Part 52

1576 Kata
"Apa?" tanya perempuan yang bertugas memecahkan kode itu. "Roti." "Yakin?" tanya Nanas. "Iya, karena di kedua kejadian ada roti." "Kenapa di kedua kejadian ada roti doang?" tanya agent lain nya yang lebih tua dari Karel. "Kan bisa aja, si Vela itu dia abis beli roti, terus yang Bi Inah itu kan bisa aja dia lagi mau bikin roti," lanjut nya yang kembali bertanya pada Karel karena untuk mengetes sebagai mana ia berpikir, apa karena di kedua kejadian ada roti saja atau ada hal lain? Karena kalau karena hanya ada roti di kedua kejadian itu kan bisa saja hanya kebetulan saja. Sebagai agent tidak boleh hanya asal menebak saja tanpa alasan yang jelas. "Pertama, Vela gak suka roti coklat. Allea juga bilang kalo Vela belum sempet ke kantin karena langsung ke kamar mandi jadi yang beliin minum itu Allea. Terus kedua, Bi Inah, Allea juga bilang kan mau mampir dulu ke minimarket buat beli roti karena roti di rumah nya abis. Tapi kenapa pas kejadian ada roti di samping Bi Inah," jelas Karel. Leo sedikit menampilkan senyuman tipis nya karena bangga dengan pemikiran Karel yang ternyata tidak mengecewakan sebagai agent. Yang lain nya mengangguk mendengarkan penjelasan Karel yang menunjukkan bukti kalau roti itu adalah kunci dalam permasalahan pembunuhan ini. "Cari penyelesaian sandi roti," perintah Nanas pada perempuan yang bertugas menyelesaikan kode-kode. "Baik." Dia berdiri sambil berpamitan keluar dari ruangan untuk menyelesaikan kode itu. "Meeting sampai di sini dulu," ujar Leo yang juga pergi meninggalkan ruangan itu. "Nanti saya kabari kalau kode sudah selesai," ucap Nanas menutup pertemuan ini. Karel segera keluar ruangan mengikuti Leo, karena ia takut kalau sampai Leo meninggalkan nya nanti karena dia datang ke sini bersama dengan mobil Leo, kalau sampai dirinya di tinggalkan dia akan pulang bagaimana? mana mungkin bisa kan kendaraan online masuk ke daerah ini, tidak akan mungkin di izinkan. "Leo," panggil Karel pada Leo yang berada beberapa langkah di depan nya. Leo hanya diam saja tidak merespon panggilan Karel. Karel berdecak kesal dengan tingkah Leo, ia sedikit berlari mengejar Leo yang berada di depan sana. Leo masuk ke dalam satu ruangan. "Ck nih orang bukan nya tungguin gua," decak Karel sambil mengikuti Leo untuk masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Leo tadi. Karel menoleh ke sekeliling nya melihat ruangan yang belum pernah Karel masuki. Karel melihat Leo yang berdiri di samping seorang wanita yang sedang sibuk dengan beberapa kertas. Karel menghampiri Leo, dan ikut melihat apa yang sedang Leo perhatikan. "Ngapain?" bisik Karel pada Leo yang hanya diam saja sambil melihat ke arah tumpukan kertas di meja wanita itu. Karel melihat wanita itu menuliskan angka-angka di dalam kertas kosong. Karel melirik ke arah kode yang ingin di pecahkan tadi. Karel mengangguk mengerti, ternyata Leo mengajak nya untuk melihat bagaimana cara memecahkan kode, tapi untuk apa? Itu kan bukan tugas nya. "Roti," ucap wanita itu sambil mengetik pada laptop nya yang di depan nya dan kembali mengambil buku dengan sampul berwarna emas polos. "Ini buku kode," ujar nya. Karel mengangguk saja mendengarkan wanita itu. Wanita itu membuka setiap lembar nya yang di penuhi angka dan huruf serta tulisan yang Karel tidak mengerti, Karel kan tidak di ajari akan hal ini, jadi wajar saja kalau Karel tidak mengerti dengan isi buku itu. Wanita itu berhenti di salah satu lembar buku dan membuka nya di meja nya sambil membaca nya dengan perlahan dan kemudian kembali mengetik sesuatu di laptop nya. "Satu, dua enam," ucap nya lagi. Karel hanya diam saja memerhatikan nya. Leo melipat kedua tangan nya di depan d**a nya sambil terus memerhatikan nya. "Lo ngerti Leo?" tanya Karel berbisik pada Leo. Leo mengangguk sebagai jawab dari pertanyaan Karel. "Kok gua gak di ajarin?" Lagi-lagi Leo hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Karel yang satu itu. Karel hanya menghela napas saja melihat tingkah Leo itu. Memang menyebalkan, jadi tidak bisa mengelak. "sepuluh J." Karel mengerutkan dahi nya mendengar wanita itu berbicara seperti memberitahu pada yang di sekitar nya. "I," sahut yang berada di sisi lain yang tengah menuliskan sesuatu yang entah apa. Hanya mereka yang mengerti. "J O J." Wanita itu mengeja setiap huruf. Karel kembali memerhatikan kode yang ditemukannya di tempat Vela dan poto kode yang berada di cermin rumah Allea. "Ini." "Dua puluh, enam, empat belas, dua puluh dua, dua." "T F N V B," sahut yang lain nya. Karel menoleh pada Leo yang tengah sibuk dengan ponsel nya. Karel yakin kalau sekarang Leo tengah bertukar pesan dengan Allea. Tidak kah terlihat kalau mereka seperti memiliki hubungan? Mereka tidak mengakui nya, tapi terlihat seperti itu. "Semua." Karel hanya mengerutkan dahi nya sesekali menggaruk tengkuk nya. Karel merasa seperti berada di dunia lain, padahal bahasa yang di gunakan di sini pun sama tapi Karel tidak mengerti, seperti berada di dunia lain kan kalau seperti ini. "Duduk," ucap wanita itu pada Karel yang sedari tadi berdiri bersama Leo di samping wanita itu untuk melihat nya berkerja. "Gak usah," balas Karel. "dua puluh satu, enam, sembilan belas, sebelas, dua, lima, sepuluh." "Leo," panggil Karel sambil menyenggol lengan Leo. Leo mengalihkan pandangan nya sebentar untuk melihat Karel di samping nya. "Kita di sin... " "U F S K B E J," suara yang memotong ucapan Karel pada Leo. "Huruf apaan sih?" tanya nya pada Leo yang sudah pasti tidak akan di jawab oleh nya. Karel sudah tau tapi tetap saja bertanya pada nya. Leo melangkah kan kaki nya menuju salah satu bangku yang berada di pojok ruangan. Karel ingin mengikuti nya dan duduk di sana sambil meminum sesuatu tapi Karel masih penasaran dengan angka dan huruf yang terus di sebutkan oleh mereka. Apa hubungan angka yang berada di kode itu dengan huruf yang mereka sebut kan, tidak bisa terpikirkan oleh nya. "Terjadi," ucap wanita itu . "Terjadi?" ulang Karel yanng melihat wanita itu menggoreskan pulpen dengan tinta hitam, oren dan hijau bergantian. Kode yang di tulis dengan tinta hitam, huruf acak menurut Karel menggunakan tinta oren dan kata-kata 'terjadi' barusan digoreskan dengan tinta berwarna hijau. "Nanti juga akan ngerti," ucap wanita itu melihat Karel sambil tersenyum. Karel mengangguk kan kepala nya, entah sampai kapan diri nya mengerti. Sampai Leo menjelaskan nya pada nya? Itu tidak akan terjadi. Bahkan sampai menunggu Verell menjadi siswa penurut di sekolah pun itu tidak akan terjadi. Menunggu Leo menjelaskan sesuatu pada nya saja terlihat tidak mungkin, apalagi menunggu Verell menurut dengan perkataan guru, sangat mustahil. Seperti menunggu ikan yang bisa memanjat pohon. Sepertinya begitu lah fungsi Verell di sini, sebagai acuan dan contoh ketidakmungkinan yang akan terjadi. Kau harus berubah Verell agar kisah mu menarik dan keren di sini. "Dua belas, dua, sembilan belas, enam, lima belas, dua." Karel melihat kode nya dan menyamakan dengan yang mereka sebut. "Oh mereka nyebutin kode," gumam Karel. "L B S F O B." "Nah ini huruf apa?" Karel mencoba mencari huruf dan angka di tumpukan kertas serta di layar laptop wanita itu namun tidak menemukan apapun. "Buku emas" gumam nya lagi sambil melihat ke arah buku bersampul emas itu yang terbuka. "Apaan cuma tulisan nyambung," ucap Karel yang melihat tulisan seperti bersambung di buku itu. Seperti tulisan dokter tapi ini lebih rapih dan padat. Karel menghela napas dan berkata, "kaya tulisan spongebob." "Karena," ucap wanita itu menyahuti rekan nya yang menyebutkan huruf-huruf tadi. "Hmm?" Karel lagi lagi menggaruk tengkuk nya. "Lebih sulit dari matematika ternyata,"lanjut Karel. "Dua, tiga belas." "B M." "A L?" Wanita itu mengerutkan dahi nya. Karel melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Untung saja dia pria, jadi tidak akan ada ceramahan karena pulang terlalu larut, lagipula ia izin untuk mengerjakan tugas dan tidak sepenuh nya berbohong kan? Dia benar-benar sedang mengerjakan tugas sebagai agent nya, walaupun ia sekarang hanya melihat saja. "Udah?" tanya Leo yang sudah berdiri di samping Karel sambil memasukkan ponsel nya ke saku nya. "Udah." Wanita itu menuliskan beberapa huruf lagi di kertas yang sedari tadi ia coret-coret. "Nih." wanita itu menyerahkan kertas itu pada Karel. "Hah? Buat apa?" tanya Karel. "Pahamin dan nanti juga akan ngerti," jawab wanita itu yang memberikan kertas tadi yang sudah terlipat menjadi empat tekukan. "Data nya udah di kirim, hasil nya juga udah di kirim ke Nanas sama di kertas itu juga." sambil menunjuk kertas yang di pegang oleh Karel. Karel memegang kertas itu dengan kebingungan karena tidak mengerti apa-apa. "Iya," balas Leo dan pergi meninggalkan ruangan itu. "Eh Leo tunggu, hmm... makasih," ucap Karel pada wanita itu akan kertas yang di berikan nya pada nya itu. "Iya sama-sama," jawab nya sambil tertawa melihat tingkah mereka berdua. Karel berlari mengejar Leo yang terlebih dahulu jalan meninggalkan nya. "Leo," panggil nya lagi yang sudah berhasil mengejar nya dan berdiri di samping Leo. Leo hanya melirik nya dan kembali berjalan menuju parkiran. "Kita pulang?" tanya Karel yang menyadari kalau mereka menuju parkiran. Leo mengangguk. "Jawab kek, kaya gak bisa ngomong aja lo." "Ya." "Harus sabar, gak boleh marah, nanti cepet tua keriput, ntar gua gak ganteng lagi. Huuhh sabar sabar." Karel mengusap d**a nya untuk bersabar menghadapi tingkah Leo. Walaupun sudah sering kali Karel memaklumi Leo tapi tetap saja terkadang tidak bisa. Leo masuk ke dalam mobil nya di ikuti Karel seraya duduk di samping kiri nya dengan tangan yang masih memegang kertas yang di berikan wanita tadi. "Ini buat apa sih?" tanya Karel yang belum mengerti untuk apa dirinya di berikan kertas berisi coretan hasil kode tadi. Karel saja masih belum tau hasil dari kode itu apa ? Karel belum memahami semuanya, bahkan Karel yang sedari tadi berdiri di situ pun masih belum mengerti juga. "Belajar, pahami."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN