Chika masih terdiam dengan mata yang menatap Dean.
“Kenapa Lo malah diam!” teriak Dean kuat.
Chika masih diam tak berkutik.
“Tadi Lo minta tolong sambil nyebut nama Lauren! Kenapa sekarang Lo malah diam?!”
Chika belum menjawab, Chika masih terus diam.
“Jawab kalau gua nanya!” kesal Dean.
“Yan jangan kasar yan. Yang lagi Lo hadapin itu cewek.” Ujar Clara mengingatkan Dean.
“Diam Cla!” bentak Dean tanpa sadar.
Clara terdiam, Dean benar-benar tidak bisa berfikiran jerih saat ini.
“Jangan sampai gua buat Lo bisu! Jawab pertanyaan gua!” ujar Dean dengan nada yang menggebu-gebu.
“Kak, jadi pacar Chika mau gak?” tanya Chika tiba-tiba dengan senyum lebar nan manis.
Dean membulatkan matanya sengat sempurna. Tak terkecuali Clara yang ada dibelakang Dean. kalimat singkat dari Chika mampu membuat keduanya terkejut. Bagaimana tidak, Dean adalah seorang playboy kelas kakap.
Entah sudah berapa wanita yang sudah tidur dengannya. Dan hari ini, Dean ditembak oleh seorang perempuan. Seorang perempuan yang bahkan belum berumur 20 tahun.
“Kakak itu bukan pacar kakak kan?” tanya Chika sembari menunjuk Clara yang masih kaget di posisinya.
“No no no. Gua bukan pacarnya. Gua udah punya suami.” Ujar Clara spontan.
Chika tersenyum pada Clara. “Chika tau kok. Ada baby boy diperut kakak soalnya.” Ujar Chika sambil menunjuk perut rata Clara.
Clara terdiam dengan mata yang mengedip berkali-kali. Kali ini dia benar-benar takut berada disini, ralat bukan benar-benar takut namun semakin bertambah takut.
“Dia manusia bukan sih? Darel, aku mau pulang.” Ujar Clara merengek dalam hati.
Chika mengalihkan pandangannya dari Clara dan kembali menatap Dean sambil tersenyum. “Kakak mau kan? Chika mau jadi pacar kakak.” Ujar Chika memberi penawaran lagi.
“Gila Lo!” kesal Dean sembari berusaha melepaskan tangannya dari diri Chika.
“Kakak jangan dilepas.” Ujar Chika memegang tangan Dean dengan wajah takut.
Dan lagi mata Dean membulat dengan sempurna. Disentuh, dicium, dipeluk bahkan tidur bersama adalah kegiatan biasanya dengan para wanita. Dean sudah sangat biasa akan hal itu.
Tapi entah mengapa Dean kaget bukan main saat Chika memegang tangannya. Ada getaran sendiri didalam dadanya saat Chika memegangnya. Entah itu karena kaget atau alasan yang lain. Tidak ada seorangpun yang tau hal itu.
“Chika takut.” Ujar Chika dengan nada takut.
Dean berusaha melepas tangan Chika yang memegangnya. Tapi Chika malah memeluknya. “Gila ya Lo!” pekik Dean kaget atas ucapan Chika.
“Enggak.” Ujar Chika mantap dengan menggelengkan kepalanya tak lupa sambil tersenyum.
Dean hanya diam melihat Chika yang tersenyum begitu lebar padanya, sangat berbeda dengan wajah takutnya sebeumnya.
“Ya kak. Jadi pacar Chika ya.” Tanya Chika lagi.
“Gak!”
“Yahhh padahal Chika mau jadi pacar kakak.” Ujar Chika dengan nada kecewa.
“Setelah Lo nyebut nama Laur---..”
Chika menutup mulut Dean dengan tangannya. “Jangan disebut nama itu.” Ujar Chika berbisik.
“Lo yang nyebut itu dari tadi Maemunah!” batin Dean kesal.
“Nanti dia datang.” Ujar Chika bicara dengan nada yang benar-benar polos.
Dean diam dengan mata yang menatap lurus Chika.
“Lauren datang kalau gua panggil namanya? Sama kayak gua manggil bocah ini?” tanya Dean dalam hati.
“Kakak jadi pacar Chika ya.” Tanya Chika membuyarkan pandangan Dean.
“Gua gak nyari pacar!”
“Kakak udah punya pacar?” tanya Chika dengan nada santai.
“Udah!”
“Kakak gak boleh sama dia.” Ujar Chika mengintrupsi Dean.
“Bukan gak boleh, tapi gak akan bisa.” Sambung Chika dalam hati.
“Siapa Lo ngatur-ngatur gua! Lepasin tangan Lo dari badan gua.” Ujar Dean berusaha melepaskan tangan Chika yang berada ditubuhnya.
“Gak mau! Chika gak mau lepas sebelum kakak jadi pacar Chika!” ujar Chika mantap sambil mengerucutkan bibirnya.
“Gua gak suka main sama bocah.” Ujar Dean dengan nada jengah melawan Chika.
“Gua ngerasa jadi nyamuk.” Ujar Clara dalam hati sambil menatap Dean dan Chika yang tengah dalam posisi berpelukan, lebih tepatnya Dean dipeluk Chika.
“Chika gak bocah.” Ujar Chika tak terima.
“Umur Lo berapa?” tanya Dean malas.
Chika berfikir sambil menaikkan matanya.
“Ck! Umur sendiri Lo gak ingat?!”
“Chika bingung. Kalau umur seharusnya Chika 5 tahun.” Ujar Chika dengan nada lucu.
Dean kembali membelalakkan matanya mendengar ucapan Chika.
“p*****l dong Lo yan.” celetuk Clara sambil tertawa renyah.
Dean menoleh pada Dean dan menatap Clara tajam.“Diam Lo Cla!” kesal Dean.
“Uuupss.” Ujar Clara sambil menutup mulutny amenahan tawanya.
“Tapi kalau ikutin yang satu lagi Chika 19 tahun..” ujar Chika lagi dengan wajah cerahnya.
“Jauh banget! Lo bisa ngitung gak sih sebenarnya?!” tanya Dean dengan wajah kesal.
“Bisa.” Jawab Chika dengan nada mantap.
“Kenapa umur Lo jauh gitu?”
“Karna---.”
“Gak usah Lo jawab.” Potong Dean cepat.
“Kenapa?” tanya Chika bingung.
“Gak penting.”
Chika mengendus kesal. “Terserah kakak. Tapi apapun itu chika mau jadi pacar kakak.” Ujar Chika setelahnya kembali dengan waajah cerah.
“Gua bukan p*****l! Nanti Lo sama anak temen gua yang masih didalam perut itu aja.” Ujar Dean sembari menunjuk Clara dibelakangnya. “Beda Lo cuman 5 tahun sama dia!” sambung Dean lagi.
“Ihhh gak mau! Chika mau nya sama kakak!” ujar Chika menolak.
“Gua gak mau gila! Nih gua bilang sama Lo. Lo gak pantes sama gua. Karna gua lebih pantas jadi oom Lo bukan pacar Lo.” Ujar Dean dengan nada kesal.
Di tempatnya berdiri Clara tertawa atas jawaban Dean. Dean mengakui jika dirinya adalah om om bagi Chika.
“Dean oom oom..” ujar Clara spontan.
“Cla diam dulu bisa.” Kesal Dean.
“Mulut gua gak bisa direm yan.” Ujar Clara sambil tersenyum cerah.
“Tahan!”
Clara mengendus kesal. “Iya iya.” Ujar Clara dengan bibir yang mengerucut.
“Kakak masih muda kok.” Ujar Chika mengalihkan tatapan Dean kembali padanya.
“Umur gua udah 27 gila! Udah mau 30 tahun! Lo kata muda?!” kesal Dean bertubi-tubi.
Chika kembali menampakkan muka berpikirnya.
“Cuman beda 8 tahun kok sama Chika. Jadi gak papa, lagian Chika mau juga. Terus kan, ada orang yang bedanya lebih jauh dari kita.” Ujar Chika memberi pengertian pada Dean.
“Kita pala Lo petak! Lepas tangan Lo! Gua gak mau sama Lo!” kesal Dean tak habis-habis.
“Gak mau tapi dipeluk terima.” Celetuk Clara.
“Clara!” tegur Dean.
“Sorry yan, keceplosan.” Ujar Clara dengan senyum merekah.
“Chika harus gimana biar kakak mau sama Chika?” tanya Chika tak pantang menyerah.
“Harus sexy dek.” Celetuk Clara lagi.
“Clara!”
“Uups..” ujar Clara sambil tertawa renyah.
“Hmm. Chika bisa kok.” Ujar Chika membuat Dean bergedik ngeri.
“Sesexy apapun lo, gua gak mau sama Lo!” ujar Dean kembali menolak Chika.
Dean melepas tangan Chika dari pinggangnya. Dan langsung keluar tanpa pamit. “Lo ikut pulang gak?” tanya Dean didepan Clara.
“Ikut..” ujar Clara langsung menggandeng tangan Dean dan keluar bersama Dean.
“Kakak.” Panggil Chika namun dihiraukan oleh Dean.
Chika mengendus kesal. “Awas aja. Chika bakal buat kakak mau sama Chika.” Ujar Chika optimis. “Kata kakak yang tadi Chika harus gimana? Harus sexy?” sambung Chika lagi bertanya pada dirinya.
“Hmm..” gumam Chika sambil tersenyum miring. Setelahnya Chika mengambil hpnya dan mulai berselancar di internet
“Chika.” Pangil Mamanya dengan nada panik.
“Mama. Jangan ganggu Chika. Chika lagi sibuk sekarang.” Ujar Chika sebelum wanita yang dipanggilnya Mama itu mulai bicara lagi.
“Chika, kamu tadi kemana lagi coba?! Sering banget hilang dirumah sendiri. Mama gak ngerti lagi sama kamu deh.” Ujar Mama Chika menolak untuk mendengarkan ucapan Chika.
“Mama, Chika tadi gak kemana-mana kok ma. Tapi kan ma, Chika mau sering hilang Ahhh..” ujar Chika sambil tersenyum senang.
‘Chika!”
“Iya mama.”
“Jangan ngomong gitu, mama gak suka!”
“Hmm. Mama.”
“Apa?!”
“Gimana caranya biar jadi sexy?” tanya Chika pelan.
Mama Chika menaikkan alisnya. “Kenapa kamu tanya itu?” tanya Mama Chika bingung.
“Chika mau sama kakak tadi. Cucunya kakek buyut.” Ujar Chika dengan nada polos.
“Chika---.”
“Chika mau sama dia ma. Chika gak papa kok kalau dia lebih tua dari chika.” Ujar Chika memotong ucapan Mamanya.
Mama Chika hanya bisa diam. Biasanya jika Chika meminta sesuatu dia dan suaminya akan menuruti hal tersebut.
“Chika mau sama kakak itu ma.” Ujar Chika lagi sembari merengek.
“Kenapa?” tanya Mama Chika.
“Chika berhenti lihat hal-hal yang gak perlu Chika lihat.” Ujar Chika membuat mata mamanya terbelakak lebar.
“Hmm?” gumam Mamanya memastikan.
“Chika gak lihat makhluk yang gak mama lihat kalau Chika sama kakak itu.” Ujar Chika lagi.
Mama Chika menaikkan alisnya.
“Chika gak lihat hantu kalau megang kakak itu ma.” Ujar Chika memperjelas ucapannya.
“Dean?” tanya Mama Chika.
“Iya mama.”
“Chika tau dari mana? Jangan ngada-ngada deh.” Ujar Mama Chika masih tak menerima apa yang di minta oleh putri sematawayangnya.
“Tadi Chika udah coba dan Chika juga gak lihat kakak cantik yang ngikutin kak Dean dari lama itu.” Ujar Chika dengan nada polos namun sangat jelas tergurat keseriusannya.
Mama Chika diam, ini adalah hal yang diinginkannya; Chika berhenti melihat apa yang dirinya dan orang pada normalnya tidak bisa melihatnya.
“Chika mau sama dia ma.” Ujar Chika kembali bersuara.
“Nanti mama bilang papa. Biar papa ngomong sama kakek buyut.” Ujar Mama Chika dengan perasaan ragu.
“Jangan! Jangan bilang sama kakek buyut. Chika gak mau bantuan kakek, Chika mau dapatin sendiri.” ujar Chika beruntun.
“Tap---.”
“Kalau Chika gak dapat juga. Baru Chika mau dibantu kakek buyut.” Ujar Chika sambil tersenyum pada Mamanya.
Mama Chika menghela nafas. “Yaudah kalau Chika mau gitu. Tadi Chika nanya apa sama mama?” tanya Mama Chika hanya bisa pasrah atas apa yang diminta anaknya itu.
“Aaah iya. Gimana caranya jadi sexy mama?” tanya Chika dengan nada polos.
“Siapa yang mau jadi sexy?”
“Chika.” Ujar Chika menyebut namanya sambil menunjuk dirinya.
“Untuk apa Chika?”
“Biar kakak itu mau sama Chika. Kata temannya kak Dean yang lagi hamil tadi. Chika harus jadi sexy supaya kak Dean mau sama Chika. Mungkin kak Dean suka sama cewek yang sexy.” Jelas Chika dengan wajah polos dan nada polos yang terdengar sangat lucu jika ini tidak pembicaraan yang aneh.
“Chika---.”
“Gimana caranya mama?” tanya Chika memotong ucapan Mamanya.
“Chika udah sexy dengan apa adanya Chika.” Ujar Mama Chika malas menjawab pertanyaan anaeh putrinya.
“Belum mama. Tadi Chika udah ngajak kak Dean pacaran. Tapi kak Dean gak mau.” Ujar Chika menjelaskan pada Mamanya.
Mama Chika membelalakkan matanya. Pasalnya baru kali ini Chika seaktif itu tentang manusia.
“Mama.” Panggil Chika karna mamanya tak kunjung memberinya jawaban atas ucapannya.
“Mama gak mau ngajarin! Kamu cari aja di google.” Ujar Mama Chika.
“Ihhh mama.” Kesal Chika sambil mengerucutkan bibirnya.
“Nanti mama dimarahin papa Chika. Jadi kamu belajar sendiri.” Ujar Mama Chika jujur.
“Mama nyebelin!” kesal Chika.
“Lagian kamu, mama tawarin cara mudah bukannya terima.” Alasan Mama Chika.
“Gak mau!”
“Yaudah cari sendiri.” Ujar Mama Chika tegas.
“Yaudah mama keluar deh. Chika mau fokus.” Ujar Chika tak mau kalah tegas namun jatuhnya sangat lucu.
“Enggak. Mama gak mau keluar.” Tolak Mama Chika.
“Ihh mama.”
“Nanti Chika hilang lagi.”
“Enggak mama. Chika mau belajar jadi sexy aja hari ini.” Ujar Chika dengan nada mantap
“Kalau diajak hantu lagi jangan mau!” perintah Mama Chika tegas.
“Iya mama.”
“Beneran Chika!”
“Iya mama, mama cerewet!”
“Makanya kamu itu kalau diajak sama hantu jangan mauan.”
“Kan Chika gak tau kalau itu hantu. Wujudnya hantu sama wujud nya mama dimata Chika itu sama.” Ujar Chika tak terima disalahkan atas keamuannya ikut bersama makhluk tak kasat mata.
“Iya iya terserah kamu. Ingat jangan mau diajak pergi.”
“Iya mama.”
“Chika.”
“Ihh mama. Kapan Chika belajar nya kalau mama berisik terus!” keal Chika sambil menghentak kakinya.
“Yaudah iya iya. Mama keluar dulu. Kalau ada apa-apa bilang mama.” Ujar Mama Chika.
“Iya mama iya.” Jawab Chika dengan anda kesal.
Mama Chika akhirnya keluar dan Chika mulai berselancar di dunia internet. Mencari tutorial menjadi Sexy. Yang tidak lain dan tidak bukan agar Dean mau dengannya.
===
Disisi lain, Clara masuk kedalam rumah dengan cepat tanpa menghiraukan teriakan Dean yang menyuruhnya hati-hati.
“Darel” pekik Clara yang baru masuk dan langsung memeluk darel.
“Loh, Cla kenapa nangis?” tanya Darel dengan nada panik.
“Aku kangen kamu.” Ujar Clara dengan nada manja.
“Astaga, aku kirain kenapa.” Ujar Darel sambil mengehlea nafas lega.
“Lebay Lo Cla.” Ujar Dean yang baru bergabung dengan keduanya.
“Diam Lo yan!” kesal Clara.
“Dihh.”
Darel mengusap rambut Clara lembut. “Kenapa hmm?” tanya Darel lembut.
“Kangen.” Jawab Clara konsisten.
“Takut kali Lo.” Celetuk Dean.
“Takut? Takut kenapa?” tanya Darel bingung.
“Enggak!” tegas Clara “Eeh, iya takut.” Ralat Clara.
“Takut apa enggak Lo?” tanya Dean lagi.
“Dean Lo diam deh!” kesal Clara sambil menatap Dean dengan tatapan kesal.
“Gantian gua disuruh diam.”
“Takut apa hmm?” tanya Darel menghentikan Clara yang akan kembali beradu mulut dengan Clara.
“Dean tadi sulap. Aku udah perhatiin kamar itu dengan seksama.” Ujar Clara menjelaskan namun dipotong oleh Darel.
“Lo berdua dikamar berduaan?!” tanya Darel pada Dean yang ada dibelakang Clara.
“Wiihh santai bapak mukanya. Gua gak doyan ibu hamil kok.” Ujar Dean tak kalah cepat.
“Itu gak menjawab pertanyaan gua yan.”
“Dengerin aku cerita dulu darel!” kesal Clara.
“Nah tu dengerin istri Lo tuh.”
“Hmm apa?” pasrah Darel menurut pada Istrinya.
“Aku kan perhatiin kamarnya dari aku baru datang. Aku yakin banget kamar itu cuman ada aku sama Dean.” Ujar Clara melanjutkan ceritanya.
“Cla.”
“Aku di pintu berdirinya, kalau 6 langkah didepan aku.” Jelas Clara tau bahwa suaminya itu sedikit cemburu.
“Bagus. Lanjutin ceritanya.”
“Terus Dean manggil nama cewek. Siapa tadi nama nya yan?” tanya Clara pada Dean sembali menoleh ke belakang.
“Gua gak mau jawab.”
“Ihh Dean!”
“Nih ya Cla gua bilangin. Lo udah liat sendiri tadi kejadiaannya gimana. Kalau gua sebut namanya, terus dia muncul disini gimana?” ujar Dean jujur.
“Ohh iya. Nah jadi rel, Dean nyebut nama cewek itu. Dean nyebutnya 3 kali.” Sambung Clara lagi.
“Terus cewek itu muncul?” tebak Darel.
“Iya. Serem kan?” ujar Clara meminta pengakuan pada Darel.
“Enggak.” Ujar Darel dengan nada santai.
“Iiih serem darel!”
“Bagi aku enggak sayang.”
“Cewek itu muncul tiba-tiba!”
“Kan kamu bilang Dean sulap. Jadi wajar dong kalau Dean bisa buat orang hilang timbul?” ujar Darel membuat Clara mengedipkan matanya.
“Ohh iya.” Ujar Clara yang baru menyadari kebenaran ucapan Darel.
“Gua gak sulap rel.” Ujar Dean denagn wajah jengah.
“Tapi yan, mana ada orang yang bisa buat orang hilang timbul kalau bukan sulap.” Ujar Clara menganalogikan kejadian dan ucapan Darel.
“Nah tuh pinter.” Ujar Darel sambil mencubit hidung Clara gemas, membuat Clara tersneyum lebar.
“Terserah Lo berdua! Gua mau kekamar dulu.” Ujar Dean sembari berdiri dari duduknya dan langsung menuju kamarnya.
“Udah siap ceritanya?” tanya Darel sambil menatap Clara penuh cinta.
“Belum.”
“Apalagi ceritanya hmm?”
“Cewek itu serem menurut aku.” Ujar Clara polos.
“Seramnya gimana?”
“Dia tau aku lagi hamil, padahal aku gak bilang.”
“Kelihatan kali kamu hamilnya.” Ujar Darel sambil mengelus perut datar Clara.
“Oke, mungkin kalau itu aku terima. Perut aku mulai keliatan. Tapi dia bilang ada baby boy diperut aku sayang.” Ujar Clara lagi.
“Hmm?” gumam Darel dengan dua alis yang menyatu.
“Baby boy.”
“Positif thinking aja sayang, siapa tau dia cuman asal nebak.” Ujar Darel tak ingin istrinya berfikir yang tidak-tidak.
“Tap---“
“Gak usah dipikirin ya.” Potong Darel dengan nada lembut.
“Yaudah iya. Tapi sayang, tadi cewek itu nembak Dean.” Ujar Clara kembali bersemangat.
Darel menaikkan alisnya. “Dalam artian?” tanya Darel.
“Menyatakan perasaan. Dia ngajak Dean pacaran yang.” Jelas Clara.
“Serius kamu?”
“Hmm, iya. Tapi kan yang, dia buat Dean marah tadi.” Ujar Clara dengan wajah murung.
“Karna nembak?” tebak Darel.
“Bukan.”
“Jadi kenapa?”
“Dia nyebut nama Lauren berkali-kali tadi.” Ujar Clara sembari berbisik.
Darel diam sejenak memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang atau apa yang harus dilakukannya nanti jika hal tidak diinginkan itu datang.
“Dean gimana?” tanya Darel kembali angkat bicara.
“Dean marah. Tadi Dean ngomongnya kasar sama cewek itu.” Uajr Clara masih dengan wajah murung.
“Cantik ceweknya?” tanya darel membuat Clara menatap Darel tajam.
“Aku cuman nanya sayang.” Ujar Darel seakan mengerti arti tatapan Clara.
“Lumayan!” ujar Clara kesal.
“Sama kam---.”
“Cantikan aku!” potong clara dnegan nada kesalnya.
“Ohh itu jelas.” Ujar Darel mantap membuat rona merah dipipi Clara.
“Gemes deh kalau kamu gini.” Ujar Darel sembari menciumi pipi Clara, istrinya.
“Ihh darel! Aku belum siap cerita.” Ujar Clara mengalihkan pembicaraaan karna dia sangat malu jika dipuji oleh Darel.
“Oke oke. Lanjutin cantik ceritanya.” Ujar Darel menggoda Clara.
Rona merah kembali tercetak di pipi chubby Clara. “Cewek itu ngotot buat minta jadi pacar Dean. Tapi kan yang, kayaknya cewek itu indigo deh.” Ujar Clara menyambung ceritanya.
“Kok kamu mikir gitu?”
“Karna aku pernah dengar orang yang hilang hilang gitu. Katanya kalau hilang tiba-tiba itu berarti dia diambil sama makhluk halus.” Ujar Clara sembari mengorek pengetahuannya tentang hal mistis.
“Kamu tau dari mana?” tanya Darel.
“Hmm aku sering baca cerita horor.” Ujar Clara sambil menunjukkan senyum pepsodentnya.
“Itu fiksi sayang.”
“Tapi ini ada bukti nyatanya.”
“Emang kamu yakin dia hilang diambil sama mahkluk halus?” tanya Darel tak mau setuju dengan ucapan Clara.
“Hmm..” gumam Clara.
“Udah gak usah dipikirin. Gak penting pembahasan itu.” Ujar darel benar-benar malas membahas tentang hal itu.
Clara diam sejenak sebelum kembali berbicara. “Tapi yang.” Ujar Calra lagi.
“Kenapa lagi?”
“Dean gimana ya sekarang. Tadi dia dengar banyak nama Lauren. Aku takut Dean lagi gak baik-baik aja yang.” Ujar Clara dengan wajah yang tak terbaca.
“Kamu balik ke kamar sana bersih-bersih badan. Terus tidur siang.” Ujar Darel lembut sembari merapikan rambut Clara.
“Kamu?” tanya Clara.
“Nanti aku nyusul. Aku mau ngecek Dean dulu.” Ujar Darel dengan nada lembut.
Clara tersenyum singkat. “Yaudah. Jangan ngomong kasar sama Dean. Dia lagi gak baik-baik aja.” Ujar Clara tak kalah lembut dengan Darel.
“Iya sayang.” Ujar Darel sambil tersenyum.
Clara memeluk Darel, lalu mencium pipi suaminya itu. “Aku kekamar dulu ya.” Ujar Clara.
“Iya sayang.” Ujar Darel mengecup pelipis Clara sayang.
Setelah nya Clara pergi ke kamarnya. Dan darel pergi kekamar Dean.
Di kamar Dean sedang menatap kosong kearah depan. Tubuhnya ada didalam kamar itu. Tapi pikirannya jauh menerawang entah kemana. Salah satunya kembali pada situasi dikamar Chika. Lebih tepatnya, saat Chika melarang Dean memanggil Lauren. dengan alasan nanti dia datang jika dipanggil.
“Lauren. Kamu dimana? Apa benar, kalau aku manggil kamu 3 kali. Kamu akan muncul didepan aku. Seperti yang aku lakuin sama Chika tadi?” batin Dean.
Pikiran Dean terlalu banyak menimbang situasi ini. Setelah beberapa saat Dean kembali bermonolog.
“Setidaknya gua harus coba. Untuk tau hasilnya. Lauren, aku harap kamu muncul.” Ujar Dean.
Tanpa pikir panjang Dean memanggil nama Lauren. Yap nama lengkap Lauren seperti yang dilakukan oleh Dean pada Chika sebelumnya.
“Lauren Alexandria. Lauren Alexandria. Lauren Alexandria.” Panggil Dean seperti intruksi Kakek buyut.
Namun tidak ada terjadi apapun. Dean teriak sekencang-kencangnya. Realita tidak sesuai ekspektasi nya. Lauren tidak muncul dihadapannya seperti Chika tadi siang.
“Ren. Kenapa kamu gak muncul? Kenapa kamu gak muncul kayak Chika?!!” ujar Dean dengan nada kecewa.
Darel yang sedang berjalan kearah kamar Dean terkejut mendengar teriakan Dean. Darel langsung berlari kekamar Dean.
“Yan.” Panggil Darel dengan nada panik.
Dean hanya diam tak menjawab. Dean sedang duduk sambil menjambak rambutnya.
“Lo kenapa?” tanya Darel khawatir sambil menghampiri Dean.
“Kenapa Lauren gak muncul rel?” tanya Dean dengan nada frustasi, Darel hanya diam tak tau menjawab pertanyaan Dean.
“Kenapa Lauren gak muncul kayak chika? Gua gak butuh Chika rel, gua butuh Lauren.” Sambung Dean.
“Fix, Dean masuk kedalam portalnya. Gua harus telpon Ken kalau kayak gini ceritanya.” Batin Darael
“Gua mau Lauren, gua cuman butuh Lauren rel. Lo bantuin gua panggil Lauren. Kata kakek panggil pake nama lengkap nya. Lauren bakal datang kalau Lo panggil dia 3 kali.” Ujar Dean panjang lebar.
Darel masih diam tak tau harus menjawab apa.
“Darel jangan diam aja! Bantu gua manggil Lauren!” pekik Dean pada Darel.
“Lauren udah gak ada yan.” Ujar Darel ragu.
“Gak! Lo coba panggil Lauren! Dia bakal datang darel! Panggil Lauren, darel!” ujar Dean asal sambil berteriak pada Darel.
Buugh! Darel melayangkan bogem ke wajah Dean.
“Sshh..” desis Dean sambil memegang ujung bibirnya.
“Lo harus sadar yan!” pekik Darel pada Dean.
Dean hanya diam.
“Lauren udah gak ada! Jangan ingat Lauren lagi! Jangan siksa diri Lo lagi!” pekik Darel lagi.
Dean diam dengan smirk di bibirnya.
“Kenapa Lo gak datang Lauren? Segitu besar salah gua sama Lo? Sampai Lo gak datang kalau gua panggil. Gua harus Nebus dengan cara apa ren?” batin Dean.
“Apa gua harus ikut Lo biar Lo maafin gua ren?” tanya Dean sambil menatap Darel.
Buugh! Lagi-lagi Darel melayangkan bogem mentahnya untuk Dean.
“Sakit b*****t!” pekik Dean.
“Makanya Lo sadar! Lauren udah mati! Dan life must go on. Kematian Lauren bukan kesalahan Lo, jadi stop minta maaf sama dia!” ujar Darel panjang lebar.
“Lauren gak akan mati, kalau bukan karena gua rel. Sampai kapan pun, Lo gak bisa berubah fakta. Kalau gua adalah orang yang paling bersalah atas matinya Lauren.” Ujar Dean membalas ucapan Darel padanya.
“Enggak Dean. Kamu gak salah apa-apa. Kematian aku bukan karena kamu yan.” Ujar seseorang yang sedang mengawasi mereka namun tak bersama mereka.
===
==
=
Bersambung.