Part 42

1593 Kata
"Lo pulang bareng Leo lagi?" tanya Alfi yang melihat Karel berjalan menuju parkiran bersama dan menuju mobil Leo dengan Allea juga, di ikuti Leo di samping Allea. "Iya," jawab Karel sambil memainkan ponsel nya. "Kemana emang mobil lo?" tanya Verell yang sudah mendekati motor nya. "Ada, lagi males bawa aja, jadi nebeng Leo." "Kenapa gak nebeng Verell aja?" tanya Alfi. "Males." "Leo, jenguk Vela dulu ya," pinta Allea pada Leo. "Nanti, pulang dulu," balas Leo. "Iya." Allea mengangguk. Leo membuka kan pintu mobil untuk Allea. "Makasih." Allea masuk ke dalam mobil. "Gua kok gak di bukain?" ledek Karel yang sepertinya sifat Verell sudah tertular ke mereka semua. Leo tidak memperdulikan ucapan Karel dan masuk ke dalam mobil nya. "Sukurin gak di dengerin," ejek Verell. "Leo kan emang suka gitu," sahut Alfi yang sudah menyalakan motor nya di dekat mobil Leo. Karel dengan perasaan sedikit kesal lalu masuk ke dalam mobil Leo. Mereka semua meninggalkan parkiran sekolah untuk menuju rumah mereka masing-masing. Mereka bertiga di dalam mobil Leo hanya terdiam tidak ada yang membuka pembicaraan, Leo yang fokus mengendarai mobil nya, Karel yang sibuk dengan ponsel nya, dan juga Allea yang tengah sibuk dengan pikiran nya sendiri. Allea selalu berpikir kalau semua kejadian mengancam itu adalah ulah nya. Semua karena teror yang mengganggu hidup nya saat ini. Allea menjadi merasa bersalah, walaupun sebenarnya bukan lah salah dirinya. Selama beberapa menit berlalu mereka hanya saling terdiam, sampai Leo memberhentikan mobilnya di depan rumah Allea. "Allea," panggil Leo untuk menyadarkan nya kalau sudah sampai di depan rumah nya. Allea kembali dari termenung nya dan berkata, "udah sampe? padahal tadi mau mampir dulu ke minimarket mau beli roti." "Di rumah udah abis? mau gua beliin?" tawar Leo. "Gak usah, makasih," ucap Allea mengalihkan pandangan Karel dari ponselnya dan menatap Allea yang sudah turun dari mobil Leo. "Oh udah sampe," ujar nya yang baru menyadari kalau mereka telah sampai di rumah Allea. Leo memerhatikan sekitar rumah Allea, sedikit berbeda. Kemana dua orang yang di perintahkan nya untuk menjaga sekitar rumah Allea, pikir Leo. "Kenapa?" tanya Karel yang menyadari kalau Leo sedang memerhatikan sekitar rumah Allea. "Ka... " Sebelum Leo mengeluarkan ucapan nya jeritan histeris Allea di dalam rumah nya membuat mereka berdua tersentak. "Allea," ucap mereka berdua langsung keluar dari mobil dengan cepat menghampiri Allea yang di dalam rumah nya. "Allea." Leo menghampiri Allea yang tengah menangis. "Ken... " Karel menutup mulut nya terkejut melihat pemandangan di depan nya. Tubuh bi Inah, pembantu yang selalu menemani keseharian Allea di rumah ini, yang selalu menemani kesendirian dan kesepian di rumah ini. Sekarang tubuh nya tergeletak tak berdaya dengan genangan darah yang bercipratan dimana-mana. Leher yang tersayat dan beberapa luka tusuk di tubuh nya, dan tangan kanan nya yang terpisah dari tubuh nya dan dengan sepotong roti tawar di samping bi Inah dan sebagian roti terkena darah. Allea masih menangis histeris, tidak percaya dengan apa yang di lihat nya ini. Tubuh Allea sampai bergetar ketakutan. Ia tidak pernah membayangkan akan terjadi hal semengerikan ini di sini dan terjadi pada bi Inah. "Bi ... "Allea sampai tidak bisa membuka mulutnya sendiri. Ini semua terlalu di luar pikiran nya. Ini semua sudah sangat melewati batasan. Leo memeluk Allea mencoba untuk menenangkan