Part 53

1600 Kata
Karel di dalam apartment Leo dengan kertas yang berada di meja. Karel menginap di apartment Leo sekarang walaupun Leo sekarang pulang ke rumah nya karena di suruh menginap di sana dengan Allea juga. Jadi di sini lah Karel, tengah malah, seorang diri, di temani sekaleng minuman soda dan kertas berisi angka dan huruf tadi. Karel sedang mencoba memahami apa maksud dari ini semua. Walaupun Karel sudah tau hasil dari kode itu, karena di situ sudah tertulis hasil nya, Leo sudah memberitahu nya tadi sebelum pergi kembali ke rumah nya. "Apa maksud sepuluh lima belas sepuluh itu J O J?" Karel menggaruk kepala nya. "Apa sih aduh." Karel menenggak kembali minuman kaleng bersoda nya itu hingga habis. Karel memerhatikan setiap detail yang tertulis di kertas itu. 10.15.10/20.6.14.22.2/21.6.19.11.2.5.10/12.2.19.6.15.2/2.13 J.O.J/T.F.N.V.B/U.F.S.K.B.E.J/L.B.S.F.O.B./B.M I.N.I/S.E.M.U.A/T.E.R.J.A.D.I/K.A.R.E.N.A/A.L Karel mengetukkan jari nya di meja melihat isi kertas itu. "Duh harusnya yang jadi misteri, isi kode nya kenapa 'ini semua terjadi karena Al?' siapa AL?" Karel merebahkan diri nya di karpet bawah sambil memijat kepala nya. Ia bingung mana yang harus di pikirkan sekarang, tapi Leo hanya menyuruh nya memahami cara penyelesaian kode itu bukan isi kode itu sendiri. Karel menyambar kaleng soda itu yang terasa ringan. Karel duduk dan menenggak nya tapi ternyata, "udah abis aja." Karel bangkit dari duduk dan berjalan menuju kulkas untuk kembali mengambil minuman soda itu dengan beberapa cemilan lain nya, beruntung nya Karel memiliki teman yang mengijinkan nya menginap di apartment nya yang berlimpah makanan seperti ini di saat diri nya tidak berada di sini. Coba saja kalau ada Verell, di pastikan besok Leo kembali semua ini akan sangat berantakan dan makanan di kulkas akan habis. Kau kena lagi Verell, ini sudah nasib mu. "Karena ada Allea kayanya ini jadi banyak cemilan gini," ucap Karel sambil mengambil dua kaleng minuman bersoda, dan beberapa bungkus cemilan lain nya. Karel saat ini hanya memakai celana pendek saja tanpa pakaian atas nya, ia merasa pusing jadi lebih baik tidak memakai pakaian saja. Memang pemikiran yang aneh tapi ya itu memang kebiasaan Karel, kalau ingin protes, protes saja pada nya. Karel menggendong semua cemilan yang ia bawa ke tempat tadi dan kembali duduk di bawah karpet sambil membuka minuman bersoda itu. "Ayo kembali pokus." Karel menenggak minuman nya dan kembali melihat ke arah kertas itu. "Apa ya," ucap nya sambil membuka satu bungkus kripik singkong. "Sepuluh jadi J terus I? Kenapa ya." Karel mengetukkan jari nya ke meja. Sepertinya itu kebiasaan Karel ketika berpikir. "Tunggu deh." Karel berdiri dan mencari buku dan juga pulpen yang biasa nya berada di meja. Tidak salah kalau Karel tau karena Karel sering menginap di sini. Karel ke arah meja yang terdapat buku serta pulpen di sana. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Leo meletakkan buku serta beberapa alat tulis lain nya di meja itu. Karel kembali duduk seraya menenggak minuman bersoda nya. Karel menggoreskan pulpen bertinta hitam itu di lembaran buku kosong yang telah Karel buka. Karel sebenarnya tidak tau ingin menulis apa, tapi coba saja untuk mencoret sesuatu, siapa tau menemukan jawaban nya, pikir Karel. "A B C..." Karel menuliskan setiap abjad di buku sambil menyebutkan setiap huruf satu persatu. Sebenarnya tidak ada alasan khusus mengapa Karel menuliskan itu, ia hanya bosan dan ingin terlihat sibuk saja, ya Karel juga berharap di sela kegiatan menghilangkan bosan ini ia menemukan jawabannya. "X Y Z." Karel memberi titik di terakhir huruf Z yang memang itu adalah huruf terakhir dari alfabet. Karel terdiam sejenak dan menatap jajaran alfabet itu di kertas lalu Karel menyunggingkan senyuman nya. "Gua ngerti sekarang." Karel berteriak kegirangan karena akhirnya ia mengerti dengan kode yang menurut nya sangat lah sulit ini. Karel menuliskan penjelasan nya di kertas dan akan ia berikan pada Leo besok pagi. Karel menuliskan setiap penjelasan sambil bersenandung senang, sesekali menyanyi dan memuji dirinya sendiri. Untung nya saja Karel sekarang seorang diri, coba saja ada Leo di sini, sudah di pastikan Karel akan terkena omelan dari Leo. "Gila pintar banget gua." *** "Ngerjain tugas apa sama Karel?" Tanya Allea yang baru saja mendaratkan tubuh nya di bangku mobil Leo. Leo yang baru masuk ke dalam mobil menoleh pada Allea dan menyalakan mobil nya tidak berniat untuk menjawab nya. Leo lupa semalam meminta izin pada ibu nya dengan mengatakan akan mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Karel, padahal mereka berdua saja tidak satu kelas, bagaimana bisa memiliki kelompok bersama. "Lo kan gak satu kelas sama gua?" "Main," jawab Leo. "Oh jadi lo bohong sama ibu lo tentang ngerjain tugas kelompok?" Leo diam saja, lagipula untuk apa di pertanyakan lagi kalau sudah tau jawabannya. Tidak penting dan hanya membuang tenaga saja. "Ternyata lo bisa bohong juga." Allea menyandarkan tubuh nya sambil melihat ke arah jalanan. "Sama Karel doang?" "Iya." "Sekarang deket banget sama Karel ya." Leo tidak membalas nya dan hanya fokus pada perjalanan mereka menuju sekolah. Tadi nya Leo akan menjemput Karel yang berada di apartment nya tapi karena seperti nya mereka akan terlambat masuk sekolah, Leo menyuruh Karel berangkat sendiri saja. Dirinya dan Allea tidak bangun kesiangan tapi tentu saja karena ulah kakak nya itu yang membuat mereka terlambat. "Pager udah di tutup tuh," ucap Allea melihat pagar sekolah yang sudah tertutup di depan sana, tapi Allea sama sekali tidak merasa panik karena dulu juga dirinya sering terlambat. Leo membunyikan klakson mobil nya untuk memberitahu satpam sekolah untuk membuka kan pagar sekolah untuk nya. Satpam sekolah pun keluar dan melihat mobil Leo. "Udah terlambat dua puluh menit." "Baru dua puluh menit, belum satu jam," sahut Allea yang membuka kaca mobil dan melihat ke arah satpam itu. Leo memberikan beberapa lembar uang berwarna merah muda itu pada satpam itu dan berkata, "buka." Satpam itu dengan cepat membuka kan pagar nya untuk nya. Allea hanya menganga melihat Leo yang membayar satpam itu. "Ngapain bayar? Padahal tadi tinggal negosiasi doang juga bisa." "Lama." Leo memberhentikan mobil nya di parkiran. "Dasar orang kaya." Leo turun dari mobil di ikuti Allea yang berjalan menuju kelas nya di temani oleh Leo. Allea masuk ke dalam kelas nya, Leo melihat kearah Karel yang melambaikan tangan nya pada dirinya. Tidak jauh beda dengan Verell, pikir Leo ketika melihat tingkah Verell itu. Leo melangkah kan kaki nya menuju kelas nya yang terdengar sangat berisik, sudah di pastikan guru nya pasti tidak masuk lagi kali ini. "Tumben telat nih Leo," ucap Verell yang sedang duduk di meja dengan yang lain nya sambil menguyah