Seperti biasanya Leo mengantarkan Allea berangkat sekolah. Dan seperti yang di harapkan Leo, kalau semua nya baik-baik saja, tidak ada teror yang terjadi. Tentu saja karena dua peneror itu sudah di aman kan mereka, walaupun sampai sekarang mereka belum mengetahui dalang dari semuanya, setidaknya untuk sekarang Allea aman.
Leo juga selalu mengawasi dan memantau cctv yang berada di rumah Allea. Dan jangan lupakan dua mata-mata yang juga ikut memantau rumah Allea, sudah Leo pastikan teror itu tidak ada lagi di rumah Allea.
Sebenarnya Leo sedikit sulit memantau Allea di sekolah karena kelas mereka yang berbeda. Leo sudah mengatakan pada pak Jonathan atau yang di sekolah ini dikenal dengan pak Johan, Leo sudah mengatakan padanya untuk mengatur kembali kelas agar mereka di kelas yang sama, dan sekarang pak Johan sedang mengatur nya. Ya Leo harus bersabar menunggu nya, karena Leo tau tidak mudah juga mencari alasan untuk membuat dirinya dan Allea di kelas yang sama, apalagi kelas Allea tidak memiliki bangku kosong.
"Leo," panggil Verell yang duduk di sebelah nya.
Leo menoleh pada Verell sambil menaikkan sebelah alis nya seolah bertanya 'ada apa?'
"Lo ngerti gak tuh guru jelasin apa?" Verell menunjuk guru yang sedang menjelaskan di depan kelas, sambil menulis catatan di papan tulis menggunakan spidol hitam.
Leo melihat kearah tulisan penuh angka-angka di papan tulis itu. Leo tidak memerhatikan penjelasan guru itu sedari tadi Leo hanya fokus pada pikiran nya saja, tapi setelah melihat tulisan yang di papan tulis itu Leo dengan cepat mengerti apa yang tengah di jelaskan oleh guru nya itu.
Leo mengangguk untuk menjawab pertanyaan Verell tadi.
"Padahal dari tadi gua liat lo cuma bengong doang gak merhatiin tuh guru," tuduh Verell yang sial nya itu tepat sekali.
"Gua ngerti."
"Yaudah nanti gua nyontek ya," ucap Verell sambil menampilkan gigi nya.
"Gak."
"Pelit banget sih lo sama temen."
Leo diam saja tidak membalas ucapan Verell lagi. Leo sangat malas berhadapan dengan orang seperti itu.
"Yaudah deh ajarin gua," ucap Verell akhirnya menyerah membujuk Leo untuk memberikan nya jawaban.
Verell kira Leo itu manusia yang hanya bermodalkan wajah saja, tapi ternyata Leo juga pintar, jadi Verell pikir dia dapat dengan mudah memanfaatkan kepintaran Leo. Tapi ternyata salah, Leo tidak mudah di bodohi, tentu saja karena Leo pintar jadi tidak bisa di bodohi begitu saja.
Tapi jangan salah kira kalau Verell ingin berteman dengan Leo hanya ingin memanfaatkan nya saja, salah itu sangat salah. Karena sejak awal Verell tidak tau kalau Leo itu sepintar ini. Dan juga sampai sekarang pun Verell tidak mendapatkan contekan sedikit pun dari Leo, dan Verell tidak berniat sedikit pun untuk mengusir Leo dari pertemanan nya.
"Ngerti?" Tanya Leo setelah menjelaskan rumus yang di jelaskan oleh guru mereka tadi.
"Begini doang?" Tanya Verell meremehkan, karena Verell pikir itu sangat sulit. Lihat saja rumus nya sangat panjang, dan juga lihat di papan tulis, itu penuh jawaban dari satu soal saja. Bagaimana bisa Verell berpikir kalau ternyata semudah ini.
"Iya."
"Gua kirain susah banget." Verell mencatat rumus yang di papan tulis tadi sebelum gurunya memberikan soal pada mereka.
"Perhatiin."
"Bosen."
Dor!
Dor!
Suara pistol yang kencang membuat para murid menjerit histeris.
"Allea." Leo segera bangkit dari bangku nya sambil membawa tas milik nya, berlari menuju kelas Allea.
"JANGAN ADA YANG KELUAR KELAS!" Teriak sang guru yang tidak di hiraukan oleh Leo. Saat ini pikiran Leo hanya terfokus pada Allea.
"LEO LO MAU KEMANA??" Teriak Verell melihat Leo yang berlari keluar kelas.
Verell dengan cepat memasukkan buku nya dan juga buku Leo yang belum sempat Leo masukkan ke dalam tas nya tadi ke dalam tas milik Verell. Leo itu pintar pasti kalau kehilangan buku nya nanti dia kesal, jadi Verell dengan baik hati menyimpan buku Leo ke dalam tas nya sebelum hilang.
"Leo tunggu!" Verell ikut berlari keluar kelas mengikuti ke mana Leo berlari.
"LEO, VERELL DI BILANG GAK BOLEH KELUAR KELAS!!!" teriak sang guru yang sama sekali tidak di hiraukan oleh nya.
Dor
Dor
Dor
Suara tiga tembakan kembali terdengar dan suara jeritan, tangisan semakin terdengar. Leo berlari kencang menuju kelas Allea yang tidak jauh dari kelas nya, di ikuti oleh Verell di belakang.
"Allea," gumam Leo memikirkan bagaimana Allea, apa dia baik-baik saja atau tidak. Semoga Allea tidak terluka, Leo berharap Allea baik-baik saja.
Leo terus berlari tidak memperdulikan sekitar nya yang di ramai karena para murid yang ketakutan berlari ke sana kemari, membuat Leo sedikit tertunda menuju kelas Allea. Leo terus menambak yang lain nya, yang berlari berlawanan arah dengan nya. Bahkan Leo melupakan tugas nya, harus nya Leo bersikap tenang sambil memerhatikan sekitar nya mencari orang yang mencurigakan, dan mengejar si penembak entah ada di mana sekarang. Tapi tidak, Leo melupakan itu semua, yang ada di pikiran Leo saat ini hanyalah Allea.
"ALLEA." Leo masuk ke dalam kelas Allea yang sangat kacau, penuh dengan tangisan dan jeritan histeris serta darah yang menghiasi tembok dan juga lantai kelas.
Jantung Leo hampir berhenti berdetak melihat seorang siswa perempuan dengan rambut yang di ikat satu tergeletak tak berdaya dengan darah yang menggenang di sekitar tubuh nya.
"Leo," suara lirih yang sangat Leo kenali. Leo dengan cepat mencari sumber suara itu berasal.
"Allea." leo menghampiri Allea yang berada di pojok kelas sambil di peluk oleh Karel.
"Tenang, semua bakal baik-baik aja kok." Karel menenangkan Allea yang terus saja menangis.
"Allea, gak apa-apa kan?" Leo berdiri di depan mereka. Sebenarnya Leo sedikit tidak rela melihat Karel yang memeluk Allea seperti itu, harusnya dirinya yang memeluk dan menenangkan Allea, itu kan tugas nya bukan tugas Karel.
Allea mengangguk pelan, masih dengan isak kan tangis nya.
"Heh Vela, lo kena tembak?" tanya Verell yang menghampiri Vela yang hanya berdiri diam mematung di dekat seorang siswa yang sudah tergeletak dengan baju seragam dan wajah nya yang terkena cipratan darah.
"Astaga," gumam Vela untuk pertama kali nya setelah sekian lama terdiam karena terkejut melihat teman sekelas nya yang berada di depan nya tertembak di depan mata nya sendiri. Jantung Vela bahkan seperti nya tadi berhenti sejenak ketika menyaksikan guru dan teman nya yang tertembak di depan mata nya sendiri, ini pertama kali ya dalam hidup Vela meyaksikan hal se mengerikan ini.
"Vela, lo gak kesambet kan?" Verell menepuk bahu Vela yang masih terdiam kaku.
"Apa dia mati?" tanya Alfi yang melihat teman sekelas Vela yang tergeletak penuh darah di depan Vela itu sambil meringis, seolah merasakan sakit yang sama. Alfi sangat terkejut menyaksikan kejadian mengerikan ini, untung saja Alfi tidak terkena tembakan.
"SEMUA NYA TENANG JANGAN PANIK,MENUNDUK! JANGAN DEKET KACA," teriak Karel menginterupsi teman-teman nya untuk berkumpul di belakang yang jauh dari jangkauan jendela.
Verell dan Alfi yang mendengar teriakan Karel segera menoleh kesamping nya yang dekat dengan jendela rusak terkena tembakan. Bisa di simpulkan kalau teman sekelas Vela yang berada di bawah kaki mereka itu terkena tembakan dari luar sana, dan penembak itu tidak masuk ke dalam kelas.
"Ayo jauh-jauh dari kaca." Alfi menarik tangan Vela yang masih syok dan juga menarik tangan Verell mendekati yang lain nya di belakang.
"HEI JANGAN BERKELIARAN DI LUAR SANA!!" Teriak Karel yang melihat banyak anak murid yang panik berlarian keluar kelas.
Dor
Lagi. Suara tembakan lagi yang entah berasal dari mana, tapi kali ini tidak ada peluru yang masuk ke dalam kelas mereka saat ini. Suara jeritan kembali terdengar, menandakan pasti ada yang terkena tembakan lagi.
"Lo diem dulu disini sama Leo." Karel menyerahkan Allea pada Leo. Karel sangat peka kalau Leo tidak menyukai nya ketika dirinya memeluk Allea yang menangis, jadi Karel memberikan Allea pada Leo. Biarkan Leo yang menenangkan Allea, saat ini Karel harus membantu yanng lain nya.
"Kaya nya dia masih hidup." Tunjuk Alfi yang melihat siswi yang tergeletak tadi masih menggerakkan jari nya. Memang sedari tadi Alfi terus memerhatikan teman sekelas nya itu.
"Gua cek dulu." Karel berjalan mendekati gadis itu.
"Lo udah telfon polisi?" tanya Leo sambil memeluk dan mengusap kepala Allea, menenangkan Allea.
"Udah," jawab Karel yang sedang berjongkok di dekat gadis itu. Karel mengecek denyut nadi nya di pergelangan tangan gadis itu.
"Tolong telfon ambulance, gua lupa nelpon."
"Iya," jawab salah satu murid yang seperti nya itu ketua kelas ini.
"Ssstt yang penting lo gak kenapa-kenapa," ucap Leo pada Allea yang masih terisak pelan.
Allea bukan menangis karena hanya takut, walaupun pasti takut, Allea takut. Semua orang yang mengalami hal ini pasti takut, ya Allea sangat takut tapi rasa takut nya tidak sebesar rasa bersalah pada yang lain nya. Apalagi ketika melihat seorang guru yang entah masih hidup atau tidak di depan kelas tergeletak dengan darah yang terus mengalir dari kepala nya, hingga lantai penuh dengan darah. Dan juga teman sekelas nya itu yang juga terkena tembak. Allea merasa sangat bersalah, ini pasti peneror itu, ini pasti semua karena dirinya.
"Ini bukan salah lo." Leo mengusap air mata Allea sambil tersenyum kecil, mencoba menenangkan Allea dan meyakinkan ini bukan kesalahan nya. Leo tidak bisa membaca pikiran orang, tapi Leo tau dari raut wajah dan sorotan tatapan nya menandakan kalau dirinya merasa bersalah karena kejadian ini. Leo harus terus meyakinkan Allea kalau ini bukan kesalahan nya, ini kesalahan manusia entah siapa yang terus meneror nya terus menerus.
"Hiksss... tapi..."
"Sssttt udah jangan berpikir kaya gitu." Leo mengusap pipi Allea yang basah karena air mata nya.
"Semua nya akan baik-baik aja." Leo memeluk Allea.
"Leo lembut banget sama Allea," bisik Alfi.
"Kan udah gua bilang, dia tuh suka sama Allea," balas Verell dengan berbisik juga.
"Kapan ya jadian nya."
"Tau nih, gua nunggu traktiran nya padahal."
"Sumpah ya kalian, ini lagi keadaan genting dan kalian masih bisa sesantai ini bercanda gitu?" Vela yang sudah jauh lebih tenang dari tadi menatap kedua pria itu dengan kesal.
"Ya kan tadi katanya jangan panik," balas Verell yang tidak mau di salahkan.
"Terserah." Vela tidak mau berdebat kali ini, lebih baik diam.