nya. Karel menoleh pada Leo mencoba bertanya pada nya melalui tatapan nya. Leo yang sama terkejut nya hanya terdiam memeluk Allea yang masih menangis. "Telfon polisi? ambulance? atau tim?" bisik Karel pada Leo. "Tim," jawab Leo. Karena Leo takut kalau ada salah satu dari kepolisian itu yang juga berkerja sama dalam hal ini. Karena tidak menutup kemungkinan kalau pihak kepolisian juga ikut terlibat. Karel mengangguk mengerti dan menghubungi tim mereka untuk mengecek terlebih dahulu. Baru setelah itu tim yang akan memutuskan untuk kapan memanggil kepolisian dan ambulance. Mereka tidak mau pihak kepolisian akan merusak dan menyembunyikan barang bukti yang ada di sini, itu akan sangat menyulitkan. Leo membawa Allea untuk pergi dari dalam rumah nya. Leo tidak mau membuat Allea semakin bersalah karena hal ini. Leo membawa Allea menuju mobil nya. Allea hanya menangis dan menangis. Allea sangat lemas dan tidak bisa berpikir apapun lagi. "Ssttt tenang tenang." Leo mengusap kepala Allea mencoba untuk menenangkan nya, walaupun Leo tau tidak mudah untuk menenangkan nya dalam situasi seperti ini. Ini terlalu kejam untuk seorang gadis remaja. Teror ini sudah keterlaluan. Setelah Karel menelpon tim mereka, Karel memerhatikan sekeliling. "Ada cctv," ucapnya melihat beberapa cctv terpasang di sudut rumah Allea. Karel tersentak ketika melihat tulisan dengan darah yang tertulis di kaca. Tulisan yang sama dengan surat di tempat kejadian penusukan Vela. 10.15.10/20.6.14.22.2/21.6.19.11.2.5.10/12.2.19.6.15.2/2.13 "Angka lagi?" Karel menatap bingung tulisan dengan darah itu. "Apa ini?" Gumam nya sambil mengeluarkan ponselnya lagi untuk memotret tulisan yang ada di kaca itu. Tidak lupa Karel juga memotret mayat Bi Inah dan keadaan sekitar tanpa menyentuh atau merubah posisi barang-barang yang ada di sana. Karel sudah di ajarin tentang hal ini. Setelah Karel memotret semua yang sekiranya dibutuhkan Karel berjalan ke mobil Leo. "Leo," panggil nya sambil melihat Leo yang masih memeluk Allea yang tengah menangis. Leo menatap Karel seolah bertanya 'ada apa?' "Gak mau cek ke dalem?" Karel ingin memberitahu tulisan yang berada di kaca itu, tanpa memberitahu Allea. "Nanti." "Hikss.... Leo." Allea menatap Leo dengan mata yang berlinangan air mata. "Iya?" Leo membalas dengan suara yang lembut sambil mengusap pipi Allea yang basah karena air matanya. "Bi Inahh... Hikss..." Lagi-lagi air mata Allea terjun bebas, berseluncuran di pipi mulus Allea. Leo kembali memeluk Allea. Leo tidak tau bagaimana cara menenangkan Allea saat ini selain memeluknya dengan erat. Beberapa mobil datang dan masuk ke dalam rumah Allea. Beberapa diantaranya menyapa Leo dan Karel. Iya, mereka itu satu tim yang telah di telfon Karel sebelum nya. Allea hanya diam saja, tidak tau apa-apa dan melihat yang lain nya masuk ke dalam rumah nya yang saat ini sepertinya akan membuat Allea trauma untuk masuk ke dalam rumah nya sendiri. Rumah nya yang selalu ia anggap sebagai istananya sekarang menjadi hal yang paling ditakuti Allea. Ia takut kalau masuk ke dalam rumah nya dan melihat mayat orang yang di sayangi nya lagi. Ia takut semua ini akan kembali terulang. Sangat menakutkan. Mengerikan. "Nih minum dulu," tawar Karel yang memberikan sebotol air mineral pada Allea yang sudah tidak menangis histeris seperti tadi, walaupun masih menangis. Allea yang masih bersandar pada d**a Leo mengangguk pelan sambil menerima botol air mineral itu. Allea menegakkan tubuh nya sambil mencoba untuk menghentikan tangisan nya dan menenggak air mineral itu. Leo mengusap air mata Allea, "disini dulu ya sama Karel." Allea menoleh pada Leo,"mau kemana?" tidak, Allea tidak mau ditinggal dulu. "Ke dalem sebentar buat liat, sama Karel dulu." Allea menghela napas lega, ternyata Leo tidak meninggalkan nya sendirian disini dengan keadaan seperti ini. Allea mengangguk." iya." Walaupun sebenarnya Allea masih membutuhkan Leo di samping nya, tapi seperti nya membiarkan sebentar memeriksa keadaan rumah nya nanti akan membantu. Leo pergi masuk ke dalam rumah Allea yang di dalam ya sudah ada beberapa agent dari tim nya yang sebelumnya telah di telfon oleh Karel. "Kita bakal selalu temenin lo kok." Karel duduk di samping Allea yang masih sesenggukan. "Makasih." "Mau jenguk Vela nanti?" tanya Karel membuka pembicaraan agar Allea tidak terlalu terlarut dalam kesedihan nya. "Besok aja." "Yaudah." Karel menyandarkan tubuhnya pada bangku mobil di samping Allea dengan pintu yang terbuka. Leo masuk ke dalam rumah Allea sambil melihat disekelilingnya. Beberapa agent mengambil poto, memeriksa mayat, mencari barang bukti. Leo menghela napas ketika melihat tubuh bi Inah yang terkapar tidak berdaya dengan genangan darah. Leo merasa gagal menjadi seorang agent. Bahkan karena kecerobohan nya, teman nya nya —Vela terluka dan sekarang masih terbaring di rumah sakit, dan sekarang bi Inah. Seperti nya Leo terlalu pokus hanya pada Allea saja sampai yang lain nya di abaikan dan jadi mengalami kejadian seperti ini. Ke depan nya Leo akan menjaga teman-teman nya juga nanti, ia tidak mau kejadian Vela atau Bi Inah kembali terulang lagi pada teman atau keluarga nya. Tapi sepertinya keluarga Leo bisa menjaga diri mereka sendiri. Penjagaan rumah Leo jangan di ragukan lagi. "Leo," panggil teman satu tim nya. Leo menoleh pada yang memanggil nya. "Liat itu." tunjuk nya pada kaca yang terdapat tulisan angka yang sama dengan surat yang ada pada kejadian Vela. "Angka," gumam Leo. Leo tidak tau apa tujuan nya orang itu sampai melakukan hal sebesar ini, pasti bukan masalah sepele kan? Leo harus segera mencari tau apa yang telah di perbuat orang tua Allea. Mungkin dengan tau nya apa telah di perbuat orang tua Allea dan meluruskan nya permasalahannya bisa selesai tanpa pertumpahan darah. Itu akan jauh lebih baik kan. "Ada bukti?" tanya Leo pada salah satu agent yang tengah memeriksa tubuh Bi Inah.  "Nanti di cek sidik jari nya." "Polisi kapan dateng?" tanya yang lain nya. "Sepuluh menit lagi." "Hati-hati," ucap salah satu yang tengah memeriksa keadaan sekitar mayat Bi Inah. "Iya, kita harus selalu hati-hati." Leo memeriksa ponsel nya untuk memeriksa cctv rumah Allea yang sudah terhubung pada ponsel nya. Tidak ada maksud lain, selain untuk menjaga Allea. Leo mengerut kan dahi nya. "Kenapa?" tanya salah satu agent yang melihat Leo memeriksa ponselnya. "Cctv nya di rusak." Leo melihat kearah cctv yang berada di sudut ruangan. "Terakhir nampilin apa?" salah satu agent menghampiri Leo. "Gak bisa di buka." "Ternyata dia bukan cuma ngerusak cctv gitu aja, tapi sampe gak bisa di akses. Kaya nya kita gak bisa remehin misi kali ini." "Iya bener, mereka udah bener-bener keterlaluan banget." "Gua kira tuh gak sampe segini nya loh, cuma jagain anak SMA doang kan udah ya." "Emang gak boleh meremehkan suatu hal." Leo menoleh pada satu titik dan tersenyum kecil sambil menghampiri nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN