11. Pertemuan Ayah dan Anak

1145 Kata
Davin sedang bersantai di ruang tengah rumahnya Lia. Oh, bukan, tapi rumahnya juga sekarang. Melihat desain interior ruang tengah, Davin terkagum dengan selera mantan istrinya. Lia memang tak di ragukan soal begituan, sehingga walaupun sederhana rumahnya sangat indah dan sekaligus nyaman di saat yang bersamaan. Siapapun bakalan betah tinggal di sana, dan bahkan Davin sendiri pun demikian. Lia sedang mandi saat pintu di ketuk dari luar. Mendengar itu, Davin yang masih do ruang tengah terpaksa bangkit dan membukanya. Rupanya yang datang suaminya Lyra yang mengantarkan Raka pulang. "Maaf, anda siapa dan di mana Lia?" Davin mengeras menyadari seorang pria yang berkunjung dan dia tak terima karena berpikir hal yang buruk. Davin memanas sendiri dengan pikirannya. "Kamu yang siapa?!" balas Davin dengan sinis dan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Pria itu tersenyum ramah dan segera mengulurkan telapak tangannya dengan sopan. Dia memang tipikal orang yang bertolak belakang dengan Davin. Setidaknya pria itu terlihat punya hati. "Liam, suaminya Lyra sahabatnya Lia," jelas pria itu yang entah mengapa membuat Davin lega, sekaligus mau menerima jabat tangannya. "Davin Geraldo kekasihnya Lia," jawab Davin mengklaim seenaknya. "Katakan apa yang ingin kamu lakukan kemari?!" lanjut Davin tanpa basabasi. Liam mundur dan sesosok anak kecil muncul dari belakangnya. Davin segera mengerutkan dahi, menatapnya dengan aneh. Di satu sisi tiba-tiba jantungnya berdebar aneh, merasakan perasaan unik yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. "Jika benar kamu kekasihnya Lia, kamu pasti tahu kalau dia sudah mempunyai anak dan ini dia Raka. Beberapa hari ini dia bersama kami, aku dan istriku yang bekerja di penitipan anak menjaganya saat Lia pergi ke luar kota," jelas Liam memberitahu. Davin mengangguk saja, seolah-olah dia memang sudah diberitahu tentang perkataan Liam. Walaupun sebetulnya dia tahu kehadiran Raka ini hanyalah berkat keceplosan Lia dan sampai sekarang dia pikir Raka ini anak angkatnya Lia. "Terima kasih untuk jasamu dan istrimu, tapi ini sudah malam kamu bisa pulang sekarang," ujar Davin mengusir halus. Liam sedikit kesal, tapi walau begitu dia tetap menganggukkan kepala dan pamit pulang. Sementara Raka masuk sambil menatap Davin dengan serius. "Om siapa?" tanya Raka saat Davin bergerak menutup pintu. Tidak langsung menjawab, Davin setelah menutup menatap Raka dengan intens. Oh, dia sadar sekarang. "Pantas kau tidak asing, ternyata kau ini anak yang sama dengan yang tempo waktu menabrakku di supermarket. Wajar saja kurang aja, ternyata Lia yang mendidikmu!" ujar Davin seenaknya. "Om siapa dan kenapa di yumahku?" ulang Raka menyipit dan menatap Davin dengan menyelidik. Dia sudah lupa insiden di supermarket. Namanya juga anak-anak tentu saja gampang lupa dan dia bahkan tak ingat sama sekali dengan Davin ini. Walaupun di satu sisi Raka juga tanpa sadar tertarik dengan sosok di hadapannya. "Masih bertanya siapa aku, sekarang aku yang tanya, siapa Lia bagimu?" "Mama," jawab Raka polos. Davin menyeringai kemudian menjawab dengan seenaknya lagi, "kalau begitu aku adalah Papamu," jelasnya dengan entengnya. Namun Raka malah berbinar lalu tanpa disangka Davin, anak itu langsung berhambur memeluknya. "Jadi Om papaku yang bekelja keras itu untuk membeliku banyak mainan itu, telus sudah pulang sekarang?" tanya Raka memastikan dan Davin mengangguk dengan spontan. Dia membalas pelukan Raka dan merasakan sesuatu yang lebih aneh lagi. Awalnya dia sebetulnya kesal mengingat Raka adalah anak yang sama dengan anak yang menabraknya di supermarket, tapi sekarang saat anak itu memeluknya Davin malah merasakan perasaannya menghangat. "Ya, aku Papamu dan aku yang bekerja keras untuk memberimu mainan itu," jawab Davin percaya diri. Raka melepaskan pelukannya kemudian seperti mencari sesuatu, dia celingak-celinguk kesana-kemari. "Ada apa?" tanya Davin mengerutkan dahi sambil menatap Raka dengan serius. "Mana mainannya Papa?" tanya Raka menuntut membuat Davin heran sekaligus merasakan perasaan yang lebih aneh lagi. "Ma-mainan?" tanya Davin untuk pertama kalinya merasa gugup. Bahkan dalam menghadapi klien terbesarnya dia tak seperti ini, tapi anak ini malah membuatnya bisa sampai seperti itu. "Iya! Katanya Mama, Papa pelgi untuk bekerja supaya bisa membeli mainan yang banyak untuk Raka," jelas Raka membuat Davin mengerti sekarang. Sepertinya Lia mengasuh Raka sejak anak itu masih belum punya ingatan apapun dan sepertinya anak dihadapannya itu belum dikenalkan sosok seorang ayah sama sekali. ***** "Ch, akhirnya pria sial-an itu pergi dari sini. Pulang juga dia!" ujar Lia saat dirinya sendiri tak menemukan siapapun di ruang tengah. Teringat pada Raka, Lia pun ke dapur untuk menyiapkan sesuatu. "Anakku sebentar lagi pasti pulang. Hm, aku masak sesuatu untuknya supaya dia senang." Lia pun menyiapkan bahan untuk menyiapkan ayam goreng krispi. Sambil bersenandung dia memasak dengan riang dan begitu selesai dia menghidangkannya. Saat menaruhnya di atas meja dan akan berbalik, tiba-tiba saja dari belakang terasa menghadangnya. "Kalau begini kamu seperti istriku yang manis!" ungkap Davin tiba-tiba saja sudah mengungkung tubuhnya ke meja. "Ch! Tapi sayang, walaupun manis domba manisku ini adalah serigala yang keji dan penghianat!" lanjut Davin langsung mencengkram rahang Lia dengan dengan tajam. "Lepas!" geram Lia langsung mendorong Davin menjauh. Hal itu berhasil menjauhkan mereka, tapi Davin sama sekali tak menunjukkan kekesalannya. Melihat ada ayam goreng krispi yang merupakan favoritnya, Davin malah duduk di atas kursi lalu dengan seenaknya tanpa babibu langsung menyantapnya. "Dasar bajing-an, kau pikir itu untukmu?!" kesal Lia, tapi kemudian dia tak merebutnya dari Davin. Teringat bagaimana mantan suaminya menggemari makanan yang satu itu dan akan sangat marah jika Lia mengambilnya. Jadi itulah mengapa Lia membiarkannya dan selain itu dia memasak porsi yang banyak cukup untuk Raka nantinya. "Papa!" Tiba-tiba suara Raka bergema dan membuat Lia syok dalam seketika. Tak percaya kalau anaknya sudah di rumah saja. Sebelumnya Lyra memang mengabari akan mengantarnya, tapi saat sudah datang kenapa malah memanggil Papa dan bukannya Mama. "Kemari Nak, Mama masak ayam goreng yang begitu banyak untuk kita!" ujar Davin berhenti makan dan bahkan menghampiri Raka yang baru datang ke dapur. Lia cuma bisa melongo dan menatap interaksi di antara mereka. Sambil bertanya dalam pikirannya, dari kapan mereka bertemu dan mengapa bisa begitu akrab. "Hore, Mama masak ayam goreng lagi. Raka suka ini, apakah Papa sama?" "Ya, tentu saja. Kita ini ayah dan anak, mana mungkin berbeda," ujar Davin. Lebih tak terduga lagi, pria kejam itu tiba-tiba baik hati dan seperti malaikat untuk Raka atau mungkin sosok ayah idaman yang di harapkan. Pria itu tanpa sungkan memangku Raka saat kemudian mereka melanjutkan untuk makan. Hal itu membuat Lia waspada dan gemetar takut. 'Apakah Davin sudah tahu Raka anak kandungnya? Tidak! Jangan sampai itu terjadi. Raka hanya anakku sendiri!' batin Lia sambil ketakutan. ***** Cklek! Davin setelah Raka tidur di kamarnya, menghampiri Lia ke kamar wanita itu. Masuk seenaknya dan membuat Lia menatapnya tajam. "Aku tidak menyangka, walaupun sudah berkhianat ternyata kau tak bisa melupakan aku!" ujar Davin serius sambil menatap Lia intens. "Apa maksudmu?" tanya Lia menuntut. "Tidak usah pura-pura Lia. Aku sudah tahu segalanya!" tegas Davin membuat Lia meneguk ludahnya kasar. 'Tidak. Jangan bilang dia tahu Raka anaknya?' batin Lia tak tenang dan merasa gelisah. "Aku benar-benar tidak mengerti!" elak Lia sambil menggelengkan kepala. "Kau sangat mengerti, sangat Lia. Lihatlah Raka bukankah dia persis denganku?!" ungkap Davin membuat jantung Lia semakin bergemuruh keras. "Dia--" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN