Part 50

1534 Kata
Disinilah Allea berada, di rumah Leo bersama dengan kakak nya Leo, Alvera. Allea sudah menghubungi Leo untuk mengatakan kalau dirinya di ajak ke rumah nya oleh kakaknya dan Leo hanya mengiyakan saja dan mengatakan untuk jawab saja pertanyaan dari ibu nya. Jadi kalau kakaknya bertanya apa Allea harus menjawab nya atau tidak? "Maahhh Alvera bawa pacar nya Leo nih," teriak Alvera masuk ke dalam rumah bersama Allea. Ok pesan Leo, jangan terlalu di anggap serius perkataan kakak kedua nya, Alvera ini. Awalnya Allea bingung kenapa, dan ternyata ya Allea mengerti sekarang. "Pacar?" Seorang gadis lain nya muncul sambil memegang buku di tangan nya. Ini kakak pertamanya Leo pasti, pikir Allea. "Ini kenalin Angel kakak pertama kita," ucap Alvera mengenalkan kakak nya itu yang masih menatap Allea dari kepala sampai ujung kaki nya. "Allea kak," ujar Allea yang gugup karena di perhatikan seperti itu. Allea yakini kalau kakak pertama nya ini sangat mirip dengan Leo. "Jangan liatin gitu kak, kasian anak orang takut." Alvera menyenggol lengan Angel. "Duduk Allea." Alvera menarik lengan Allea untuk duduk di sofa. Allea pasrah saja dan mengikuti nya. "Mahh ada calon adik ipar sama menantu mamah nih," teriak nya lagi. "Gak usah teriak-teriak," sahut Angel. "Ada di rumah kan mamah?" "Di dapur." Alvera segera berjalan ke dapur untuk menghampiri ibu nya, ia tidak sabar untuk menunjukkan penemuan menakjubkan tentang adik es nya itu. Allea masih terdiam duduk sambil melihat karpet di bawah. "Pacar Leo?" tanya Angel yang duduk di sofa lain nya sambil membaca buku di tangan kiri nya. "Bukan kak, cuma temen," jawab nya. Allea harap kakaknya yang satu ini tidak berbicara sembarang saja seperti kakak keduanya itu. "Ok belum jadi pacar." Allea hanya mengangguk saja. Allea tidak tau harus bagaimana, jadi memilih diam saja itu mungkin yang terbaik saat ini. "Kok ada di apartment Leo?" tanya Angel. "Mana mana??" Suara dari arah kiri Allea. Allea menoleh untuk melihat suara siapa itu. Apakah suara ibu Leo atau siapa? "Itu mah namanya Allea," ucap Alvera yang berjalan di samping nya sambil menunjuk Allea. "Oh pacar nya Leo?" Salsha menghampiri Allea. "I... Ah bukan, saya temen nya Leo," jawab Allea sambil tersenyum ramah. "Alesan Mah, masa bukan pacar tapi tinggal bareng Mah masa." Alvera duduk di samping Allea. "Eh iya gak apa-apa jujur aja," desak Salsha meminta jawaban yang ingin di dengar nya. "Eh emang cuma temen kok." Allea merasa tidak enak pada Leo nanti kalau kesalahpahaman ini terus berlanjut. "Ya ampun kamu ini masih aja malu-malu, gak apa-apa lah sama mom jangan malu-malu," ujar Salsha sambil mengusap punggung tangan Allea. Allea hanya tertawa canggung karena sudah tidak bisa membela dirinya lagi. "Eh siapin minum dong Alvera." "Kok aku?" "Ya kamu lah sana cepet, sama cemilan nya juga." Alvera menghela napas, "iya iya." Alvera berjalan dengan lesu ke dalam untuk menyiapkan minuman untuk Allea. Memang Alvera ini jauh lebih malas dari pada yang lain nya. "Kasih minum apa ya?" gumam nya sambil melihat-lihat ke dapur nya. "Gua kasih air putih doang udah pasti gua di geplak mamah sih." Alvera mengambil sirup untuk di sajikan pada calon adik ipar nya itu. "Leo nya kemana? Kok gak kesini bareng Leo?" tanya Salsha yang terlihat sangat antusias dengan Allea. Tentu saja Salsha sangat antusias, karena untuk pertama kali nya ia melihat kekasih anak bungsu nya itu. Ia pikir anak nya itu terlalu sangat dingin hingga menjadi es yang sangat keras melebihi batu sampai tidak bisa ada yang mencairkan nya, tapi sepertinya sekarang tidak lagi. Ini sudah sangat menjadi bukti, karena gadis di depan nya ini walaupun tidak mengaku sebagai kekasih anak nya, tapi dengan membiarkan gadis ini tinggal di apartment nya saja sudah membuktikan anak bungsunya —Leo sudah sedikit mencair karena gadis ini. Salsha harus berterima kasih pada gadis ini. "Lagi ada urusan katanya, tan." "Kok tante, panggil aja mommy." "Eh iya mommy." Allea tersenyum canggung. Bagaimana kalau Leo tau nanti. "Udah lama tinggal di apartment Leo?" "Belum lama kok." "Leo ngizinin ?" Tanya Angel yang masih heran dengan tingkah adik nya itu, mereka kan hampir sama jadi sangat aneh melihat nya memperbolehkan orang asing tinggal di apartment nya. Memang nya gadis itu gelandangan sampai Leo harus menampung nya? "Iya Leo yang nyuruh tinggal di apartment nya dulu," jawab Allea membuat ibu maupun kakak Leo tersentak. Salsha selaku ibu Leo tertawa. Angel hanya mengerutkan dahi nya masih tidak percaya. "Lagi pdkt tuh kan mereka mah," sahut Alvera sambil membawa minuman untuk Allea beserta makanan ringan. "Leo nanti telfon kalo pulang langsung ke rumah," ucap Salsha pada kedua anak nya yang sudah pasti dilaksanakan oleh Alvera dengan semangat. Kalau masalah urusan seperti ini Alvera maju paling depan. Apalagi nanti ketika Aldi— ayah mereka pulang dan melihat Allea. Alvera menunggu saat-saat itu. "Satu sekolah sama Leo?" Tanya Salsha. Allea mengangguk, "iya." "Leo gimana? Baik gak sama kamu?" "Hmm... Baik." "Ngeselin kan anak nya," ujar Alvera sambil mengirimkan pesan pada Leo tanpa menoleh sedikit pun pada Allea "Iya, eh eng... Enggak kok. Leo baik." Allea kau harus berbicara yang benar, jangan sampai salah bicara. Kau ini sedang dalam situasi —entah tidak tau harus bagaimana. "Udah gak apa-apa jujur aja, Leo emang ngeselin." "Leo perhatian gak sama kamu?" Tanya Salsha lagi pada Allea. Allea terdiam sesaat untuk memikirkan apa Leo perhatian pada nya atau tidak? Apa memberikan sepatu baru, selalu siap di hubungi, mendahulukan nya dari yang lain, menemaninya di saat dirinya sedih dan kesulitan itu termasuk dalam perhatian? Kalau iya berarti Leo memang perhatian walaupun dia menyebalkan karena sikap dingin nya itu. Allea mengangguk kecil. "Iya," jawab nya. "Leo pernah nembak lo gak?" Alvera sekarang menatap Allea menunggu jawaban nya. Ia sangat penasaran bagaimana cara Leo menembak seorang gadis. Apa akan romantis apa menggelikan? Alvera membayangkan nya saja sudah ingin tertawa. "Enggak." Jawaban yang di lontarkan Allea membuat Alvera sedikit kecewa dengan jawabannya. Padahal Alvera mengharapkan jawaban iya dari mulut Allea, tapi ternyata tidak. Mengecewakan, batin Alvera. Angel yang sedari tadi duduk hanya diam saja mendengarkan percakapan mereka bertiga sambil membaca buku nya. "Yah gak seru juga si Leo." "Ayo nanti makan malem di sini aja ya," tawar Salsha. "Enggak usah tan, nan..." "Gak terima penolakan," potong Salsha dan Alvera bersamaan. Sebenarnya Alvera mengikuti ibu nya saja, karena dia tau apa yang akan di lontarkan ibu nya itu. Salsha melirik anak kedua nya itu dengan sebal karena di ikuti ucapannya dan Alvera hanya tertawa senang karena berhasil menjahili ibu nya. Alvera memang sangat jahil, tidak perlu heran. *** "Sayang aku pulang," teriak Aldi yang baru pulang dari kantor. Inilah saat-saat yang di tunggu Alvera, dimana ayah nya datang dan bertemu dengan Allea. Alvera yang tidak ikut membantu memasak hanya duduk sambil melihat ibu, kakak dan calon adik ipar nya itu memasak seraya mengunyah cemilan yang berada di pelukannya. Allea yang tengah memotong wortel membantu Salsha untuk masak makan malam menoleh melihat siapa yang berteriak. "Di dapur," teriak Salsha sambil mengaduk makanan di penggorengan. Aldi berjalan ke dapur dan memeluk istri nya itu. "Loh siapa?" Tanya Aldi melihat seorang gadis asing di rumah nya. "Adik ipar pah," sahut Alvera. "Hah?" Aldi terlihat kebingungan dengan ucapan Alvera. Anak nya yang mana sudah menikah memang nya? "Pacar nya Leo," ujar Salsha sambil melepas dasi sang suami. Aldi tersentak. "Pacar Leo??!" Allea hanya diam saja tidak tau harus berbicara apa, tidak ada jeda untuk dirinya berbicara. "Iya, dia bahkan udah tinggal bareng loh pah," ujar Alvera semakin memanaskan suasana, ini memang bakat nya. Angel hanya diam saja tidak memperdulikan yang lain nya karena tidak penting baginya, lebih baik melanjutkan masak nya saja kan daripada ikut berbicara yang dirinya pun sudah tau. Mendengarkan saja susah cukup. "Tinggal bareng??!" "Udah sana mandi dulu nanti baru tanya-tanya." Salsha mengusap kerutan di dahi Aldi. "Tap... " "Mandi dulu." Salsha mengecup bibir Aldi sekilas. Allea sedikit terenyuh melihat interaksi kedua orang tua Leo yang sangat harmonis, andai saja kedua orang tuanya masih lengkap dan ayah nya tidak sesibuk sekarang. Andaikan saja. Aldi melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian dan mandi dengan perasaan yang penuh pertanyaan di otak nya. Tapi bagaimana pun kalau istrinya menyuruh nya untuk mandi terlebih dahulu, Aldi menurut saja. Bukan karena Aldi takut istri melainkan Aldi menyayangi istri nya, jadi dia menuruti semua keinginan istri nya itu. Ya, walaupun pernyataan Aldi takut pada Salsha itu tidak salah juga. Sementara di dapur sudah menyiapkan semua makanan di meja dan menunggu Aldi yang masih berada di kamar nya, dan menunggu Leo yang sudah di perjalanan pulang ke rumah nya. "Allea sekelas sama Leo?" Tanya Alvera yang duduk di samping Allea. "Enggak, beda kelas." "Kok bisa deket?" Allea bingung harus menjawab apa, ia juga tidak tau karena apa mereka dekat. Apa Allea harus mengatakan karena teror yang menimpa dirinya yang membuat dirinya dan Leo dekat, apa boleh Allea mengatakan itu? Allea takut salah berbicara, biarkan Leo saja yang menjawab itu. "Makanan udah siap?" Aldi masuk ke ruang makan dengan pakaian santai nya. Allea bernapas lega karena tidak perlu menjawab pertanyaan yang tadi di lontarkan oleh Alvera. "Udah." "Mana Leo belum dateng?" Tanya Aldi seraya menarik bangku untuk dirinya duduk di samping sang istri. "Masih di jalan katanya," jawab Alvera. "Suruh cepet—" "Leo pulang." Semua menoleh ke arah suara berasal yang sudah pasti berasal dari Leo. "Leo sini duduk," ucap sang ayah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN