Part 26

1588 Kata
Setelah kejadian menegangkan tadi, seluruh murid di pulangkan lebih awal dan di liburan untuk sementara waktu ini. Dan sebelum mereka pulang, kelas Allea terlebih dahulu di interogasi terlebih dahulu sebagai saksi. Dan sekarang mereka berlima, Leo, Allea, Karel, Alfi dan Verell berada di rumah Allea. "Di minum non." "Makasih Bi Inah," ucap Vela mengambil segelas minuman yang di letak kan di meja. "Makasih," ucap mereka pada bibi yang berkerja di rumah Allea. "Non Vela gak apa-apa kan tapi?" tanya bi Inah yang sudah mendengar semua kejadian di sekolah tadi, sambil melihat Vela yang masih mengelap wajah nya yang tersisa bercak darah. "Iya gak apa-apa." Allea turun dan menghampiri teman-teman nya setelah berganti pakaian dengan pakaian santai nya. "Kalian nginep di sini selama libur boleh gak?" tanya Allea yang duduk di samping Leo yang tengah sibuk dengan ponsel nya. Tentu saja Leo sibuk dengan ponsel nya, karena Leo sedang mengabarkan kejadian tadi di sekolah kepada Nanas, dan bertukar informasi dengan pak Johan yang saat kejadian itu berlangsung diri nya sedang mengajar. Karel pun sama dengan Leo sibuk dengan ponsel nya, walaupun Karel tidak sesibuk Leo yang harus memerintahkan orang untuk menyelidiki siapa yang menyebabkan kekacauan di sekolah, dan harus membaca, memahami beberapa peraturan yang di berikan Nanas pada nya, dan juga hal-hal kecil yang tidak boleh di lewatkan oleh Leo. "Boleh lah," sahut Verell dengan semangat. Memang Verell sangat suka berkumpul dengan teman-teman nya seperti ini, dibandingkan di rumah seorang diri yang entah harus berbuat apa karena bingung seorang diri di rumah. "Gua boleh kok kalo nginep di rumah lo mah, kan orang tua gua juga kenal lo," ucap Vela yang sudah selesai membersihkan wajah nya dari cipratan darah teman sekelas nya itu. "Gua ijin dulu." Alfi membuka ponsel nya dan mengirimkan pesan untuk meminta izin pada orang tua nya. "Gua boleh," lanjut Alfi yang sudah mendapatkan izin dari orang tua nya. Mereka menunggu jawaban Leo dan Karel yang masih sibuk dengan ponsel nya tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka. Bahkan sepertinya mereka berdua juga tidak mendengar permintaan Allea tadi. "Leo," panggil Allea yang hanya di balas dengan deheman saja. "Karel." Allea memanggil Karel yang sama dengan Leo hanya membalas dengan deheman saja. "Gua curiga mereka berdua lagi chatting sebenernya," ujar Verell. "Sama," balas Vela yang mengangguk menyetujui ucapan Verell. "Padahal samping-samping an, ngapain gak langsung ngomong aja ya?" tanya Alfi. "Wah wah jangan-jangan ... " Verell sengaja menggantung ucapan nya. "Kenapa?" Karel mengalihkan pandangan nya dari ponsel nya dan menatap teman-teman ya yang juga sedang menatap diri nya. "Kenapa sih pada liatin gua? gua tau kali gua tuh ganteng banget, tapi jangan liatin segitu nya juga kali," ujar Karel yang sudah mematikan ponsel nya dan meletakkan nya di meja, lalu mengambil segelas minuman yang tadi sudah di siapkan untuk mereka dan menenggak nya. "Lo lagi ..." "Boleh." Leo memotong ucapan Verell. "Boleh apa?" tanya Vela bingung. "Boleh nginep di sini," jawab Allea seolah menerjemahkan ucapan Leo tadi yang masih sibuk dengan ponsel nya. "Nginep?" Karel menatap Allea bingung. "b***k sih, makanya dengerin." Verell mendorong bahu Karel. "Gua ngajak kalian buat nginep di sini, gimana lo boleh? Gua masih takut soal nya," ucap Allea. "Oh, boleh kok gua mah pasti," balas Karel sambil tersenyum yang mendapatkan lirikan dari Leo. "Eh terus kita ganti baju nya gimana?" tanya Alfi. "Pulang dulu berarti kita ambil baju," jawab Verell sambil membuka toples berisikan kripik singkong. "Tau gitu gua ijin nya nanti sekalian pas ambil baju," ucap Alfi. "Gua sih tinggal pinjem baju Allea," balas Vela. "Bodo amat." "Gak peduli." "Yaudah sana kalian ambil baju dulu sekalian minta ijin lagi." Allea menyuruh teman-teman nya untuk mengambil pakaian ganti terlebih dahulu. "Jangan semua," ucap Leo. "Iyalah, masa gua bawa baju gua selemari ke sini, emang gua mau pindahan," balas Verell. Leo menatap melirik Verell malas karena tidak mengerti ucapan nya. Allea yang tau itu bukan yang di maksud Leo segera mengulang kata-kata Leo dengan yang benar. "Jangan langsung semua yang ambil baju, gantian?" Allea menatap Leo memastikan kalau yang dia katakan itu benar. Leo mengangguk pelan. "Oh jadi gantian gitu, gua sama Alfi dulu yang ambil baju nanti baru lo sama Karel?"tanya Verell. "Lo sama Karel." "Yaudah sana lo sama Karel duluan yang ambil baju," usir Vela. "Jangan gua dulu ah, gua mager banget," tolak Verell yang sedang menonton televisi. "Alfi." Leo melihat ke arah Alfi. "Yaudah ayo Alfi, sekalian gua anterin deh," ajak Karel. "Iya." Alfi dan Karel pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaian untuk ganti selama mereka menginap di rumah Allea. Leo masih sibuk dengan ponsel nya, membalas pesan dari Nanas dan sesekali membalas pesan dari ibu, ayah dan kakak nya yang menanyakan keadaan nya saat ini apa baik-baik saja atau tidak. Mereka semua sudah tau tentang kejadian yang berada di sekolah Leo tadi, jangan kan orang tua dan kakak nya Leo, seperti nya semuanya juga sekarang sudah tau akan berita penembakan di sekolah nya. "Leo lo sibuk banget sama hp, ngapain sih?" Tanya Vela. Leo hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Vela. Leo malas mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Vela. "Nanti malem mau makan malem apa?" Tanya bi Inah sambil lewat membawa sepiring potongan buah. "Nanti beli aja bi," jawab Allea. "Iya." "Bibi kalo mau pulang, pulang aja gak apa-apa Allea di sini sama temen-temen kok." "Bener gak apa-apa?" "Iya bi gak apa-apa kok, kan rame di sini." "Yaudah bibi pulang ya, kalo butuh apa-apa telfon bibi ya, kalo ada apa-apa juga kabarin bibi." "Iya bi makasih." "Yaudah bibi pulang dulu ya semua." "Iya bi hati-hati," ucap Allea dan Vela bersamaan. "Iya bi makasih makanan nya ya," seru Verell sambil melambaikan tangan nya. "Perlu Leo antar?" Tawar Leo. "Gak usah nak Leo, rumah bibi deket kok." "Hati-hati." "Iya makasih, kalo butuh apa-apa telfon bibi ya." "Iya." Bibi Inah, yang selalu menemani kesepian Allea berpamitan untuk pulang dulu. Sangat jarang bi Inah pulang ke rumah nya dan lebih sering menemani Allea. Sebenarnya Allea tidak tega membiarkan bi Inah yang terus menerus menemani nya sampai jarang pulang ke rumah nya untuk bertemu dengan suami dan anak-anak nya, tapi mau bagaimana lagi Allea juga membutuhkan bi Inah untuk menemaninya. Walaupun kalau Allea bersekolah bi Inah pulang ke rumah nya tetap saja, sebagian besar keseharian bi Inah di rumah ini bersama Allea. "Enak ya di rumah Allea banyak makanan," ujar Verell seraya mengambil potongan buah yang telah di sediakan menggunakan garpu. "Enak di lo, rugi di Allea," sahut Vela. "Apa sih sirik aja, Allea aja biasa aja tuh." "Udah bilang ke orang tua lo?" Tanya Leo pada Allea yang hanya diam saja menonton televisi. Allea menoleh pada Leo dan menjawab pertanyaan nya,"udah." "Terus?" "Ya gimana, dia tetep sibuk walaupun dia juga khawatir." "Gak berniat pulang?" "Katanya baru nyampe di Jepang, minggu depan baru bisa pulang." "Sibuk banget?" Allea mengangguk lesu menjawab pertanyaan Leo. Ayah nya menjadi sangat sibuk seperti itu sejak ibu nya meninggal, membuat Allea semakin kesepian. Dan sekarang Allea sudah mulai terbiasa dengan kesepian nya ini. "Nanti lo pulang ambil baju sekalian beli makan malem ya." "Iya," balas Leo. "Nanti uang nya ..." "Punya gua aja." "Jangan, kan lo pada nginep di rumah gua," tolak Allea. "Verell mau bareng?" Leo berdiri mengambil tas dan juga kunci mobil nya. "Emang Karel sama Alfi udah dateng?" Verell mengalihkan pandangan nya pada televisi dan menatap Leo. "Di depan." "Iya tuh suara mobil nya," sahut Vela. "Yah padahal masih pengen rebahan." Verell berdiri mengambil tas nya. "Kalo ada apa-apa telfon." Leo mengusap kepala Allea sebelum berjalan keluar. "Ihhh romantis nya Leo," ucap Vela menggoda Allea yang terlihat malu akan sikap Leo tadi. Verell tertawa sambil menyusul Leo yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan nya, "cepet lah Leo jadian." *** Sudah malam hari dan mereka semua tengah makan malam bersama dengan makanan yang sudah di beli oleh Leo. "Ini kita libur berapa hari?" Tanya Alfi. "Gak tau." "Mana gua tau, emang gua kepala sekolah nya?" Verell melirik ke arah Alfi. "Tau gak sebenernya tadi tuh yang kena tembak sebenernya Allea, tapi di tolongin Karel jadi yang kena Caca, iti loh yang di depan Vela kena tembak itu," jelas Alfi sambil menyuapkan makanan nya ke mulut nya. Leo melirik ke arah Karel dan kembali pokus pada makanan nya. "Iya yang darah nya kena ke gua itu," sambung Vela yang melihat semua kejadian di depan mata nya tadi, karena dirinya, Alfi dan Allea satu kelas. "Pantesan Allea takut banget gitu," sahut Verell tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan nya. "Iya untung ada Karel." "Iya sih Karel cekatan juga ya." "Iya kan harus saling membantu," ucap Karel santai. "Lah keren juga lo ya." Verell menepuk bahu Karel. "Iya dong," jawab Karel bangga sambil tertawa. Leo diam saja menghabiskan makanan nya sambil mendengarkan percakapan mereka. Leo kembali melirik ke arah Karel dengan wajah datar. Leo akui Karel memang sangat cekatan mengatasi masalah tadi, bahkan ikutan membantu polisi sedikit tadi untuk menjelaskan kejadian dengan detail, karena yang lain masih sangat syok jadi tidak bisa menjelaskan nya dengan jelas. Satu hal yang membuat Leo sedikit terkesan, Karel tidak panik dan bisa bersikap tenang dalam keadaan genting seperti itu dan juga membantu teman nya yang lain untuk tidak panik. "Gak apa-apa kan?" Tanya Leo kembali memastikan kalau Allea baik-baik saja. "Iya." "Sumpah Leo, lo nanyain Allea pertanyaan yang sama udah sepuluh kali lebih loh ya." Vela menatap Leo kesal karena sedari tadi dirinya mendengar Leo menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali pada Allea. "Segitu khawatirnya ya Leo," ledek Verell sambil tertawa bersama yang lain nya. Leo hanya diam saja tidak menghiraukan teman nya yang lain. Allea juga hanya diam saja dan melanjutkan makan nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN