Riska menelan ludah melihat Produser Eksekutif yang mengulurkan tangan itu pria yang sama ia temui di toko buku kemarin.
Pria yang selalu tersenyum, berbeda dengan yang Beny katakan.
"Riska?" Panggilan Jeff membuyarkan lamunan Riska.
"Eh?" Riska terkesiap dan langsung membalas uluran tangan Arthur yang masih tersenyum penuh makna dan misteri. "Tentu saja kita bisa berteman, Pak Arthur." Wajahnya merona teringat pertemuan terakhir mereka kemarin. Jika saja Riska mengetahui pria itu adalah Eugene Arthur si Pria Serius itu, pasti takkan lancang bicara. Apalagi Arthur pihak yang memberi keputusan layak atau tidaknya resort mereka untuk dijadikan tempat syuting.
Beny yang melihat Arthur tersenyum dan saling menatap dengan Riska menjadi terheran. Sepanjang berkawan dengan Arthur, pria itu jarang tersenyum pada wanita, walaupun setiap hari dikelilingi wanita cantik dari kalangan artis dan model ternama. Tapi pagi ini, senyum Arthur mengembang di wajahnya yang tampan seakan pertama kali melihat wanita cantik. Tiba-tiba terlintas di pikiran Beny jika Arthur sedang...jatuh cinta.
Genggaman Arthur erat dan hangat. Tatapannya kembali mengingatkan Riska pada Aldi. Teduh dan menenangkan.
"Apa kau kaget kita bertemu lagi?" Tanya Arthur pelan.
"Ya." Riska menjawab singkat lalu melepaskan genggaman Arthur. "Perkenalkan ini Jeff selaku asisten manajer Resort disini." Menunjuk Jeff yang tak lama mengulurkan tangan.
Setelah mereka saling berkenalan, Riska kembali bicara dengan tegas di depan klien walaupun tatapan Arthur lekat menatapnya tanpa henti.
"Bagaimana kalau saya antarkan kalian untuk melihat keseluruhan area Resort ini?" tawar Riska pada mereka. "Saya tidak mau kalian kecewa, setidaknya kalian harus tahu detail tentang area ini. Jika kalian suka, kita bisa menandatangani kontrak disini."
Beny mengangguk. "Itu ide bagus, Bu Riska. Saya suka kejujuran anda dan buat kami nyaman," pujinya lalu melirik Arthur sebentar. "Kami memang harus mensurvei spot-spot yang akan kami pakai untuk syuting nanti. Tapi sesudah mendengar saran Jane Wang, saya yakin tempat ini memenuhi syarat." Terang Beny yang yakin jika Jane tidak pernah salah memberikan tempat rekomendasi walaupun resort itu milik mendiang sepupunya, Aldi.
"Baiklah. Antarkan kami sekarang, Bu Riska." Pinta Arthur, kali ini tatapannya serius.
Riska mengangguk. "Oke, saya antar kalian sekarang." Ia melangkah diikuti Beny, Priyo dan Jeff. Sementara Arthur berjalan beriringan dengannya.
Riska berjalan menuju makam Aldi dan menjelaskan pada mereka lalu melanjutkan menuju taman dan kafe dekat kolam renang.
"Kau mantan atlet renang bukan?" tanya Arthur berbisik.
Riska menoleh. "Dari mana anda tahu?" Ia penasaran karena tak memajang trophy di museum Aldi. Yang mengetahui sebagai atlet renang saat masih menjadi pelajar SMP hanya beberapa orang saja. Kecuali Arthur menyelidikinya dari berita online.
Arthur tertawa kecil melihat dahi Riska mengernyit minta penjelasan. Langkahnya terhenti di dekat tepi kolam renang. "Aku sudah bilang jika aku sudah lama mengenalmu. So, jangan heran." Jawaban yang membuat Riska semakin penasaran.
Riska menoleh ke belakang, melihat Jeff memandu Beny dan Priyo menuju Kafe. Pandangannya kembali melihat Arthur yang menanti ucapannya. "Tapi saya baru mengenal anda, Pak Arthur."
"Arthur." Potong Arthur cepat. "Panggil aku Arthur jika kita sedang bicara berdua," pintanya lalu tersenyum lagi. "Dan bersikap santai lah karena kita sudah berteman, Riska."
"Tapi anda klien saya." Riska menolak.
"Anggap saja ini permintaan spesial dariku, Ris. Lagipula hanya ketika kita sedang berdua saja. Apa kau keberatan?"
Riska berpikir sebentar. Arthur memang tak banyak menuntut selama menerangkan area resort. Ia tak ingin mengubah keoriginalan resort untuk kegiatan syuting. Tapi mendengar permintaan pribadi Arthur yang menginginkan bersikap santai seperti layaknya hubungan pertemanan umumnya, membuat Riska tak nyaman. Seperti sebuah ajakan kencan.
Eugene Arthur produser eksekutif ternama di Singapura. Beberapa film yang ia rilis memang laris di Asia bahkan pernah memenangkan award di ajang perfilman di Perancis. Beberapa gosip memang tersiar di kalangan orang perfilman yang mengatakan jika ia kini seorang gay, setelah menyandang status duda dari pernikahannya yang gagal bersama model cantik ternama Tracey Scott.
Pernikahan Arthur yang kandas karena skandal perselingkuhan Tracey tersebar di dunia maya, membuatnya jarang tersenyum pada wanita, seperti yang Beny katakan padanya kemarin. Tapi itu tak berlaku. Arthur mengaku telah lama mengenalnya dan meminta untuk bersikap layaknya teman biasa. Riska menjadi dilema, tapi setelah dipikir-pikir, permintaan Arthur bukanlah hal sulit.
Menjadi teman dan bersikap santai saat sedang berdua hal yang paling mudah ia lakukan walaupun sedikit canggung karena Arthur bukan pria tampan yang sembarangan. Demi nama resort yang harus ia kibarkan di kancah negara-negara Asia, Riska menyetujui. Toh, ia tak merasa dirugikan selama Arthur bersikap sopan.
Sebagai teman.
"Baiklah, Arthur." Riska menyetujui sambil memastikan mereka masih berada di Kafe. "Ketika kita sedang berdua saja," ucapnya lagi yang seketika melihat senyum Arthur mengembang lalu mengulurkan tangan.
"Deal." Ucap Arthur.
Riska menjadi bingung sambil menatap tangan Arthur yang terulur. "Maksudmu?" Membalas ulurannya walau dahinya berkerut lagi.
"Aku sepakat kita berteman dan aku menyukai resort ini." Balas Arthur. "Aku menyetujui filmku melakukan syuting di Resortmu, Ris." Jawab Arthur lugas. "Apa perlu kita tanda tangan kontrak sekarang?" tawarnya melihat Riska yang terheran.
Seharusnya Riska bahagia mendengar kalimat Arthur yang sudah deal, tapi sebagai pemilik resort belum sepenuhnya menerangkan tentang keseluruhan area Resort. Riska tak ingin Arthur kecewa terlebih lagi kontrak ini sebuah project besar dan tentu saja tak ingin mengecewakan kliennya.
"Tapi kau belum melihat isi kamar yang sudah kau pesan. Aku tak mau syuting terhenti di tengah jalan hanya karena kau tak puas dengan beberapa lokasi kami yang belum kau lihat." Terang Riska tapi Arthur tertawa kecil mendengar penuturannya.
"Aku percaya padamu, Ris. Lagipula aku sudah melihatnya di Channel YouTube dan beberapa ulasan dari pengunjung yang rata-rata puas dengan pelayanan dan keadaan kamar Resortmu. Jadi kau tak perlu cemas." Arthur meyakini Riska.
"Aku hanya bersikap profesional, Arthur." Riska membalas dengan tatapan serius. "Ku mohon ikuti aku menuju kamar yang sudah aku siapkan untuk syuting kalian," ajak Riska melangkahkan kaki menuju kamar yang paling ujung dekat taman. Kamar yang paling besar dan exclusive di Resortnya.
Arthur mengiringi langkah Riska. "Baiklah jika kau bersikeras memaksaku untuk melihatnya," ucapnya pasrah.
"Aku tak memaksamu, Tuan Produser. Hanya melaksanakan kewajibanku sebagai pemilik resort ini. Setidaknya kau tak merasa membeli kucing dalam karung. Aku--"
"Jika kucingnya adalah kau, aku takkan menolaknya, Riska." Arthur terkekeh melihat Riska yang memutar bola matanya lalu bergumam.
"Ternyata kau pintar merayu juga," gumamnya dan terdengar oleh Arthur.
"Tentu saja. Hahahaha.."
Riska menghentikan langkah didepan kamar lalu membuka pintu lebar-lebar. "Inilah kamar yang kau pesan." Mempertunjukkan kamar yang terlihat mewah, seperti berada di sebuah apartemen. Selain luas, terisi beberapa furniture model terbaru. "Silahkan masuk," tawar Riska melihat Arthur berdecak kagum.
Arthur melangkah masuk, pandangannya menyusuri seluruh isi ruangan. "Keren. Kamar ini benar-benar keren." Langkahnya terhenti melihat Riska membuka jendela yang seketika matanya terpejam ketika angin sepoi-sepoi masuk kedalam kamar. "Aku menyukai aroma ini," Arthur berkata pelan melihat Riska bersandar di dekat jendela dan sinar matahari menyinari sebagian siluet tubuhnya yang seksi. Rambut Riska berkibar terkena angin. Sekejap berhasil membuat Arthur terdiam.
"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" Riska memastikan Arthur lagi dan membuatnya terkejut.
"Tentu. Diluar dugaanku. Jika aku bisa memberi ulasan, akan kuberi bintang sepuluh." Arthur mendekati Riska dan berdiri di sampingnya sambil memandangi pemandangan gunung Geulis.
"Kau berlebihan," Riska membalas dan tersenyum lebar. Melihat Arthur mengingatkannya pada sesuatu. "Apa kau salah satu anggota Aldinov Lovers?"
Arthur melirik dan mengangguk. "Ya. Kenapa memangnya?"
"Benarkah? Coba ku cek namamu." Riska mengambil handphone dari saku blazernya dan membuka catatan nama-nama Aldinov Lovers.
"Tak perlu kau cari, Ris. Kau takkan menemukan namaku karena aku memakai nama lain." Cegah Arthur.
Riska terdiam menatap Arthur. "Kenapa kau merahasiakan namamu?" Pandangannya mengikuti gerak langkah Arthur yang berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya.
"Karena ini rahasia." Arthur membalas sambil mengulurkan kedua tangan kebelakang lalu mendongakkan kepala.
Riska terdiam dan teringat Aldi seringkali melakukan itu saat duduk di tepi ranjang. Tak ada yang berbeda dengan posisi yang Arthur lakukan sekarang, hanya saja pria itu Arthur, bukan Aldi yang sudah tiada.
"Riska.."
Riska merasa Aldi sedang memanggilnya.
"Bu Riska?"
Riska gelagapan dan tersadar bahwa Arthur lah yang sedang memanggilnya.
"Ya? A-ada apa?" Membalas sahutan Arthur sambil melangkah mendekat.
Arthur tertawa ke arahnya. "Kenapa? Apa kau terpesona melihatku?" tuduhnya lalu tertawa kencang.
Riska mencibir. "Huh, kau kepedean!" tepisnya dan kembali serius. "Bagaimana, apa kau sudah puas melihat kamar ini, Tuan Produser?"
Arthur bangkit dan mendekati Riska. "Apa kau tak nyaman berdua denganku di kamar ini?" Godanya berbisik ke telinga Riska.
Ya, karena kau mengingatkanku dengan Aldi.
Riska menggeleng, menutupi apa yang ia rasakan saat bersama pemilik bola mata abu tua itu. "Tidak. Kau harus mengunjungi lantai kamar atas dan mengenalkanmu dengan suamiku," sahutnya bersikap profesional lagi.
Riska membalikkan tubuh dan bermaksud melangkah menuju pintu.
"Tunggu!" Arthur menarik dan menggenggam tangannya hingga membuat tubuh Riska membentur dadanya yang tegap.
"Aww.." Riska meringis dan spontan mendongak menatap kedua bola mata Arthur. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya, tapi dimana? Dan kapan?
"Apa kau sudah mengingatku?" Bisik Arthur.
Riska mengangguk pelan. "Ya. Kau Produser Eksekutif dari Singapura," jawabnya lalu tertawa kecil menutupi rasa penasaran mengenai Arthur yang misterius.
"Bukan itu maksudku," Arthur menolak. "Sebelum pertemuan kita hari ini dan kemarin. Apa kau mengingatnya?" Sedikit memaksa ingatan Riska untuk mengingat dirinya.
Riska melepas genggaman Arthur lalu mundur selangkah. "Tidak. Aku rasa kita tidak pernah bertemu sebelumnya dan kurasa kau salah orang." Memberi kepastian Arthur lagi. "Aku tak pernah mempunyai teman dari Singapura sebelumnya sebelum mengenal Raaj."
Arthur tertunduk, tertawa kecil lalu menggeleng. "Kurasa kau sedikit hilang ingatan, Ris." Mengangkat wajah melihat Riska yang menggeleng. "Suatu hari ini kau akan mengingatku."
"Bagaimana jika aku takkan pernah mengingatnya?" pertanyaan Riska seakan menantang Arthur yang kembali mendekatinya lagi.
"Aku akan mengingatkanmu dengan caraku,"
"Dengan cara apa?"
"Rahasia."
❤❤❤
Riska meminta Arthur, Beny dan Priyo duduk di sofa setelah mengenalkan mereka pada Nick.
Sekilas Nick tercengang melihat wajah tampan Arthur dan merasa pernah bertemu di suatu tempat. "Apa anda pernah menghadiri acara pertemuan pemegang saham di Perancis beberapa tahun yang lalu?" Tanya Nick pada Arthur dan yakin dengan ingatannya.
"Ya. Ternyata ingatan anda tajam juga, Pak Nicholas." Arthur menjawab dan melirik Riska yang duduk di depannya, di samping Nick.
"Ck..ck..ck.." Nick berdecak kagum. "Anda hebat. Selain pemegang saham pada sebuah stasiun televisi dan Agensi ternama di Italia, rupanya anda juga seorang Produser Eksekutif," Nick memuji Arthur, pria yang pernah ia dengar namanya beberapa tahun yang lalu walau mereka tak pernah berkenalan sebelumnya.
Mendengar pujian Nick, Arthur tersenyum tipis. "Aku tak seberapa dibandingkan anda, Pak Nicholas." Arthur merendah karena pria yang menjadi suami Riska bukan sembarangan pria. "Anda pemegang saham di perusahaan telekomunikasi Perancis Spanyol, supermodel, owner resort di Australia dan pernah menjadi relawan kehutanan di Kalimantan." Arthur membalas pujian.
"Itu dulu. Aku sudah menjual kedua sahamku dan menggantinya di sini, pada perusahaan mie instan dan telekomunikasi." Terang Nick.
Arthur terheran dengan langkah ekstrim Nick. Menjual saham di Perancis hanya untuk menggantinya di Indonesia. "Mengapa anda berani menjual saham dan beralih ke Indonesia?"
Nick menggenggam tangan Riska dan menatap. "Karena dia." Kembali menatap mereka. "Karena ingin bersamanya, saya beralih ke Indonesia."
Ucapan Nick berhasil membungkam Arthur, terlebih lagi melihat tatapan pria yang bernama lengkap Nicholas Jose Leandro penuh cinta pada Riska.
"Kau tak pernah menceritakan itu padaku, Nick?" Ucap Riska pelan walau terdengar jelas.
"Aldi akan marah jika aku cerita padamu, Ris. Kau bisa menanyakannya pada Mario." Nick membela diri.
"Hebat, Pak Nicholas." Puji Beny. "Anda rela berkorban demi Bu Riska, meninggalkan bisnis di Perancis dan mengambil resiko besar. Pastinya ini keputusan sulit untuk memulai bisnis di Indonesia, tapi untungnya Bu Riska mendukung anda."
"Tidak, Pak Beny." Sanggah Nick. "Saat itu Riska masih menjadi istri dari adik saya, Aldi."
"Apa?!" Beny terkejut mendengar kejujuran Nick. Tidak hanya Beny, Priyo dan Arthur juga terkejut membayangkan Nick melepas semua demi adik ipar yang ia sukai.
"Saya jatuh cinta pada Riska saat dia masih menjadi kekasih Aldi." Nick bicara lagi. "Dan adik saya tahu itu."
"Nick," potong Riska. Tak ingin Nick menceritakan sejarah perjuangan untuk mendapatkan cintanya.
"Tapi saya tidak merebutnya. Setelah Aldi wafat, dia membalas cinta saya," Nick tersenyum lebar melirik Riska yang spontan mencubit pinggannya.
Nick meringis. "Itu benar, Sayang. Kau menerimaku setelah aku pulang dari New York," Membela diri dan berhasil membuat pipi Riska merona didepan kliennya yang tertawa kecil melihat mereka.
Kecuali Arthur.
Pria tampan itu terdiam melihat kemesraan yang Nick tampakkan didepan mereka. Bukan ia iri dan tak pernah merasakan itu dengan Tracey, tapi karena satu hal. Sesuatu yang akan ia ungkapkan pada Riska di waktu yang tepat, walau sudah lama ia ingin mengatakannya, sebelum hari ini.
❤❤❤
Setelah memasuki jam makan siang, Nick makan siang bersama Sarah, Anwar dan Mario untuk membicarakan novel Aldi yang akan dirilis di Eropa . Sementara Riska bersama Arthur tanpa Beny dan Priyo yang kembali ke Jakarta untuk mengurus persiapan syuting yang beberapa hari lagi dilaksanakan.
"Ada apa?" Pertanyaan Riska membuyarkan lamunan Arthur yang menatapnya sambil duduk bersandar di sofa dalam museum. di atas meja beberapa lembar kertas tersusun rapi dan siap untuk mereka tanda tangani setelah mencapai kata deal. Tapi setelah menyelesaikan makan siang dan membawa Arthur kembali ke museum, pria itu menjadi diam dan serius.
"Pak Arthur?" Panggil Riska sekali lagi.
"Eh?!" Arthur gelagapan dan tangannya langsung meraih kertas dan pena untuk menandatangani surat perjanjian mereka.
"Kau melamun," tuduh Riska lalu tertawa kecil.
Arthur menggeleng. "Tidak, Ris. Aku tidak melamun tapi memikirkanmu," balasnya sambil menandatangani lima lembar kertas.
"Aku?" Riska menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
Arthur menaruh pena lalu kembali bersandar dan menatap Riska yang memasang wajah penasaran. "Ya. Kamu."
"Ada apa denganku?" Riska penasaran.
Arthur menghela nafas dengan tatapannya yang kembali santai. "Nick jatuh cinta padamu saat kau menjadi istri Aldinov."
"Ya, itu memang benar." Potong Riska cepat. Karena itu adalah fakta dan orang terdekat mereka mengetahuinya.
Arthur mengangkat sebelah sudut bibirnya. "Kalau kau mengetahui siapa aku yang sebenarnya, apa kau akan menikahiku?"
Riska tertawa mendengar lelucon konyol Arthur. "Itu tak mungkin, Arthur. Aku--"
Arthur bangkit dan mendekati Riska yang spontan bangkit dan berdiri di depannya.
"Aku sudah mempunyai suami dan tiga anak." Riska melanjutkan ucapan yang terhenti tadi sembari mendongak menatap lekat kedua bola mata Arthur. "So, tak mungkin aku menikahimu."
Arthur melangkah sejengkal hingga membuat jarak tubuhnya semakin dekat. "Baiklah. Jika itu tak mungkin. Tapi.." Ia mendekatkan mulut ke telinga Riska lalu membisikkan sesuatu yang membuat Riska kaget. "Jadikan aku secret affairmu."