15. Tidak Diperdulikan

1105 Kata
Sesampainya di rumah Lia segera merenggangkan tubuhnya yang pegal, sebelum kemudian ke sofa dan duduk di sana untuk merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Mama capek ya?" tanya Raka yang juga ada di sana. Sebenarnya memang sebelum pulang Lia menyempatkan diri menjemput putranya di penitipan anak. "Iya sayang, jadi Mama mohon kamu jangan nakal dan mengacaukan rumah. Mama mau tidur sebentar bisa?" ujar Lia yang segera disetujui Raka dengan anggukan kepalanya. Namun namanya juga anak-anak mana mungkin semudah itu diberitahu. Anggukan kepala dan persetujuannya cuma angin lalu. Faktanya Raka mulai bosan dan mencari mainan baru yang semalam dibelikan oleh Davin. Menaruhnya di lantai lalu memainkannya. Begitu bosan, Raka tiba-tiba bangkit dan menendang satu-satu mainannya. Seolah sedang main bola, padahal yang sedang ditendangnya adalah mobil-mobilan. Davin kalau melihatnya pasti menyesal membelinya mobil-mobilan, karena harusnya dibeli bola saja saja untuk Raka. Tak sampai di sana, selang beberapa menit Raka merasa haus dan pergi ke dapur. Bermaksud mengambil minum, tapi malah membuat gelasnya jatuh, dan pecah. Lia segera tersentak dalam tidurnya, tak menemukan Raka di ruang tengah. Buru-buru dia menghampiri asal suara. "Arrrggghhh, sakit. Astaga, Nak. Baru juga tidur sebentar rumah udah kamu buat seperti kapal pecah!" ujar Lia tersadar saat melihat keadaan ruang tengah yang berantakan. Namun dia tak bisa memperhatikan itu lama-lama karena sekarang anaknya lebih membutuhkannya. Kembali pada tujuannya, meski dihadang kaki yang sakit karena salah menginjak salah satu mainan anaknya yang berserakan di lantai, Lia terus ke arah sumber suara yang berisik. "Berhenti!!" teriak Lia dengan keras. "Jangan sentuh itu!" omel Lia kaget dan khawatir di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak, sikecil setelah memecahkan gelas berniat memegang dan sepertinya mau memainkan pecahan gelasnya. "Hhhuuaaa, hiks-hikss ... Mama jahat, Mama jahat!!" balas Raka sambil kemudian menangis terisak kaget dengan teriakan ibunya. Mendengar itu Lia pun menghembuskan nafasnya kasar, kemudian meraih Raka dan menggendongnya sambil mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan. "Nggak-nggak, Mama nggak marah sayang. Mama cuma khawatir sama Raka Nak. Mama nggak mau Raka kenapa-napa!" seru Lia sambil terus melakukan kegiatannya itu. Sampailah kemudian Raka menguap dan jatuh tertidur dalam dekapannya. "Udah tidur ternyata." Lia membuang nafasnya lega, kemudian membawa putranya ke kamar. Melihat jam, Lia menyadari kalau saatnya Raka tidur dan sebentar lagi makan malam, namun biarlah anak itu tidur sekejap supaya Lia bisa membereskan kekacauan yang di buatnya. Ruang tengah beres kini giliran dapur. Lia segera berjongkok dan memunguti pecahan kaca. "Lia!" panggil seseorang dari belakangnya, membuat Lia reflek kaget dan tanpa sengaja melukai tangannya. Itu Davin dan dia sudah melihat apa yang terjadi juga sedang Lia lakukan. "Aku panggil-panggil dari tadi, ternyata kau masih di sini." Melihat ke arah tangan Lia yang berdarah, untuk sesaat Davin terfokus padanya sambil menyiratkan tatapan aneh yang sulit diartikan. "Kau sudah pulang?" tanya Lia sambil mengenyahkan rasa sakitnya dan terus melanjutkan pekerjaannya. Sementara Davin masih di sana, seolah tak perduli dia terus berdiam diri. "Kau tidak becus. Gelas saja bisa pecah. Dasar wanita tidak berguna. Apa yang kau bisa?!" Davin kejam malah menghujatnya. "Ch, tapi apa peduliku itu. Bereskan kekacauan itu, lalu siapkan air hangat. Aku ingin berendam sejenak!" lanjutnya dengan bossy seolah dia adalah majikan dan Lia adalah pembantunya. Tak mau berdebat, Lia pun mengangguk dan menghela nafas. Sementara Davin begitu selesai memberi perintah, dia segera ke ruang depan. Menemukan sepatu sikecil sudah ditempatnya. Davin berniat menceknya ke kamar. "Ternyata anak Papa sudah pulang!" ujarnya terlihat senang. Begitu menemukan Raka di kamar, lelahnya bekerja seharian menguap begitu saja. Menghampiri Raka kemudian membangunkannya. Ronde ke-dua. Davin mengajak Raka bermain dan kembali membuat rumah berantakan. Lia belum selesai di dapur, tapi sekarang sudah kacau lagi. Malah jauh lebih kacau dari sebelumnya. "Lain kali Papa akan membelikanmu bola, Son!" ujar Davin gemas sambil mengusap puncak kepala putranya. ***** Lia mengusap peluh akibat lelahnya, dia sama sekali belum bisa beristirahat sekalipun dapur sudah beres. Perutnya bahkan mulai terasa sakit karena dia tak makan siang itu, ditambah sekarang dia masih harus membereskan kekacauan yang dibuat Davin dan Raka. "Ch, ayah sama anaknya sama saja. Kenapa mereka semenyebalkan ini sih? Tidak tahu apa, membereskan semua ini melelahkan!" dumel Lia terbawa kesal. Namun walau begitu, wanita itu tak menuntut apapun. Melihat Raka bermain bahagia bersama Davin ayah kandung anaknya itu, hatinya menghangatkan dan rasanya kesusahan yang dia dapatkan tergantikan. Beralih kembali ke dapur, kini gilirannya memasak makan malam. Sekali lagi, Lia mengabaikan rasa lelahnya, luka di jarinya yang hanya dibungkus plaster luka dan juga perutnya yang keroncongan semakin terasa sakitnya. Namun semua itu Lia tahan, dan terus memaksakan dirinya. "Ayo sini, Raka, Pak Davin waktunya makan!" panggil Lia pada keduanya. Dua orang beda usia itu segera tiba. Mereka sampai di meja makan dan langsung menyantap hidangan yang ada. Sementara Lia karena sudah sangat gerah, malah pamit ke kamar dan bersih-bersih menyegarkan diri. Begitu wanita itu sudah fresh dan kembali ke meja makan, makanan di sana hanya sedikit. "Kamu masih tidak berubah, selalu saja porsi jumbo. Nggak ingat apa, aku juga belum makan," keluh Lia pada Davin. Raka yang dengar papanya diomeli, langsung menatap ibunya dengan tak terima. "Mama jangan marah sama Papa. Nanti Papa pergi dan Raka nggak punya Papa lagi. Raka mau sama Papa telus, pokoknya jangan marahin Papa!" ujar Raka protes. Membuat Lia menghela nafas lalu mengangguk dengan wajah sedih. 'Kalian baru bertemu, tapi ikatan antara kalian bahkan sudah membuatmu lebih sayang papamu dibandingkan Mama,' ujar Lia membatin sedih. Sementara itu Davin malah menyeringai dan tersenyum puas karena merasa mengalahkan Lia. Berjalan mendekati mantan istrinya, kemudian berbisik di telinganya. Hal itu dia lakukan supaya si kecil tidak mendengarkan ucapannya. "Apa yang ditanam itu yang dituai. Kau lihat hidupmu Lia, bahkan setelah berhasil berhianat. Inilah yang kau dapatkan dari perbuatan kejimu padaku, kau tak bisa hidup dengan tenang. Secinta-cintanya kau pada selingkuhanmu sampai hati kau bahkan membagi dirimu untuknya padahal saat itu kau masih milikku. Akan tetapi bagaimana sekarang, sangking tidak bisa melupakan aku, kau bahkan mengangkat anak angkat yang persis seperti diriku!" Masih belum selesai dengan ucapannya, Davin tak mungkin berhenti sebelum puas menghina ataupun merendahkan Lia habis-habisan. "Oh, tapi tenang, walaupun kau sudah senang karena aku menggunakan dirimu lagi, aku akan tetap menyenangkanmu lagi, memuaskanmu dengan keserakahanmu. Sehingga setia kali kita bersama aku akan membayarmu. Katakan saja, berapa harga dirimu?" tanya Davin merendahkan sambil kemudian mundur dan memberi jarak diantara mereka. Dia lihat, Lia sudah berkaca-kaca mendengarkan ucapannya, tapi hatinya bahkan tak merasa bersalah setelah melakukan itu. Tak mau Lia mendapatkan obatnya, Davin bahkan sampai hati mengajak Raka pergi dari sana. "Biarkan ibumu makan sekarang, ayo ikut Papa!" serunya sambil menggendong Raka kemudian. Dia tak mau anak kecil itu sampai melihat wajah ibunya yang menyiratkan luka, lalu banyak bertanya. Biarkan saja Lia menikmati lukanya. Bagi Davin itu pantas untuk penghianat. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN