Decision

3170 Kata
Ditempat yang berbeda, Clara sedang duduk dengan Darel dengan segala kekesalannya pada pria yang berstatus suaminya itu. “Darel!” panggil Clara dengan kesal. “Hmm.” Gumam Darel setelah tersentak kaget. “Kamu kenapa deh dari tadi?” tanya Clara dengan wajah kesal. “Kenapa apa?” tanya Darel bingung.. “Diam mulu.” “Diam adalah emas sayang.” “Tapi gak diam sama aku juga. Diam sama aku dosa bukan emas!” ujar Clara dengan sangat kesal. “Kenapa hmm? Kamu pengen apa?” tanya Darel dengan nada lembut. “Kamu mikirin apa?” tanya Clara. “Sekolah anak.” Jawab Darel asal. “Darel!” Darel mengangkat sebelah alisnya. “Sekolah anak mahal yang. Jadi harus dipikirin dari sekarang. Aku mau pendidikan yang terbaik buat anak aku.” Ujar Darel beralibi. “Tapi gak jadiin pendidikan anak buat alasan kamu bohong sama aku kan?” kesal Clara. “Aku bohong apa?” tanya Darel. “Kamu mikirin apa? Jangan bohong sama aku!” ujar Clara. “Gak mikirin apa-apa sayang.” “Tadi katanya mikirin sekolah anak, sekarang gak ada. Kamu gak bisa bohong rel sama aku.  Aku bukan orang yang bisa kamu bohongin.” Darel tersenyum singkat. “Kamu jujur deh. Kamu udah lama kan suka sama aku. Atau jangan-jangan kamu suka aku dari kamu masih sama Arga.”ujar Darel mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. “Gak usah halu! Aku baru lihat kamu, saat aku tau kamu orang yang dijodohin sama aku.” Ujar Clara mematahkan angan-angan Darel. “Gak bisa bohong dikit apa Cla? Buat suami senang itu pahala Cla.” “Aku gak suka bohong sama suami, gak kayak suami suka bohong sama istri.” Ujar Clara menyindir Darel. “Nyindir terus.” “Makanya jadi orang tuh jujur darel!” “Aku mikir Dean.” Ujar Darel jujur. “Kenapa Dean?” tanya Clara. “Kamu ngerasa gak dia aneh?” tanya Clara. “Dari dulu dia emang aneh.” Ujar Clara asal. “Maksud aku itu----.” “Bentar aku mikir.” Ujar Clara memotong Darel yang hendak menjelaskan. “Hmm.” Gumam Darel setuju. “Aku gak dapat aneh maksud kamu. Aneh gimana?” tanya Clara. “Coba kamu pikir, gimana Dean kemarin marah-marah. Gimana Dean yang tadi malam pas makan malam. Dan gimana Dean tadi pagi.” Ujar Darel menjelasakan. Clara diam sejeank saat mendengar ucapan Darel, mencoba mencerna kalimat Darel satu persatu. “Yang.” “Udah dapat?” tanya Darel. Clara menganggukkan kepalanya. “Dean balik kayak dulu?” tanya Clara. “Tapi Dean gak kemana-mana. Dia cuman disini aja, dan dia bisa berubah dalam semalam.” Ujar Darel. Clara hanya diam. “Pada ngomongin apa?” tanya Dheera yang baru datang dan bergabung dengan kedua pasutri itu. Darel dan Clara melihat Dheera sekilas. “Kok pada gak jawab?” tanya Dheera kesal. “Lo mau kemana? Jemput bayi bayi gua?” tanya Clara saat melihat Dheera yang sudah sangat rapi. “Ihh itu bayi dheera bukan bayi Clara!” kesal Dheera. “Yang jagain siapa?” tanya Clara. “Dheera!” “Halu Lo. Mandiin mereka aja Lo gak bisa.” Ujar Clara remeh. “Bisa!” kesal Dheera. “Coba nanti gua mau lihat.” Ujar Clara. Dheera diam. “Kicep kan Lo.” “Tapi kan bukan Clara juga yang mandiin.” Ujar Dheera tak mau kalah. “Dhee. Gua lebih banyak ngurusin mereka dibandingka Lo. Apalagi pas Lo baby blues.” Ujar Clara mengingat kembali kenanagan baby blues Dheera. “Itukan karna----.” “Udah sana jemput bayi bayi gua.” Ujar Clara malas menanggapi Dheera. “Ihh Clara.” “Dhee, bagus Lo pergi jemput.” Ujar Darel. “Kok.” “Sebelum Lo diterkam singa.” Ujar Darel sedikit berbisik. “Ohh iya juga ya.” Ujar Dheera dengan wajah polos. “Kalian ngomongin apa?!” tanya Clara dengan wajah kesal. “Gak ada. Bye Clara.” Ujar Dheera berlalu pergi. “Jangan tunggu dheera pulang.” Sambung Dheera lagi. “Gak nungguin gua. Gak pulang juga gua gak masalah.” Jawab Clara asal. “Ihh apaan ini kan rumah dheera.” Ujar Dheera tak terima. “Bodo. Gak perduli gua. Nanti kalau rumah gua udah jadi, gua pindah ke sebelah. Dan gua gak nerima Lo dirumah gua.” Ujar Clara asal untuk kedua kalinya. “Jahat.” “Bodo, gak perduli.” Ujar Clara. Setelah perdebatan panjang akhirnya Dheera mengalah pergi. “Rel.” Panggil Clara. “Hmm.” Guamm Darel. “Kira-kira Dean kenapa ya.” Tanya Clara. “Kamu masih mikir itu?” tanya Darel. “Hmm. Aku penasaran.” Ujar Clara. “Aku juga gak tau. Kita liat aja nanti dia gimana.” Ujar Darel sambil menatap istrinya dengan tatapan teduh. “Hmm. Tapi kok Dean lama ya pulangnya.” Ujar Clara lagi. “Dia baru pergi 2 jam Cla.” “Aku penasaran. Cewek itu hilang lagi apa enggak.” Ujar Clara memberi alasan. “Udah lah, gak usah dipikirin. Itu gak penting buat kamu sama bayi kita.” Ujar Darel sambil mengelus perut Clara penuh sayah. “Tapi penting buat rasa penasaran aku.” Ujar Clara. “Gak penting Cla. Bagus kamu makan kalau gak istirahat.” Ujar Darel. “Kalau mau ketemu rose?” tanya Clara sambil menatap Darel dengan puppy eye nya. Darel hanay diam sambil menatao Clara. “Dari pada aku minta ketemu Jennie terus ketemu Arga juga!!” ujar Clara mulai kesal karna Darel tak menjawab permintaannya. “Yaudah nanti aku bilang sama rose. Main ke apart nya aja ya. Dia masih sibuk ngurus Kenzie kayaknya.” Ujar Darel. “Iya. Aku juga pengen jenguk Kenzie.” Ujar Clara sambil tersenyum. “Hmm..” guamm Darel. “Bawa apa ya buat Kenzie?” tanya Clara sembari memikirkan jawaban atas pertanyaannya. “Terserah.” “Hmm, nanti kita singgah ke toko anak-anak ya. Aku mau beliin sesuatu buat Kenzie.” Ujar Clara. “Iya, apa sih yang enggak buat kamu.” Ujar Darel pada Clara. “Mau pesawat.” “Gak itu juga Cla.” Ujar Darel sambil meantap Clara tajam. “Katanya apa sih yang enggak buat aku.” “Perumpamaan nya gitu Cla.” “Hmm yayaya. Merdeka kamu aja.” === == = Kembali ke Dean. Setelah Dean memberikan jawabannya. Dean pergi berjalan kesuatu tempat. Untuk menyempurnakan jawabannya. Tok.. Tok.. Tok.. “Masuk.” Ujar orang yang berada didalam ruangan yang sebelumnya pintunya di ketuk oleh Dean. Dean membuka pintu kamar tersebut. “Damn! Kenapa posisi duduknya bikin dia terkesan sexy?” batin Dean saat melihat Chika yang duduk dengan pakaian yang mencetak bentuk tubuhnya memberi kesan sexy pda Chika. “Kak Dean?” panggil Chika saat menoleh pada siaa yang membuka pintu kmarnya. Dean hanya diam tak menjawab. “Kenapa kak?” tanya Chika tanpa berbasa-basi. “Kalau dia gini terus. Bisa kemakan omongan sendiri gua.” Batin Dean menyesali ucapannya. “Kak?” panggil Chika degan mata yang menatap sayu ke arah Dean. “Sialan nih cewek. Punya motivasi menggoda orang dari mana dia?” batin Dean lagi. “Kak?” panggil Chika dnegan nada yang lebih keras dari sebelumnya. “Hmm?”gumam Dean sambil enaikan alisnya keatas.. “Kok kakak bengong sih?” tanya Chika. Dean yang tersadar jika jaraknya cukup dekat dengan Chika. Langsung menoyor mundur kepala Chika. ”Gak usah dekat-dekat Lo!” ujar Dean dingin. “Ihh kakak!” “Apa?” “Kata mama, gak baik megang kepala orang. Gak sopan.” Ujar Chika menceramahi Dean. “Kecuali gua!” “Kenapa kecuali kakak? Emang kakak siapa nya Chika?” ujar Chika bertanya dengan wajah polos tanpa dosa. “Dih nantangin nih bocah.” Kesal Dean dalam hati. “Tuh kan gak bisa jaw----.” “Gua calon suami Lo.” Jawab Dean memotong ucapan Chika.   Chika menatap kaget Dean yang  mengatakan jika dia adalah calon suaminya. “Haa?” “Mampus lo. Kaget kan Lo. Sok-sokan sih Lo.” Batin Dean tertawa melihat kekagetan Chika. “Kakak calon suami Chika?” tanya Chika sambil menatap Dean.  “Maksudnya, hmm.” Sambung Chika tampak berfikir mengenai kalimat yang dilontarkan Dean. “Jangan bilang dia gak ngerti maksud gua apa?” batin Dean lagi. “Kakak sama Chika bakal nikah? Kayak papa sama Mama? Tinggal satu rumah.” Tanya Chika dengan nada polos. “Kan apa gua bilang. Nih orang masih bocah. Jangan bilang gua zonk dapat dia dah.” Batin Dean lagi sambil menutup matanya mearatapi nasibnya. “Kakak. Kok malah diam sih.” Ujar Chika melihat keterdiaman Dean. “Iya bakal tinggal satu rumah.” “Serius kak?” tanya Chika dengan wajah mulai berbinar. “Muka gua gimana?” tanya Dean menunjuk bahwa dia serius. “Ganteng.” Ujar Chika dengan mata berbinarnya. “Fak!” kesal Dean dalam hati. “Kakak serius gak kak?” tanya Chika lagi. “Apa ini karma gua sering gangguin dheera pas hamil? Atau karma dari Clara?” tanya Dean dalam hati. “Kakak!” panggil Chika. “Iya gua serius!” kesal Dean. “Wahh.. Asik..” ujar Chika dengan wajah yagn menunjukkan betapa senangnya dia. “Asik?” tanya Dean dengan wajah bingung yang dijawab dengan anggukan semangat ileh Chika. “Fix gua zonk nikah sama dia.” Batin Dean saat melihat ekspresi bahagia Chika. “Kapan kita bisa tinggal serumah?” tanya Chika lagi. “Weeeitttz Lo ngebet banget pengen nikah sama gua?” tanya Dean dengan mata yang bergedik ngeri pada Chika. Chika lagi-lagi menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Lo ngerti gak sih nikah itu gimana?” tanya Dean sambil menatap Chika ragu, ragu wanita itu akan mengetahui maksudnya. “Jadi kayak papa mama. Mama nyiapin keperluan papa, mulai dari makan pagi siang sore malam. Baju papa, semuanya pokoknya.” Ujar Chika menjelaskan apa yang dia ketahui. “Ada yang lain, yang harus Lo lakuin kalau tinggal serumah sama gua. Yang Lo belum tau.” Ujar Dean mencoba menakut-nakuti Chika. “Apa?” tanya Chika penasaran. Dean mendekatkan badannya pada Chika. “Ini bakalan jadi hal yang sakit buat Lo.” Ujar Dean menakut-nakuti Chika. “Sakit sih tapi lama lama bakal enak.” Batin Dean lagi. “Apa?” tanya Chika semakin penasaran. Dean terus mempertipis jarak diantara mereka. “Gua jamin anak manja kayak Lo gak bakal kuat.” Ujar Dean melebih-lebihi. “Bohong aja terus yan, biar dia gak mau sama Lo.”batin Dean. “Hmm masa?” tanya Chika tak percaya. Bibir Dean tanpa sengaja memasang smirk khasnya. Dean menyanggah badannya dengan tangannya yang bertumpu pada sofa disisi badan Chika. Jarak Dean dan Chika sangat dekat. Chika bahkan bisa merasakan badannya bersentuhan dengan Dean. Dan juga nafas Dean yang berhembus diwajahnya. Detik kemudian Dean terkejut atas apa yang dilakukan oleh Chika. Greeb! Chika mengalungkan tangannya dileher Dean. Dean sangat terkejut akan hal itu. Bagaimana tidak, niat awalnya adalah membuat Chika takut padanya. Tetapi sepertinya Dean berada dilangkah yang salah. Chika malah menyambut baik niat jahatnya. “Kakak mau ngapain Chika?” tanya Chika dnegan nada polos. “Heeh bocah! Lo sadar gak Lo ngapain?” kesal Dean. “Chika lebih suka gini dari pada tadi.” Ujar Chika dengan senyum manisnya. “Kalau tadi, Chika bisa lihat wajah kak Lauren dibelakang kakak.” Batin Chika. “Lo yakin umur Lo 5 tahun?” tanya Dean meragukan keakuratan usia Chika. “19 tahun kak!” “Ya itu pokoknya.” “Yakin.” Ujar Chika sembari menganggukkan kepalanya. “Pergaulan bebas ya Lo?!” tanya Dean menuduh Chika. “Enggak. Chika bahkan gak punya teman, karna gak dibolehin keluar sama mama.” Ujar Chika dnegan wajah murung. “Makanya Lo suka main sama hantu?” tanya Dean spontan. “Ihhh kok kakak gitu!” “Lagian nih ya, orang hilang mah cuman sekali seumur hidup. Lah elo, sekali sehari. Gak bosan apa Lo?” tanya Dean dengan nada kesal mengingat waktunya lah yang menjadi tumbal kelakuan Chika. “Enggak. Kata kakek gak papa kok, asal Chika gak makan apa yang mereka hidang.” Ujar Chika. “Lo makan aja sesekali. Biar Lo gak balik lagi. Biar Lo puas main sama mereka.” Kesal Dean. “Chika gak mau.” “Gak perduli gua mau atau enggak.” “Tapi kalau Chika nikah sama kakak, Chika gak main sama mereka lagi kok.” Ujar Chika sambil tersenyum. “Kenapa?” tanya Dean bingung. “Karna kalau sama kakak, Chika gak bakal lihat mereka lagi.” Ujar Chika dalam hati. “Biar kakak gak marah-marah.” Ujar Chika sambil tersenyum cerah. “Yakin banget Lo gua gak marah.” “Hmm.” “Ekspektasi gak seindah realita.” “Tapi realita Chika sesuai kemauan Chika kok.” Ujar Chika sangat yakin dnegan ucapannya. “Serah Lo.” “Jadi kakak mau ngapain Chika sampai dekat-dekat sama Chika gini?” tanya Chika sambil memasang wajah polosnya. Dean yang sadar akan posisinya, mulai mencoba berdiri. Tapi terlambat, Chika menahan Dean agar tetap pada posisinya. “Gini dulu. Chika suka kayak gini sama kakak.” Ujar Chika menahan Dean. “Otak Lo m***m!” cerca Dean. “Hmm? Enggak kok. Chika cuman mau lihat kakak dari dekat aja.” Ujar Chika beralibi. “Bacot Lo!” “Kak. Kenapa kakak berubah fikiran?” tanya Chika. “Tentang?” “Kan katanya kakak gak mau sama Chika. Padahal Chika baru aja belajar buat jadi sexy, ehh kakak udah Nerima Chika aja.” Jelas Chika. Dean mengernyitkan dahinya. “Lo belajar apa?” tanya Dean memastikan pendengarannya. “Belajar jadi sexy.” Ujar Chika polos. “Buat apa?” tanya Dean. “Buat kakak.” “Gua?” tanya Dean sambil menunjuk dirinya. “Ngapain kayak gitu?” tanya Dean lagi. “Karna kata kakak yang hamil anak cowok kemaren. Chika harus jadi sexy, supaya kakak mau sama Chika.” Ujar Chika menjelaskan pada Dean. “Heh b**o! Gak perlu belajar sexy juga.” Ujar Dean kesal. “Hmm iya sih. Kan kakak udah Nerima Chika kan ya.” “Hmm.” “Tapi kak. Chika tetap mau jadi sexy.” Ujar Chika lagi. “Biar apa?” “Biar kakak suka sama Chika. Karna Chika tau, kalau kakak terpaksa nerima Chika.” Ujar Chika dengan wajah cerah, Chika sama sekali tidak menunjukkan kesediahan didalam ucapannya. Dean diam. “Chika bakal belajar jadi sexy buat kakak. Kakak tenang aja.” Ujar Chika yakin. “Emang dasar bocah. Begonya gak bisa dikontrol.” Cerca Dean dalam hati. “Kakak tunggu aja Chika berubah jadi sexy. Chika yakin kakak bakal suka.” Ujar Chika penuh keyakinan. “Serah Lo.” Pasrah Dean. “Tapi kalau di lihat-lihat nih bocah udah sexy deh. Tapi emang ada ya pelajaran sexy?” batin Dean sambil memperhatikan Chika yang berada dibawahnya. “Kak.” “Hmm..” “Kakak gak mau nyium Chika? Biar kayak didrama drama Korea gitu?” tanya Chika membuat Dean bergedik ngeri. “Selain belajar sexy Lo mau belajar m***m juga?!” tanya Dean menebak. “Enggak.” “Jadi ini apa?” “Kan Chika nanya.” “Nanti gua cium.” “Kapan?” tanya Chika bersemangat. “Kalau Lo udah sexy!” ujar Dean asal. “Oke, Chika bakal belajar serius.” Ujar Chika tanpa bebam. Chika ngomong dengan semangat dan keyakinan penuh. Tanpa sadar bibir Dean melengkung dengan sempurna saat melihat Chika. Yap melengkung membentuk sebuah senyuman. Apa maksud dari senyum itu? Entahlah, hanya Dean yang mengetahui nya. === == = Malamnya, Dean udah pulang kerumah Ken tanpa cacat celah. Saat ini kelimanya sedang duduk diruang keluarga. “Yan.” Panggil Clara. “Hmm.” “Gimana?” “Apa nya?” “Cewek itu. Ngilang lagi hari ini?” tanya Clara penasaran. “Kenapa emangnya?” tanya Dean. “Gua penasaran.” “Bukannya Lo takut?” tanya Dean. “Dikit.” “Terus ngapain nanya-nanya?” “Karna, rasa penasaran gua lebih besar dari rasa takut gua.” Ujar Clara kesal. “Hmm.” Gumam Dean sembari mengangguk-anggukan kepalanya. “Jadi the answer?” “Enggak. Hari ini gak ngilang lagi.” Jujur Dean. “Gak ngilang? Jadi Lo ngapain kesana?” tanya Clara penasaran. “Karna kakek gua disana.” “Cuman karna itu?” tanya Clara memastikan. “Hmm.” “Terus Lo disitu ngapain?” tanya Clara. “Nerima perjodohan.” Celetuk Ken. Clara dan yang lain kaget mendengar pernyataan Ken. Tak terkecuali Dean yang menjadi bahan cerita. Bagaimana tidak kaget, Dean merasa belum memberitahu siapapun atas hal perjodohan nya. Tetapi Ken sudah mengetahui hal tersebut. “Kenapa pada kaget?” tanya Ken yang bingung melihat reaksi kaget teman-temannya. Semua diam tanpa jawaban. “Lo juga kenapa kaget yan?” tanya Ken sambil menatap aneh Dean yang juga kaget. “Lo-----.” “Padahal kan gua bercanda barusan.” Ujar Ken memotong ucapan Dean. Tanpa sadar, Dean menghela nafas lega. Ken belum mengetahui hal tersebut. Hal itu membuatnya lega. “Kalau bukan Nerima perjodohan? Jadi Lo ngapain yan?” tanya Clara lagi. “Ngobrol.” “Tentang?” “Kenapa selama hamil Lo jadi kepoan gini sih Cla?” tanya Dean yang mulai terganggu degan kekepoan secara terbuka Clara. “Gak tau. Gua juga pusing liatnya.” Ujar Clara sambil memanyunkan bibirnya. “Gua lebih-lebih pusing.” Ujar Darel tak mau kalah. “Kenapa kamu pusing?” tanya Clara bingung. “Kamu ngeliat apa dikit nanya, alasannya karena penasaran.” Ujar Darel sambil menatap Clara. “Lo gak sampai nanya kenapa orang berhenti kalau lampu merah kan Cla?” tanya Dean khawatir. “Hmm.” Gumam Darel. “Hmm apa?” tanya Dean. “Pernah woy! Dia pernah nanya itu sama gua.” Ujar Darel bersemangat. “Sumpah Lo?” tanya Dea kaget. “Iya. Gila gak tuh.” Ujar Darel tanpa merasa ada tatapan tajam yang sedang mengawasinya. “Darel.” Kesal Clara. “Parah sih gila banget Lo Cla. Ternyata hamil bisa bikin orang jadi aneh ya.” Ujar Dean. “Lo rasain aja sendiri.”celetuk Ken. “Monmaap sekeluarga nih Bapak Keenan Aldric. Gua laki-laki tulen, gua gak punya sel telur buat bisa hamil.” Ujar Dean. “Maksud gua gak gitu b**o!” “Jadi apa?” “Nikah!!” “Nah bener, nikah Lo biar Lo tau sensasi orang hamil.” Ujar Darel. “Gak suka gua pembahasan nya.” “Gak usah kayak orang yang habis dipaksa nikah Lo. Tiba-tiba gak suka pembahasan gini.” Ujar Darel. “Emang habis dipaksa gua!”batin Dean. “Lo gak habis dipaksa kan yan?” tanya Clara. “Mau dipaksa sama siapa gua?” “Ya mana tau, kakek Lo udah pengen nimang cucu.” Ujar Clara asal. “Tinggal pinjem anak Ken bentar. Ngapain harus nikah kalau gitu.” Ujar Dean tak kalah asal. “Lo kata anak gua pena bisa Lo pinjem pinjem?! Buat sendiri sana Lo!” ujar Ken kesal. “Mana jadi buat sendiri.” “Sama pacar lo sana!” “Hmm pacar.” “Lo temuin itu. Jangan sok sibuk!” ujar Ken. “Lo sibuk yan?” tanya Clara bingung. “Yap.” “Sibuk apa Lo?” tanya Clara bingung. “Bersemedi. Untuk menata masa depan.” Ujar Dean asal. “Bacot Lo. Lo cari pasangan yang pas baru ngomongin masa depan.” “Harus? Sendiri aja gak bisa apa?” tanya Dean. “Lo mau jadi bujang lapuk apa? Gak punya pasangan sampai tua?” tanya Clara kesal. “Tau ahh. Pembahasan kalian lebih berat dibandingkan pembahasan hantu yang dilihat kakek gua.” Ujar Dean. “Sialan disamain sama hantu!” ujar Darel. “Telpon pacar Lo." Ujar Ken. “Bawel Lo!” kesal Dean. “Buruan yan!” “Iya iya!” Dean berdiri dari duduknya sambil mengeluarkan hp nya. Dean mencoba menelepon pacarnya, tapi gak diangkat. Karna tidak diangkat juga, Dean mencoba ngirim pesan online. Personal chat, Deandra Wally-Sherina Salsabilla. Deandra Wally : Beb. Deandra Wally  : Busy? Sherina Salsabila : Sorry beb, aku gak bisa angkat. Sherina Salsabila ; Aku lagi hectic. Deandra Wally : Oke. Sherina Salsabila : Kenapa beb? Deandra Wally : Nope. Deandra Wally : Pengen tau kabar aja. Sherina Salsabila : I'm fine. Sherina Salsabila : And you? Deandra Wally : Fine. Deandra Wally : Kapan bisa jumpa? Deandra Wally : Kita udah lama gak jumpa. Sherina Salsabila : Malam Minggu? Deandra Wally : Gak sibuk? Sherina Salsabila : Enggak, aku free nanti. Deandra Wally : Oke. Deandra Wally : Mobil gua ditahan. Deandra Wally : Lo bisa jemput gak? Sherina Salsabila : Ditahan siapa beb? Deandra Wally  : Ken. Sherina Salsabila : Kok bisa? Deandra Wally : Panjang ceritanya. Sherina Salsabila : Oke. Sherina Salsabila : Beb, aku mau Photosot dulu. Sherina Salsabila : See you beb. Sherina Salsabila : Love you. Deandra Wally hanya membaca pesan tersebut. Dean menghela nafas panjang. “Kenapa gua ngerasa kosong?” ujar Dean kosong. “Tapi enggak kalau didekat bocah aneh itu.” Ujar Dean lagi dalam hati. “Kenapa Lo?” tanya Ken yang muncul entah dari mana. “Hmm?” gumam Dean melihat Ken sekilas. “Gak papa.” “Apa yang Lo sembunyiin dari gua? Gak pengen bilang Lo?” tanya Ken membuat Dean kambali menoleh padanya. “Kenapa?” tanya Ken bingung. “Lo jujur deh sama gua.” Ujar Dean. Ken menaikkan alisnya. “Lo tau apa soal hari ini?” tanya Dean mulai menaruh curi ga pada Ken yang terlihat sangat aneh baginya. “Kok gantian gua yang disidang?” tanya Ken enggan menjawab pertanyaan Dean. “Soalnya hari ini Lo aneh.” “Ucapan gua benar?” tanya Ken membuat Dean terdiam, merasa salah menyampaikan opini. “Lo dijodohin beneran?” tanya Ken lagi. “Kenapa Lo ngomong dijodohin terus dari pagi? Lo bikin gua curiga.” Ujar Dean tak berniat memberi tau Dean mengenai kenyatannya. “Karna pengen aja Lo ngerasa hal kayak gini. Gua, Darel udah ngerasain. Jadi Lo juga kayaknya harus.” Ujar Ken. “Sialan Lo!” kesal Dean. “Si Arga?” tanay Dean. “Itu susah. Lo kan tau dia sendiri.” “Gua juga sendiri.” “Kakek Lo gak Lo akui?!” “Nanti kalau dia mau ngasih gua harta sama tahta gua bakal akuin.” Ujar Dean asal. “Durhaka Lo!” “Bodo.” “Jadi, gua benar gak? Gak usah ngalihin pembicaraan lo.” Ujar Ken. “Sialan, ketahuan gua.” “Bener?” tanya Ken memastikan. “Hmm.” Ken tertawa kencang. “Serius Lo?” tanya Ken. “Lo udah tau kan sebelumnya?!” tanya Dean menodong Ken. “Belum elah.” “Jujur Lo!” “Serius belum.” Ujar Ken. Dean ngedumel gak jelas. “Jadi sama siapa Lo?” tanya Ken. “Lo gak bakal percaya sama yang gua bilang.” Ujar Dean datar. Ken mengernyitkan dahinya. “Lo bahkan belum bilang.” “Sama anak umur 19 tahun.” Ujar Dean sambil menghela nafas panjang. “Cewek itu? Cewek yang Lo bilang hilang timbul itu?” tanya Ken memastikan tebakannya. “Iya.” Ken tertawa dengan lepasnya. “Sumpah Lo?” tanya Ken. “Gak usah ketawa Lo!” “Kenapa Lo terima?” tanya Ken masih tertawa renyah. “Diancam gua.” Ken tertawa lagi dengan lepasnya. “Ken.” “Hahaha. Sumpah gua ngakak habis woy. Harta, tahta wanita. Semuanya dari kakek.” Ujar Ken benar-benar tak sanggup menahan tawanya. “Apa bedanya sama Lo?!” “Beda. Gua udah merintis sedikit demi sedikit. Gak kayak Lo yang plek dapat dari kakek Lo.” “Gak usah ngehina Lo!” “Lucu woy.” “Gak ada lucu-lucunya.” Kesal Dean. “Tapi anaknya cantik?” tanya Ken berusaha menghentikan tawanya. “Hmm. Lumayan.” Ujar Dean sambil mengingat wajah Chika. “Punya fotonya gak Lo? Liat.” Ujar Ken. “Gua bilang dheera Lo!” “Mana takut gua.” “Gak punya gua.” “Gak usah bohong Lo.” Ujar Ken. Dean mengeluarkan hp nya dan mencari foto digaleri. “Nih.” Ujar Dean sembari memberikan ponselnya pada Ken, ponsel yang menunjukkan foto Chika di layarnya. Ken mengernyitkan dahinya saat menatap foto tersebut. “Bocah banget kan?” tanya Dean meminta penilaian Ken. Namun Ken hanya diam tak menjawab, matanya terpaku pada foto Chika yang ada di layar ponsel Dean. “Ken?” panggil Dean. Ken masih diam. Dean merebut hp nya dari tangan Ken membuat Ken tersadar karna terkejut. Ken berdehem pelan mencoba menormalkan dirinya. “Kenapa Lo ditanya gak jawab?! Jangan bilang Lo jatuh cinta sama ni bocah?!” tanya Dean berprasangka buruk pada Ken. “Gila apa Lo. Ya enggak lah! Gua setia, gak kayak Lo.” Ujar Ken tak terima tuduhan buruk Dean. “Kenapa gua?” “Punya pacar, tapi punya calon istri. Curiga Lo punya tunangan yang lain.” ujar Ken asal. “Enggak lah! Gak gila gua.” Ujar Dean. “Kayak sekarang waras aja.” Ujar Ken masuk kedalam tanpa pamit. “Dih sialan emang. Udah ngehina, main pergi gitu aja.” Ujar Dean kesal. Setelahnya Dean menatap langit sambil menghela nafas panjang. “Kenapa gua harus nerima bocah aneh itu coba? Sakit otak gua kayaknya.Tapi, walaupun baru beberapa kali ketemu. Gua ngerasa nyaman ada didekat bocah itu.” Ujar Dean dalam hati. “Perasaan yang gak gua dapat dari Sherin. Ingat yan nyaman bukan suka atau sayang apalagi cinta. Lo bisa nikahin dia, dan ngejaga dia layaknya ngejaga adek. Iya layaknya adek.” Sambung Dean lagi. === == = Bersambung.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN