Part 54

1595 Kata
"Woy buru sini," panggil Verell pada Karel yang terlihat berjalan ke arah kantin seorang diri. Leo masih menunggu balas dari guru bahasa inggris nya itu. "Tumben Leo mau di ajak," ucap Karel yang sudah duduk. "Udah jadi manusia sesungguh nya dia," balas Verell sambil tertawa. Karel menatap Leo yang masih fokus dengan ponsel nya menimbulkan kecurigaan. Tentu saja Karel curiga, mereka kan bukan siswa biasa mereka itu agent kalau sampai ada perilaku yang tidak seperti biasanya pasti bukan karena Virus Verell atau karena tanpa alasan kan. Karel akan menanyakan itu nanti. "Yang lain gak lo ajak?" tanya Verell sambil mengunyah makanan yang telah di pesan nya tadi. "Alfi lagi nganterin buku ke ruang guru, nanti dia juga nyusul." "Allea?" Tanya Leo tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel nya. "Lo mah yang di tanya Allea mulu," sindir Verell. "Dia males katanya, nanti aja sama Vela ke kantin pas istirahat," jawab Karel sambil berjalan untuk memesan makanan untuk nya. Leo hanya mengangguk sambil membaca pesan yang telah di kirim dari guru nya itu yang mengatakan kalau seluruh cctv di sekolah ini mati entah karena rusak atau karena hal lain. Leo menghela napas dan menyimpan ponsel nya di saku nya dan menatap Karel yang memanggil nya. "Lo mau pesen makan apa?" tanya Karel yang berdiri di tempat makanan yang ingin di pesan nya. "Soda sama roti aja," balas Leo. Karel mengangguk dan membelikan pesanan Leo itu. "Si Karel mau aja dah lo babu in kok sama gua gak mau ya," ucap Verell seraya mengunyah makanan nya. Leo hanya mengangkat bahu nya tidak tau. Lagipula untuk apa bertanya pada nya, tanyakan saja pada Karel. Memang nya dirinya mengetahui apa jawaban Karel. Dirinya seorang agen rahasia bukan dukun atau paranormal. Karel datang membawa pesanan nya dan juga Leo, bersamaan dengan itu Alfi juga berjalan memasuki kantin. Alfi langsung memesan makanan sebelum dirinya duduk. "Nih." Karel memberikan roti dan juga minuman bersoda itu pada Leo. Leo hanya mengangguk dan meminum minuman nya dengan santai. Karel memakan makanan nya sambil memikirkan apa yang tengah di lakukan Leo sekarang? Apa misi yang Karel belum ketahui? Atau Leo menemukan sesuatu? Kenapa Leo tidak memberitahu nya. Karel berdengus kesal menyadari memang Leo seperti itu, tidak pernah memberitahu nya. Harus dirinya sendiri yang mengetahui nya. Entah memang seperti itu lah menjadi seorang agent atau Leo saja yang menyebalkan karena malas berbicara. Alfi duduk di samping Verell dengan meletakkan makanan nya di depan nya. "Nanti balik sekolah main lah, bosen gua," celetuk Verell yang diangguki oleh Alfi yang tengah mengunyah makanan nya. "Gimana?" tanya Verell pada Karel dan juga Leo. "Ngikut aja gua mah," balas Karel lalu melirik kearah Leo. "Gak bisa," ucap Leo singkat. Karel mengkode Leo untuk menanyakan kenapa dirinya tidak mau ikut. Leo tidak menanggapi nya dan kembali pokus dengan ponsel nya. Karel menghela napas. "Sebentar lagi istirahat padahal nih," sahut Alfi melihat jam yang berada di pergelangan tangan kirinya. Karel tersentak ketika ponsel nya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Karel dengan segera mengambil dan membuka nya, yang ternyata pesan dari Leo yang mengatakan ada seseorang yang di curigai nya di sekolah ini. Karel melirik kearah Leo dan bertanya dengan berbisik, "siapa?" Leo hanya melirik nya tanpa menjawab sepatah kata pun. Karel yang menyadari lirikan itu langsung terdiam dan kembali memakan makanan nya hingga habis. Mereka mengobrol dan bercanda hingga tertawa terbahak-bahak, tapi tidak dengan Leo. Ia masih terpikirkan siapa siswa yang mencurigakan itu, apa akan ada kejadian lagi? Apa Allea sekarang aman? Benar, Leo tidak boleh sampai hilang pengawasannya pada Allea. Sebelum Leo bangkit dari duduk nya bel istirahat berbunyi. Leo terdiam sesaat, apa ia harus menjemput Allea di kelas nya atau menunggunya hingga datang. "Mau kemana?" tanya Karel pada Leo. Leo melihat Allea dan Vela yang berjalan memasuki kantin. Leo kembali duduk. "Oh tadi nya mau jemput Allea?" Karel mengejek Leo yang hanya diam saja. "Woy Allea sini," teriak Verell. Allea mengangguk dan terlebih dahulu memesan makanan bersama dengan Vela, tidak lama mereka mendekati meja mereka. Karel dengan sangat peka nya menyingkir agar Allea duduk di samping Leo. "Leo kok lo mau di ajak ngebolos pelajaran?" tanya Vela setelah menenggak minuman nya. "Dia udah menjadi manusia," sahut Verell. "Emang selama ini Leo apa?" tanya Alfi melihat Verell untuk menunggu jawaban dari nya. "Robot mungkin," balas Verell dengan santai nya seraya mengambil sedikit makanan milik Vela. DUAARRR Suara ledakan yang sangat kencang membuat seluruh siswa maupun guru menjerit terkejut, bahkan minuman Allea yang masih penuh di meja pun sampai tumpah sebagian membasahi meja. "Apa tuh?" Verell berdiri mencari sumber suara. Sebagian siswa ada yang penasaran dari mana sumber suara itu berasal seperti Verell dan Karel saat ini, dan ada juga yang ketakutan seperti Allea. "Apa lagi sekarang?" ucap Allea pelan. Leo menoleh pada Allea. "Jangan jauh-jauh dari gua." Leo mengelus lengan Allea yang terlihat sedikit bergetar. Allea menatap Leo dengan mata yang berkaca-kaca. "Gak apa-apa." Leo memeluk Allea. Leo tau betapa takut nya Allea saat ini. Karel hanya melirik pada Leo yang tengah menenangkan Allea. Karel yang tau situasi ini mungkin dirinya akan maju untuk mengatasi ini dan membiarkan Leo untuk menjaga Allea saja. "Ada yang nyalain petasan?" tanya Alfi yang masih kebingungan karena pemikiran nya yang mengatakan ada yang menyalakan petasan di sekolah. "Petasan apa gede banget suaranya gitu?" tanya Vela. Para murid berhamburan panik dan juga penasaran sampai ada beberapa siswa berlari dan mengatakan kalau perpustakaan meledak. "PERPUSTAKAAN MELEDAK," teriak nya. "Perpus? Untung aja kita gak jadi ke perpus," ucap Vela pada Allea yang masih terdiam. Leo melirik Karel untuk segera memeriksa ke perpus. Karel yang sudah mengerti mengangguk dan melangkah kan kaki menerobos segerombolan murid yang heboh. "Lo mau kemana?" tanya Verell yang berjalan mengikuti Karel. Leo menghubungi guru bahasa inggris itu untuk menitipkan Allea di ruangan nya. "Ayo." "Kemana?" tanya Allea dengan tatapan yang ketakutan. "Ke ruangan pak Johan." "Ngapain?" tanya Vela. "Tadi di suruh ke sana." "Kapan?" Leo hanya diam saja dan menggandeng Allea untuk pergi dari kantin. "Heh masa gua gak di ajak." Vela sedikit berlari mengejar Leo yang tengah menggandeng Allea. "Terus gua sendirian gitu?" tanya Alfi pada angin karena teman nya semua meninggalkan nya di sini seorang diri. *** Karel sedikit berlari ke arah perpus yang terlihat sedikit berasap entah karena debu atau karena yang lain nya. "Di bom?" Karel melihat perpustakaan yang di dalam nya telah hancur, banyak buku-buku hancur. "Wahh." Verell yang mengikuti Karel berhenti di depan perpustakaan yang sudah sangat berantakan. Bahkan kepingan kertas dari buku pun terlihat sebagian masih berterbangan. Karel berjalan masuk untuk mencari petunjuk apa yang telah terjadi, walaupun sudah terllihat jelas ini di bom. Karel dengan cepat mengambil ponsel nya dan memotret setiap sudut ruangan. "Eh itu ada orang." Tunjuk Verell pada orang yang tengah tertindih oleh rak buku dan tidak sadarkan diri. Karel segera menoleh dan menelfon ambulance. "Awas jangan injek ke sana takut ada siswa lagi yang ketindihan, nanti malah lo injek," ucap nya pada Verell yang langsung mundur. Beberapa guru berlarian memasuki perpustakaan dan terkejut melihat kekacauan yang telah terjadi ini. "Verell cepet bantuin gua angkat rak nya ini." Verell mendekati Karel yang tengah berusaha mengangkat rak yang menindih siswa tadi. "Astaga kenapa bisa begini," pekik salah satu guru. Beberapa guru sibuk bertelepon menghubungi ambulance, polisi dan yang lain nya mungkin. Bagas datang bersama dengan Aksa dan melihat apa yang terjadi. Bagas yang langsung melihat kearah Karel dan Verell yang tengah kesulitan mengangkat rak yang menindih salah satu siswa itu segera menghampiri nya dan membantunya. "Ayo gua bantu." Bagas membantu mengangkat nya. "Waahh gila ada apa ini? Ada yang bom?" tanya Revan yang baru saja datang dan berdiri di samping Aksa yang masih terdiam karena terkejut dengan apa yang di lihat nya ini. "Akhirnya." Rak yang menindih siswa itu sudah terangkat. Para guru berdatangan semakin banyak dan segera melarang siswa yang lain nya masuk untuk melihat keadaan perpustakaan yang hancur itu. Aksa dan Revan segera masuk ketika melihat penjaga perpus yang meminta tolong. Guru yang melihat ke empat anak yang terkenal dengan julukan perkumpulan orang pintar itu tidak melarang nya, karena pasti mereka membantu nya. Tapi seperti nya ada satu anak yang bukan termasuk dan itu ikut membantu bersama Karel, Tidak masalah selagi membantu, pikir sang guru yang tengah membatasi para siswa untuk masuk untuk melihat. Aksa dan Revan telah membantu penjaga perpustakaan itu. "Ibu gak apa-apa kan?" tanya Aksa yang tentu saja melihat dari beberapa luka dan juga kotor karena debu di sekujur tubuh nya itu tidak mungkin bisa di katakan baik-baik saja. Para guru menghampiri penjaga perpustakaan itu dan membantu nya. Bagas dan Karel membawa siswa yang tertindih tadi menuju keluar menunggu ambulance. "Udah gak ada lagi korban?" tanya salah satu guru. "Belum di cek semua pak," jawab Karel seraya melihat ke sekeliling nya. Tentu saja seperti Leo, mencari seseorang yang mencurigakan. Karel tersentak ketika kembali mengingat pesan dari Leo yang mengatakan kalau dirinya melihat seseorang yang mencurigakan. Apa ini ulah orang itu? Karel harus segera menemukan nya dengan melihat seluruh cctv di sekolah. "Bagas-" "Cctv semua sekolah mati," potong Revan yang tengah mengotak atik ponsel nya. "Mati?" ulang Karel. "Rusak?" tanya Aksa. "Kayanya kalo rusak masa barengan rusak semua," ucap Bagas sambil membersihkan baju nya dari serpihan buku yang hancur dan juga debu dari hancurnya tembok. Aksa langsung melihat kearah cctv yang berada di depan perpustakaan itu yang terlihat masih bagus. "Kayanya di rusak dari sistem nya." Yang lain juga ikut melihat ke arah cctv yang berada di depan perpustakaan itu. "Iya bener kayanya," ujar Revan. Mereka berempat membahas hal penting tapi tidak dengan Verell yang tengah mengobrol pada salah satu guru nya bernegosiasi akan nilai tambahan karena telah ikut membantu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN