Leo melangkahkan kaki nya untuk membuka kan pintu. Karel mengikuti Leo karena ia takut kalau ada sesuatu yang buruk terjadi. Selalu ingat kalau Karel sekarang merangkap menjadi sekretaris nya Leo, ya walaupun dirinya sama sekali tidak seperti sekretaris pada umum nya yang lebih sering menulis dan mencatat semua kegiatan yang akan di lakukan oleh bos nya, Karel lebih seperti pembantu nya. Karel tidak masalah dengan statusnya sekarang karena kan memang dia masih baru dan harus mempelajari banyak hal terlebih dahulu, walaupun seperti nya berkerja sama bersama Leo itu akan menyebalkan.
Leo membuka pintu dan terdapat seorang pengantar pizza yang memegang dua box pizza di tangan nya.
"Lo mesan pizza?" Tanya Karel pada Leo.
"Dasar anak baru,"ucap nya pada Karel yang memandang nya dengan bingung. Karel tidak pernah berkenalan dengan pengantar pizza, atau berteman dengan pengantar pizza.
"Kenalin gua Sean, teman satu tim lo juga."
"Tim apa?"
Sean menghela napas dan melirik kearah Leo.
"Dia lagi nyamar," ucap Leo yang langsung di angguki oleh Karel.
"Oh agent juga." Karel sekarang mengerti kalau ternyata bukan hanya mereka berdua dan pak Johan saya yang berkerja langsung turun ke lapangan, ternyata yang lain juga ikut membantu nya.
"Mana?" tanya nya pada Leo.
Leo memberikan kertas itu pada Sean dengan memberikan dua box pizza juga pada Leo.
"Mau di bawa kemana?" tanya Karel yang melihat pertukaran antara kertas dan pizza itu.
"Kantor, buat di selidiki. Udah sana kalian pokus jagain tuh cewek, urusan penyamaran biar jadi tim pengintaian aja," ucap Sean sambil memasukkan kertas itu ke dalam saku nya, seolah-olah memang Leo membeli pizza itu dan membayar nya. Walaupun nyatanya tidak, Leo hanya memberikan nya kertas berisikan pesan tulisan yang tidak jelas kepada Sean.
"Iya," jawab Karel.
"Yaudah, gua mau ke kantor." Sean pergi meninggalkan apartment Leo.
Leo masuk ke dalam membawa dua box pizza di tangan nya.
"Ini beneran pizza?" tanya Karel sambil duduk memerhatikan Leo yang mulai membuka box pizza itu.
Leo mengangguk sambil membuka nya memerhatikan pizza dengan toping keju yang mendominasi di atasnya.
"Oh beneran pizza." Karel awal nya mengira kalau isi di dalam box pizza itu adalah senjata atau pun alat lain nya untuk membantu menjalankan misi nya ini seperti di film yang biasa di tonton nya itu. Ternyata memang benar isi nya adalah pizza, sepertinya Karel memang terlalu sering menonton film seperti itu hingga selalu mengira pekerjaan nya ini akan sama persis seperti di film. Baiklah Karel, kau mulai sekarang harus mengurangi pemikiran seperti itu pada otak mu.
"Lo suka keju juga?" tanya Karel yang mendekat untuk mengambil satu potong pizza. Karel itu pencinta keju. Apapun yang ada keju nya itu akan terasa sangat enak. Mungkin Karel juga akan memakan komputer kalau komputer itu di beri topping keju di atas nya.
"Biasa aja." Leo membuka kotak pizza lain nya yang tidak banyak keju seperti box yang pertama.
Katakan saja kalau Leo memata-matai Karel karena faktanya memang benar, Leo mencari tau tentang Karel lebih banyak dari yang kalian kira. Tapi tidak lebih banyak dari Allea, Leo selalu menomor satu kan Allea.
"Jadi gimana?" Tanya Karel sambil mengunyah pizza di mulutnya.
"Tunggu."
"Ok sekarang kita cuma tunggu aja kan?"
Leo mengangguk kan kepala nya. Karel kembali melanjutkan menggigit pizza yang berada di tangan kanan nya.
***
"Apa gua harus nyelidikin mereka?" Tanya Karel melihat salah satu dari tiga orang yang di curigai nya.
Leo menggeleng. Itu tidak perlu, itu bukan tugas mereka untuk menyelidiki. Tugas mereka hanya menjaga Allea dan kalau ada yang mencurigakan mereka hanya perlu untuk melaporkan pada tim penyelidikan saja.
Mereka berdua berangkat ke sekolah bersama, tanpa Allea. Karena Allea berangkat bersama Verell tadi sekalian menjenguk Vela terlebih dahulu di rumah sakit, jadi Leo dan Karel tidak perlu menjemput Allea.
Beberapa orang melihat ke arah Karel dan juga Leo yang keluar dari mobil Leo berdua. Mereka membicarakan kemana perginya mobil Karel? kenapa mereka menjadi sangat dekat seperti ini? Kemana Allea yang selalu keluar masuk ke dalam mobil Leo? Kenapa Allea tergantikan dengan Karel? Apa Leo dan Allea tengah bertengkar? Atau Leo dan Karel... Ups tunggu, itu pemikiran yang sangat tidak bagus!
"Allea mana?" Tanya Leo pada Verell yang sedang duduk di kantin bersama Alfi.
"Di kelasnya kayanya, gua ajak gabung gak mau dia," balas Verell sambil membuka kulit kuaci.
Verell menepis tangan Karel yang mengambil kuaci yang telah ia buka dan di kumpulkan di atas meja. "Pelit," ucap Karel.
"Buka sendiri lah."
"Males." Karel duduk di hadapan Verell dan Alfi.
Leo berjalan meninggalkan mereka. "Eh mau kemana?" tanya Karel yang langsung berdiri menyusul Leo yang sudah berjalan beberapa langkah di depan nya.
"Lah bocah sih nempelin Leo mulu," komentar Verell yang melihat sekarang Karel jadi lebih sering bersama dengan Leo kemana pun, padahal sebelum nya Karel tidak begitu peduli dengan Leo.
"Tau ya, biasakan kan lo yang nempel Leo mulu," sahut Alfi sambil mengambil kuaci yang telah di buka oleh Verell dan memasukkan nya ke dalam mulut nya.
"Enak aja, enggak ya."
Karel masih mengikuti Leo yang berjalan menuju kelas Allea yang juga kelas Karel. Leo tidak menghiraukan Karel yang terus mengikuti nya. Tujuan Leo hanya satu, menghampiri Allea memastikan kalau dirinya baik-baik saja.
"Allea," panggil nya sambil menghampiri Allea yang terlihat sedang bersandar pada tembok di samping nya.
"Allea," panggil nya lagi dan duduk si samping bangku nya yang kosong karena Vela yang masih di rumah sakit.
Allea menoleh ke arah Leo sedikit terkejut, karena sedari tadi Allea melamun dan tidak menyadari kalau Leo sudah duduk di samping nya, di susul oleh Karel yang sekarang duduk di depan meja Allea.
"Kenapa?" tanya Karel pada Allea yang terlihat tidak begitu bersemangat seperti biasanya.
"Gak apa-apa."
"Makan." Leo memberikan roti dan juga sekotak s**u pada Allea.
"Gua gak laper."
"Harus sarapan," paksa Leo pada Allea. Karel hanya diam saja memerhatikan interaksi mereka berdua.
"Gua ga... " Leo membuka roti yang berisi keju, roti kesukaan Allea tentu nya. Dan menyuapkan nya pada Allea.
"Makan."
Allea terdiam sesaat sebelum membuka mulut nya menerima suapan roti dari Leo.
"Ow ow romantis nya." Kalau berpikir itu adalah Karel, oh tentu saja salah. Karel tidak seperti Verell yang suka sekali mengusili yang lain nya. Ya sudah di pastikan itu suara Verell.
"Ngapain lo kesini?" tanya Karel melihat Alfi dan Verell yang masuk ke dalam kelas nya bersamaan, kalau Alfi tentu saja tidak masalah masuk ke kelas ini karena ini juga kelas nya. Verell? dia saja berbeda kelas, untuk apa dia datang ke sini kalau bukan untuk menjahili yang lain nya.
"Ya Leo aja gak apa-apa tuh dateng kesini mesra-mesraan sama Allea lo gak komen, giliran gua nginjekin kaki ke kelas lo doang aja heboh," balas Verell sambil duduk di atas meja di dekat mereka.
"Ya lo kan biasanya masuk ke kelas orang buat rusuh doang."
"Iya sih bener tapi kata lo," sahut Alfi menyetujui ucapan Karel.
"Dih lo mah ikut-ikutan aja." Verell memukul bahu Alfi.
"Penyiksaan terhadap teman." Alfi mengusap bahu nya.
"Lebay."
Leo membuka s**u kotak nya dan menyerahkan nya pada Allea, "minum."
"Makasih." Allea meminum s**u kotak rasa vanila itu. Semuanya adalah makanan dan minuman kesukaan Allea, bagaimana bisa menolak. Leo selalu tau bagaimana cara mengatasi Allea.
"Eh Leo kirain lagi marahan sama Allea atau udah putus, soalnya tadi gak berangkat bareng," ucap salah satu teman sekelas Allea sambil tertawa. Siapa yang tidak tau tentang kedekatan Allea dan juga Leo? Mereka berangkat dan pulang selalu bersama, tidak salah kalau ada yang berpikir seperti itu.
"Wah anjir lo udah jadian?" tanya Verell menatap Allea dan juga Leo penuh harap. Kan kalau mereka jadian mereka pasti akan mendapatkan traktiran.
"Kalian pacaran?" tanya Alfi bingung karena dirinya tidak mendapatkan informasi apapun.
"Bener Leo?" tanya Karel.
Allea dan Leo hanya menggeleng saja untuk menjawab pertanyaan mereka semua tidak ada benarnya sama sekali, mereka tidak memiliki hubungan apapun, untuk saat ini. Leo hanya di tugaskan untuk melindungi Allea, dan sekarang Leo hanya sedang menjalankan tugas nya untuk menjaga Allea. Mereka memang tidak memiliki hubungan apa-apa saat ini, dan entah lah untuk ke depan nya bagaimana. Bahkan saat ini pun mereka tidak tau akan perasaan mereka masing-masing. Allea yang seperti merasa sangat bergantung keselamatan pada Leo, Leo yang terus merasa sangat ingin melindungi Allea terlepas itu dari tugas nya, tapi Leo selalu menganggap itu adalah tugas nya.
"Woy nyebar gosip aja lo," protes Verell pada orang yang tadi menanyakan hubungan antara Allea dan Leo.
"Ya lagian kan mereka kemana-mana berdua mulu, semua orang juga pasti mikirnya gitu," balasnya sambil tertawa.
"Eh iya juga ya bener," ucap Verell.
"Lo jadian kali berdua." Verell menatap Leo dan Allea yang sudah tidak memperdulikan nya.
"Di bilang enggak juga." Karel menoyor kepala Verell.
"Aduh, biasa aja dong." Verell mengusap kepala nya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali.
Leo mengusap kepala Allea yang sudah menghabiskan roti dan s**u yang diberikan nya tadi. Allea meletakkan kepala nya di lipatan tangan di atas meja.
"Kalo gak enak badan gak usah sekolah."
Karel, Verell dan Alfi menopangkan dagu mereka pada tangan yang di letakkan di atas meja sambil melihat kearah Allea dan juga Leo. "Ini kaya adegan film nih," komentar Verell.
"Iya bener."
"Ternyata Leo bisa perhatian juga ya."
Bel sekolah bunyi menandakan adegan Allea dan Leo terhenti disini dulu, tunggu ke episode selanjutnya untuk tau bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua.
"Yah bersambung dulu," ucap Verell dan juga Alfi bersamaan.