Leo duduk di bangku samping Allea. Alvera hanya menyeringai melihat adik nya itu. Sepertinya Alvera sekarang mendapatkan bahan ejekan baru untuk adik nya itu, menyenangkan bukan.
"Le... "
"Makan dulu," potong Salsha yang tau kalau suami nya ini akan menanyakan banyak hal pada anak bungsunya itu, apalagi ketika mendengar informasi Alvera yang suka sekali di lebih-lebih kan agar suasana semakin memanas.
Salsha mengambilkan makanan untuk Aldi di piring. Yang lain nya pun juga mengambil makanan untuk diri nya masing-masing.
Mereka makan dengan keadaan hening tidak ada yang berbicara satu pun, hanya ada suara dentingan sendok, garpu yang saling bersentuhan. Setelah mereka semua selesai makan Salsha dan Angel membereskan piring kotor mereka.
Allea ingin membantunya tapi Salsha melarang nya dan menyuruh nya untuk ke depan saja.
"Ayo," ajak Alvera menarik lengan Allea ke depan.
Leo dan Aldi berjalan bersamaan ke depan.
"Duduk." Alvera kembali menarik Allea untuk duduk di sofa dengan Leo dan Aldi juga.
"Sejak kapan ?" Tanya Aldi.
Leo melirik ayah nya itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Jawab lah Leo," ujar Alvera.
"Apa?"
Aldi menghela napas, "sejak kapan kalian pacaran?"
"Kita gak pacaran," jawab Allea.
"Tapi kok tinggal bareng ya pah ya?" Alvera memang pandai membuat suasana menjadi panas memang.
"Iya terus kenapa tinggal bareng? Sejak kapan tinggal bareng? Kalian ngapain aja ?!"
"Gak ngapa-ngapain," jawab Leo dengan tenang.
"Sejak kapan tinggal bareng?"
"Belum lama kok om."
"Leo??!"
"Kan udah di jawab Allea."
"Awas aja kamu kalo... "
"Iya," potong Leo.
"Marahin pah, masa tinggal bareng berduaan gitu," pancing Alvera.
Allea menoleh pada Alvera.
"Allea lagi kena musibah, jadi Leo bantu," ucap Leo.
"Musibah apa?" Alvera terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Nanti Leo jawab, Leo mau mandi dulu panas." Leo beranjak dari duduk nya dan melangkah menuju kamar nya.
"Ck anak itu," decak Aldi melihat anak bungsunya itu.
"Allea," panggil Aldi dengan nada yang berbeda dengan tadi, sekarang jauh lebih lembut tidak seperti tadi dengan nada yang mengintimidasi.
"Iya om?"
"Nanti nginep aja di sini."
"Gak usah om, besok kan sekolah."
"Ya suruh Leo bawa buku sama seragam dari sana aja lah," sahut Alvera.
Sudah lah Allea, kalau ada Alvera kau tidak bisa membantah dan menolak lagi.
"Allea," panggil Salsha menghampiri yang lain nya setelah dari dapur.
"Iya tan... Mom."
"Nginep di sini kan?"
"Iya Mah, Allea nginep di sini," jawab Alvera.
Allea hanya mengangguk kecil saja.
"Yaudah ayo mommy anterin ke kamar kamu yuk." Salsha menarik Allea menuju kamar yang di maksud oleh Salsha.
"Nambah anak baru ya Mah," teriak Alvera pada Salsha yang sudah berjalan menjauh dari nya dan mendekati kamar yang akan di tempati Allea.
"Bisa juga adek kamu tuh nyari cewek," ujar Aldi.
"Ya kan karena sekolahan Alvera dulu nih," ucap Alvera dengan bangga.
"Terus kamu kapan?"
"Duh udah malem, Alvera mau tidur dulu." Alvera segera berlari menuju kamar nya, Alvera harus dengan cepat menghindari pertanyaan yang mengerikan itu dengan segera.
***
"Mom Leo mau kerja kelompok dulu." Leo menghampiri kamar yang di tempati Allea sekarang karena di sana ibu nya berada, bersama dengan kakak keduanya Alvera.
Ya perkataan Alvera akan dirinya yang mengantuk hanya lah tipuan saja agar bisa kabur dari pertanyaan menyebalkan ayahnya itu. Lihat lah buktinya sekarang Alvera di kamar Allea bersama dengan ibunya untuk mengganggu Allea.
"Malem-malem gini?" Tanya Salsha pada Leo yang sudah rapih.
"Iya."
"Sama siapa?" Tanya Alvera yang juga penasaran ingin kemana adik nya ini, padahal sekarang di rumah nya sudah ada pacar nya, pikir Alvera.
"Sama temen."
"Mau selingkuh tuh Allea dia," tuduh Alvera pada Leo.
Allea lagi lagi hanya tertawa renyah karena ucapan kakak nya Leo ini. Lagipula mereka kan tidak memiliki hubungan apapun selain berteman. Jadi tidak ada salah nya juga kalau Leo pergi berkencan kan.
"Mau pergi sama Karel," ucap Leo.
'Kerja kelompok sama Karel? Mereka kan beda kelas,' batin Allea.
"Oh yaudah sana, jangan pulang kemaleman," ujar Salsha pada anaknya itu memberi ijin.
"Iya." Leo pergi keluar dan menjemput Karel ke rumah nya, karena kalau menggunakan mobil masing-masing itu menyulitkan untuk saling berkomunikasi di perjalanan. Mereka sepakat untuk saling membahas pekerjaan mereka ini di dalam mobil dan di saat di perjalanan.
Seperti saat ini, Leo sudah menjemput Karel dan mereka berdua di dalam mobil.
"Kode kemaren udah di selesai?" Tanya Karel.
Leo menggelengkan kepala nya.
"Sesulit itu?" Karel menatap Leo yang sedang menyetir.
"Mungkin," jawab Leo tanpa menoleh sedikit pun pada Karel karena dirinya sedang pokus menyetir, memerhatikan perjalanan agar mereka selamat.
"Terus kita kesana mau ngapain?"
"Bahas kode."
"Gua gak ngerti."
"Belajar."
Karel hanya berdecak sebal mendengar ucapan Leo. Karel kembali menyandarkan tubuh nya pada bangku mobil.
"Allea gimana?"
"Di rumah."
"Apart?"
"Rumah."
Karel kembali tersentak dan melihat kearah Leo, "lo beli rumah sama Allea??!"
"Di rumah gua."
"Allea di rumah lo?" tanya Karel yang masih bingung dengan pernyataan Leo. Memang Leo selalu membingung kan.
Leo hanya mengangguk saja.
"Kok bisa?"
Leo mengangkat bahu nya.
"Ck ngobrol kek apa kek." Karel menoleh ke arah jendela tidak mau lagi mengajak Leo untuk berbicara, karena itu hanya percuma saja, lihat saja Leo sedari tadi menjawab se enak nya saja. Untung saja dia dan teman nya yang lain mau menemani manusia es ini, andai saja kalau mereka tidak mau menemani nya sudah di pastikan Leo akan seorang diri tanpa teman. Dan andaikan saja Leo bukan seorang agent, dia sangat terlihat culun kan, apalagi kalau menggunakan kacamata, rambut klimis, dan pakaian yang rapih nya itu, sangat culun pasti. Jangan membela nya karena wajah tampan nya, kalau dia berpenampilan seperti itu, pasti culun!
"Lama banget," komentar Karel.
Leo hanya diam saja tidak membalas ucapan Karel. Tidak penting, pikir Leo.
setelah beberapa menit mereka sampai di kantor. Dan di sini lah mereka berdua berada di ruangan bersama dengan para agent lain nya dan tentu saja ada pimpinan mereka, Nanas.
"Jadi ?" tanya Leo sambil bersandar dengan melipat kedua tangan nya di depan d**a nya. Sangat tidak lah sopan sedang berhadapan dan berbicara dengan yang lebih tua tapi bersikap seperti itu, tapi siapa yang berani menegur nya seperti itu? mereka hanya memaklumi saja tingkah Leo itu.
"Kami belum menyelesaikan kode nya, banyak kemungkinan kode yang di gunakan jadi masih belum menemukan mana yang pasti," jawab salah satu perempuan yang memang bertugas sebagai pemecah kode.
"Ini udah kelamaan, harus nya satu hari juga udah selesai," balas Leo.
Karel hanya diam saja menyimak mereka semua, ia masih belum terlalu paham jadi lebih baik diam saja dari pada nanti ia melakukan kesalahan dan berakibat di keluarkan dari agent ini.
