Karel mengantar kan Allea pulang sekolah, sesuai dengan perintah Leo pada nya. Katakan saja kalau Karel sekarang sudah merangkap menjadi pembantu nya Leo saat ini. Walaupun ada bahasa yang lebih keren yaitu sekretaris tapi Leo sering menggunakan pembantu untuk Karel. Memang Leo itu sangatlah menyebalkan.
"Leo ada urusan apa sih?" tanya Allea.
"Gua juga gak tau, coba lo tanya aja sendiri," jawab Karel sambil fokus melihat jalanan di depan agar tidak menabrak kendaraan yang, kalau sampai itu terjadi. Karel tidak tau apa yang akan di lakukan Leo pada nya nanti karena membuat Allea terluka. Karel juga sekarang mulai menyadari kalau Leo terlihat begitu posesif pada Allea, terlepas dari misi nya itu.
"Leo itu misterius banget ya," sahut Allea sambil menyenderkan tubuh nya.
"Iya." Karel tidak mau banyak bicara, karena ia tau semakin ia banyak bicara apalagi menyangkut Leo itu sedikit membahayakan. Karena bisa saja Karel dengan tanpa sadar mengatakan yang sebenarnya siapa mereka. Sudah peraturan nya tidak boleh ada yang mengetahui identitas mereka sebagai agent, sekali pun itu teman dekat mu bahkan keluarga sendiri pun tidak boleh ada yang mengetahui nya.
"Oiya nanti kalo ada apa-apa telfon Leo gak bisa, telfon gua aja."
Allea menoleh pada Karel, "kok lo jadi sama kaya Leo sih."
"Kan sebagai teman harus saling membantu."
"Lagi gak ada mau nya kan lo?" selidik Allea.
"Emang nya gua Verell?"
"Ya kan lo temenan, kali aja sama."
"Ya enggak lah."
Karel memberhentikan mobil nya di depan rumah Allea. "Makasih," ucap Allea.
"Iya sama-sama."
Allea keluar dari mobil Karel dan masuk ke dalam rumah nya. Karel belum kembali menjalankan mobil nya, mata nya terfokus melihat salah satu objek yang membuat nya tertarik. Seorang pria yang saat ini tidak terlihat lagi setelah Allea turun dari mobil di balik sebuah pohon. Karel pastikan pria itu masih bersembunyi di balik pohon itu, memang sangat tidak bagus sekali rumah Allea dekat dengan beberapa pepohonan, memudahkan orang jahat mengawasi nya sambil bersembunyi di balik sebuah pohon.
"Kaya nya orang tadi mencurigakan." Karena akan sangat tidak mungkin, orang yang tidak memiliki niat jahat bersembunyi di balik pohon takut ketahuan, kalau tidak ada niat jahat untuk apa bersembunyi kan? pikir Karel.
Karel segera menghubungi Leo untuk mengatakan apa yang di lihat nya tadi.
"Leo tadi gua liat orang yang mencurigakan di deket rumah Allea."
"Lo dimana?" tanya Leo di sebrang telfon sana.
"Di depan rumah Allea."
"Ngejauh dulu dari sana."
"Tapi..."
"Lakuin aja."
Karel mendengus, " iya."
"Jangan di matiin."
Karel yang ingin mematikan sambung telfon mereka segera terhenti. Tanpa banyak membantah lagi Karel menuruti ucapan Leo, "iya."
Karel menjalankan mobil nya sedikit menjauhi rumah Allea tapi masih tetap bisa di pantau. "Udah, gua udah menjauh. Terus sekarang apa?"
"Gua udah nyuruh beberapa dari tim kita kesana."
"Terus gua harus apa?"
"Gak ada."
"Hah?" Karel menghela napas, lagi dan lagi Leo melarang Karel untuk melakukan sesuatu yang membantu.
"Pulang," perintah Leo pada Karel.
Karel hanya dapat menghela napas untuk kesekian kali. "iya."
Leo mematikan sambungan telfon nya.
"Kayanya Leo gak suka gua gabung," gumam nya sambil menjalankan mobil nya kembali ke rumah.
***
"Gimana?"
"Mereka ketangkep lagi bos," lapornya pada bos nya yang saat ini duduk di bangku kebanggan nya dengan cerutu di tangan kiri nya dan segelas wine di tangan kanan nya.
Pria yang di panggil bos itu hanya menampilkan senyuman miring nya. "biarkan mereka menangkap para pion ku yang tidak berguna itu."
"Sampai kapan kita mempermainkan mereka?" tanya pria lain nya yang berdiri di samping bos nya itu.
"Sampai aku bosan bermain-main mungkin," balas nya sambil menenggak wine nya.
"Apa itu akan lama?"
"Tidak juga, aku mungkin akan mulai bosan kalau dia terlihat sudah frustasi dengan ini semua."
"Itu sebentar lagi akan terjadi kan," sahut pria lain nya yang duduk di dekat bos itu sambil meniupkan asap cerutu nya dari mulutnya.
"Anak itu tidak mudah menyerah kau tau?"
"Anak itu memang terkadang sampai lupa kalau yang dia lawan tidak sebanding dengan nya hahaha."
Mereka menertawakan anak yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka.
"Apa yang akan kau lakukan lagi selanjutnya?"
"Terus melakukan ini, kalau dia mulai mengetahui kalau mereka hanyalah menangkap pion-pion, kita akan melakukan pergerakan selanjutnya."
"Malang sekali nasib anak itu harus berhadapan dengan iblis seperti mu," balas nya.
"Kurasa kau jauh lebih iblis dari ku karena ..."
"Sudah lah."
Mereka bertiga tertawa, menertawakan hal yang seharusnya tidak untuk ditertawakan. Tapi biarkan lah mereka tertawa saat ini, karena siapa tau ini hari terakhir mereka bisa tertawa senang seperti ini kan. Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi ke depan nya. Bahakan satu menit ke depan pun kita tidak tau apa yang akan terjadi. Masa depan itu rahasia.
***
"Udah nemu kandidat buat nyamar jadi penjahat?" Tanya Leo pada Nanas yang sedang menikmati cake nya.
"Itu semua kandidat nya ada di map kuning."
Leo berjalan mengambil map kuning yang di maksud Nanas tadi dan kembali duduk di sofa yang ada di ruangan nya. Leo membuka setiap lembar, melihat Poto setiap kandidat nya dan juga data-data diri nya, hingga kemampuan nya setiap kandidat Leo baca stau persatu. Leo harus teliti untuk memilih nya karena kalau sampai ia lalai sedikit saja itu akan membahayakan nyawa si penyamar dan rencana mereka juga akan berantakan. Jangan sampai itu terjadi, itu akan merusak segala nya
"Karel?" Leo berhenti di salah satu lembaran data kandidat nya.
"Kenapa? dia cocok untuk menyamar."
"Nanas, kau menyuruh nya bersama dengan ku, tapi kau malah menjadikan nya kandidat menyamar?"
"Tapi kan kamu juga gak nyuruh dia ngelakuin banyak hal kan? yaudah dari pada dia diem aja mending suruh nyamar aja," ucap Nanas dengan santai.
Leo merobek kertas data diri Karel dari map kandidat membuat Nanas membelalakkan mata nya. "Leo, kenapa di sobek?!"
Leo hanya diam saja dan kembali melihat data setiap kandidat.
Nanas hanya menghela napas, "kan kalo gak setuju tinggal bilang aja, jangan di sobek gitu."
Leo tidak memperdulikan ucapan Nanas itu, sekarang dirinya hanya pokus pada data-data yang sedang di baca nya dengan baik-baik.
"Tadi Karel nelpon ngasih tau orang yang ngawasin rumah Allea lagi?" tanya Nanas yang diangguki oleh Leo.
"Mereka mau apa yang dari Allea sampe neror terus kaya gini," ucap Nanas yang tidak mendapatkan respon dari Leo.
"Kamu tanya-tanya Allea gak kenapa bisa dia sampe teror kaya gini?"
"Semenjak ibu nya meninggal, ayah nya sibuk." Leo hanya mendapatkan informasi itu dari Allea. Leo juga masih terus mencari tau apa kesalahan orang tua Allea hingga menimbulkan masalah sebesar ini.
"Apa ayah nya buat kesalahan sama orang yang berbahaya kali ya?"
"Kenapa gak tanya aja?" Leo mengangkat wajah nya dan menatap Nanas yang masih menyendok cake ke mulut nya.
"Susah di hubungin nya sih, sibuk terus gitu. Kenapa gak kamu aja Leo yang nanya?"
"Gak ada nomer nya." Leo kembali melihat kearah kearah data-data yang harus ia teliti lagi.
"Oh iya dia kan minta cuma mau Nanas aja yang tau nomor nya."
Leo mengangkat wajah nya dan menatap Nanas. "Dia bilang gitu?"
"Iya," balas Nanas.
"Nanti Leo minta nomor ponsel nya."
"Buat apa?"
"Liat aja."
"Jangan di hubungin, Nanas udah bilang iya soalnya gak boleh ada yang tau nomor nya selain Nanas soalnya."
"Udah di lacak dia ada di mana?"
"Waktu itu udah, bener lagi di luar negri."
"Kayanya kita coba pantau ayah nya Allea juga."
Nanas diam sejenak lalu mengangguk menyetujui saran Leo. Sepertinya saran Leo tidak ada salah nya di coba, mungkin dengan mengawasi ayah nya Allea juga mereka bisa tau apa yang dilakukan ayah nya Allea sampai membuat anaknya –Allea di teror seperti ini. Dan apa ayah nya Allea juga terkena teror di luar sana, atau memang sengaja pergi keluar negri untuk menghindari teror ini. Tapi kenapa hanya seorang diri tanpa mengajak Allea bersama nya juga? atau ada hal lain yang di sembunyikan ayah nya Allea pada mereka semua dan juga Allea.
"Iya mungkin kita juga harus mantau orang tua nya, kali aja dengan gitu kita tau penyebab nya dan bisa menyelesaikan ini dengan damai."
"Mungkin juga enggak," balas Leo sambil membuka salah halaman dimana berisi data kandidat penyamaran.
"Udah dapet?" tanya Nanas yang melihat data yang di buka oleh Leo.
"Ini." tunjuk Leo pada lembaran yang di buka nya. Lalu membuka lembaran lain nya dan kembali menunjuk.
"Dua?" Leo mengangguk. Hanya dua saja yang sangat pantas menyamar sebagai penjahat kelas teri ini. Dan dua orang itu di nilai Leo sudah cukup, dan jumlah yang bagus karena bisa saling membantu dan ketika melihat semua data nya mereka berdua memiliki kemampuan yang saling melengkapi, jadi kalau sampai sesuatu hal buruk terjadi setidaknya mereka bisa melindungi diri mereka sendiri sebelum mereka datang untuk menyelamatkan mereka.
"Pilihan yang bagus, nanti biar aku yang menyampaikan untuk menyiapkan mereka."
Leo hanya mengangguk dan kembali mengambil tas sekolah nya. Karena kalau Leo mengatakan ada urusan ya itu sudah pasti urusan pekerjaan nya ini, dan Leo tidak pulang ke rumah terlebih dahulu, Leo langsung datang kesini dengan seragam sekolah nya yang di tutupi jaket nya agar tidak di ketahui dia berada dari sekolahan mana.
"Besok." Leo segera keluar dari ruangan Nanas untuk segera pulang karena waktu sudah menunjuk kan kalau sudah beberapa jam yang lalu sekolah nya menyalakan bel menandakan mereka sudah waktu nya untuk pulang.
"Dasar Leo, ngomong nya selalu ambigu. Untung udah terbiasa." Nanas segera mengirimkan laporan untuk menyampaikan pada kandidat yang telah di pilih Leo itu untuk mempersiapkan diri mereka untuk menyamar besok. Ya, besok yang si maksud Leo adalah ini, ia mau penyamaran sudah di mulai besok, dari jauh-jauh hari agar tidak di curigai.