Lia sudah tidak mood untuk makan lagi, walaupun sejak siang dia belum mengisi perutnya dengan apapun. Dia memang bisa saja memasak karena persediaan dapurnya masih penuh, tapi ucapan Davin membuatnya kehilangan selera.
Usai membereskan meja makan dan mencuci piring kotor juga serangkaian alat masak yang sudah digunakan olehnya beberapa saat lalu, Lia cuma mengambil apel dari kulkas lalu meneguk air untuk dia minum. Hanya itu, karena setelahnya benar-benar tak ada lagi yang masuk ke perutnya.
Beralih pada Raka, dia ke kamar putranya untuk melihat keadaanya. Biasanya sebelum tidur dia suka membacakan dongeng atau mengajaknya sikat gigi.
Namun tepat saat Lia akan masuk, Davin keluar kamar dan menatapnya datar. "Dia sudah tidur. Jangan ganggu!"
"Aku ibunya dan aku berhak memastikannya!"
"Cukup Lia, jangan kekanakan. Kamu hanya ibu angkatnya bukan, setidaknya walaupun tak bisa menjadi ibu kandung, jadilah ibu yang baik dan tidak mengganggu tidur anaknya!"
"Aku hanya melihat, bukan membangunkannya!"
Lia bersikeras untuk masuk, tapi Davin terus saja menghentikannya. Kesal dengan Lia, Davin dengan kasar menyeret wanita itu ke kamar, memberinya perhitungan lalu menghinanya seperti biasa. Lia sudah seperti tak ada harga dirinya di mata mantan suaminya. Lia memang sempat melawan, tapi seperti biasanya. Dia bisa apa, berhadapan dengan sosok pria yang kuat dan ukuran tubuhnya jauh lebih besar, Lia yang lemah dan wanita sudah pasti kalah.
Sepanjang malam, dia cuma bisa menangis dalam diam. Meratapi nasibnya yang buruk dan selalu diperlakukan buruk, tapi buruknya lagi, di bagian hatinya yang terdalam Davin benar tentangnya. Lia memang tak bisa melupakan mantan suaminya itu. Dia menyimpan hatinya untuk Davin, meski dalam kepalanya tersemat kebencian yang sama dalamnya.
❍ᴥ❍
"Aku tidak bisa Lia, aku sibuk! Jangan membuatku marah atau jika kau masih menggangguku jangan harap mobil baru!" kesal Davin masih di pagi buta. Berbicara lewat telepon di balkon kamarnya Lia.
"Tapi Ares membutuhkanmu sayang, anak kita memanggil Papanya dan sekarang dia sedang demam!" ujar Liona memberitahu.
"Sial. Berhenti menggunakan Ares untuk memerasku Liona. Aku tahu dia tak membutuhkanku sekarang, karena minggu lalu aku baru saja menemuinya!" umpat Davin geram dan sedikit berisik dan membangunkan Lia.
Wanita itu mendengarnya bicara, mengucek mata, bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Davin.
"Ughh! Siapa yang kamu menghubungimu pagi-pagi buta begini?" tanya Lia kepo sambil mengikat rambutnya.
Davin berbalik dan melihatnya lalu tertegun. Lia cuma mengikat rambutnya dalam keadaan mengantuk dan masih setengah sadar, tapi Davin bahkan sudah tak bisa mengalihkan tatapannya.
"Davin katakan kau dimana?" ujar Liona kaget saat mendengar nada suara perempuan.
"Bukan urusanmu!" ketus Davin pada Liona, tapi tentu saja Lia ikut sakit hati mendengarnya.
Wanita itu pikir kalimat itu untuknya. Tak mau mendengar kalimat kasar lainnya, Lia berbalik dan pergi. Namun, Davin malah menahan pinggangnya dan Lia langsung syok merasakannya.
Sementara Davin langsung mematikan teleponnya sebelah pihak. "Kau memang mengagumkan Lia!" puji Davin sungguh serius dengan kalimatnya, membuat Lia tersipu malu dan hampir saja senang jika saja Davin tak melanjutkan ucapannya.
"Maksudku tubuhmu. Untuk ukuran wanita, kau tahu aku hanya tertarik padamu. Lain ceritanya kalau berbicara mengenai hati dan pikiranmu yang busuk dan picik itu. Kau sudah seperti iblish wanita yang cantik, tapi berbahaya!"
"Lepaskan!" ketus Lia marah.
Namun Davin malah mengeratkan rangkulannya. Dia tak perduli amukan Lia, karena baginya yang terpenting adalah keinginannya. Jika Davin mau maka Davin akan mendapatkannya.
"Kau tahu, kau yang begini semakin membuatku tertarik saja!"
"Breng-sek! Lepaskan aku!"
"Ckckck, nggak usah munafik Lia. Aku tahu kau menikmati ini. Selingkuhanmu yang dulu pasti bukan apa-apa jika dibandingkan denganku yang hampir sempurna ini. Kau pasti tak puas dengannya sampai sekarang kau bahkan tidak menikah. Oh, tidak atau jangan-jangan bukannya tidak puas, tapi dia juga tak tahan dengan wanita munafik sepertimu!"
"Apa perdulimu tentang itu. Kita bukan siapa-siapa sekarang!" tegas Lia sambil masih bersikeras memberontak.
"Oh, aku tentu saja perduli. Lupa soal ucapanku kemarin. Sebentar lagi kita akan menikah lagi, tapi pernikahan kedua kita akan aku pastikan kau tidak bisa membagi dirimu lagi pada pria lain dan aku pastikan juga penderitaan seumur hidup untukmu!" ujar Davin serius.
"Kau pikir aku sudi?!" sarkas Lia dalam kemarahan. Dia sudah tak mengantuk lagi, sejak Davin menahan pinggangnya dengan merangkulnya dari belakang, kantung itu hilang bersamaan dengan datangnya perasaan marah.
"Aku bahkan jijik tiap kau sentuh dan asal kau tahu aku sudah muak denganmu. Aku membencimu, kau dengar itu? Jika ada rasa yang tertinggal di hatiku maka itu adalah perasaan ingin menjauh dan sebisa mungkin sampai aku mati tidak usah bertemu denganmu!" teriak Lia meluapkan uneg-unegnya.
Davin tersinggung dan membalikkan Lia menghadapnya, sehingga mereka berhadapan dan Davin dalam sekejap menghimpitnya pada balkon pembatas. Mencengkram rahangnya lalu menatapnya sangat tajam.
"Tak ada perempuan yang lebih hina di mataku selain dirimu!" bentak Davin dengan kerasnya.
"Kalau begitu lepaskan aku, bebaskan aku dan berhenti terlibat dalam hidupku!!" balas Lia tak mau kalah.
"Lalu membiarkanmu hidup enak, senang di luar sana? Begitukah maumu Lia?!" sarkas Davin yang kemudian tersenyum devil. "Tidak akan. Sampai matipun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau akan menderita bersamaku seumur hidupmu, dan dengar ini Lia. Dengarkan baik-baik sumpahku. Akan aku pastikan kau tersiksa, setiap harinya, jam atau bahkan setiap detiknya. Kau tidak akan pernah bahagia!! Camkan itu baik-baik!!" tegas Davin dengan tanpa hatinya.
"Kau benar-benar tidak punya hati!!"
"Sudah pernah kukatakan bukan? Kau sendirilah yang sudah menghancurkan hati itu! Jadi nikmati saja hidupmu dengan pria tak punya hati ini. Kau milikku selamanya!" klaim Davin dengan kejam membuat Lia bergidik ngeri dan ketakutan.
"Kau baji--"
"Sial. Tutup mulut cerewetmu itu! Telingaku sakit mendengarkan ocehan sumpahmu!" geram Davin.
Namun bukan sampai di sana. Paginya yang buruk karena merasa di sulut oleh Lia, pria itu selanjutnya memberikan siksaan berikutnya. Menyeret Lia ke kamar mandi, lalu menenggelamkan kepala mantan istrinya ke dalam bathtub yang sudah diisinya air. Sampai Lia sendiri hampir kehabisan nafas, barulah Davin menarik kepalanya sambil menjambak rambutnya kepermukaan.
Begitu seterusnya, menenggelamkan sampai hampir kehabisan nafas, lalu menariknya kasar untuk bernafas sebentar. Davin melakukan hal yang sama sampai dia puas dan Lia bahkan sudah tersenggal-senggal. Lelah dan tak berdaya.
Brak!
Davin mendorongnya kasar sampai menghantam lantai yang keras. Meraih shower dan mengguyur Lia dengan air dingin. Wanita itu bahkan sudah pucat, tapi diwajahnya Davin masih saja tak menyiratkan belas kasihan.
"Itu akibatnya berani melawanku. Dengar Lia, dengarkan ini baik-baik. Aku bukan tipikal pria yang suka bermain-main. Kau membantah atau mencoba melawanku, maka bersiaplah menerima akibatnya.
*****