"Kamu gak nemu sesuatu yang janggal di tempat kejadian?" tanya Nanas pada Leo yang juga menatap nya dengan santai.
"Karel yang pertama liat di kejadian," jawabnya sambil melirik Karel di samping nya.
"Gua?" tunjuk Karel seraya menatap Leo yang hanya melirik nya.
"Iya Karel?" Yang lain nya juga menatap ke arah Karel.
"I... iya."
"Apa liat kejanggalan di tempat kejadian Vela maupun Bi Inah?"
Karel terdiam memikirkan apa yang janggal. Karel menggeleng pelan ragu karena menurut nya tidak ada yang janggal dari kejadian itu, Karel hanya melihat tubuh yang tergeletak di genangan darah. Memang nya apa yang janggal? pikir Karel.
"Coba kamu inget-inget lagi, soalnya yang kejadian Vela kita kan gak liat," sahut salah satu agent lain nya kepada Karel.
"Iya coba kamu inget lagi."
Karel mencoba mengingat nya sambil mengetuk kan jari nya di meja di depan nya. Leo hanya diam saja menunggu jawaban dari Karel. Biarkan Karel yang berpikir sendiri Leo tidak mau membantu nya, dia kan juga sekarang menjadi agent jadi harus bisa berpikir dengan cepat dan teliti.
Karel mencoba mengingat semua nya tentang kejadian itu. Mulai dari Vela teman nya itu yang tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengalir dari luka tusuk di perut nya, wajah pucat nya dengan maja terpejam, di kamar mandi dengan posisi sebelah tangannya yang berada di luka di perut nya, baju seragam yang warna nya sudah berubah menjadi merah pekat karena darah nya, cermin yang berada di kamar mandi itu pun bersih tidak ada setitik cipratan darah pun, dan sebungkus roti coklat di samping nya. Tidak ada yang aneh. Memang nya apa yang aneh? pikir Karel.
"Fokus," ucap Leo pada Karel yang tengah mengingat apa yang di lihat nya pertama kali pada korban teror itu.
Karel memejamkan matanya, sambil jari nya yang terus mengetuk di meja. Yang lain nya terdiam tidak bersuara karena membiarkan Karel untuk pokus dengan ingatan nya.
Karel sekarang mencoba mengingat kejadian yang menimpa Bi Inah sampai menghilangkan nyawa nya itu. Karel sampai menghembuskan napas berat nya untuk kembali mengingat kejadian mengerikan itu. Semuanya menunggu pernyataan dari Karel.
Karel membuka mata nya seraya menghembuskan napas nya.
"Dapet?"
Karel menggeleng karena tidak sanggup kalau untuk kembali mengingat kejadian Bi Inah itu. Yang lain menghela napas terlihat kecewa karena pernyataan Karel, tapi tidak dengan Leo.
"Harus profesional," sahut Leo yang menengguk air mineral yang sudah di siapkan khusus untuk masing-masing agent di depan meja masing-masing.
Karel menoleh pada Leo dan mengangguk mencoba mengingat nya, tapi lagi-lagi Karel menyerah untuk kembali mengingat ketika melihat tangan Bi Inah yang terpotong terpisah dari tubuh nya.
Karel menoleh pada Leo yang sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan pada nya karena sedari tadi tidak menemukan jawaban nya. Karel jadi merasa bersalah kalau sampai dia tidak bisa menemukan jawaban nya sekarang juga, karena semua nya sekarang akan kembali berjalan karena pernyataan nya, kalau sampai Karel juga tidak menemukannya, itu akan kembali memakan waktu yang lama dan semakin tertunda lagi. Dia akan mengecewakan yang lainnya, apalagi Leo.
Karel tidak mau mengecewakan siapa pun, apalagi kembali mengingat kejadian semua itu, kalau sampai Karel kembali membuang waktu lagi, entah teman nya yang mana lagi yang akan menjadi korban nya, Karel tidak mau itu kembali terjadi.
Karel membuka ponsel nya, ia ingat kalau dirinya memfoto nya ketika kejadian Bi Inah itu dan menyimpan nya di ponsel nya. Leo melirik Karel yang berada di samping nya itu yang tengah mengotak atik ponsel nya.
"Gua tau." Karel menampilkan senyuman nya.