Part 55

1555 Kata
Leo menitipkan Allea dan juga Vela di ruangan pak Johan karena dirinya ingin mencari siapa yang telah membuat ini semua. Awal nya Vela menanyakan banyak pertanyaan mengapa mereka di sini tapi dengan alibi yang tidak perlu di ragukan dari seorang agent, Allea dan Vela pun berada di ruangan pak Johan. "Jadi ada apa nih pak?" tanya Vela terlebih dahulu menanyakan untuk apa dirinya dan juga Allea di ruangan nya saat ini. Allea hanya terdiam saja, ia masih berpikir tentang yang terjadi saat ini apa kah karena dirinya lagi? Atau karena hal lain? Kemungkinan besar pasti karena dirinya lagi. Lagi dan lagi. Sebelum pak Johan menjawab nya Vela kembali menanyakan sebuah pertanyaan, "kok bapak gak ikut ngeliat apa yang terjadi di luar?" Vela banyak bicara sekarang, memang seperti itu mereka berdua, kalau Allea terdiam maka Vela yang akan banyak bicara seperti ini, dan begitu sebalik nya. "Kan yang lain udah meriksa," jawab nya dengan santai, walaupun sebenarnya tanpa melihat nya saja pak Johan juga akan tau nanti dengan menerima informasi dari Leo. Ponsel nya berbunyi dan melihat pesan yang terkirimkan dari grup agent nya. Oh sepertinya sekarang informasi ada yang lebih cepat dari Leo. Johan membuka pesan itu yang di kirimkan oleh Karel dan menampilkan keadaan perpustakaan yang sudah sangat berantakan. Lihat bahkan Leo belum mengirimkan informasi saja ia sudah tau sekarang karena ada Karel, si anak baru yang lumayan sangat membantu pekerjaan mereka. "Jadi pak?" "Allea jangan kemana-mana dulu, di sini aja," ucap Johan pada Allea yang hanya mengangguk lemas. Ia masih sangat terpikirkan tentang apa yang terjadi di luar dan apa yang akan dilakukan Leo. Vela hanya menoleh pada Allea yang sedari tadi terdiam. "Kenapa sih?" tanya Vela pada Allea. *** Leo berjalan menyusuri setiap lorong di sekolahan ini, tidak banyak murid yang berpapasan dengan nya karena pasti mereka lebih tertarik untuk melihat dengan apa yang terjadi di perpustakaan. Tapi tidak dengan Leo, di tempat kejadian sudah ada Karel, jadi dia akan menyusuri tempat lain untuk mencari orang yang mencurigakan itu. Leo penasaran siswa mana lagi yang di manipulasi oleh mereka untuk melakukan hal ini, atau ternyata justru ada dari mereka yang menjadi murid di sekolah ini. Leo masih belum menemukan titik terang dari kasus yang satu ini. Ternyata yang Leo anggap mudah tidak semudah yang dipikiran nya. Leo membuka ponsel nya untuk melihat pesan yang di kirimkan dari Karel. Leo hanya membaca dan melihat poto bagaimana keadaan perpustakaan itu sekarang tanpa membalas nya. Leo melangkah kan kaki nya menuju belakang sekolah untuk memeriksa apa ada orang di sana, karena di saat seperti ini sangat aneh kalau ada siswa yang berada di sana tanpa tujuan. "Iya saya udah ngelakuin sesuai arahan, sekarang udah berhasil." Leo menghentikan langkah nya dan bersembunyi di balik dinding. Leo berjongkok dan menyalakan ponsel nya, membuka kamera nya dan mengarahkan kamera belakang nya di balik dinding itu di dekat kaki nya. Ia tidak mau mengintip dengan mata kepala nya sendiri, karena ia tidak tau posisi mereka yang sedang berbicara itu seperti apa, bisa saja kan langsung menghadap ke arah nya dan ia akan ketahuan, itu terlalu gegabah, jadi Leo menggunakan kamera ponsel nya dari bawah, karena alasan nya kalau orang di balik tembok itu menoleh dan langsung melihat ada sudut ponsel yang menyembul dari balik tembok ia akan ketahuan juga kan, jadi Leo memilih untuk mengarahkan ponsel nya dari bawah, tidak akan ada yang langsung melihat ke bawah ketika menoleh. Leo melihat kearah ponsel nya yang hanya menunjuk kan seorang anak laki-laki menggunakan pakaian sama seperti nya, itu menandakan kalau itu berarti siswa di sekolah ini. Leo tidak bisa melihat wajah nya karena tertutup oleh masker hitam dan juga topi yang menutupi mata nya dengan lambang bunga mawar di sudut topi nya, sama seperti yang tadi pagi di lihat nya. Leo juga melihat sepatu yang di pakai siswa itu, sepatu dengan dominan berwarna biru tua dan juga hitam sedikit. Leo mengangguk kan kepala, karena akan mudah mengenali nya karena sepatu nya yang berwarna biru seperti itu. "Iya terima kasih." Orang itu menutup ponsel nya. Leo segera bangkit dan pergi dari tempat itu untuk kembali bersembunyi. "Semoga gak ada yang liat." Orang itu lewat dengan tergesa-gesa. Leo mengerutkan dahi nya seperti mengenali suara nya, namun Leo tidak mau menuduh nya. Leo keluar dari tempat persembunyian nya dan menyimpan vidio tadi karena Leo tidak hanya untuk melihat nya tapi merekam nya untuk di beritahu pada Karel agar bisa membantu mencari nya juga. Suara bel berbunyi dan ada suara dari guru yang menyuruh mereka semua untuk pulang lebih awal karena ada pemeriksaan dari polisi. Leo segera kembali menuju ruangan guru bahasa inggris nya untuk menjemput Allea. Leo tengah berjalan dan melihat Karel yang berlari menuju ruangan pak Johan juga. Leo tetap saja berjalan santai tidak seperti Karel. Karel masuk ke dalam ruangan itu membuat orang yang berada di ruangan menoleh pada Karel bingung. "Kenapa?" tanya Johan. "Loh Leo nya kemana?" tanya Karel yang tidak melihat Leo di dalam ruangan guru nya itu. "Hmm." Leo berdehem dan mendorong Karel agar memberinya jalan untuk masuk ke dalam ruangan. "Abis dari man-" "Ayo pulang," ajak nya pada Allea. Allea mengangguk dan berpamitan pada guru nya itu, "saya pulang dulu pak, makasih udah biarin saya di sini tadi." "Iya sama-sama, hati-hati di jalan," balas nya sambil mengangguk dengan memberikan senyuman menenangkan, karena Johan tau Allea tengah ketakutan karena kejadian barusan. "Saya juga pamit pulang pak," ujar Vela. "Iya hati-hati di jalan." Leo hanya menganggukkan kepala saja dan berjalan menggandeng Allea keluar. "Udah kaya mau nyebrang aja ya," sindir Vela. Karel tertawa karena ucapan Vela itu. Mereka berjalan menuju parkiran, menunggu Alfi dan juga Verell yang tadi sudah di suruh Karel untuk membawakan tas mereka. "Lama banget mereka," ucap Vela yang berdiri di samping Allea yang hanya diam saja sejak tadi, dan tentu saja tidak melepaskan tangan nya dari tangan Leo yang juga menggenggam nya dengan erat. Karel melirik kearah Leo dan mengkode kan nya tapi di abaikan oleh Leo membuat Karel menghela napas. Alfi dan Verell sedikit berlari ke arah mereka sambil membawakan tas mereka dengan mengoceh, yang tentu saja di lakukan oleh Verell. "Nih, berat banget lagi tas lo Leo." Verell sedikit melemparkan nya kepala Leo yang dengan sigap di tangkap oleh Leo. Leo melirik kearah sepatu yang di pakai Alfi yang berwarna biru tua. Lalu Leo melihat kearah Alfi yang tengah mengobrol bersama dengan Vela. "Anterin Vela," ucap Leo singkat sebelum membukakan pintu mobil untuk Allea. "Kita gak ba-" Karel segera menutup mulut nya ketika Leo menatap nya tajam menyuruh nya untuk berhenti bicara sambil menutup pintu mobil. "Ok." Leo berjalan menuju sebelah kanan mobil nya dan masuk ke dalam nya. "Vela ayo gua anter pulang," ajak Karel. "Tumben baik, padahal tadi mau ngajak Alfi bareng," balas Vela yang langsung masuk ke dalam mobil nya. Karel melihat kearah mobil Leo yang sudah meninggalkan parkiran. "Ayo buru balik," ucap Vela sambil membuka kaca mobil melihat ke arah Karel yang melihat kearah mobil Leo. "Iya." Karel masuk ke dalam mobil nya. "Gua duluan," ucap nya pada ke dua teman nya yang tengah mendebatkan suatu hal. "Iya," balas Verell bersamaan dengan Alfi membalas Karel. "Traktir gua lo besok," lanjut Verell sambil melihat ke arah Alfi lagi. "Gak mau ya, lo curang," tolak Alfi yang tidak terima kalau dirinya harus mentraktir Verell lagi, padahal Verell tidak adil. Itu akan merugikan dirinya. "Ya kan tapi gua yang menang." "Tapi lo curang." "Perjanjian nya kan kalo kalah harus traktir yang menang," ucap Verell yang masih ingin mempertahan kan agar dirinya besok bisa bebas makan di kantin tanpa mengeluarkan uang. "Tapi kan gak boleh curang," ujar Alfi yang tidak mau dibodohi Verell untuk sekian kali nya. "Tapi kan gak ada perjanjian gitu di awal." "Lah tapi kan setiap permainan emang gak boleh curang." "Gak mau tau, gua menang, lo harus traktir gua." "Gak! Lo curang. Baru itungan ke dua lo udah lari. Curang." Mereka berdua kini menjadi pusat perhatian yang lain nya karena terus berdebat membuat mereka yang sejenis dengan Verell memiliki ide yang sangat cemerlang, yaitu membuat taruhan, seperti biasa. Di sekolah ini memang sudah tradisi atau bagaimana, setiap ada yang berdebat atau bertengkar pasti yang lain nya melihat dan menjadikan nya taruhan. "Woy ayo taruhan," pekik yang lain nya tidak membuat perdebatan Alfi dan juga Verell luntur. "Gua pegang Verell lah." "Ok gua pegang Alfi." "Gua Verell." "Alfi Gua." Dan begitu seterusnya membuat Alfi dan juga Verell justru semakin memanas tanpa mereka tau apa yang didebatkan oleh mereka berdua. "Kan malah kita yang jadi taruhan nya," ucap Verell melihat sekeliling nya. "Ya gara-gara lo lah," tuduh Alfi yang memang benar ada nya. "Ya kan gua udah menang." "Mereka ngeributin apa sih?" tanya salah satu yang mengikuti taruhan antara Verell vs Alfi. "Gak tau, yang penting pegangan gua menang." "Iya juga sih. Ayo Alfi lo pasti menang." Apa yang di ributkan oleh Verell dan Alfi sebenarnya adalah ketikan mereka mengambilkan tas untuk teman nya, mereka bersepakat untuk berlomba lari siapa yang lebih dulu sampai dan memberikan tas pada teman nya akan di traktir oleh yang kalau. Mereka setuju, tapi lagi dan lagi Verell tepat lah Verell, ia curang. Yang di pikirannya hanyalah menang, di traktir dan makan yang banyak tanpa mengeluarkan uang. Tapi Alfi yang tidak mau lagi dibodohi lagi oleh Verell tidak menerima kalau harus dirinya mentraktir nya besok. Begitu lah yang terjadi pada mereka, dan entah kapan akan berakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN