"Terus gimana?"
"Mereka sama kaya yang sebelum nya, selalu bilang gak tau."
"Mereka masih aja gak mau buka mulut." Leo memijat kening nya. Leo tidak habis pikir, di bayar seberapa banyak mereka sampai tidak ada satu pun yang mau membuka mulut nya. Atau mereka semua di ancam sampai tidak ada yang berani membuka siapa dalang dari semua ini. Ini ternyata cukup rumit.
"Iya, semuanya sama. Mereka di hubungin lewat pesan atau telfon katanya mereka sama sekali belum pernah ketemu siapa yang nyuruh mereka."
"Apa kira-kira syarat sampe di hubungin mereka?" tanya Leo yang sekarang duduk di samping Karel setelah sedari tadi berdiri.
"Biasanya preman-preman, penjahat kelas teri biasa, atau pencuri kecil-kecilan gitu."
"Udah di tanya gimana awalnya mereka di hubungin?"
"Mereka jawab gak tau, tiba-tiba ada yang kirim pesan ke mereka gitu sama ngasih uang yang gak tau dari mana pasti muncul aja di deket sekitar mereka kalo udah berhasil ngejalanin misi mereka."
"Itu berarti pas mereka ngelakuin itu di awasin sama dalang nya," sahut Karel yang sedikit demi sedikit mulai mengerti. Tolong salah kan Leo karena Leo tidak mau menjelaskan nya terlebih dahulu apa masalah nya dan hanya di biarkan saja ikut dan mendengarkan percakapan mereka yang dia tidak tau apa permasalahan nya.
"Iya bener."
"Kita harus bener-bener teliti dalam hal ini."
"Iya."
"Gimana kalo nyamar aja jadi penjahat kelas teri itu, siapa tau kan kita di hubungin juga terus kita cari tau deh siapa yang nyuruh nya, di lacak nomor nya terus kita cari tau siapa yang ngirim uang nya," jelas Karel yang mendapatkan senyuman bangga dari wanita itu.
Leo melirik kearah Karel. Sungguh mengecewakan bagi Leo, karena Leo sedari tadi menunggu perkataan ini dari nya, tapi ternyata butuh tiga puluh menit pembicaraan mereka sampai Karel melontarkan saran itu. Padahal perkiraan Leo adalah sekitar dua puluh lima menit sampai Karel menyampaikan saran itu, tapi ternyata terlambat lima menit.
Sebenarnya tiga puluh menit bagi Karel untuk mencerna semua percakapan mereka, yang sedikit pun Karel tidak mengerti itu sudah sangat lumayan cepat. Jangan samakan pemikiran nya dengan Leo, mereka berdua kan berbeda. Jangan bandingkan dengan Leo yang sudah pasti mereka berbeda jauh.
"Ide bagus Karel," puji wanita itu menatap Karel yang juga tersenyum bangga karena pemikiran cemerlang nya itu.
"Jadi siapa Karel menurut mu yang pantas memerankan penjahat kelas teri itu?" tanya wanita itu sambil menunggu jawaban dari Karel yang saat ini tengah berpikir.
"Leo?" tanya wanita itu sambil melirik kearah Leo yang hanya menampilkan wajah datar nya.
"Hmm... " Karel menatap Leo seolah sedang menilai apakah Leo pantas memerankan sebagai penjahat kelas teri seperti itu. "Kurang cocok."
"Hahaha Leo terlalu kaku buat meranin penjahat kaya gitu." Karel juga tertawa ketika memikirkan bagaimana nanti Leo berpura-pura mencuri di pasar atau hal kriminal kelas teri lain nya, dan bisa saja sampai di kejar-kejar warga, sangat menggelikan, pikir Karel.
"Astaga gak bisa bayangin Leo di kejer-kejer warga hahaha." Wanita itu masih tertawa bersama dengan Karel.
Leo hanya diam saja, tidak ada yang lucu untuk ditertawakan. Leo tidak mengerti kenapa orang-orang suka sekali menertawakan hal yang tidak lucu seperti ini. Apa ada yang salah dengan otak mereka?
"Cari orang yang akan menyamar besok!" Leo keluar dari ruangan itu meninggalkan Karel bersama dengan wanita itu yang masih tertawa.
Lupa kan saja mereka berdua, tidak penting.
"Leo gimana udah ngejelasin kenapa kamu harus jagain Allea sama Karel?" tanya Nanas menghampiri Leo yang sedang berjalan seorang diri tanpa Karel.
"Udah." Padahal Leo tidak menjelaskan apapun pada Karel. Menurut Leo biarkan saja, Karel juga akan mengerti sendiri ketika mendengarkan percakapan mereka tadi harus nya. Karel kan akan menjadi agent jadi memang harus berlatih berpikir dengan cepat.
"Dia kayanya bakal di tugasin bantuin kamu buat jaga Allea deh," ucapnya yang tidak di respon oleh Leo. Sebenarnya Leo juga sudah tau tanpa di beritahu juga.
"Belum dua puluh tahun," jawab Leo.
"Kaya nya nanti ada pembaharuan peraturan baru, bakal boleh ngejalanin misi umur delapan belas tahun."
Leo hanya menghela napas saja tanpa berniat menjawab lagi. Biarkan itu menjadi urusan Nanas saja, Leo hanya menjalankan tugas saja.
***
Sudah beberapa hari mereka di liburkan dari sekolah, dan sekarang sudah waktunya untuk kembali ke sekolah. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi, sama seperti biasanya. Leo yang menjemput Allea sekolah, beristirahat bersama di meja yang sama dengan teman-teman nya yang lain.
Semua terlihat normal beberapa hari ini, walaupun tidak juga karena ada dua kotak misterius yang di kirimkan —tidak tapi di lemparkan ke rumah Allea. Karel juga sekarang sudah sangat mengerti tugas Leo yang menjaga Allea, dan sekarang dirinya juga di tugaskan hal yang sama untuk menjaga Allea. Karel pikir semuanya akan mudah, yang paling utama adalah bagi Karel sekarang tidak boleh ada yang tau identitas nya sebagai secret agent sekarang, terlalu bahaya.
Karel dan Leo juga menjadi semakin dekat, seperti sekarang mereka berdua sedang berada di perpustakaan sekolah, beruntung sekali kelas mereka berdua sama-sama sedang tidak ada guru. Iya, hanya mereka berdua karena yang lain nya di kantin, tempat paling ter favorit seluruh siswa.
"Lo mencurigai anak sini gak?" tanya Karel yang sudah pasti di abaikan oleh Leo.
Leo hanya melirik Karel menyuruh nya untuk diam saja. Sepertinya Leo harus sangat menegaskan pada Karel kalau dia harus berjaga-jaga dengan mulut nya itu, jangan sampai melontarkan perkataan yang membuat mereka dalam bahaya.
Karel yang di tatap Leo seperti itu, mengerti. Karel sudah lumayan belajar banyak tentang Leo. Dan itu sedikit membantu nya karena mereka kan di tugaskan untuk bersama-sama menjaga Allea.
"Udah nemu buku yang lo cari?" tanya Karel melihat Leo memegang salah satu buku yang di cari nya sejak tadi. Entah buku itu untuk apa, padahal Leo sudah pintar dan sepertinya Leo tanpa membaca buku juga dia sudah pintar, dan ya buku yang di carinya itu sepertinya ada sesuatu nya. Kebiasaan buruk Karel sekarang adalah mencurigai segala sesuatu yang di lakukan oleh Leo dan mempelajarinya, lagi dan lagi jangan salah kan Karel, ini semua karena Leo yang tidak akan mengatakan apa-apa pada nya. Bahkan Leo hampir tidak pernah memberitahu apa langkah selanjutnya yang harus mereka lakukan.
Leo sering membiarkan dirinya untuk berpikir sendiri tentang apa yang di lakukan nya tanpa mengatakan apapun. Itu hal membuat Karel selalu mencurigai Leo.
"Udah," jawab Leo singkat, berjalan menghampiri meja untuk menuliskan kalau dirinya meminjam sebuah buku di sini dan akan mengembalikan nya setelah tiga hari.
"Ayo ke kantin, mereka pasti udah nungguin." Karel berjalan terlebih dahulu di depan Leo menuju kantin. Karel itu murid normal yang menyukai kantin juga.
***
"Si Leo sama Karel lama juga, ngapain sih mereka?" tanya Verell sambil mengunyah bakso nya.
"Kan tadi dia bilang mau ke perpus minjem buku," jawab Vela kesal karena ini sudah kelima kali nya Verell menanyakan hal yang sama.
"Kayanya lo amnesia ya?" Alfi meletakkan tangan nya di dahi Verell sambil tertawa.
"Gak abis pikir punya temen bódoh begini," sahut Allea melihat Verell sambil menggelengkan kepala nya.
"Itu mereka," tunjuk Vela pada Karel dan Leo yang berjalan bersama memasuki kantin yang sudah pasti mendapatkan tatapan dari yang lain nya. Kedua pria itu memang tampan, siapa yang tidak mengakui itu? tentu saja Verell.
"Lama banget lo berdua ngapain hayo?" ledek Verell.
"Ngapain kek suka-suka gua," balas Karel yang duduk di samping Leo yang sudah duduk di samping Allea. Seperti biasa Leo akan diapit oleh Allea dan Karel.
"Makan dulu Leo." Allea menyodorkan makanan yang sudah di pesan nya untuk Leo.
"Iya." Leo menyantap makanan nya sambil memainkan ponsel nya. Leo selalu seperti itu, terlihat sangat sibuk.
"Makan dulu Leo baru main hp nya lagi," sahut Allea. Leo hanya bergumam membalas ucapan Allea.
"Rel, lo sekarang makin deket ya sama Leo," ujar Vela.
"Kenapa lo cemburu?" tanya Verell sambil mengunyah makanan nya.
"Mending telen aja dulu makanan lo deh baru ngomong." Vela menatap Verell yang hanya mengangkat bahu tidak peduli. Verell mana pernah mendengarkan orang lain, guru saja tidak di hiraukan nya. Tidak ada yang bisa mengatur diri nya, kecuali diri nya sendiri.
Leo sudah menghabiskan makanan nya dan sekarang sedang menenggak minuman nya.
"Nanti anter Allea pulang." Leo menengok kearah Karel yang sedang menaikkan alis nya bingung.
"Kenapa?"
Leo hanya diam saja tidak mau menjawab pertanyaan Karel, seperti biasanya. Oh ayolah terbiasa dengan sikap Leo yang menyebalkan ini.
"Lo mau kemana?" tanya Allea.
"Gua ada urusan, jadi pulang duluan nanti," jawab Leo. Kecuali Allea, Leo hampir menjawab semua pertanyaan yang di lontar kan Allea.
"Keluarga lo suka sibuk apa gimana sih, sibuk mulu," sahut Verell yang sudah tau kalau Leo sering ijin untuk urusan pribadi nya, karena memang hanya mereka berdua saja yang berada di kelas yang sama. Ingat kan Leo untuk mengatakan pada pak Johan untuk mengurus perpindahan kelas mereka agar berada dalam satu kelas yang sama.