"Kau benar-benar udah gila. Tidak punya hati dan akal sehat! Aku pikir aku di sini untuk pekerjaan, tapi apa? Semua ini cuma demi kesenanganmu. Bajing-an, aku bahkan meninggalkan anakku demi kamu?!" amuk Lia kesetanan dan marah mengetahui kalau dirinya tak melakukan apapun di sana.
Davin cuma main-main dan bersenang-senang. Tak ada pertemuan ataupun pekerjaan. Dia murni untuk menyenangkan hatinya saja. Sayangnya Lia baru sadar saat memperhatikan kegiatan Davin yang cuma bermalasan dan tak melakukan kegiatan apapun sejak dua hari.
Awalnya Lia memang tak curiga, masih berpikir positif dan berpikir Davin mungkin kelelahan karena perjalanan mereka cukup jauh. Namun dia juga tak bisa terus-terusan merasa wajar setelah beberapa hari terus begitu.
"Apa kau sudah memiliki anak? Jadi kau sudah menikah lagi Lia?!" tanya Davin syok dan tak percaya.
Lia tertegun dan baru menyadari kesalahan ucapnya itu. Terdiam untuk sesaat dan berpikir keras. Melihat itu Davin semakin terlihat gelisah dan perasaannya menjadi tidak tenang. Dia langsung terlihat kacau dan dari tatapannya dia tampak tak terima.
"Katakan Lia? Apakah kau sudah memiliki suami dan artinya kau menikah lagi?!" tuntut Davin meminta penjelasan.
Lia gelagapan dan kebingungan tak tahu harus mengatakan apa, tapi di satu sisi diapun tak mungkin hanya diam saja. "Ak-aku y--"
"Tidak!" Davin geleng-geleng kepala seperti sedang tak terima dengan jawaban Lia yang bahkan belum terucap. Lalu sebuah ingatan muncul dalam benaknya, dan Davin segera menyeringai senang karenanya. "Kau belum menikah aku ingat sendiri bagaimana isi CV-mu, karena aku sendiri yang memeriksanya!" jelas Davin melanjutkan membuat Lia tentu saja tak mungkin menjawab alasan sudah menikah lagi.
Wanita itupun kembali berpikir keras sebelum kemudian menjawab, "anak angkatku. Ya, aku punya anak angkat dan karenamu aku sudah menelantarkannya!"
Davin segera menghela nafas, anehnya dia malah terlihat lega. "Baguslah. Walaupun breng-sek sebenarnya aku juga tidak sudi bermain api dengan istri orang," jelasnya membuat Lia segera mengumpati dirinya sendiri.
Tahu begitu dia harusnya menjawab sudah menikah saja tadi. Masalah status di daftar riwayat hidupnya pada lamaran kerjanya, dia bisa buat alasan kalo dirinya menikah siri. Ah, tapi sudahlah, semuanya sudah terlanjur.
"Ch, lalu kau pikir aku mau bermain api dengan suami orang?!" sarkas Lia. Kali ini gilirannya yang menyerang. Sekalian saja untuk memastikan apa hubungan Davin dan Liona sekarang.
"Huft! Kau sudah merusak hidupku, kau pikir apakah aku masih sanggup untuk menikah lagi setelah bercerai denganmu?" tanya Davin diakhir kalimatnya, tapi anehnya malah terdengar lirih seperti tengah menyimpan luka yang mendalam.
"Itu bukan urusanku. Menyingkirlah, bajing-an. Aku sudah tak perduli denganmu dan sekarang aku harus pulang untuk anakku!" jawab Lia sinis sambil kemudian dengan sengaja menyenggol Davin yang di rasa menghalangi jalannya.
Tak mau lama-lama, Lia segera berkemas dan membereskan pakaiannya ke koper. 'Setidaknya Raka masih milikku sendiri dan Davin tak mungkin mengambilnya dariku karena dia tahunya Raka anak angkatku bukan anak kami. Huft!' Lia membatin mendesah sedikit lega.
Sementara itu Davin masih menontonnya dan membiarkan Lia membereskan pakaiannya sendiri, sampai kemudian wanita itu selesai dan bermaksud untuk pulang.
"Berani kamu melangkah keluar dari sini, aku akan menyebarkan video tak senonohmu!"
❍ᴥ❍
Satu minggu berlalu, akhirnya dinas yang lebih seperti bulan madu itu pun usai. Mereka akhirnya pulang dan Lia akhirnya bisa mendesah lega saat dirinya terbebas dari Davin.
"Ayo, biarkan aku mengantarmu!" ujar Davin saat mereka masih di bandara. "Sopirku akan tiba dan kamu bisa ikut aku sehingga tidak perlu repot mencari kendaraan umum untuk pulang," lanjut Davin menjelaskan.
Lia segera menggelengkan kepala. "Terima kasih untuk niat baikmu, Pak, tapi saya bisa sendiri," jawab Lia sengaja berkata formal.
"Tidak usah sungkan apalagi berkata sampai segitunya. Aku tahu aku bossmu, tapi ingatlah juga posisimu yang lain. Kau sekarang adalah wanita simpananku!" tegas Davin diakhir kalimatnya membuat Lia sesak dan merasa tertohok dengan fakta yang ada.
"Aku tahu, kau tak perlu mengingatkannya," jawab Lia dengan lirih, namun sama sekali tidak menyentuh hati Davin yang sudah tak ada.
"Justru itu. Aku memang harus mengatakannya terus padamu untuk mengingatkan dirimu, supaya apa? Supaya kau sadar kalau kau itu memang wanita sampah!" cibir Davin kejam.
Jujur saja. Lia ingin sekali menangis setelah mendengarnya, akan tetapi dia menahan diri dan menguatkan hatinya. Lia tak mau Davin menang dengan dirinya yang terlihat lemah.
"Sampah-sampah begini, itu maumu bukan. Kalau aku sampah, kau apa? Tong sampahnya?!" sarkas Lia tajam.
Namun bukannya tersinggung Davin malah tersenyum dan segera merangkul bahunya. "Terserahmu saja. Ayo pulang, sopirku sudah datang!"
"Aku bilang tidak mau!"
"Dan aku tidak menerima penolakan. Ayo Lia!!"
Mau tak mau, karena paksaan Davin, Lia pun ikut dan mereka pulang bersama. Akan tetapi saat sudah di rumahnya, Davin malah ikut turun dan memasuki rumah Lia.
"Aku sedang tidak menerima tamu, pulanglah!" ujar Lia terus terang mengusir Davin.
"Aku bukan tamu, tapi mulai sekarang ini adalah rumahku!" ujar Davin menjawab serius dan membuat Lia tiba-tiba mengerutkan dahi.
"Kau jangan bercanda. Ini rumahku!" jawab Lia berkata tegas.
Davin menyeringai, mengeluarkan ponsel kemudian menunjukkan sesuatu di sana yang menunjukkan bukti kepemilikannya atas rumah tersebut.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa kamu melakukannya?!"
"Ch, kau lupa siapa aku?!"
"Tidak. Pergi dari sini dan enyahlah. Apa tidak cukup kau sudah merendahkan aku dan sekarang kau juga mau merebut tempatku berteduh?!" bentak Lia marah dan tak terima. Dia sungguh murka sekarang, karena stok kesabarannya sudah habis.
"Aku tidak mau! Jika kamu keberatan maka kau sendirilah yang pergi dari sini!" tegas Davin dengan kejam.
Sungguh pria itu tak punya hati, sekali lagi dia benar-benar sudah kelewatan, tapi di saat yang sama Lia benar-benar tak mampu melawan. Benar katanya, karena walaupun buktinya masih di dalam ponsel, tapi itu sudah cukup jelas, apalagi saat Lia memeriksa surat rumahnya, semua ternyata sudah tak ada di tempatnya.
"Kau mencuri rumahku, kau jahat!!"
"Huhh, memangnya kau tidak? Dengar Lia kau masih boleh tinggal di sini asal kau mau menandatangani berkas baru yang akan dibawakan asisten pribadi ku besok dan menjadi pembantuku seumur hidup!" ujar Davin tanpa perasaan.
"Kau benar-benar sudah gila dan tidak waras!" umpat Lia marah.
*****