buku itu karena tak melihat petugas Toko didekatnya. "Yang ini?" Tanya seorang pria mengambilkan buku lalu memberikannya. Riska menoleh kesamping dan tercengang seorang pria bule latin tampan dengan kulit kecoklatan, bertubuh kekar mengenakan kaos slimfit yang dilapisi jaket kulit hitam itu tersenyum sambil menyodori buku berjudul 'Segala Hal Tentang Produser Eksekutif'. "Terima kasih," Riska menerima dan tersenyum. Pria itu menatapnya tajam. "Kau ingin menjadi Produser?" Tatapan pria itu mengingatkan Riska pada saat bertemu Aldi. Tatapannya teduh dan penuh kelembutan tapi tegas. "Tidak." Riska menggeleng. "Hanya penasaran saja." "Oh ya?" Pria itu mengangkat alisnya sebelah. "Apa yang membuatmu penasaran?" Riska mengangkat sudut bibir kanannya. "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Merasa risih mendengar pria itu menagih jawaban. "Hmm…" Pria itu berpikir sebentar. "Tidak juga sih. Tapi kalau kau keberatan kau tak perlu menjawabnya." Ia tersenyum lagi, menatap kedua bola mata Riska lalu turun ke arah bibirnya. "Tentu saja aku keberatan karena aku tak mengenalmu dan kita tidak berteman." Riska membalas lugas dengan melipat kedua tangan didada. "Tapi aku mengenalmu." Pria itu mendekat hingga membuat Riska mendongak menatap kedua matanya yang teduh. "Aku sudah lama mengenalmu, Riska." Ucapnya lagi yang spontan membuat Riska kaget. Pria itu tertawa melihat Riska terdiam dan berpikir. "Aku pergi dulu. Aku sudah mendapatkan buku yang aku cari," pamitnya memperlihatkan novel karya Aldinov. "Sampai jumpa lagi, Riska."  Ucapnya lagi lalu beranjak pergi menuju kasir. "Siapa dia? Aku merasa tak mengenalnya," Riska bergumam sambil berpikir dan melihat pria tampan itu keluar dari Toko lalu menaiki motor Kawasaki Ninja. "Mungkin dia salah satu Aldinov lovers," gumamnya lagi lalu beranjak menuju rak bertuliskan Novel. ❤❤❤ "Apa mereka sudah datang, Jeff?" Riska menuruni tangga setengah berlari bersama Jeff dibelakangnya. "Ya. Mereka baru saja tiba di parkiran. Kau harus menyambutnya terutama Produser Eksekutif itu." Sahut Jeff terengah-engah lalu berjalan mengiringi Riska begitu tiba di ruang lobby. "Itu mereka, Ris," ucapnya ke arah pintu loby melihat Beny dan Priyo berjalan memasuki pintu. Riska dan Jeff menghampiri mereka dan menyalami. "Selamat datang lagi, Pak Beny." Sapa Riska pada Beny lalu menyalami Priyo. "Anda selalu terlihat cantik, Bu Riska." Puji Beny lagi yang seketika Riska tertawa dan menepis. "Anda selalu pintar memuji, Pak Beny. Saya jadi merasa tersanjung mendengar pujian anda," Riska membalas. "Bagaimana kalau saya membawa anda berdua ke museum? Saya sudah menyiapkan tempat untuk melanjutkan pembahasan kita kemarin."  Beny mengangguk antusias mendengar penawaran Riska. "Itu ide yang bagus, Bu Riska. Saya penasaran dengan barang-barang peninggalan suami anda. Yang saya tahu, Aldinov penulis yang dermawan dan selalu mendapatkan award sebagai Manajer Resort terbaik." Puji Beny lagi melirik ke arah Riska dan Jeff bergantian. "Itu benar, Pak Beny. Mari saya antar ke belakang," sahut Jeff menjulurkan tangannya ke arah koridor belakang resort. Beny dan Priyo menyetujui dan mengikuti langkah Riska dan Jeff. Sesampai disana Riska membawa mereka duduk di dalam museum Aldi. Baru saja mereka duduk, tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi dan tegap memasuki museum dan berjalan ke arah mereka dengan langkah santai. Pria tampan berwajah bule latin dengan tubuh berwarna kecoklatan itu tersenyum ke arah Riska. Beny berdiri menyambut pria itu. "Bu Riska, Pak Jeff. Perkenalkan Produser Eksekutif kami." Ucap Beny pada mereka yang seketika membuat Riska tak percaya melihat pria itu semakin mendekat. "Beliau adalah Eugene Arthur. Kami biasa memanggilnya Mr. Arthur." Beny memperkenalkan pria tampan yang langkahnya terhenti tepat di dekat mereka. Riska berdiri lalu menunjuk. "Kau pria yang kemarin--" Arthur mengulurkan tangan sambil tersenyum. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, Bu Riska." sapanya menatap lekat Riska yang terdiam. "Apa kau keberatan berteman denganku?"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN