A woman with two secret admirers

2508 Kata
Dua minggu kemudian ALS(Adryan Li Saputra) Design Office, Jakarta selatan Ryan berulang kali mengurut dahi setelah menyudahi panggilan telepon. Mendengar penolakan Laura yang kesekian kali untuk kembali tinggal bersama, menimbulkan tanda tanya besar. Sudah berulangkali juga Ryan meminta maaf dan berjanji takkan lagi mendesak Laura untuk hamil. Tapi wanita blasteran Thailand itu selalu mengatakan, 'Aku tak ingin membahas itu sekarang. Kita butuh jarak untuk menenangkan diri dan kita butuh privasi'. Sebuah kalimat yang sama Laura ucapkan setiap kali menjawab panggilannya hingga Ryan hafal betul kalimat itu. Pikiran Ryan berkecamuk jika memikirkan keadaan rumah tangganya yang sedang dilanda cobaan. Seperti yang sering Jane katakan jika kehidupan berumah tangga tak seindah masa pacaran dan tak seburuk masa saat sendiri. Ryan mengakui apa yang menjadi kesalahannya, tapi saat ini semua permasalahannya berada pada Laura yang menjunjung tinggi privasi tanpa alasan jelas. Pengobat kegundahan Ryan hanyalah bertemu Richie dan Riska di Bogor. Kedua orang itulah yang mampu melupakan semua permasalahan yang memenuhi pikirannya. Anak dan cinta pertamanya. Ryan bangkit dari kursi dengan tangan meraih lalu mengenakan jaket kulit yang ia sandangkan dikepala kursi putarnya. Walau bekerja dikantor, sebagai atasan ia membebaskan bawahannya tidak mengenakan pakaian formal saat bekerja. Asalkan sopan dan serius dalam bekerja cukuplah menjadi prinsip yang ia terapkan di kantor kecil miliknya yang hampir berjalan dua tahun di Jakarta. "Kau mau kemana?" Raaj masuk kedalam ruangan dan terkejut melihat Ryan mengenakan jaket dan merapihkan semua berkas yang ada di atas meja. Ryan fokus merapihkan kertas. "Bogor. Aku ingin melihat anakku," balasnya mengangkat wajah melihat Raaj terdiam yang tak lama menghela nafas. "Kau bertengkar lagi dengan Laura?" tebak Raaj yang tahu Ryan selalu menghindar dari masalah setiap kali hatinya merasa jengkel. Ryan menggeleng. "Tidak, Raaj. Dia masih menolak. Kali ini aku akan menyerah dan aku takkan lagi memohon padanya untuk kembali padaku lagi." Menghela nafas pasrah lalu tersenyum tipis. "Prioritasku saat ini hanya bekerja dan Richie. Jika Laura kembali, aku akan menerimanya lagi. Tapi jika dia tak ingin kembali.." Ryan menggedikkan bahu. "Aku menyerah." Raaj menggeleng dan berdecak. "Sebegitu pesimisnya kau pada Laura? Atau kau memang tidak mencintainya lagi?" Penuh keraguan dalam diri Raaj mengenai perasaan Ryan terhadap Laura. Bahkan kekecewaannya terhadap Laura tidak seperti saat kehilangan Riska yang membuatnya hampir menjadi gila. Entah karena Ryan bertambah dewasa menyikapi masalah atau memang cintanya tak sebesar cinta kepada Riska saat itu. "Aku tak pesimis, Raaj. Hanya saja sampai kapan aku terus mengemisnya untuk kembali? Sementara dia selalu menolak dengan alasan yang sama. Bukankah itu aneh?" Ryan menatap lekat Raaj sambil bersandar di meja dengan tangan menyilang. "Sudah dua bulan lebih lamanya dia masih marah padaku. Dan selama itu juga aku menjadi pengemis untuk meminta maaf padanya. Dan itu tidak pernah aku lakukan pada Riska." Raaj tertegun mendengar nama Riska disebut. Aku menunggu kau menyebut nama itu, Yan. Dan kau memang masih mencintainya. "Ya, kau benar, Yan. Kau tak pernah mengemis pada Riska tapi kau selalu meratapi nasib dan menyalahkan dirimu sendiri. Bahkan kau hampir bunuh diri." Raaj mengingatkan Ryan saat masa kandas hubungannya bersama Riska. Tiada hari tanpa minum bir dan tubuhnya menjadi kurus kering. Untung saja saat itu Aldi datang menemui dan memberi penjelasan.  Tahun 2011, Apartemen Michele Park Avenue (Flashback) Semenjak kedatangannya satu jam yang lalu Ryan hanya terdiam tak menjawab sapa Aldi yang baru saja datang dari Indonesia. Sudah tiga bulan berlalu setelah peristiwa mereka berkelahi hanya untuk memperebutkan satu wanita, dan ini pertamakalinya mereka bertemu lagi dalam keadaan Ryan yang mengenaskan. Tubuhnya kurus dengan wajah pucat, nyaris Aldi tak mengenali Ryan sebagai sepupu yang sudah ia anggap seperti adik. Aldi tahu Ryan sangat terluka setelah hubungannya kandas bersama Riska, tapi wanita itu sudah memilih pria yang ia cintai dan merasa nyaman. Dan itu dirinya bukan Ryan. Aldi memainkan hanphone sebagai penghilang rasa suntuknya karena Ryan tidak mempedulikan kehadirannya sejak sejam yang lalu. "Untuk apa kau datang kesini? Apa kau mau memamerkan jika Riska bahagia bersamamu?" Akhirnya sebuah kalimat meluncur dari mulut Ryan walau pria itu terbaring di ranjang memunggungi Aldi yang duduk di sampingnya.  "Tidak." Aldi menggeleng, jari jemarinya sibuk menekan tombol di layar handphone. "Aku kesini hanya ingin melihat seberapa pecundangnya kau menghadapi masalah." Mata Ryan melotot dan seketika ia bangkit dan duduk di ranjang menatap tajam Aldi yang tiba-tiba tertawa sambil memasukkan handphone ke dalam saku celana. "Apa kau merasa puas melihat keadaanku sekarang? Kau sudah merebut Riska dariku dan sekarang kau datang untuk menantangiku lagi?!" Ryan naik pitam mendengar tuduhannya sebagai pecundang. Ia tak terima dan siap untuk berkelahi dengan Aldi walau tubuhnya dalam keadaan sakit. Mengkonsumsi Bir setiap hari dan jarang makan nasi membuat Ryan tumbang beberapa hari ini. Ia bersikeras tak ingin dirawat di rumah sakit, hanya mengijinkan perawat paru baya merawatnya setengah hari saja. Dan perawat itu sudah pulang setelah jam makan siang, sekitar satu jam lalu tepat kedatangan Aldi. "Aku memang sudah merebutnya darimu tapi karena kau tak menjaganya dengan baik, Yan. Dan satu hal yang harus kau ketahui, Riska sangat mencintaimu sekaligus kecewa denganmu." Ucapan Aldi seketika membuat Ryan merenggangkan kepalan tangannya. "Selama aku mendekatinya, dia hanya menceritakanmu, Yan. Dia sangat antusias bercerita jika kau menghubungi tiap malam dan dia juga menangis jika kau menghilang dengan alasan kau sibuk dengan kuliahmu." Jelas Aldi walau berat menceritakan jika perasaan Riska memang tak sepenuhnya tertuju padanya saat itu. Dan Aldi paham jika posisinya hanya sebagai kekasih yang kedua. Ryan terdiam mencerna ucapan Aldi. Ia membayangkan kebahagian Riska jika hubungan LDR berjalan lancar saat bulan pertama dan kedua tinggal di Singapura. Ryan juga mengakui dengan sengaja sudah menelantarkan Riska dengan alasan jadwal kuliahnya yang padat. Dan disaat Riska membutuhkannya ia tak dapat memenuhi keinginan  Riska, disaat itulah Aldi seperti seorang pahlawan yang datang menutupi kesedihannya hingga menimbulkan rasa cinta diantara mereka. Ryan sadar, semua ini bukan semua kesalahan Riska, Aldi dan dirinya tapi keadaan juga yang membuatnya seperti ini. Mungkin lebih tepatnya adalah takdir. Sebuah takdir yang ingin ia rubah agar bisa bersatu lagi dengan Riska yang sudah menjadi cinta dan wanita yang pertama ia cintai. Walau sulit.. "Apa kau sungguh mencintainya?" Ryan memastikan perasaan Aldi. Jika Aldi tak serius berhubungan dengan Riska, seumur hidup ia takkan menyetujui hubungan mereka. Terlebih lagi jika Riska tak mendapatkan pria yang lebih baik darinya, ia akan menghajar Aldi habis-habisan dan menjalin hubungan bersama Riska lagi. Aldi mengangguk pelan dengan wajah serius. "Sangat mencintainya. Sebelum kau mengenal dia." Senyum Aldi mengembang dan berhasil membuat Ryan penasaran. "Bagaimana bisa?" Dahi Ryan berkerut tak mengerti. Yang ia tahu Riska memang mengaguminya sebagai penulis dan itupun ketika belum mengetahui identitas Aldi yang sebenarnya. Aldi bangkit lalu menepuk pelan bahu Ryan. "Aku tak bisa menceritakan itu sekarang. Yang penting sekarang adalah..cepatlah kau sembuh. Walaupun Riska memilihku, kau tetap selalu ada dihatinya, Yan. Dan aku tak bersedih untuk itu. Aku hanya fokus membuatnya bahagia dan tentu saja tak memaksanya untuk melupakanmu. Karena itu lah cinta. Penuh misteri." Aldi mengakhiri kalimatnya dengan senyum. "Aku pergi dulu. Aku harus menemui klienku di hotel." Pamit Aldi tapi langkahnya tertahan ketika Ryan menarik lengannya. "Tunggu," Ryan bangkit lalu berdiri didepan Aldi walau tubuhnya lemah. "Apa tak masalah bagimu walau aku selalu ada dihati Riska? Sekalipun kau menikahinya?" Kali ini Ryan ingin mengetahui seberapa kuatnya Aldi menjalani hubungan bersama Riska yang takkan pernah melupakannya sebagai cinta pertama. Aldi menggeleng yakin. "Tidak. Aku menghargai siapapun pria yang pernah mencintai dan ia cintai, Yan. Sekalipun Riska tak bisa melupakanmu, aku menerima. Karena aku mencintai dia apa adanya tanpa harus memaksa untuk melupakanmu." Aldi menjawab dengan bijak. Baginya tak ada gunanya menangisi perasaan Riska yang masih menyimpan cinta pada Ryan di sudut hatinya terdalam karena itu hak Riska untuk mencintai siapapun itu. Saat ini hanya berusaha menjadi kekasih yang baik, apa adanya dan tulus mencintai. Hanya itu prinsip hubungan Aldi. "Apa kau takkan menyesal dengan ucapanmu?" Ryan memastikan lagi perasaan Aldi yang terdengar 'sok kuat'. "Tidak, Yan. Jika kau ingin menemuinya lagi, aku mengijinkannya tapi kumohon jangan sakiti dia lagi." Aldi meminta dengan serius. "Bagaimanapun juga dia masih mencintaimu." Aldi menepuk bahunya lagi.  "Aku harus pergi. Cepatlah sembuh dan kami menunggumu pulang." Aldi beranjak meninggalkan Ryan yang masih berdiri mematung melihat bayang tubuh Aldi menghilang dari balik pintu kamar. Setelah mendengar pintu utama apartemennya tertutup seketika itu tubuhnya melemas. Ucapan Aldi terus terngiang-ngiang. Riska masih mencintaimu, aku akan membahagiakannya, pulanglah kami menantimu. Sejak pertemuannya dengan Aldi, keadaan Ryan berangsur baik dan kembali menjalani hari-harinya yang sibuk sebagai mahasiswa. Ia juga sudah berusaha memaafkan Aldi dan Riska begitu juga melupakan masa-masa ia hancur karena kehilangan Riska. Tapi kejadian itulah yang mendewasakan Ryan. Belajar untuk melepas seseorang yang ia cintai dan pasrah pada keadaan. Seperti sekarang. Saat sekarang, Bogor Ryan tersenyum lebar melihat Riska menggendong Richie menyambutnya di depan lobbi. Ia berlari kecil ke arah mereka dengan senyum mengembang. "Apa kabarmu, Yan?" Riska menyapa Ryan yang mendekati dengan nafas terengah-engah dan langsung meraih Richie dari pegangannya. "Baik, Ris. Bagaimana dengan kalian?" Ryan mencium Richie yang memegang kedua wajahnya dengan tangan mungilnya lalu memanggil Ryan 'Papa'. "Seperti kau lihat, kami baik-baik saja." Riska membalas tapi perhatian Ryan fokus pada beberapa orang yang hilir mudik di ruang lobi dan beberapa di antara mereka membawa alat keperluan syuting. "Mereka sedang bersiap-siap untuk melakukan syuting untuk besok." Sebelum Ryan bertanya Riska memberitahu. "Oh ya? Dengan siapa kau bekerja sama? Mungkin aku mengenalnya." Ryan melangkah dan berjalan pelan sambil menggendong Richie menuju lorong yang sejak tadi tiada henti dilalui para kru film. Riska mengiringi langkah Ryan dan sesekali membalas sapa kru. "Aku akan mengenalkanmu padanya, Yan. Dia orang Singapura dan aku yakin kau pasti mengenalnya." Ryan menoleh dan penasaran. "Aku jadi penasaran. Jika dia orang Singapura sudah pasti teman Mamaku," timpalnya dan yakin tak ada seorangpun kawan produser Jane yang tak ia kenal kecuali orang baru. Pandangan Ryan tertuju pada depan kamar yang pernah ia inapi bersama Raaj. Kamar paling besar dan mewah. Beberapa kru sibuk memasang alat perlengkapan syuting dan perhatiannya tertuju pada satu pria bertopi yang terlihat sibuk mengatur-atur beberapa kru. Senyum Ryan mengembang karena mengenal pria itu. Ia melangkah mendekati pria itu lalu menyapa. "Pak Beny, anda Beny Lim, bukan? Apa kabar?" Sapa Ryan mengejutkan Beny. Beny berpikir sebentar. "Kamu Ryan anak Jane Wang?" Tebaknya. Ryan mengangguk setuju. "Ya. Itu saya. Bagaimana anda bisa ada disini? Apa Singapura sudah kehabisan tempat untuk dijadikan film?" Gurau Ryan melihat pria paruh baya itu menuntun untuk menjauh dari pintu kamar. Beny tertawa lalu menggeleng. "Tidak. Ini ide Big boss saya, Yan. Lagipula.." Beny mengecilkan suara dan mendekatkan mulut ke telinga Ryan walau harus menjinjit. "Beliau menyukai pemilik resort ini." Bisik Beny dan berhasil membuat Ryan terkejut. Ryan melirik Riska yang sedang bicara dengan seorang pria kurus, lumayan tampan dan berkumis. "Apa itu orangnya?" tanyanya menunjuk pria yang sedang bicara dengan Riska. "Bukan." Beny menggeleng. "Itu Priyo, asisten kami." Jelas Beny lalu melirik Richie. "Mengapa kau mirip dengan anak ini? Bukankah ini Richie?" Melihat wajah Richie dan mencari persamaan pada wajah Ryan. Seperti ayah dan anak.. "Dia anak saya." Ryan menjawab tanpa ragu tapi Beny terkejut dan mengerutkan dahi. "Bagaimana bisa? Bukankah dia anak Bu Riska dengan Pak Nicholas? Walau saya akui Richie beda dengan si kembar." Suara Beny pelan agar tak terdengar orang lain. Ryan tertawa kecil lalu mencium pipi Richie yang sejak tadi bocah itu terdiam melihat orang yang lalu lalang di dekat mereka. "Ceritanya panjang, Pak Beny. Jika anda tidak sibuk saya bisa mengajak anda minum kopi bersama dan menceritakan tentang Richie." Tawar Ryan dan seketika senyumnya memudar melihat seorang pria memakai topi, kaos putih dilapisi jaket bomber warna hijau army dan celana jeans mendekati Riska lalu bicara dengan tatapan lembut. "Siapa pria itu, Pak Beny?" Ryan merasa cemburu melihat Riska didekati pria tampan yang tak ia kenal. Pria muda yang terlihat parlente dan menarik. Beny melirik ke arah tatapan Ryan. "Dialah Big Boss kami," jawabnya. "Mari saya kenalkan," ajak Beny berjalan sekitar sepuluh meter tepatnya di dekat taman. Ryan mengikuti Beny dan hatinya makin panas melihat keakraban Riska dengan pria itu yang sesekali mereka tertawa, walau ia sadar bukanlah suami Riska, hanya mantan kekasih. Tawa pria itu memudar setelah Beny membisikkan sesuatu ke telinganya dan spontan menoleh ke arah Ryan yang berhenti melangkah didekat mereka. Riska mengulurkan kedua tangan ke arah Richie dan Ryan memberikannya. "Perkenalkan ini Big boss kami," Beny memperkenalkan bersamaan dengan uluran tangan pria itu sembari tersenyum. "Saya Eugene Arthur. Produser Eksekutif sekaligus klien Riska." Arthur sempat melirik ke arah Riska dan tersenyum. Ryan membalas. "Adryan Li Saputra. Anda bisa memanggil saya Ryan." "Anak dari Mrs. Jane Wang?" Tanya Arthur, memastikan anak dari produser cantik yang sudah lama melintang di dunia perfilman. "Ya, dan Thomas Li." Ryan menambahkan. Arthur sedikit terkejut. "Thomas Li pemilik perusahaan iklan terbesar di Singapura itu?"  Dengan bangga Ryan mengangguk dan melepaskan genggaman tangan Arthur. "Ya. Sepertinya anda kenal banyak orang di Singapura?" Tuduh Ryan sambil mencoba mengingat baik nama Arthur. Tapi tetap saja tidak mengingatnya. "Tentu, Pak Ryan--" "Panggil saja Ryan. Sepertinya umur kita tak beda jauh dan lagipula saya senang kita seperti saya dan Pak Beny. Bersikap seperti teman." Ryan melirik Beny. "Bukan begitu, Pak Beny?" "Ya, Yan." Beny terkekeh. Arthur mengangguk menyetujui penawaran Ryan. Hanya ingin terlihat akrab tidak lebih. "Baiklah, Yan. Senang berkenalan denganmu. Tapi saya pernah mendengar namamu di suatu tempat..dimana ya?" Arthur berpikir lalu tak lama menjentikkan jari. "Alpha production House! Kau yang mendesain ulang tempat agensi itu bukan?" Ia mengingat baik pemilik agensi itu memberitahu nama desainer interior yang merubah tempat mereka menjadi cozy dan unik. "Ya, itu kami yang mendesain." Ryan menyetujui tebakan Arthur mengingat itu sebuah project yang sulit ia kerjakan karena letak kantor tersebut berada di dekat kawasan pecinan, dimana gedung dan bangunan mayoritas berbentuk khas China. Dengan mayoritas atap bangunan berbentuk pelana, menutupi gedung agensi tersebut. Ryan tak mengganti gedung beratap berbentuk minimalis itu, hanya mengubah cat dinding luar dengan warna kuning dan biru, sebagai pembeda dengan bangunan yang mayoritas berwarna merah saja. Selebihnya Ryan memperbaiki dekor dalam ruangan baik pada bangunan dan menyusun perabot. Dari project itulah nama Ryan melambung di Singapura dan sejak itu banyak menerima project dengan bayaran tinggi dari kliennya. Melihat prospek di Indonesia lebih cerah, Ryan pun hijrah dan membawa beberapa team terbaiknya dan bekerja semaksimal mungkin hingga saat ini. "Saya permisi dulu, Yan. Sepertinya sutradara sedang membutuhkan saya," Beny pamit setelah Ryan mengiyakan dan langsung bergegas menuju kamar tadi. "Boleh aku minta kartu namamu?" Pinta Arthur. "Tentu saja." Ryan merogoh saku celana dan membuka dompet. Mengeluarkan secarik kartu nama lalu memberikan pada Arthur.  Melihat foto Riska tersimpan di dalam dompet Ryan, membuat Arthur sedikit terkejut. Arthur menerima kartu itu walau pandangannya masih fokus pada foto Riska. Ia melirik Riska yang menjauh dari mereka, menuju taman. Mengajak Richie berlari kecil disana. "Bukankah itu Riska?" Pandangannya kembali mengarah pada dompet Ryan. Entah mengapa Arthur bertanya dengan polos pada Ryan walau mengetahui Ryan bukanlah suami Riska. Dan itu sebuah privasi. Ryan tertawa kecil sambil memasukkan dompet kedalam saku lagi. "Ya." Hanya jawaban singkat tapi membuat Arthur penasaran. Arthur mengangkat alis menatap tajam Ryan yang tersenyum penuh makna. Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Riska? Apa kau sama sepertiku? Menyukai wanita yang sudah bersuami, wanita yang sudah lama kukagumi?  Wanita yang bernama Riska Anggraeni?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN