CHAPTER 2
***
"Diam, Kenzie!" suruh Allisya saat Kenzie tidak bisa diam saat dia memasangkan dasi pada laki laki itu.
Kenzie yang mendengar itu mengerecutkan bibirnya, wajahnya terlihat murung. Laki laki itu sebenarnya tidak menyukai saat memakai dasi. Dia merasa tercekik lehernya, walaupun Allisya selalu memasangkannya tidak sampai mencekiknya, tapi tetap saja. Kenzie tidak suka.
"Kenzie ngga mau pake ini!" Kenzie melepas dasinya lalu membuangnya asal. Dia berjalan menjauhi Allisya lalu duduk ditepi tempat tidurnya.
Allisya menghembuskan nafasnya pelan, dia mengambil dasi yang tergeletak dilantai itu lalu berjalan menuju Kenzie. Laki laki itu memang tidak bisa digertak, bahkan ditegur saja Kenzie tidak bisa. Laki laki itu akan kehilangan mood nya dan hanya Allisya yang bisa mengembalikan mood laki laki itu.
"Jangan begini, Kenzie" Allisya akan melingkarkan dasi itu dileher Kenzie tapi laki laki itu malah menghindar.
"Kenzie ngga mau!" Kenzie melipat tangannya didepan d**a, bibirnya mengerucut lucu. Jika Allisya tidak akan membujuk Kenzie, gadis itu pasti akan tertawa karena melihat wajah menggemaskan Kenzie.
Allisya kembali menghela nafas. Sangat sulit untuk membujuk Kenzie memakai dasi ataupun pakaian kantor lainnya. Dia merasa tidak nyaman karena pakaian itu benar benar membentuk tubuh atletisnya.
"Ken" panggil Allisya lembut. Dia mengelus pelan pipi Kenzie tapi dia masih diam saja, dengan wajah yang sekarang cemberut.
"Kau menyayangiku, bukan?" tanya Allisya, perlahan Kenzie menatap wajah Allisya intens. Laki laki itu mengangguk. "Jadi, bisa pakai ini demi aku?" tanya nya dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Kenzie meringis dalam hati melihat wajah Allisya. Dia tidak tega dan sampai kapanpun dia tidak akan tega melihat wajah sedih milik kekasihnya. Dia menghembuskan nafasnya pelan, mengangguk pasrah membuat senyum Allisya terbentuk.
"Baru pacar, Lisya" ujarnya senang, dia kembali memasangkan dasi itu dileher Kenzie. Setelah selesai, dia menyuruh Kenzie bangkit lalu membantu laki laki itu memakai jasnya.
"Kau sangat tampan" puji Allisya, dia tersenyum, menatap wajah tampan Kenzie ditampan setelan jas yang melekat ditubuh atletisnya.
"Allisya juga cantik" puji Kenzie. Wanita itu menggunakan dress yang senada dengan jas milik Kenzie. Mereka terlihat sangat serasi.
Allisya terkekeh. "Ayo, jangan sampai kita terlambat"
Laki laki itu mengangguk, lalu dia memeluk pinggang Allisya. Mereka berdua turun bersana dari lantai dua rumah mewah Kenzie. Para pelayan rumah Kenzie hanya bisa berdecak kagum melihat pasangan yang sangat serasi itu. Yang satu cantik, dan yang satu nya lagi tampan. Mau seperti apa anak mereka?
"Jadilah yang terbaik" ujar Allisya saat mereka berdua sudah duduk didalam mobil milik Kenzie.
Kenzie yang mendengar itu tersenyum, dia mencondongkan tubuhnya sampai wajahnya berhadapan dengan wajah Allisya. Dia tersenyum manis yang dibalas senyuman juga oleh Allisya.
"Kenzie, udah jadi yang terbaik kok dihati Allisya" ujarnya, dia mengelus pipi Allisya lembut membuat wajah wanita itu memerah.
***
Jepretan kamera, wartawan yang sudah berada didepan pintu hotel berbintang lima sudah menanti mereka. Pertanyaan pertanyaan mengenai klarifikasi hubungan mereka tidak ada yang dijawab oleh Kenzie maupun Allisya. Mereka tetap berjalan melewati para wartawan yang tidak lelahnya menanyakan pertanyaan pada mereka.
"Selamat datang Mr. Keenan dan Miss. Allisya. Senang kalian bisa datang" sambut Mrs. Verero. Dia tersenyum senang karena laki laki yang paling berpengaruh dalam hal bisnis di Inggris mau datang keacara anaknya.
"Sama sama Mrs. Verero. Anda terlihat sangat cantik malam ini" puji Kenzie yang sebenarnya dia tidak ikhlas mengatakan itu.
"Dia milik saya, Mr. Keenan" ujar Mr. Verero menatap geli pada Kenzie sedangkan laki laki itu malah terkekeh.
"Saya tidak akan merebutnya dari anda Mr. Verero" ujar Kenzie dengan nada geli, sedangkan Allisya hanya tersenyum manis menatap kedua orang itu bergantian.
"Saya tau anda hanya bercanda, Mr. Keenan" Kenzie hanya terkekeh sambil mengangguk. "Baiklah, silahkan nikmati hidangan kami yang sederhana"
Kenzie dan Allisya mengangguk, mereka berdua pamit lalu berjalan menajuh dari mereka.
"Kenzie ngga suka" gumamnya lirih, dia menuntun Keisha berjalan kesalah satu meja yang sudah ada namanya dan Allisya. Setelah Allisya duduk, dia menarik salah satu kursi untuk diduduki Allisya lalu menarik kursi lagi untuk ia duduki.
"Bersabarlah selama dua jam" Kenzie mendengus mendengar ucapan Allisya. Dia rasa dua jam sama saja dua abad untuk jadi orang lain.
"Satu jam" ujar Kenzie dengan wajah oenuh permohonan tapi Allisya menggeleng.
"Tidak, Kenzie! Kau lupa tadi dirumah?" tanya Allisya dan Kenzie mendengus, dia menatap makanan yang baru saja tersaji dimejanya setelah ada pelayan yang mengantarkan.
"Terserah, Allisya" ujar Kenzie ketus, dia mulai memakan makanannya.
Allisya menghela nafas mendengar ucapan Kenzie. Dia sangat kekanakan tapi Allisya tetap mencintainya. Apa yang sudah dia lakukan sampai Allisya tetap mencintai bayi bocah ini?
"Selamat malam Mr. Keenan dan Miss. Allisya" sapa Hans, anak dari Mr. Verero dan Mrs. Verero, atau dia adalah pemilik acara ini. Dia tersenyun manis kearah Kenzie dan Allisya.
Allisya mendongak, saat dia tau siapa yang menyapanya, dia langsung bangkit lalu membalas sapaan Hans. Sedangkan Kenzie hanya diam saja dan terus makan. Dia bad mood.
"Ah maaf ya, Mr. Keenan tengah bad mood" jelas Allisya, dia mencoba membuat Kenzie mendongak tapi tidak membuahkan hasil. Laki laki itu masih fokus makan.
Hans menggeleng, dia tersenyum memaklumi. "Tak apa. Dia masih muda jadi masih sedikit labil"
Kenzie yang mendengar ucapan Hans dan suara kekehan Allisya sedikit kesal. Dia tidak labil hanya kurang dewasa saja. Tapi, bodo amat. Kenzie tidak peduli.
"Anda snagat cantik, Miss. Allisya" puji Hans, dia menatap Allisya penuh kagum tapi itu malah membuat Allisya sedikit risih. Dia menendang kaki Kenzie agar membantu tapi nihil. Laki laki itu tidak peduli. Dia masih fokus makan.
"Ahh..hehe terima kasih Mr. Hans" jawabnya kikuk, dia sangat risih. Beberapa kali dia menginjak kaki Kenzie tapi laki laki itu tetap saja tidak peduli.
"Bagaimana jika aku menyukai anda, Miss. Allisya" ujar Hans tiba tiba, dia mengambil tangan Allisya ingin mencium punggung tangannya.
Trang
Gerakan Hans terhenti saat mendengar suara sendok terjatuh keatas piring. Dia menatap heran kearah Kenzie yang sekarang menatapnya tajam. Bukan hanya Hans yang bingung, tapi seluruh tamu juga bingung. Keadaan di ballroom hotel itu senyap, semua mata mengarah kearah Kenzie, Allisya dan Hans.
Kenzie bangkit, masih menatap Hans tajam dan permusuhan. Dia menarik tangan Allisya yang digenggam Hans lalu menggenggamnya erat. Allisya yang merasa Kenzie akan marah bingung harus berbuat apa.
"Dia Allisya milik, Kenzie!" ujar Kenzie penuh penekan. "Jadi, ngga boleh ada yang merebutnya!"
Tanpa memperdulikan pikiran tamu lain, Kenzie menarik tangan Allisya pergi meninggalkan semua tamu. Langkah lebarnya membuat Allisya sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Kenzie.
Walaupun Allisya sedikit malu dnegan kelakuan Kenzie. Tapi, dia juga dibuat senang karena Kenzie bisa membebaskannya dari Hans. Menurutnya, Kenzie itu possesive tapi childish. Dan Allisya menyukai semua sifat Kenzie.
***