makanan ringan yang ia pinta dari teman nya. Leo diam saja dan duduk di bangku nya. Verell turun dari meja dan menghampiri Leo sambil membisik kan, "tumben terlambat, ngapain sama Allea?" Leo menatap Verell tajam dan berhasil membuat Verell bungkam. "Serem banget sih anjir." Verell kembali bergabung bersama yang lain meninggalkan Leo yang seperti nya tidak mau di ganggu. Leo membuka ponsel nya dan membaca pesan yang di kirimkan Nanas atau yang lain nya. Leo tengah mengirimkan pesan pada pak Johan yang sebagai guru bahasa Inggris di sekolah ini untuk membuat nya satu kelas dengan Allea agar lebih mudah memantau nya. Walaupun ada Karel di sana tapi Karel kan masih baru dia belum se pandai dirinya. "Ke kantin yuk," ajak Verell pada Leo. "Belum istirahat," balas Leo yang masih berkutat pada ponsel nya. "Yailah jangan terlalu rajin apa jadi murid tuh. Kalo lu gak mau ikut, yaudah gua aja." Verell berjalan keluar kelas dengan santai bersama yang lain nya juga. Sekolah ini memang terlihat sangat lah bebas. Leo melihat di sudut mata nya seseorang lewat di depan kelas nya, dan itu terlihat di jendela kelas. Ada lambang bunga mawar di sudut topi nya. Leo mengerutkan dahi nya, walaupun dirinya tidak perlu menoleh untuk melihat nya tapi terlihat dari sudut mata nya kalau orang itu terlihat terburu-buru dan panik. Mencurigakan. Leo berdiri, "gua ikut," ucap nya pada Verell yang baru saja keluar dari pintu. "Lo mau ikut?" tanya Verell yang kembali menolehkan kepala nya masuk ke dalam kelas. Leo berjalan menghampiri Verell dan yang lain nya. "Tumben," ucap yang lain nya. "Kayanya virus Verell udah menyebar." "Bukan nya Verell yang niru Leo biar bener malah Leo yang ikut gak bener." "Virus Verell sulit dan tidak ada obat nya." "Bener-bener." "Heh sialan," sahut Verell yang di sambut gelak tawa mereka semua. Tapi tidak dengan Leo yang masih pokus mencari kemana orang tadi pergi. Orang itu menunduk menggunakan topi, dan seragam yang sama dengan yang mereka pakai, itu sudah pasti murid di sekolah ini kan. Entah dia memang bergabung dengan para peneror itu atau seperti kasus nya Aksa yang di paksa dengan ancaman agar melakukan ini. "Yaudah sana duluan, gua mau ajak komplotan gua," ucap Verell pada yang lain nya dan menarik Leo untuk berjalan menuju kelas Allea. Verell mengintip memastikan tidak ada guru yang mengajar. "Masih ada guru nya." "Heh kalian berdua ngapain di situ?" tanya guru yang mengajar di kelas Allea membuat para siswa menoleh melihat kearah Verell dan Leo. "Toilet," jawab Leo. "Yaudah sana cepetan, nanti balik ke kelas langsung jangan kemana-mana," perintah sang guru yang diangguki oleh mereka berdua. Verell memberikan kode pada Karel dan Alfi untuk menyusul mereka ke kantin nanti. Sedangkan Leo hanya melirik ke arah Allea saja. "Iya pak saya ke kamar mandi dulu ya," ucap Verell sambil kembali menarik Leo menuju kamar mandi. "Untung lo pinter boong juga," puji Verell pada Leo. Leo tidak membalas ucapan Verell dan membuka ponsel nya untuk menghubungi pak Jonathan yang menyamar menjadi pak Johan itu agar melihat di cctv sekolah dan melihat siapa siswa mencurigakan itu dan kemana dia pergi. "Lo ngapain sih sibuk aja sama hp? Pacaran?" tanya Verell yang tentu saja tidak di jawab oleh Leo. Andai saja Verell tau kalau teman nya ini seorang agen rahasia sudah pasti dia akan heboh sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN