Keesokan harinya, semuanya sudah selesai sarapan begitu juga Dean. Walaupun datang di detik-detik akhir seperti tadi malam. Tetapi mereka menyelesaikan sarapan dengan tenang.
“Yan.” Panggil Ken sambil menatap Dean.
Dean hanya diam enggan menjawab panggilan Ken,
“Gua ngomong dijawab yan!”
“Kenapa lagi?”
“Kita nanti pulang kerumah kakek Lo.”
Dean menoleh pada Ken dengan tatapan dingin. “Gua gak mau kesana.” Ujar Dean dengan nada serius.
“Kakek Lo mau Lo kesana.”
“Bisa gak Lo gak usah dengarin dia?!” tanya Dean dengan nada kesal.
“Gak bisa! Dia kakek Lo dan dia wali sah Lo. Jadi gua gak bisa nentang.” Ujar Ken dengan nada yang serius.
Dean menghela nafas panjang.
“1 jam lagi siap-siap Lo.” Ujar Ken memberi perintah.
Dean hanya diam, enggan menjawab.
“Yan?!”
“Iya iya!” kesal Dean tau jika tidak ada gunanya dia menolak saat ini.
“Suasana nya tegang amat dah.” Batin Darel sambil menatap kedua temannya itu.
Darel berdemem pelan.
“Yang, kita kerumah rose ya.” Ujar Clara mencoba mengalihkan ketegangan di meja makan.
“Ngapain?” tanya Darel sambil menatap Clara.
“Mau main aja.”
Dean tiba-tiba berdiri dari duduknya, lalu pergi begitu saja kearah kamarnya. Kemudian tanpa sengaja keempatnya menghela nafas lega. Kenapa ngela nafas lega? Karna berhasil keluar dari suasa yang tegang kayak tadi.
“Jangan sering main sama rose Cla.” Ujar Darle setelah Dean berlalu pergi.
“Kenapa?” tanya Clara dengan nada murung.
“Masih belum bisa jaga hati Lo?” tanya Ken menyabotase meja makan untuk kembali ke suasana tegang.
“Ken!”
“Beneran rel?!”
“Enggak, gak usah percaya sama Ken.”
“Darel.”
“Astaga enggak Cla, percaya deh.” Ujar Darel dengan nada lembut namun tersirat keseriusan dalam ucapannya.
“Awas aja kalau iya!”
“Enggak tenang aja.” Ujar Darel menenangkan Clara.
“Ken, Jennie apa kabar ya? Udah jarang banget main kerumah. Kan dheera kangen.” Ujar Dheera pada ken.
“Ihh iya gua juga kangen dhee.” Ujar Clara ikut-ikutan.
“Lo berdua kenapa selalu samaan? Heran gua ngeliatnya.” Ujar Darel sambil menoleh pada Dheera dan Clara bergantian.
“Lo kangen Jennie nya atau Arga nya Cla?” tanya Ken kembali mencoba menyabotase meja makan.
“Gak usah memancing keributan rumah tangga Lo Ken!! Gua ngomong Jennie juga!” kesal Clara.
“Halah.”
“Dhee suami Lo kok makin kesini makin lemes sih?!” tanya Clara pada Dheera.
“Dheera gak tau. Dheera juga bingung.” Ujar Dheera sembari menatap Ken yang sedang menatapnya tajam.
“Berarti Lo mengakui dhee?” tanya Darel.
“Hmm..” gumam Dheera mengiyakan pertanyaan Darel.
“Dhee.”
“Pffft. Bapak Keenan Aldric yang lemes.” Ujar Clara ssambil menahan tawanya.
“Cla.”
“Karma itu nyata bapak Ken. Jangan main-main sama ibu hamil makanya.” Ujar Clara percaya diri.
“Cepet dah Lo melahirkan. Gak sabar gua pengen liat Lo dibully.” Ujar Ken menanggapi rasa percata diri Clara.
“Sabar. Masih beberapa bulan lagi.”
Fyi, waktu yang ada dicerita ini adalah 7 bulan setelah Clara dan Darel menikah. Yang artinya bayi kembar Ken dan Dheera sudah berumur bulan. Dan usia kandungan Clara sudah 5 bulan lebih.
“Gak sabar gua menantikan hal itu.” Ujar Ken dengan nada bersemangat.
“Gua dibully?” tanya Clara memastikan.
“Iya.”
“Sialan Lo!” kesal clara.
“Cla ngomong nya.”
“Uups keceplosan, maaf.” Ucap Clara pada Darel.
Saat keempatnya sedang asik cerita. Tiba-tiba Dean muncul entah dari mana dan bergabung dengan keempat temannya itu.
“Ken, ayok.” Ajak Dean menarik atensi keempat teman-temannya.
“Haa?”
“Lo mau ngantar gua kerumah kakek kan? Ayok.” Ujar Dean mengulang ajakannya.
“Kan gua bilang tadi sejam lagi.” Ujar Ken sembari menatap jam tangannya.
“Sekarang aja. Kakek nyuruh gua kerumah Chika.” Ujar Dean dengan nada datar.
“Lagi?! Itu orang hilang lagi?!” tanya Clara dengan wajah yang sangat kesal.
“Cla.”
“Aku penasaran!” ujar Clara.
Dean hanya mengangkat bahunya singkat. “Kayaknya enggak.” Ujar Dean menjawab pertanyaan Clara.
“Awas aja kalau dia hilang lagi!” ujar Clara masih dnegan nada dan wajah kesalnya.
“Mau Lo apain?” tanya Ken.
“Gua marahin! Gua gak suka liat dia!” ujar Clara benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya.
Dean hanya diam dengan smirk yang tercetak dibibirnya. “Buruan Ken.” Ajak Dean lagi.
“Bentar gua ambil jaket.” Ujar Ken lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket serta kunci mobil.
“Yan.” Panggil Clara.
“Hmm.”
“Ehh.” Kaget Darel.
“Kenapa Lo kaget?” tanya Dean sambil menatap Darel tanpa ekspresi.
“Gak gak.” Ujar Darel dengan cengiran lebar di bibirnya.
“Lo mau ngomong apa Cla?” tanya Dean.
“Kesambet apa nih bocah? Kok tiba-tiba baik lagi?” batin Darel menyelidik Dean.
“Bilang sama gua kalau dia hilang hilang lagi!” ujar Clara tegas.
“Mau Lo apain?”
“Gua ospek! Gak suka gua cewek jenis dia.” Ujar Clara dengan nada yang sangat mantap dan serius.
Dean tertawa singkat. “Jenis apa emang dia?” tanya Dean menanggapi Clara dnegan raut wajah yang sudah seperti sebelumnya, sudah normal seperti biasanya.
“Tuh. Sejenis itu tuh.” Ujar Clara sembari menunjuk dheera. “Tapi versi parahnya.” Sambung Clara.
“Dheera? Kok dheera?” tanya Dheera bingung.
Ken turun dari tangga. “Dhee, jangan lupa jemput anak-anak.” Ujar Ken memerintah Dheera.
“Kamu baru turun udah nyuruh dheera aja!” kesal Dheera.
“Ingat dhee?” tanya Ken tidak mau mendengar kalimat penolakan.
“Iya Ken iya. Aku juga udah kangen sama anak aku!” ujar Dheera dnegan nada kesal.
“Anak Lo kemana?” tanya Dean dengan wajah bingung.
“Dirumah mama.”
“Kok disana?”
“Kar----.”
“Mama kangen katanya.” Ujar Ken memotong Dheera yang hendak bicara mengenai alasan kenapa anak-anaknya harus mengungsi.
“Ohh.”
Dheera hanya diam.
“Ayok jalan.” Ajak Ken pada Dean.
“Hmm..” gumam Dean sembari berdiri dari duduknya dan pergi keluar tanpa pamit.
“Kebiasaan!” kesal Clara melihat Dean yang pergi seenaknya tanpa pamit padanya.
“Gak usah dimarahin.” Ujar Darel mencoba memberi pengertian pada Clara.
“Kan aku cuman bilang kebiasaan!”
“Iya Cla iya.”
“Aku pergi dhee.” Pamit Ken pada istrinya.
“Hmm. Hati-hati.” Ujar Dheera lembut.
Ken mencium puncak kepala Dheera. Lalu pergi mengikuti Dean keluar.
====
Di mobil Dean dan Ken diam seribu bahasa.
“Nanti Lo langsung pulang aja.” Ujar Dean membuka obrolan.
“Hmm?” gumam Ken bingung.
“Gua kayaknya lama disana. Nanti gua balik minta diantar sama supir kakek aja.” Ujar Dean.
“Itupun kalau gua bisa balik.” Ujar Dean dalam hati.
“Tapi gua penasaran.” Ujar Ken mengabaikan permintaan Dean.
“Udah ketularan dheera Lo?” tanya Dean pada Ken.
“Haa?”
Ken mengernyitkan dahinya.
“Biasanya Lo paling gak perduli sama sekitar. Hari ini Lo ngomong Lo penasaran.” Ujar Dean pada Ken.
“Aahh. Mungkin faktor udah punya anak kali.” Ujar Ken beralibi.
“Gak ada hubungannya.” Ujar Dean tak terima alasan Ken.
“Ada.”
“Apa?” tanya Dean.
“Gua gak boleh jadi gua yang sebelumnya terus. Sekarang gua punya dheera, punya anak-anak gua. Prioritas gua udah beda, tanggung jawab udah gak sama kayak dulu. Jadi gua gak bisa sama kayak dulu terus.” Jelas Ken dengan nada serius.
Dean hanya diam.
“Lo gak akan paham maksud gua barusan. Tapi nanti, suatu saat Lo akan ngerti. Lo di saat single, punya pacar, jadi suami dan jadi ayah. Harus menjadi orang yang berbeda, gak boleh selalu menjadi orang yang sama.” Sambung Ken menjelaskan.
“Lo seharusnya ngomong hal ini sama Darel bukan gua. Darel yang udah punya istri. Atau gak Arga, dia kan lagi mencoba buat serius sama Jennie.” Ujar Dean menolak penjelasan Ken.
Ken hanya diam.
“Atau kakek ada ngomong hal yang aneh-aneh sama Lo?!” tanya Dean lagi.
“Gak ada. Kenapa Lo mikir gitu? Dijodohin Lo sama kakek?” ujar Ken menebak.
Dean diam sejenak. Ken melihat kearah Dean dengan wajah kaget. “Jangan bilang iya?” tanya Ken.
Dean diam.
“Yan.” Panggil ken lagi.
-Flashback-
30 menit yang lalu. Sebelum Dean datang dan hilang "Ayok" pada Ken.
Dikamar Dean, Dean manatap ponselnya yang berbunyi tanda pesan masuk. Pesan tersebut tak lain dan tak bukan dari Kakeknya.
Personal chat, Kakek-Dean
Kakek buyut : Dean. Kamu dimana?
Kakek buyut : Masih dirumah Ken?
Deandra Wally : Masih kek.
Deandra Wally : Kenapa? Mau nyuruh kerumah Chika lagi?
Kakek buyut : Iya.
“Bodoh Lo yan. Ini kakek lagi, to the point banget kalau ngomong.” Batin Dean kesal.
Deandra Wally : Ngapain lagi kek?
Deandra Wally : Hilang lagi?
Kakek buyut typing.
Deandra Wally : Biarin hilang aja kek.
Kakek buyut : Datang kesini dulu.
Deandra Wally : Nyusahin banget jadi orang.
Deandra Wally : Yakali tiap hari hilang.
Kakek buyut : Dean!
Deandra Wally : Nih ya kek, kalau orang normal ya kek.
Deandra Wally : Kalau udah sekali hilang, pasti bakal trauma.
Deandra Wally : Lah dia kok bisa-bisanya hilang tiap hari.
Deandra Wally : Sesuka itu hantu sama dia apa? Atau dia yang suka sama hantu?
Kakek buyut : Jaga bicara kamu Dean!
Deandra Wally hanya membaca pesan Dean.
Kakek buyut : Kesini sekarang, kakek udah disini.
Deandra Wally : Ngapain Dean kesana kek?
Deandra Wally : Kan kakek udah disana.
Kakek buyut :Karna kamu harus disini. Ada hal penting yang mau kakek omongin sama kamu.
Deandra Wally : Kenapa gak dirumah kakek aja?
Kakek buyut : Kakek sudah bilang, karna kamu harus disini.
Deandra Wally : Kek.
Kakek buyut : Kakek yang bilang sama Ken atau kamu langsung kesini.
“Ngeselin banget dikakek kakek, heran gua.” Batin Dean saat membaca pesan dari Kakeknya.
Kakek buyut : Dean.
Deandra Wally : Dean yang kesana.
Kakek buyut :Cepat, kakek tunggu.
Deandra Wally hanya membaca pesan dari Kakeknya.
-Flashoff-
“Enggak.” Ujar Dean sambil meananggapi ucapan Ken.
“Gua punya pacar sekarang. Lagian mau dijodohin sama siapa juga gua?” ujar Dean dingin.
“Masih Lo sama yang itu?” tanya Ken.
“Masih.”
“Gak pernah ketemu?” tanya Ken megingat Dean yang selalu berada dirumahnya hampir setiap hari.
“Sibuk.”
“Dia atau Lo nya?” tanya Ken lagi.
“Dua-duanya.”
“Gak ada telponan?”
“Ada bentar.”
“Kapan?”
“Kalau sempat.” Ujar Dean santai.
Ken mengernyitkan dahinya. “Lo pacaran apa bukan sih?” tanya Ken.
“Pacaran.”
“Kok kayak gitu?”
“Gak semua orang pacaran harus komunikasi 24/7 kan? Lagian gak penting juga gua komunikasi 24/7.” Ujar Dean benar-benar santai.
Ken menaikkan alisnya.
“Gak dapat uang gua dengan komunikasi 24/7.”
“Otak Lo cuman ada uang apa?” tanya Ken kesal.
“Enggak. Diotak gua ada 3 hal. Harta, tahta dan---.”
Ken melirik Dean sekilas.
“Wanita.” Sambung Dean lagi.
“Sok iya Lo.”
“Beneran elah. Untuk harta dan tahta gua cuman perlu nurutin perintah kakek. Kalau gua nurut, dengan begitu gua bakal dapat Harta warisan kakek dan tahta yang diwariskan.” Jelas Dean panjang lebar.
“Yayaya. Untuk wanita? Kakek juga yang ngurus?” tanya Ken menyindir Dean.
“Gila apa Lo?! Mana mau gua dia yang ngurus. Yang ada dia bakal nyari jodoh yang aneh-aneh buat gua.” Kesal Dean.
“Gak semua yang dijodohin aneh yan.
“Contohnya Lo sama Darel gitu?” tanya Ken tepat sasaran.
“Hmm, ya bisa.”
“Dan Lo sama Darel gak masuk dalam contoh gua. Lo kenal sama dheera, bahkan Lo udah pacaran sebelumnya. Begitu juga Darel, dia udah kenal sama Clara lama. Bahkan dari Clara masih sama Arga, mereka udah saling kenal dan tau satu sama lain.” ujar Dean menjelaskan. Kalau gua terima---.” Potong Dean.
“Gak menutup kemungkinan Lo bakal dijodohin sama orang yang Lo kenal kan?” ujar Ken.
Dean diam.
“Kenal atau enggak gak mempengaruhi banyak hal kok. Kalau Lo kenal Lo cuman gak perlu penyesuaian lagi, just it.” Ujar Ken memberi pemahaman.
“Just it? Gila Lo!” kesal Dean.
“Gak payah kok buat mencintai seseorang yang baru Lo kenal. Kuncinya Lo harus percaya dan menerima dia di hati Lo. Dengan gitu hati Lo akan menuntun lo dan pikiran lo untuk mencintai dia.” Ujar Ken sangat serius dengan pembicaraan.
“Pembahasan Lo gak tepat. Gua gak lagi diposisi dijodohin.” Ujar Dean menolak pembicaraan serius Ken.
“Ingat aja yang gua bilang. Buat jaga-jaga, siapa tau Lo dijodohin nanti.” Ujar Ken.
“Udah tahun berapa ini Ken. Masih aja ada perjodohan.” Ujar Dean masih enggan menerima obrolan tentang perjodohan yang serius.
“Perjodohan bukan tentang musim atau tren yan. Perjodohan ada karna adanya ketidakpercayaan orang tua sama pilihan anaknya.” Ujar Ken dengan nada seriusnya.
“Dan mereka akan berubah menjadi orang yang paling tau segalanya. Sok tau dengan keadaan hati anaknya dan sok tau kebahagiaan jenis apa yang dibutuhkan anaknya.” Ujar Dean.
“Katanya pilihan orang tua adalah yang terbaik buat anaknya.”
“Ya memang, tapi gak dalam semua aspek. Kebahagiaan adalah sesuatu yang gak bisa ditentukan sama orang lain. Kita yang paling tau keadaan hati dan pikiran kita. Cuman kita yang bisa mengatur kebahagiaan kita sendiri.”
“Oke.”
“Sekarang gua tanya. Lo udah bahagia saat ini?” tanya Ken membuat Dean hanya diam.
“Gua ralat, Lo udah nemuin kebahagiaan Lo?” tanya Ken lagi.
Dean masih diam.
“Belum kan?” tanya Ken lagi.
Dean masih diam.
“Gak selamanya kita bisa ngatur kebahagiaan kita. Terkadang kita butuh bantuan orang lain untuk menjadi perantara kebahagiaan kita.” Ujar Ken karna Dean belum juga menanggpi pertanyaannya.
“Lo bahagia?” tanya Dean.
“Hmm?” gumam Ken.
“Lo bahagia sama dheera?” tanya Dean.
“Sangat.” Ujar Ken.
Dean tersenyum tipis.
“Ingat, gak semua kebahagiaan bisa kita atur sendiri.” Sambung Ken.
"Dimata gua Lo yang mengatur sendiri kebahagiaan Lo dengan dheera.” Ujar Dean.
“Bukan gua yan. Tapi bokap gua. Dari awal, gua dekatin dheera bukan karena gua pribadi. Tapi karena perintah bokap dengan ancaman harta warisan.” Jelas Ken.
“Damn kok bisa sama. Gua jadi takut dijodohin sama tuh bocah aneh.” Batin Dean.
“Gua marah awalnya, Lo tau sendiri cerita gua kabur dari rumah tanpa bawa fasilitas apapun.” Sambung Ken.
“Ya, saat itu Lo jadi liar karena tinggal di barnya Arga.” Ujar Dean.
Ken hanya tersenyum miring. “Gua awalnya marah tapi lama kelamaan, gua mulai masuk kedalam perangkap papa. Yang awalnya gua pikir itu hal gak penting, ternyata itu adalah awal dari kebahagiaan gua.” Ujar Ken sambil tersneyum.
“Hmm lebih tepatnya awal gua nemuin kebahagiaan gua. Gua gak nemuin kebahagiaan itu dengan sendirinya. Gua nemuin kebahagiaan itu dengan papa sebagai perantara.” Sambung Ken lagi.
Dean hanya diam.
“Begitu juga Darel.” Ujar Ken sambil menatap Dean yang diam disebelahnya.
“Arga yang kenal Clara duluan, Arga yang jadi pacar Clara sebelumnya. Mereka hanya saling kenal dan singgah sementara dihati masing-masing.” Ujar Ken memngingat kedua temannya itu.
“Arga gak pernah mampu ngasih kebahagiaan buat Clara. Bukan karena dia gak mau, tapi karna Arga bukan kebahagiaan yang tepat buat Clara. Arga hanya jadi perantara buat Clara dan Darel untuk saling tau dan mengenal sebelum akhirnya menikah.” Sambung Ken lagi.
Dean masih diam.
“Kebahagiaan memang kita yang cari dan mengatur. Tapi terkadang ada beberapa hal yang kita butuh orang lain sebagai perantaranya. Dan mungkin nantinya kakek Lo akan jadi perantara buat kebahagiaan Lo.” Ujar Ken sambil menoleh pada Dean yang masih terdiam seribu bahasa.
“Lo harus lihat dari berbagai sisi dan berbagai pemikiran. Biar Lo gak jatuh dalam keegoisan Lo sendiri.” Ujar Ken lagi.
“Gua akuin Lo jadi semakin dewasa saat Lo jadi ayah.” Ujar Dean menanggapi kedewasaan Ken kini.
“Gua Daddy btw bukan ayah.” Tolak Ken atas anggilan ayah dari Dean.
“Ayah panggilan original di bahasa Indonesia. Daddy itu cuman modifikasi.” Ujar Dean.
“Merdeka Lo dah.” Ujar Ken malas berdebat dengan Dean.
===
==
=
Setelah sampai dirumah Chika. Seperti briefing sebelumnya, Ken benar-benar langsung pergi tanpa ikut masuk untuk menuntaskan rasa penasarannya. Pada saat Dean datang, orang tua Chika dan kakeknya sedang mengobrol santai diruang tamu.
“Ken mana Dean?” tanya Kakek pada Dean yang baru saja tiba.
“Langsung pulang.” Ujar Dean dingin.
“Hmm. Duduk.” Perintah Kakek.
Dean duduk dengan malasnya.
“Kamu mau kakek to the point at--.”
“To the point aja, Dean sibuk..” Potong Dean.
“Oke.” Ujar Kakek sembari saling bertatapan satu sama lain dengan orang tua Chika.
“Kek.” Panggil Dena karna kakeknya terlalu lama diam.
“Umur kamu sudah berapa?” tanya Kakek.
“Gak enak perasaan gua.” Batin Dean mulai berhati-hati pada ucapan kakeknya.
“27 kek.” Jawab Dean ragu.
“Kakek liat teman-teman kamu sudah pada menikah. Ken sudah punya anak, Darel istrinya sedang mengandung. Arga kemungkinan sebentar lagi akan menikah.” Ujar Kakek menjelaskan entgang hal yang sudah diketahuinya. “Kamu kapan?” tanya Kakek setelahnya.
“Kan. Feeling gua bener. Perasaan gua gak enak mau kesini.” Batin Dean.
“Dean.” Panggil Kakek.
“Lagian ngapain coba si Ken pake cepat banget nikahnya. Si Darel juga apaan, cepat banget punya anaknya. Si Arga juga, entah apa pakai mau buat Jennie nikah muda.” Kesal Dean dalam hati.
“Dean.” Panggil Kakek lagi.
“Gak tau kek. Masih lama mungkin.” Ujar Dean malas.
“Kok mungkin? Umur kamu udah 27 Dean.” Ujar kakek.
“Masalahnya dimana?” tanya Dean dengan nada percaya diri.
Benar bukan, apa masalahnya jika dia sudah 27 tahun dan teman-temannya sudah menikah dan punya anak. Apa dia harus mengikuti jejak teman-temannya.
Kakek menatap Dean tajam
“Kek, nikah bukan soal cepat-cepatan. Kalau mereka udah nikah bukan berarti aku harus nikah juga kan?” ujar Dean mengutarakan pemikirannya.
“Tapi kakek mau nya kamu nikah tahun ini.” Ujar Kakek membuat Dean membelalak lebar.
“Kek!”
“Kenapa?”
“Tahun ini udah mau habis kek.” Ujar Dean setelah mengingat tinggal berapa lama lagi sambpai akhir tahun.
“Masalah nya dimana?” tanya Kakek membalikkan ucapan Dean.
“Sialan. Dibalikin omongan gua.” Kesal Dean dalam hati.
“Ya mana sempat kek. Kakek kira nikah kayak pergi cari makan apa.” Kesal Dean.
“Dimana kendala kamu? Ngurus pernikahan nya? Kamu gak perlu pusing, ada banyak WO yang bisa ngurusin pernikahan kamu.” Ujar Kakek terlihat benar-benar serius dengan ucapannya.
“Bukan itu kek.”
“Calonnya?” tanya Kakek.
Dean hanya diam.
“Kakek udah punya calonnya.” Sambung kakek.
Deg! Mata Dean kembali terbelalak lebar.
“Benar feeling buruk gua.” Batin Dean.
“Kakek mau kamu menikah dengan Chika.” Sambung Kakek tanpa beban.
“Kakek!” bentak Dean dengan nadad tinggi.
Kakek nya hanya menaikkan alisnya.
“Aku gak mau!” ujar Dean cepat.
“Kenapa gak?”
“Satu, dia masih kecil. Beda umur aku sama dia jauh. Dua, dia bukan tipe aku kek. Dan tiga, aku uda---.”
“Putusin pacar kamu.” Potong Kakek seakan tau apa yang akan diucapkan Dean pada point ketiga penjelasannya. “Selamanya kamu gak akan bisa bersanding dengan dia.” Sambung Kakek.
Dean mengernyit bingung.
“Kenapa kakek bilang gitu? Kakek bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup aku.” Ujar Dean tak terima.
“Tidak ada alasan untuk kakek melarang kamu dengan pacar kamu. Jika kakek bilang tidak ya tidaklah jawabannya.” Tegas Kakek.
Dean hanya diam.
“Keputusan kakek sudah final. Kalau kamu masih ingin harta warisan kakek, silahkan kamu tentukan kapan kamu akan menikahi Chika. Tapi jika kamu udah gak mau warisan kakek, silahkan keluar.” Sambung Kakek maish dnegan nada tegas tak ingin dibantah.
Dean masih diam, bukan diam karna menurut tapi karna Dean sedang menata setiap kata yang akan diucapkannya. Namun belum selesai dia memikirkan kata-katanya Kakek memanggil sebuah nama yang membuat semua hl yang dipikirkannya buyar.
“Chika.” Panggil kakek.
“Hai kakek..” panggil Chika dengan wajah cerahnya.
Kakek hanya tersenyum pada Chika yang masuk semakin dalam bergabung dengan Kakek dan yang lainya.
“Ehh ada kak Dean.” Ujar Chika saat melihat Dean.
Dean melihat kearah Chika dan melemparkan tatapan tajam.
“Kenapa?” tanya Chika dengan wajah polos.
Dean hanya diam tak mau untuk menjawab sapaan Chika.
“Dean!” tegur Kakek.
“Punya kakek satu, tapi ngeselin nya gak ketulungan.” Batin Dean kesal.
“Chika ngapain kesini?” tanya Kakek lembut pada Chika.
“Chika tadi lagi bingung mau ngapain kek. Jadi Chika mau main keluar.” Ujar Chika menunjukkan kebingungannya.
“Didalam aja. Jangan main keluar.” Ujar Kakek lembut.
Chika memanyunkan bibirnya. “Tapi Chika bosan kakek.” Ujar Chika sedih.
“Ajak kak Dean buat temenin Chika.” Ujar Kakek membuat Dean bergerdik ngeri.
“Gak mau, nanti---.”
“Chika.” Tegur Kakek seakan tau apa yang akan di ucapkan Chika.
Dean mengernyit bingung.
“Chika lagi gak mau main sama kak Dean kek. Kak Dean galak! Terus kan, kak Dean suka marah-marah. Masa kak Dean bilang----.” Ujar Chika mengadu pada Kakek namun dipotong Dean.
“Iya Dean mau kek.” Ujar Dean memotong ucapan Chika.
Chika menatap Dean bingung, bingung tentang apa yang di maksud Dean.
“Dean udah bisa pulang kan?” tanya Dean setelahnya.
“Hmm?”
“Dean terima permintaan kakek untuk nikahin dia.” Ujar Dean menunjuk Chika.
Chika menatap kaget apa yang diucapkan Dean.
“Kakek atur aja semuanya. Sekarang Dean udah boleh pulang kan?” sambung Dean lagi.
“Dean.”
“Apalagi kek? Dean udah iyain kan.” Ujar Dean malas.
“Kakek bukan minta kamu main-main. Kakek mau kamu serius.” Ujar Kakek.
“Iya Dean serius. Dean bakal nikahin dia.” Ujar Dean sambil menatap Kakeknya.
Chika mengedipkan matanya.
“Lumayan kan, dapat mainan baru gratis.” Ujar Dean dengan nada remeh.
“Dean!” bentak Kakek.
“Kenapa? Gak jadi nyuruh nikahnya?” tanya Dean dengan nada tak kalah remeh.
“Dean!” bentak Kakek sampai semua yang ada disitu terkejut. Kakek menarik nafas panjang. Setelahnya kakek meminta untuk ditinggalkan berdua dengan Dean sebentar. Detik kemudian Dean dan kakeknya hanya berdua diruangan itu.
“Kamu pikir kenapa kakek minta kamu menikah dengan Chika?! Kamu pikir kakek main-main?! Bukan Dean! Kakek minta ini bukan tanpa alasan!” bentak Kakek menjelaskan.
Dean diam.
“Kamu pikir----.”
“Kek. Aku udah bilang kan tadi. Dia bukan tipe aku dan dia juga masih kecil. Bisa apa dia buat jadi istri? Buat aku nikah bukan hal main-main kek. Aku gak mau kesalahan mama papa terulang lagi di aku kek.” Ujar Dean memotong ucapan Kakek dengan nada pelan.
Kakek Dean diam.
“Cukup aku yang terlantar karna situasi yang dibuat sama papa mama.” Ujar Dean dengan nada kecewa.
“Kalau aku mengulang situasi itu ada banyak yang terlantar kek. Saat mama papa pisah, mama diusia yang matang untuk menerima perpisahan. Tapi kalau hal itu terulang lagi sama aku nantinya. Dia masih belum matang untuk mengerti dan menerima perpisahan.” Sambung Dean lagi.
Kakek diam.
“Bagaimana kalau seandainya setelah pernikahan itu, aku punya anak? Aku gak mau anak aku nantinya merasakan hal yang aku alami dulu.” Ujar Dean lagi.
“Kesalahan yang terjadi pada orang tua mu itu seharusnya menjadi pembelajaran untuk kamu. Kesalahan ada untuk diperbaiki.Bukan untuk menjadi acuan untuk membatasi ruang gerak Dean.” Ujar kakek memberi pemahaman pada Dean.
“Mama yang umurnya udah matang aja masih labil diposisi itu kek. Gimana dia yang masih 19 tahun kek?” tanya Dean dengan nada serius.
“Kakek sudah bilang kan. Kakek meminta hal ini sama kamu bukan tanpa alasan.” Ujar Kakek.
“Tapi kenapa harus sama anak 19 tahun kek?” tanya Dean kesal.
“Karna dia yang pas untuk kamu. Dia yang kamu butuhkan dan kamu yang dibutuhkan oleh chika.” Ujar Kakek menjelaskan.
“Apa karna aku bisa manggil dia?” tanya Dean menebak.
“Salah satunya.” Ujar Kakek.
“Kek!”
“Chika adalah jodoh yang kakek tetapkan untuk kamu. Kakek tidak akan memaksa kamu. Kakek sudah bilang kan, jika kamu tidak mau silahkan keluar. Tapi, kamu tau konsekuensi nya.” Ujar kakek.
“Warisan lagi?” tebak Dean.
Kakek tersenyum membenarkan pertanyaan Dean. “Bukan hanya itu. Sampai kapan pun, kakek tidak menerima dan menganggap wanita yang kamu pilih.” Ujar Kakek.
Dean hanya diam tak menjawab.
“Bahkan jika kamu punya anak dengan wanita itu, kakek tidak akan menganggap dia cucu kakek.” Sambung Kakek.
“Kek!”
“Sama seperti mama kamu yang tidak menerima jodoh yang kakek tetapkan. Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan kamu.” Ujar Kakek membuat Dean terdiam.
Kalimat Ken saat dimobil tadi kembali berputar-putar di dalam otak Dean. ‘Gak selamanya kita bisa ngatur kebahagiaan kita’ atau ‘Terkadang kita butuh orang lain untuk mendapat kebahagiaan kita’.
“Ini kebahagiaan gua. Kenapa gua butuh orang lain sebagai perantara? Kenapa gua gak bisa ciptain kebahagiaan gua sendiri?!” batin Dean.
“Kakek akan kasih kamu waktu untuk berfikir.” Ujar Kakek melihat jam tangannya. “Satu jam sepertinya cukup.” Ujar Kakek.
“Kek! Satu jam gak cukup kek! Aku bukan lagi mikir mau beli sepatu yang mana! Aku mikir untuk menerima wanita yang kakek tentukan atau tidak!” protes Dean.
“Karna ini adalah wanita yang kakek tentukan, jadi kamu tidak perlu mikir dalam waktu yang lama.” Ujar Kakek tegas.
“Sumpah, kalau ini bukan kakek gua. Udah gua maki dari tadi.” batin Dean kesal.
Kakek berdiri dari duduknya.
“Silahkan berfikir. Kalau kamu sudah tau jawabannya. Kamu bisa telpon kakek.” Ujar Kakek sambil menatap Dean.
Dean diam.
“Dengar Dean?” tanya Kakek.
“Hmm. Iya iya.” Ujar Dean pasrah.
“Pikirkan baik-baik. Tidak semua yang kita pilih adalah pilihan terbaik. Terkadang kita butuh orang lain untuk menilai apa hal yang pantas untuk kita.” Ujar Kakek.
“Bahasa halus dari "harus terima" pilihannya. Dasar orang tua!” batin Dean.
Kakek menepuk pundak Dean sebelum pergi dari ruangan tersebut. Setelah kakek keluar, Dean mulai memikirkan ucapan Ken lagi dan ucapan kakek nya barusan.
Kebahagiaan yang kadang memerlukan orang untuk menjadi perantaranya. Dan orang lain sebagai penilai hal yang pantas untuk kita. 2 hal berbeda dengan tujuan yang sama. Yaitu, terima Chika.
Tetapi bukan hanya kedua hal itu yang terpikir olehnya. Ada satu hal yang mendominasi pikirannya sejak dia bangun tidur pagi tadi. Dean merasa ada hal yang dilupakannya sejak saat itu.
“Kenapa gua ngerasa ada satu hal yang gua lupain. Gua ngerasa ada hal penting yang hilang dari ingatan gua. Tapi apa? Kenapa gua sama sekali gak ingat apapun?” batin Dean.
Dean diam sambil melihat tangannya. Tangannya yang diperban.
“Dan kenapa gua bisa dapat luka ini? Gua habis berantem sama siapa? Kenapa gua bisa lupa hal ini? Apa gua mabuk banget, sampai gak ingat apapun?” batin Dean lagi.
Setelah satu jam berfikir didalam ruangan itu. Dean mengambil hpnya dan mulai menekan layar hpnya. Panggilan itu tersambung. Dean menelpon kakeknya. Untuk memberi jawabannya. Jawaban Dean adalah....
===
==
=
Bersambung.