Part 38

1625 Kata
"Capek banget," keluh Vela yang sedang berlari bersama Allea mengelilingi lapangan. Mereka di hukum? tidak, mereka tidak di hukum. Kelas mereka sedang melaksanakan pelajaran olahraga. Dan sekarang mereka sedang di perintah oleh guru mereka untuk mengelilingi lapangan. sangat melelahkan, tapi setidaknya jam olahraga yang diadakan ketika setelah istirahat itu menyenangkan karena ketika olahraga nanti akan ada waktu untuk beristirahat juga, secara tidak langsung mereka jadi merasakan istirahat berkali-kali kan. Menyenangkan sekali, terutama bagi Alfi, dia akan dengan sengaja lewat di depan kelas Verell sambil membawa makanan atau minuman untuk membuat Verell iri melihat nya. Terkadang juga kalau sedang tidak ada guru Verell akan keluar dan pergi ke kantin bersama Alfi dan juga Karel. "Ayo nih sepuluh menit lagi kita di kasih istirahat," ucap Allea dengan napas yang tersengal-sengal. "Iya, walaupun tadi istirahat gua udah makan sama minum, tetep aja lemes, capek." "Sama." Semuanya mengeluh, mereka tidak menyukai lari mengelilingi lapangan dengan di hujani terik matahari yang sangat panas ini, sangat melelahkan dan panas. Tapi tidak bagi Kare, mungkin hanya dia satu-satu nya murid yang sama sekali tidak mengeluh. Tentu saja, Karel kan sudah di latih agar fisik nya tidak lemah dan mudah mengeluh, jangan lupakan kalau sekarang Karel sudah bergabung menjadi secret agent. Kalau dia mengeluh, sama saja merendahkan nya. "Gila si Karel bener-bener gak ada capek nya," komentar salah satu teman sekelas mereka. "Rajin olahraga dia kayanya." "Udah pasti sih." "Ayo dong kalian semangat tuh kaya Karel jangan ngeluh terus," ujar seorang pria yang mereka panggil dengan sebutan guru. "Ayo dong bapak juga lari bareng kita sini," sahut Allea, seperti biasa Allea memang seperti itu. "Allea jangan nyaut aja kamu, udah sana lari." "Ayo dong bapak jangan diem aja di situ ngadem." "Allea." "Iya iya, ih bapak mah curang." Allea kembali berlari bersama Vela yang hanya tertawa melihat tingkah teman nya itu. "Kebiasaan protes mulu ya sama guru." "Kan biar adil, sama-sama capek, kepanasan," ucap Allea sambil mengelap keringat di dahi nya. "Nanti kalo lo jadi guru, jangan kaget kalo nemu murid kaya lo juga," kata Vela. "Siapa yang mau jadi guru? gua gak mau jadi guru ah, ngeri dapet murid ngeselin kaya Verell." "Takut dapet murid ngeselin kaya Verell apa ngeselin kaya lo sendiri? kan lo sama Verell sama aja," ejek Vela sambil berlari mendahului Allea. "Dasar Vela! awas aja lo." Allea berlari mengejar Vela yang tengah tertawa berlari di depan nya. *** "Yailah nih guru pake dateng lagi," keluh Verell yang melihat guru nya datang masuk ke dalam kelas. Leo hanya melirik Verell. Sepertinya Leo harus membiasakan telinganya untuk mendengarkan keluhan Verell setiap hari nya kalau pelajaran yang tidak di sukainya dan guru nya datang untuk mengajar. "Pasti nanti si Alfi pas istirahat jam olahraga sengaja lewat-lewat buat pemerin makanan atau minuman dia." Leo diam saja tidak menimpali ucapan nya dan memerhatikan guru di depan yang sudah mulai menjelaskan pelajaran yang akan mereka pelajari saat ini. "Ah ngeselin." Verell menjatuhkan kepala nya di lipatan tangan di meja nya. "Hey kamu yang tidur sini maju coba kerjakan soal yang saya kasih ini," omel sang guru pada Verell yang baru beberapa detik yang lalu memejamkan mata nya. "Kena aja lagi gua." Verell berjalan maju ke depan dengan lesu dan tentu saja dengan ledekan teman-teman nya yang lain. "Sukurin," ejek teman nya yang lain. "Diem lo." "Hahaha rasain, lagian tidur." "Pak liat tuh, dia ledekin saya. Kayanya dia juga mau di hukum deh," adu Verell pada guru nya. "Yaudah sini kamu juga maju." "Loh kok pak? kan saya gak tidur." "Tapi kamu berisik." Verell tertawa terbahak-bahak yang langsung mendapatkan lemparan hapusan papan tulis dari guru nya. *** "Mau ke kantin gak?" ajak Alfi pada Karel yang duduk di samping Allea dan Vela. "Ayo. Lo juga pada mau ke kantin gak?" ajak Karel pada Vela dan juga Allea. "Nanti aja gua capek," ucap Vela yang di angguki oleh Allea. "Yaudah gua duluan." "Iya." Allea dan Vela merebahkan tubuh nya di lantai bersama dengan murid lain nya. "Capek banget, mana panas," keluh Allea. "Sama." "Yuk ke kantin deh gua udah haus nih." Allea bangun dan duduk sambil membenarkan ikatan rambutnya. "Gua ke kamar mandi dulu deh kebelet." Vela berdiri. "Yaudah, gua tunggu di kantin ya." "Iya." Vela berlari menuju ke kamar mandi seorang diri. Allea melangkah kan kaki nya menuju kantin dengan santai. Suara jeritan kencang membuat mereka semua yang berada tidak jauh dari sumber suara segera berlari menuju sumber suara. Kamar mandi. Suara itu berasal dari kamar mandi perempuan. "Ada apa?" tanya murid yang lain nya menanyakan pada seorang murid yang menjerit dengan apa yang di lihat nya di depan mata nya ini. "Astaga," pekik seorang gadis yang lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi terkejut bukan main dengan apa yang di lihat nya. Beberapa dari mereka yang melihat nya juga ikut menjerit histeris. Darah, banyak darah di kamar mandi perempuan itu, dengan tubuh seorang gadis yang tergeletak disana. Darah yang terus mengalir dari perut nya membasahi lantai kamar mandi yang putih itu menjadi merah pekat. Aroma darah yang sudah menguar memenuhi kamar mandi membuat beberapa yang melihat nya mual. "Ada apa?" tanya Karel yang melihat kerumunan di kamar mandi perempuan dan beberapa dari mereka menangis histeris. "Itu..." tunjuk seorang murid dengan tangan yang gemetar menunjuk ke dalam kamar mandi. Karel yang seperti nya mengerti dengan keadaan ini segera menerobos memasuki kerumunan. "Minggir." Karel tersentak ketika melihat teman nya tergeletak tak sadar kan diri dengan genangan darah di sekitar nya. "Vela," gumam nya. Karel langsung menghampiri Vela dan menendang bungkusan roti yang berada di samping tubuh Vela. Dengan tangan yang bergemetar Karel mengecek denyut nadi Vela. Karel tidak boleh panik saat ini, ia harus tenang. Karel sedikit terkejut ketika melihat lipatan kertas kecil yang berada di selipan tangan Vela. Karel dengan cepat mengambil nya dan menyembunyikan nya di saku nya. "Telfon ambulance," pekik nya pada siapa saja yang mendengar nya. Tapi mungkin karena mereka sangat panik jadi tidak ada satu pun yang menelfon nya. "Ada apa nih?" Alfi muncul dari kerumunan orang. "Astaga Vela, Telfon ambulance." Dengan sangat terburu-buru Alfi langsung menelfon Ambulance. Berikan tepuk tangan pada Alfi yang tanpa di suruh dengan cepat dia menelfon Ambulance. Karel akan mengucapkan terima kasih nanti pada nya. "Eh ada apa nih rame-rame?" tanya Verell yang baru saja lewat ingin menuju kamar mandi, sebenarnya itu hanya alasan nya saja untuk bertemu dengan Alfi dan ke kantin bersama. Tapi ternyata ada hal yang lebih menarik di sini, Verell melihat kerumunan orang di depan kamar mandi perempuan. "Itu itu... " "Apa sih itu itu aja lo gak jelas, awas woy awas duh awas dong." Verell mendorong yang lain nya agar memberikan nya jalan untuk melihat ada apa sebenarnya. "Woy awas dong gua juga mau liat." Karel menoleh melihat-lihat mencari Allea, "Kemana dia?" gumam Karel yang tidak melihat Allea di kerumunan orang-orang. Karel menelfon Leo untuk memberitahu kan kejadian ini dan segera mencari Allea, Karel takut kalau ini juga salah satu teror untuk Allea. Karel takut kalau sekarang Allea sedang tidak baik-baik saja. Tapi Karel tidak bisa begitu saja meninggalkan Vela di sini seperti ini, menitipkan pada Alfi tidak akan membantu banyak. "Leo ada kejadian lagi, di kamar mandi cewek..." belum selesai Karel menyelesaikan kalimat nya, sambungan telfon mereka terputus. "Ck jangan-jangan telfon nya di ambil sama guru," decak Karel kesal karena tidak bisa ada yang di andalkan saat ini. "ASTAGA VELAA," teriak Verell mengejutkan mereka semua karena suaranya sangat lah kencang membuat orang-orang yang di samping nya pun langsung menutup telinga nya. "Jangan berisik," ucap Karel sambil mencoba untuk menahan agar darah nya tidak semakin banyak keluar. "Allea?!" Leo datang dengan napas tidak beraturan, sudah pasti Leo lari menuju kesini. "Bukan, tapi Vela," ucap Alfi. "Ada apa ini?" guru-guru mulai berdatangan mengusir murid-murid yang sedang berkumpul. "Allea mana?!" Leo sangat panik tidak melihat Allea di kerumunan orang-orang. "Gua terakhir liat dia sama Vela," ucap Karel. "Astaga, kenapa bisa kaya gini? telfon ambulance!" tanya guru-guru yang saat ini ikut panik dan sangat terkejut melihat salah satu murid nya tergeletak penuh darah seperti ini. "Udah," jawab Alfi. Suara ambulance membuat Karel dengan cepat menggendong Vela menuju mobil ambulance. "Cari Allea," ucap nya pada Leo yang sudah pasti tanpa di perintah pun Leo pasti akan mencari Allea. Leo berlari keluar kamar mandi dan melihat disekelilingnya. "Ayo coba cari ke kantin," ajak Alfi yang mengikuti Leo. Verell ikut menaiki ambulance bersama Karel. Dan Alfi mengikuti Leo untuk mencari keberadaan Allea. Leo dan Alfi berlari menuju kantin. "Itu Allea." tunjuk Alfi pada Allea yang berdiri memegang dua botol minuman melihat kearah ambulance, di mana Karel yang sedang mengendong Vela memasuki ambulance. Allea terdiam ketika melihat teman nya di gendong dengan darah yang menetes di setiap langkah Karel. "Vela," gumam nya dengan mata yang berkaca-kaca melihat teman nya bersimbah darah. "Allea." Leo menghampiri Allea dan langsung memeluk nya. Jangan tanyakan betapa lega nya Leo melihat Allea baik-baik saja saat ini. "Hikss... Vela." Allea masih tidak percaya dengan apa yang di lihat nya saat ini. "Pasti Vela baik-baik aja." Leo mengusap kepala Allea yang tengah menangis di pelukan nya. Jantung Leo hampir saja berhenti berdetak ketika melihat seseorang tergeletak di kamar mandi tadi, untung saja bukan Allea. Katakan saja kalau Leo jahat karena hanya memikirkan Allea, padahal Vela juga teman nya. Tapi mau bagaimana, memang itu yang di rasakan Leo sekarang, dia merasa lega ketika melihat Allea yang baik-baik saja walaupun ia juga sedih melihat teman nya tergeletak tak berdaya bersimbah darah-darah itu. "Hikss... harusnya tadi hikss... gua temenin." Allea semakin terisak ketika mengingat, harus nya tadi ia menemani Vela ke kamar mandi dan tidak meninggalkan nya ke kantin. "Ssstt... semua nya akan baik-baik aja." Leo mengusap air mata Allea. Allea menggeleng, "Vela gak baik-baik aja Leo." "Vela akan baik-baik aja. Percaya sama gua ok?" Leo menangkup kedua pipi Allea yang masih di basahi oleh air mata nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN