Gambaran

2738 Kata
Malamnya, Darel, Clara, Ken dan Dheera sedang makan diruang makan. Tidak ada suara apapun diruang makan tersebut. Kecuali sentakan sendok dan piring yang saling beradu. Sampai akhirnya Dheera membuka percakapan. “Hmm. Ken.” Panggil Dheera sambil menatap suaminya. “Hmm.” “Jawab iya ken.” Kesal Dheera. “Iya dhee. Mau ngadu apa kali ini?” tanya Ken yang malas berdebat degan ibu dari anaknya itu. “Ihh dheera gak mau ngadu! Dheera mana suka ngadu!” ujar Dheera tak terima. “Bacot dhee. Kerja Lo ngadu tiap malam.” Celetuk Darel tiba-tiba. “Ihh apaan, enggak ya!” “Bohong dosa Lo.” “Emang enggak!” “Pake gak mau ngaku.” “Clara, suami nya tuh.” Adu Dheera kesal atas tuduhan Darel. “Jangan diganggu yang. Nanti ribet.” Ujar Clara sama seperti Ken yang malas berdebat. “Tuh kan ngadu Lo sama Clara.” Ujar Darel tak menghiraukan ucapan Clara. Dheera mengendus kesal. “Gak jadi ngomong dhee?” tanya Ken menahan Dheera yang ingin kembali berdebat dengan Darel. “Jadi!” “Kapan? Masih lama?” “Sekarang!” “Hmm apa?” “Dean gimana? Kamu udah liat Dean?” Ken hanya diam sambil melihat Darel. “Jangan lihat gua Ken. Nanti Lo suka lagi sama gua. Gua udah punya istri.” Ujar Darel tak ingin berada disituasi serius. “Jadi kalau kamu gak punya istri kamu mau sama Ken gitu?” tanya Clara spontan. “Ya enggak lah! Kalau aku belum punya istri, pasti aku sama kamu juga.” Ujar Darel sambil menatap Calra disampingnya. “Bacot.” Ujar Dheera. “Kasar Lo dhee.” Ujar Darel. “Lagian ngomong nya hiperbola sih. Kalau belum punya istri kan masih main-main sama yang lain.” ujar Dheera jujur. “Mana ada. Kalau Clara belum jadi istri gua, berarti gua lagi proses pengejaran Clara.” “Bacot kamu.” Ujar Clara dengan nada santai. “Kasar.” “Didikan Dheera yang.” Ujar Clara sambil tersenyum lebar. “Clara jangan fitnah dheera! Nanti dheera jelek dimata orang.” Ujar Dheera tak terima. “Lo emang jelek gak difitnah juga dhee. Lo cantik nya cuman dimata Ken. Sama dimata anak Lo Austin sama artyn. Itupun mereka pasti terpaksa bilang Lo cantik, karna Lo nyokap nya. Takut jadi maling kundang mereka.” Ujar Darel panjang lebar. “Ken. Darel ngeselin.” Adu Dheera dengann nada manja. “Lempar aja.” Ujar Ken tanpa beban. “Kalau usir aja boleh?” tanya Dheera asal. “Lo yang gua usir nanti!” kesal Clara sembari menatap tajam Dheera. “Yahh singa keluar.” Ujar Dheera dengan nada pelan. “Bilang apa Lo dhee?” “Gak ada.” Ujar Dheera membuat Clara ngedumel gak jelas. “Ohh iya Ken, pertanyaan dheera belum dijawab tadi. Kamu udah liat Dean belum?” tanya Dheera mengalihkan pandangannya pada Ken. “Udah, aku udah liat.” Ujar Ken tanpa menoleh pada Dheera. “Hmm.. Terus Dean gimana?” Ken terdiam sejenak. “Udah lebih baik dari pada tadi.” Sambung Ken. “Mukanya udah kamu obatin?” “Dia udah ngobatin sendiri.” “Kasihan Dean. Udah dipukul sama darel. Bukannya diobatin, malah ngobatin sendiri.” Ujar Dheera dengan maksud menyindir Darel. “Dianya gak mau dhee. Lagian gila apa gua yang ngobatin.” Ujar Darel memberi penjelas setelah merasa dirinya adalah orang yang disindir oleh Dheera. “Kenapa?” tanya Dheera dengan wajah penasaran. “Jatuhnya jadi adegan romantis nanti. Gua takut kalau Dean gak bisa tahan ketampanan gua.” Ujar Darel bercanda. “Dheera mual.” “Dhee.” Tegur Ken membuat Dheera menyengir lebar. “Tapi kan---.” “Apa lagi?” potong Ken cepat. “Kenapa Dean kayak gitu? Emangnya----.” Dheera memotong kalimatnya sambil melihat kiri dan kanannya. Memastikan ntidak ada Dean di sekitar mereka. “Emangnya Lauren itu siapa?” sambiung Dheera bertanya dengan nada yang berbisik pada Ken. Peraturan nomor 1 selama Dean tinggal dirumah Ken. Tidak ada yang menyebut nama Lauren, terutama didepan Dean. Ken, Darel dan Clara kompak diam seribu bahasa setelah mendengar pertanyaan Dheera tentang siapa Lauren. Tokoh yang menjadi sumber masalah saat ini. Dheera tidak tau siapa itu Lauren. Karna saat itu dheera belum sepertemanan dengan Ken, dkk. “Kok pada diam?” tanya Dheera karna ketiganya masih diam seribu kata. “Ken.” Panggil Dheera sambil menatap suaminya itu. “Hmm dhee.” Panggil Clara membuat Dheera menoleh padanya. “Gua tau mungkin Lo bingung "dia" itu siapa? Dan kenapa kita gak boleh nyebut namanya. Tapi---.” Sambung Clara. “Dheera gak boleh tau?” potong Dheera menebak ucapan Clara barusan. “Bukan gak boleh dhee.” Ujar Darel mulai angkat bicara. “Dheera gak bakal ember kok. Dheera gak bakal cerita ke Dean kok. Dheera janji deh gak cerita sama Dean.” Ujar Dheera dengan nada yang serius. “Buka gitu dhee.” “Jadi kenapa?” tanya Dheera masih tidak menerima ketidaktahuannya tentang Dean. “Nanti aku ceritain. Tapi gak disini.” Ujar Ken membuat kesepakatan dengan Dheera. “Jadi dimana?” tanya Dheera mulai mempertibangkan tawaran dari Ken. “Kamar Lo pada sana.” Ujar Darel cepat. “Hmm, kenapa gak disini aja? Dheera belum pengen kekamar.” Ujar Dheera tak menerima usul Darel. “Dia istri Ken. Bukan adek gua.” Ujar Clara enggan mengakui Dheera karna lambannya otak Dheera membaca situasi. “Kenapa?” tanya Dheera dengan wajah polos. “Gua gak dengar apa-apa.” Ujar Darel berdiri di tempat yang sama dengan Clara. “Ken.” Panggil Dheera meminta penjelasan. “Gak bisa disini dhee. Kalau Dean tiba-tiba keluar kamar gimana?” ujar Ken dengan penuh kesabaran. “Ohh iya ya. Yaudah ayok kekamar. Dheera udah siap makan.” Ujar Dheera dengan semangat 45. “Dhee.” “Buruan yang, dheera penasaran.” Ajak Dheera sambil berdiri dari duduknya. “Turutin Ken, dari pada ribut. Kasihan anak gua, dengerin bacotan aunty nya.” Ujar Clara mengusir si taun rumah pergi dari ruang makannya. “Ihh Clara kok gitu.” “Mending Lo kekamar Lo sana dhee.” “Kok Clara nyuruh-nyuruh dheera? Kan ini rumah dheera.” Ujar Dheera dnegan nada tak terimanya. “Lo mending kekamar sebelum gua emosi dhee. Ini jam-jam mood swing gua.” Ujar Clara dengan tatapan tajam pada Dheera. Dheera berdiri dari duduknya. Lalu menatap kesal pada Clara. “Dasar ibu hamil aneh.” Cerca Dheera. Lalu dheera langsung pergi ke kamarnya tanpa memperdulikan teriakan Clara. “Jangan teriak Cla. Kasihan tenggorakan kamu.” Larang Darel sambil menatap Clara. “Habis dia nya ngeselin sih!” “Kamu nya aja yang sensitif banget.” “Kok kamu bela dheera?!” kesal Clara. “Bukan bela sayang.” Ujar Darel lembut. Ken berdiri dari duduknya. “Mau kemana Lo Ken?” tanya Darel yang melihat Ken berdiri. “Kamar. Gua lebih seneng dengar bacotan dheera. Daripada kegaduhan Lo berdua.” Jujur Ken sebelum Ken pergi menyusul dheera kekamar. “Gak suami, gak istri. Sama aja ngeselin dua-duanya.” Ujar Darle sambil menatap punggung ken yang mulai menjauh. Clara memukul lengan darel berkali-kali. “Kenapa Cla?” tanya Darel sambil memberikan atensinya pada Clara. “Dean.” Ujar Clara setengah berbisik. Darel langsung melihat Dean yang berjalan kearah mereka dengan tatapan kosong. Sedangkan Clara hanya diam sambil menatap Dean. “Udah bangun yan?” tanya Darel membuka obrolan. Dean hanya Diam tak menjawab. “Lo mau makan apa?” tanya Darel lagi. Dean masih diam. Darel menghela nafas melihat tingkah temannya itu.  “Cla, tolong letakin makanan buat Dean.” Ujar Darel pada clara. “Makan apa? Aku gak tau yang mana?” ujar Clara pelan. Meski tau sedang menjadi bahan pembicaraan, Dean masih diam. “Yang mana yang menurut kamu enak aja.” Ujar Darel yang sama-sama tidak tau harus memberi makan apa pada orang yang seperti sedang kehilangan jiwa seperti Dean. Clara berdiri dari duduknya dan pergi ke dapur dan kembali dengan piring, dan sendok makan ditangannya.Kemudian mencoba menaruh makanan yang ada dimeja makan.Tapi sebelum berhasil mengambilnya. Tangan Clara berhenti karena dipegang oleh Dean. “Gua bisa sendiri.” Ujar Dean datar. Dean mengambil alih piring yang ada ditangan Clara. Kemudian meletakkan makanan dengan asal. “Astaga kaget gua. Mau marah, tapi gitu.” Batin Clara sambi menatap Dean. Clara kembali duduk disebelah Darel. Lalu menggenggam tangan Darel. Darel menoleh pada Clara yang menggenggam tangannya dengan tangan dinginnya. Clara layaknya orang yang habis melihat hantu. Antara kaget dan takut dengan keadaan Dean. Keadaan Dean saat ini sangat berantakan. Rambut yang tidak berbentuk karna tidak tersisir seperti biasa. Wajah yang luka, memar dan lebam akibat bogem dari Darel. “Luka Lo diobatin lagi nanti yan. Kalau gak bisa sendiri minta tolong.” Ujar Darel kembali membuka obrolan dengan Dean, namun Dean masih diam seribu bahasa. Dean mengaduk makanan nya tidak jelas. Sangat lama jeda dari setiap suapan makanan yang masuk. Clara dan Darel hanya bisa diam dan melihat Dean. Keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk ditinggal. Mau tidak mau mereka menemani Dean makan malam. === Disisi lain. Ken dan Dheera yang berada dikamar mulai mengambil posisi mereka untuk nyaman bercerita satu sama lain. “Ken, buruan ceritain, Dheera penasaran.” Ujar Dheera benar-benar bersemangat. “Penasaran itu sesekali yang penting dhee. Ini selalu aja penasaran hal yang gak penting.” “Jadi, si---- Hmm..” Dheera benar-benar ragu untuk membicarakan tentang ‘Lauren’ saat ini. “Ngomong aja, Dean gak bakal naik keatas. Tapi jangan teriak ngomongnya.” Ujar Ken yang tau kekhawatiran Dheera. “Hmm oke. Jadi, si Lauren Lauren itu gak penting?” tanya Dheera yang mulai membiasakan diri. “Enggak.” Ujar Ken santai. “Terus kenapa Dean bisa gitu kalau dia gak penting.” Tanya Dheera dnegan wajah polos. “Lauren gak penting buat kamu dhee, bukan buat Dean.” Ujar Ken menatap jengah Dheera. “Yaudah dheera penasaran. Dia siapa sampai penting buat Dean. Terus sampai buat Dean kayak tadi.” Tanya Dheera dengan rasa penasaran yang tidak berubah dengan sebelumnya. Dean tadi siang benar-benar ngamuk parah setelah mendapat bogem mentah kedua dari Darel. Dean berdiri dari duduknya dan marah-marah tidak jelas. Dean sampai meninju tembok dan kaca yang berada didekatnya. Ken kembali diam seperti sebelumnya. Bukan karna tidak mau menjawab namun tida tau harus mulai dari mana atau sampai mana batasan dia bisa menceritakan tentang hal ini. “Ihh Ken!” kesal Dheera melihat Ken yang tak kunjung angkat bicara. “Lauren itu pacar Dean.” Ujar Ken mulai berbicara. “Hmm. Dean punya pacar? Kok gak per---.” “Tapi cewek itu udah gak ada.” Potong Ken cepat. Dheera terdiam. “Saat ini juga Dean punya pacar. Tapi bukan si Lauren Lauren itu.Yaa karna Lauren itu udah gak ada.” Sambung Ken lagi. “Maksud kamu dia udah mati?” tanya Dheera memastikan opininya. Ken hanya tersenyum tipis dan kepala yang mengangguk kecil. “Kenapa bisa?” tanya Dheera setelah terdiam singkat. “Kecelakaan. Mati ditempat.” Ujar ken sembari kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Dheera kembali diam. “Saat itu dean gak bisa nerima kecelakaan itu. Dan Dean gak menerima kematian Lauren. Akibatnya, Dean selalu menganggap kalau kecelakaan itu adalah kesalahan dia. Sampai akhirnya dean sakit parah. Depresi.” Jelas Ken panjang lebar pada Dheera. Dheera kaget bukan main dengan penjelasan Ken. “Itu penyakit yang didiagnosa dokter buat Dean saat itu. Dean mulai berhalusinasi, entah itu ngelihat nangis atau ketawa sendiri. Kalau ditanya kenapa, jawaban nya selalu sama. ‘Lauren datang ngelihat gua’.  Gak sampai disitu, Dean juga sampai diposisi yang berusaha untuk bunuh diri.” Sambung Ken lagi. Dheera kembali diam. “Setelah Dean berusaha bangkit dari titik terendahnya itu. Dean berubah menjadi orang yang asing buat kita semua. Ya aku akui, hidup aku Arga dan Dean gak jauh dari bar. Karna bar itu punya Arga, jadi kita selalu ngumpul di bar.” “Kok darel enggak?” tanya Dheera degnan kedua alis yang menyatu. “Karna darel dulu anak baik-baik. Dia mulai berubah semenjak patah hati dari Rose.” Ujar Ken menjawab pertanyaan Dheera. “Hmm gitu. Kamu bilang rose, aku jadi pengen ketemu rose.” Ujar Dheera dambil cengengesan. “Nanti diajak ketemu.” “Kamu yang ajak.” “Gak!” tolak Ken cepat. “Kenapa?” “Kamu tau sendiri aku sama dia kayak Tom and Jerry.” “Makanya berubah! Udah jadi Daddy juga!” kesal Dheera. “Masih mau dengar cerita Dean apa enggak?” tanya Ken mengancacm. “Mau!” “Gak usah nyuruh yang aneh-aneh makanya!” Dheera mengendus kesal. “Ngancem aja terus taunya!” kesal Dheera. “Dhee.” “Lanjutin ceritanya!” “Dean berubah 180° dari biasanya. Dean gak pernah minum waktu masih ada Lauren. Dan bisa dibilang selain darel, Dean juga anak baik-baik.” Ujar Ken kembali melanjutkan ceritanya. “Dean sama Lauren udah lama pacarannya?” tanya Dheera. “Dari SMA.” “Berarti.” “Sekitar 5-6 tahunan.” Ujar ken cepat. “Waah udah lama banget.” “Lauren mendominasi seluruh hidup Dean. Efek pergi nya Lauren terlalu kuat buat Dean.” Ujar Ken mengingat siapa Lauren bagi Dean saat dulu. “Wajar sih. Kalau aku per---.” “Gak usah nanya gak enggak enggak dhee!” ujar Ken memotong ucapan Dheera seakan paham apa yang akan dibicarakan oleh wanitanya tersebut. “Dheera mau tanya yang iya-iya kok!” kesal Dheera. “Dhee.” “Enggak jadi! Lanjutin ceritanya!” “Terus udah Dean jadi orang yang beda.” “Bedanya gimana?! Jelasin!” “Kan tadi udah dhee.” “Apa?!” “Dean jadi suka minum-minum, gak pernah tau waktu. Dan yang paling parah, Dean jadi sering one stand night.” Ujar Ken mengingatkan kembali apa yang dijelskannya sebelumnya. “Hmm?” “Itu alasan Dean gak pernah setia sama 1 cewek. Dean terlalu takut setia sama 1 cewek lagi. Dean takut kalau nantinya akan ditinggalkan lagi kayak Lauren ninggalin dia.” Ujar Ken dengan menghela nafs berat diakhir kata. “Tapi kenapa harus one stand night?” tanya Dheera bingung. “Ada 2 alasan. Yang pertama karna dia dulu gak bisa tidur kalau sendirian. Dia akan mimpiin Lauren dan berujung mood dia berubah, dll.” Ujar Ken. “Yang kedua?” “Dia udah terbiasa, makanya sampai sekarang dia masih sering one stand night.” “Kasihan Dean.” Ujar Dheera dnegan wajah yang murung. “Makanya kamu jangan jahat sama dia.” “Dheera gak pernah jahat kok. Dheera kan baik, gak kayak kamu jahat.” Ujar Dheera dengan wajah tanpa dosa. “Gua lagi yang kena.” Batin Ken. “Dheera masih penasaran deh.” “Apa lagi?” “Kapan Lauren matinya?” “5 tahun yang lalu. Setelah 2 tahun baru Dean bisa bangkit dari keterpurukannya.” Ujar Ken mencoba kembali pada memorinya tentang waktu silam. “Lumayan cepat kok.” Ujar Dheera ragu. “Iya, cukup cepat bahkan. Tapi ada hal aneh disitu. Fyi, Dean gak pernah ngelarang buat manggil nama Lauren.” Ujar ken kembali membuat Dheera bingung. “Anehnya?” “Kakek Dean.” “Kenapa kakek Dean?” “Setelah kakek Dean minta Dean pulang kerumahnya. Dean mulai menjadi orang asing buat aku. Aku ngerasa kayak, Dean yang ada sejak 3 tahun lalu bukan orang yang aku kenal sebelumnya.” Jelas Ken panjang lebar. Dheera menyatukan kedua alisnya. Bingung. Itu yang terjadi pada dheera saat ini. “Yang. Maksud kamu gimana. Dheera gak ngerti deh, coba kamu cerita nya pelan-pelan terus detail. Biar dheera gak bingung.” “Lauren kecelakaan 5 tahun lalu.” “Hmm terus.” “Dean udah mulai mencoba bangkit 2 tahun setelahnya. Dean yang ada saat itu adalah Dean yang depresi atas kepergian Lauren. Saat itu Dean udah mulai minum dan one stand night untuk melupakan kepergian Lauren.” Jelas Ken pelan-pelan, memvoba memberi pemahaman dnegan Dheera. “Hmm terus.” “Entah apa yang terjadi, Dean tiba-tiba hilang dari peredaran.” “Maksud nya?” “Dean gak main ke bar Arga lagi, Dean jadi mulai susah buat dicari.” “Aaah terus terus.” “Dean bilang sama aku kalau dia pulang kerumah kakeknya. Saat itu aku gak ambil pusing. Tiba-tiba Dean hilang kabar seminggu dan kembali menjadi Dean yang aneh.” “Nah letak anehnya dimana? Dheera gak paham yang.” Ujar Dheera drustasi atas segala pemikirannya. “Setelah 1 Minggu Dean menghilangkan diri. Tiba-tiba kakek Dean minta aku untuk jangan pernah nyebut nama Lauren lagi didepan Dean. Kakek juga minta itu kesemua teman-teman yang ada di cyrcel nya Dean.” “Itu gak aneh menurut dheera. Mungkin kakek mau jangan ada yang bahas Lauren, supaya Dean gak balik kayak dulu.” Ujar Dheera memberikan pendapatnya. “Awalnya aku mikir gitu. Tapi setelahnya, Dean sama sekali gak pernah ngebahas perihal Lauren. Seperti yang kamu dengar kemaren, setelah 3 tahun gak ada yang pernah nyebut nama Lauren.” Ujar Ken mmebuat Dheera mulai ragu dnegan apa yang ada di fikirannya sebelumnya. “Hmm.” “Itu bukan permintaan Dean. Tapi permintaan kakek nya Dean.” Ujar Ken menciba memberi satu bagian aneh dari kisah Dean. “Masih gak aneh yang.” Ujar Dheera mulai kembali yakin tentang pemikirannya. “Lauren yang dulunya sangat berarti, malah jadi sama sekali gak ada artinya buat Dean semenjak saat itu. Dean gak pernah ada perasaan kehilangan Lauren lagi.” Ujar Ken menjelaskan letak keanehan secara detail pada Dheera. “Bukan cuman itu, Dean yang sebelumnya heboh kalau udah ulang tahun Lauren. Selama 3 tahun ini biasa aja kayak gak ada apa-apa. Semenjak Dean hilang tanpa kabar, Lauren juga hilang dari hidup Dean.” Sambung Ken lagi. Dheera diam, lagi dia mulai ragu dnegan apa yang di fikirkannya. “Dean berusaha mati-matian buat merelakan kepergian Lauren selama 2 tahun. Tapi Setelah 2 tahun berusaha Dean masih belum sepenuhnya merelakan.” Ujar Ken membuat Dheera beanr-benar sangat bingung dan ragu. “Setelah menghilang kerumah kakek nya selama seminggu. Dean bisa dengan mudah merelakan bahkan melupakan Lauren. Seakan-akan Lauren gak pernah ada dihidupnya.” Sambung Ken lagi. Dheera masih diam. “Dean bilang kalau saat itu cewek itu manggil Lauren dengan nama lengkapnya. Dan Dean kembali ingat Lauren, dan ingat betapa pentingnya Lauren buat dia. Dan Dean kembali ngerasain keterpurukan yang pernah dirasakannya 5 tahun lalu. Rasa yang dilupakannya 3 tahun lalu.” “Udah paham dimana letak anehnya?” tanya Ken setelah diam bergabung dalam diam dengan Dheera. Dheera menganggukkan kepalanya. “Dheera jadi takut sekarang.” Ujar Dheera dnegan wajah takut dan raut khawatir didalamnya. “Kakek Dean udah tau kalau Dean Uda dengar nama Lauren lagi. Dia minta aku buat ngantar Dean kerumah kakek nya kalau Dean mulai aneh.” Ujar Ken membuat mata Dheera membelalak sempurna. “Yang.” Panggil Dheera. “Hmm.” “Ayok kita anter Dean.” Ujar Dheera dengan wajah penuh keyakinan. Ken hanya mengernyitkan dahinya. “Dean udah mulai aneh yang.” ujar Dheera menjawab kebingungan Ken. “Astaga dhee.” “Kenapa? Aku salah?” tanya Dheera polos. “Dikit!” “Apa?” “Bukan berarti dengan marah-marah berarti aneh kan?” tanya Ken berlogika. “Aneh yang. Dia mulai nyakitin diri dia.” Ujar Dheera bertahan pada opininya. “Dean di kasih bogem mentah sama darel dhee. Dia bukan mukul diri sendiri.” Ujar Ken. “Tapi dia ninju dinding terus kaca juga.” Ujar Dheera mengingatkan satu point penting. Ken diam. “Bayi bayi aku sampai harus ngungsi kerumah mama.” Sambung Dheera lagi. “Itu kamu nya yang gak mau tanggungjawab sama anak.” Ujar Ken masih berpositif thingkin pada kondisi Dean. “Mereka nangis karena Dean marah-marah yang.” Ujar Dheera tak terima atas tuduhan Ken. “Kamu yang gak mau nenangin.” “Gimana mau nenangin coba! Yang satu udah diam, malah yang satu nya nangis. Terus yang satu udah diam lagi, yang lain yang nangis. Mana Dean marah-marah nya lama lagi tadi. Yaudah aku ungsiin aja semuanya kerumah mama.” Omel Dheera panjang lebar. “Mami apaan kamu.” “Kok kamu gitu!” kesal Dheera tak terima.. “Besok jemput anak-anak aku!” “Anak aku juga itu!” “Iya anak kita, dengar dhee?” “Iya!” “Sekarang tidur.” Pinta Ken sambil membaringkan dirinya di tempat tidur. “Kamu udah siap ceritanya?” tanya Dheera sambil menatap Ken. “Udah.” “Jadi kita besok bawa Dean kan kerumah kakeknya?” tanya Dheera memastikan. “Aku aja.” “Dhee----.” “Kamu jemput anak-anak aja. Kasihan kelamaan disitu.” Ujar Ken memberi perintah tegas. “Iya iya. Tapi beneran dibawa.” Ujar Dheera tak kalah tegas. “Iya. Kalau Dean nya mau.” “K---“ “No complain Tidur.” “Gak seru kamu!” “Gak perduli.” “Nyebelin!” “Tau. === == = Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN