Part 35

1532 Kata
Karel masih tidak menyangka kalau ternyata orang hebat yang di bicarakan nya kemarin bersama Mark itu adalah Leo. Karel masih tidak menduga itu semua. Jadi selama ini dirinya berteman dengan seorang agent, betapa hebatnya Leo tidak membuat satu pun orang yang curiga padanya, sudah sangat terbukti bukan kalau dia agent yang hebat. Karel terduduk di bangku di dapur rumah Allea sambil memegang segelas air mineral di tangan kanan nya yang berada di atas meja. Karel terus memutar otak nya untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Ia yakin kalau Leo masuk ke sekolah nya ini tanpa alasan, tidak mungkin kan seorang agent hebat pindah ke sekolah nya yang tidak bisa di bilang biasa saja juga, tapi sekolah nya memang terkenal sedikit nakal dan itu tidak mungkin sekali seorang agent masuk ke sekolah nya begitu saja kan. "Karel lo ngapain?" tanya Vela yang sedang membuka kulkas mencari cemilan. "Lo ngapain malem-malem belum tidur?" tanya Karel balik pada Vela yang sudah memakai pakaian tidur nya. "Nyari cemilan buat gua sama Allea di kamar." Vela mengambil dua bungkus makanan ringan dan dua minuman soda. Karel menenggak kembali minum nya yang sudah setengah hingga habis, menyisakan gelas kosong di tangan nya. "Lo ngapain bengong sendirian di sini?" tanya Vela yang sepertinya kedua cemilan dan minuman soda itu tidak cukup untuk nya hingga kembali mencari sesuatu di kulkas. "Gua haus aja tadi makanya ke dapur." Karel berjalan meletakkan gelas kosong nya d tempat cuci piring. "Oh, yang lain udah pada tidur?" "Tadi sih belum, tapi gak tau sekarang." Karel mencuci gelas yang telah dipakainya tadi. Karena Karel tidak mau merepotkan Allea atau bi Inah nanti untuk mencuci gelas nya, cukup menumpang beberapa hari di rumah Allea saja pasti sudah cukup merepotkan. "Yaudah, gua mau balik ke kamar lagi." Vela berjalan meninggalkan dapur dengan setumpuk makanan ringan dan beberapa minuman di tangan nya. Karel yang melihat itu hanya menggeleng, padahal hanya untuk berdua saja tapi jika dilihat seperti nya lebih untuk sekedar dua orang saja. "Udah malem padahal," gumam nya sambil meletakkan gelas yang telah di cuci nya tadi seraya mematikan kran air. Leo berjalan menuju dapur, mengambil gelas dan membuka kulkas. "Belum tidur lo?" sapa Karel yang tidak jadi untuk meninggalkan dapur. Bagi Karel sepertinya ini kesempatan untuk menanyai Leo banyak hal saat ini karena di sini hanya ada mereka berdua. "Ya kaya yang lo liat." Leo menuangkan air mineral dingin pada gelas nya dan duduk untuk meminum nya. Karel masih diam menunggu Leo menyelesaikan membasahi tenggorokan nya itu dengan air mineral dingin. Karel tidak mau bertanya saat ini, takut membuat Leo tersedak air mineral lalu mati, ia tidak mau masuk penjara karena telah membuat seorang agent mati tersedak air mineral. Ah tapi apa bisa mati karena tersedak air mineral? pikir Karel. "Mau nanya apa?" tanya Leo menyadarkan Karel dari lamunan nya. "Eh?" Karel menoleh pada Leo yang sudah duduk di dekat nya. Leo terlihat menunggu pertanyaan apa yang akan di lontar kan oleh teman nya itu Karel. Leo tidak bodoh untuk menyadari kalau Karel sedari tadi ingin bertanya pada nya, Karel memang harus belajar lebih lagi untuk mengontrol ekspresi agar tidak mudah terbaca oleh orang lain. Karel terlalu mudah di baca, pikir Leo. Karel menghela napas mempersiapkan pertanyaan untuk Leo,"Kok lo gak bilang?" pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Karel. Leo mendengus dan berdecak mendengar pertanyaan Karel. Leo kira pertanyaan yang akan di berikan nya pada nya kan lebih berbobot daripada sekedar bertanya seperti itu. Karel masih menunggu jawaban dari Leo, padahal Leo tidak mau menjawab nya. Leo melangkah kan kaki nya keluar dari dapur. "Loh?" Karel menatap Leo bingung, kemana jawaban nya? apa Leo sudah menjawab tapi dirinya tidak mendengarnya apa Leo benar-benar tidak menjawab nya?" "Leo." Karel mengejar Leo dan menahan nya. "Jawab," desak nya pada Leo yang hanya menatap nya malas. "Gua secret agent, harus nya lo tau artinya apa kan?" Karel terdiam mencoba mencerna ucapan Leo. Entah bahasa Leo yang terlalu tinggi atau otak Karel yang terlalu rendah. Karel masih mencoba mencari kata-kata yang pas untuk di cerna di otak pintar nya ini. Leo kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan Karel yang masih terdiam berpikir. "Leo?" panggil Karel lagi karena masih tidak mengerti kenapa Leo tidak mengatakan siapa dirinya sebenarnya pada nya. Leo menghela napas dan berbalik menatap Karel. "Lo harus banyak belajar." "Hah?" Karel menatap Leo lagi-lagi dengan wajah yang kebingungan. Karel sungguh tidak mengerti maksud dari ucapan teman nya itu. "Gua agent rahasia, udah pasti identitas gak boleh ada yang tau." Karel menganggukkan kepala nya, sekarang ia mengerti. Tapi harusnya Leo kemarin mengatakan nya yang sebenarnya saja pada nya, lagipula kan dirinya juga sudah bergabung bersama nya. "Kenapa lo gak bilang kemaren? gua kan udah gabung sama kalian," protesnya karena tidak terima karena dirinya ini sudah bergabung, kenapa di perlakukan seperti orang asing saja. "Lo harus tau tempat buat bahas kaya gini." Leo pergi meninggalkan Karel yang masih ingin protes pada Leo yang sama sekali tidak peduli dengan nya. "Nyebelin banget jadi manusia." *** "Lo berdua mau kemana?" tanya Alfi dengan muka bantal nya, melihat kearah Karel dan Leo yang sudah rapih. "Pergi," jawab Karel. "Berdua?" tanya Vela yang menyembulkan kepala nya dari balik badan Alfi. "Iya." Leo mengangguk membenarkan ucapan Karel. "Kemana?" tanya Verell yang sudang mengancingkan kemeja nya. "Pake baju yang bener dulu kek baru keluar," omel Vela pada Verell yang sama sekali tidak menghiraukan ucapan nya. "Allea mana?" tanya Leo. Seperti biasa Leo hanya aka menanyakan dan peduli pada Allea. "Di dapur sama bi Inah bikin sarapan," jawab Vela yang tau dimana keberadaan Allea, karena sebelum nya juga ia datang membantu di dapur dan ia baru saja keluar dari kamar setelah sudah mengangkat telfon dari kedua orang tua nya yang menanyakan kabar nya. Leo mengangguk dan berjalan menuju dapur di ikuti yang lain nya di belakang. "Allea di cariin sang pujaan hati nih," ledek Verell, seperti biasa tiada hari tanpa mengejek seseorang bagi Verell itu menyenangkan. "Udah pada bangun," sapa bi Ina. "Iya bi." "Mau kemana?" tanya Allea pada Leo yang mendekati nya dengan pakaian yang rapih. "Mau keluar sama Karel." "Berdua doang?" tanya Allea sambil mengaduk memotong menjadi dua roti bakar yang sudah di siap kan. "Iya." "Pamitan dulu ya Leo," ejek Vela yang sepertinya sifat jahil Verell menular pada nya. Mereka semua tertawa, kecuali Allea dan Leo tentu nya. Bagi mereka tidak ada hal lucu yang patut ditertawakan. "Pulang kapan?" "Sore." "Mau kemana?" "Keluar." Allea menghela napas. Baiklah mungkin Leo tidak mau memberitahu nya dan itu privasi, Allea menghargai itu dan tidak kembali menanyakan lagi kemana mereka akan pergi. "Sarapan dulu, mau nasi goreng apa roti?" tawar Allea. "Roti." "Udah deh kalian jadian aja deh mending," sahut Verell yang di angguki lain nya, bahkan bi Inah pun ikut mengangguk menyetujui saran dari Verell. "Nih roti nya." Allea menyerahkan roti panggang nya tadi pada Leo tanpa memperdulikan ejekan teman-teman nya. "Makasih." Leo mengambil piring berisi roti panggang itu dari tangan Allea. "Iya." Leo duduk di samping Karel yang tengah menuangkan secentong nasi goreng yang berada di meja makan ke dalam piring nya. "Besok udah mulai sekolah ya?" "Iya, cepet banget," keluh Verell yang masih merasa libur beberapa hari ini kurang, di tambah lagi mereka tidak pergi berlibur kemana-mana dan hanya diam di rumah Allea, itu membosankan pikir Verell. "Gua kira lo suka sekolah," ucap Vela santai langsung mendapatkan tatapan dari yang lain nya. "Kok lo bisa-bisa nya mikir nih anak suka sekolah?" tunjuk Karel pada Verell yang duduk di samping kanan nya. Verell pun yang asik makan dan menjadi pembicaraan utama menunggu jawaban apa yang akan di lontar kan Vela, kenapa bisa-bisa nya dia berpikir seperti itu. "Karena kan di sekolah lo kerjaan nya cuma ngisengin orang doang, jadi kalo gak sekolah jadi bosen," lanjut Vela yang mendapatkan anggukan setuju dari yang lain. "Iya sih bener," ujar Verell membenarkan ucapan Vela. "Kalo ada apa-apa telfon." kata-kata yang selalu Leo lontarkan pada Allea kalau dirinya tidak ada di dekat nya. Leo benar-benar sangat mengkhawatirkan Allea. "Iya." *** "Jadi?" tanya Leo pada orang yang telah di perintah untuk mengecek mayat tangan yang kemarin di kirimkan di rumah Allea. "Kita lagi cari mayat nya," balas nya sambil melihat data yang ada di berkas map coklat di tangan nya. "Kalian belum nemu mayat nya?!" "Belum, kita udah dapet informasi kalo beberapa ada orang yang ilang, kita lagi selidikin." Karel yang duduk di sofa hanya diam mendengarkan percakapan mereka yang Karel belum begitu mengerti, walaupun Karel tau mereka sedang membahasa masalah tangan yang kemari di kirimkan ke rumah Allea, tapi Karel masih belum tau apa masalah nya. Karel sangat yakin sekarang kalau Leo memang di tugaskan untuk menjaga Allea. Karel ingin menanyakan ada apa sebenarnya pada Allea tapi ia menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. "Harus udah di temuin sekarang!" perintah Leo yang sudah geram karena penyelidikan nya yang lama. Padahal ini semua termasuk sangat cepat, Leo saja yang terlalu tidak suka lama. "Iya kita juga udah nangkep orang yang ngelempar kotak itu semalem di rumah Allea." "Udah ketangkep?" Akhirnya Karel membuka suara nya. "Iya," jawab wanita itu sambil menatap Karel dengan senyuman. Tidak bermaksud lain, hanya saja kepada anak baru setidaknya ia harus bersikap ramah kan. Tidak seperti Leo, tidak usah lah kalian bersikap ramah pada nya karena percuma saja. "Terus gimana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN