"Orang yang nabrak lo."
"Nabrak gua?" ulang Allea.
"Iya."
"Kapan?"
"Nelpon."
"Oh pas gua dapet telfon papa gua itu yang di timezone ya?" ingat Allea. Leo mengangguk menjawab Allea.
"Ngapain ya dia naro gituan di jaket gua," gumam Allea.
"Leo," panggil Allea yang hanya mendapatkan balasan deheman dari Leo.
"Lo bisa gak sih kalo ngomong jangan dikit-dikit gitu, langsung aja jelasin gitu jangan bikin orang mikir."
"Iya."
"Kan, baru juga gua bilangin." Allea menyandarkan tubuh nya di bangku mobil sambil melipat tangan nya.
"Tadi gua sempet mikir lo bukan orang baik-baik tau," ujar Allea sambil melihat kearah jalanan yang tentu saja tidak mendapatkan jawaban dari Leo.
"Gua belum pernah lewat jalanan ini," komentar Allea ketika melihat jalanan yang asing bagi dirinya, dan menganggap ini memang jalan untuk menuju cafe milik kakak nya Leo.
Sebenarnya, ini bukan lah jalan untuk menuju cafe kakak nya Leo. Justru ini arah yang sebalik nya menjauhi dari sana, tujuan nya tentu saja untuk memancing orang yang sedang melacak mereka tidak mendekati teman-temannya yang lain.
"Sepi banget jalanan nya."
"Bosen banget gak nyampe-nyampe, mana hp gua di tas Vela lagi," keluh Allea.
Tanpa Allea sadari ada mobil di samping mobil mereka. Leo membuka kaca mobil nya dan melemparkan alat pelacak nya ke mobil sebelah nya yang juga membuka kaca mobil nya. Mobil itu segera menaik kan kecepatan nya meninggalkan mobil Leo yang sudah menurunkan kelajuan mobilnya.
"Mobil itu kenceng banget." Allea menunjuk mobil yang tadi Leo melemparkan alat lacak nya.
"Loh kok muter balik?" tanya Allea ketika Leo memutar balik mobil nya yang sebenarnya ingin kembali ke jalanan yang benar menuju cafe dimana teman-teman nya berada. Leo sudah memprediksi pasti teman-teman nya sudah sampai disana menunggu mereka berdua.
Allea berdecak kesal karena Leo tidak menjawab pertanyaan nya.
Leo melihat kearah ponsel nya yang mendapatkan pesan dari satu tim nya, yang mengatakan kalau mereka berhasil memancing orang yang memantau nya dari pelacak mengikuti mereka.
'Bagus,' batin Leo
Leo sedikit menyunggingkan senyuman kecil, ketika rencana nya berhasil untuk membuat orang-orang yang berniat untuk mengikuti mereka itu menjauh dari mereka, dan mengikuti mobil yang berisi orang satu tim nya tadi yang akan menjebak mereka. Iya, mobil yang Leo lemparkan alat pelacak itu adalah orang satu tim Leo. Leo sudah menghubungi mereka ketika mereka berencana akan pergi meninggalkan mall.
Allea yang sudah malas untuk bertanya pada Leo perihal mengapa dia memutar arah atau pertanyaan lain nya hanya diam saja. Percuma pikir Allea. Sedari tadi hanya Allea saja yang menghilangkan keheningan ini tanpa Leo sedikit pun ikut membantu. Menjawab pertanyaan nya saja Leo seperti manusia yang sudah di ciptakan untuk mengatakan tidak lebih dari sepuluh kata. Tidak percaya? mari Allea tes.
"Leo?"
"Hm." Leo hanya berdehem. Ayo hitung gitu sebagai satu kata yang keluar dari mulut Leo.
"Masih lama?"
"Enggak." dua.
"Lo ganti mobil ya?" tanya Allea yang baru menyadari desain dalam mobil nya yang berbeda dari sebelum nya yang biasa mengantar dan menjemputnya sekolah.
"Iya." tiga.
"Ini mobil lo?"
"Iya." empat kata.
"Lo tinggal sama siapa?"
"Orang tua." lima atau enam?
Leo memang sangat se menyebalkan nya itu menjawab poin penting nya saja tanpa menjabarkan. Ingat kan Allea untuk menghasut guru yang mengajar Leo untuk membuat Leo maju ke depan kelas dan presentasi, atau membuat Leo menjadi pemandu upacara.
"Leo kenapa lo gak bolehin yang lain naik mobil lo?"
"Gak apa-apa." ok hitung tujuh dan delapan kata yang sudah Leo keluar kan dari mulutnya.
"Sepatu gua masih sama lo kan?"
"Iya." sembilan.
Ayo Allea kau harus berpikir untuk membuat Leo mengeluarkan lebih dari sepuluh kata.
"Itu yang bakal kita datengin cafe kakak lo? berapa bersaudara?"
"Tiga." Kan lihat Leo hanya menjawab yang dia mau saja, dan tepat sepuluh. Coba biar Allea coba tanyakan hal lain lagi apa Leo mau membuka suara.
"Kita masih lama gak sih?"
Hening. Leo tidak menjawab. Terbukti, sepertinya Leo bukan manusia, dia robot yang dikendalikan oleh seseorang dan hanya boleh berkata sedikit saja.
Lebih baik Allea diam saja hingga mereka sampai pada tujuan nanti. Karena percuma saja terus mengajak Leo berbicara tapi tidak mendapatkan jawaban.
Tidak berapa lama mereka sampai pada tujuan –cafe milik kakak nya Leo.
"Woy lama banget lo," ujar Verell.
"Kenapa gak diatas?" tanya Leo.
"Gak enak gua minta kunci nya."
"Kunci apa?" tanya Allea.
"Ruangan VIP," sahut Alfi asal tapi Allea mengangguk saja.
"Mau di outdoor?" tawar Leo.
"Di outdoor aja seru kayanya," usul Vela.
Leo menoleh pada Allea menunggu jawaban dari Allea.
"Lupa gua kan keputusan ada di Allea ya," ujar Vela sambil mengejek Leo.
"Yaudah di outdoor aja," ucap Allea dan Leo mengangguk.
"Di atas." Leo terlebih dahulu berjalan keatas menaiki tangga. Yang lain nya mengikuti langkah Leo di depan nya.
Diatas tidak sepi namun tidak terlalu ramai juga, kecuali malam minggu itu akan sangat ramai. Mereka memilih tempat duduk pojok dekat dengan balkon jadi mereka bisa menoleh kebawah melihat orang-orang yang berlalu lalang.
Makanan cemilan yang telah mereka pesan datang kemeja mereka disambut dengan sangat antusias Verell.
"Lo lama banget tadi," ujar Alfi pada Leo yang sedang menyeruput kopi yang telah di pesan nya tadi.
"Nyasar," balas Leo.
"Oh tadi tuh kita nyasar makanya balik arah?" Allea menatap Leo yang mengangguk.
"Aman kan gak kenapa-kenapa?" bisik Karel pada Leo.
Leo sebenarnya tidak suka dengan sikap ikut campur Karel yang seperti itu, ini tugas nya misi nya Karel tidak perlu ikut campur dalam urusan ini, dia tidak tau apa-apa. Leo tidak mau Karel akan ikut terseret masalah ini dan semakin membuat Leo kerepotan, cukup Allea saja yang ia jaga saat ini tidak mau menambah orang untuk diawasi nya.
Leo hanya berdehem membalas pertanyaan Karel.
"Besok ada tugas gak sih?" Alfi bertanya pada Allea yang langsung membuat Verell tertawa.
"Lo sekelas tapi gak tau Allea kaya gimana? emang dia pernah ngerjain pr?" Verell masih tertawa.
"Maap salah orang berarti gua nanya nya," balas Alfi.
"Vela besok ada pr?" tanya Alfi pada Vela.
"Gak ada kayanya sih," jawab Vela.
Leo mengirimkan pesan pada Nanas untuk mencari tau tentang Karel, karena dirinya sudah mulai mencurigai Karel yang sangat terlalu mengganggu diri nya dalam misi ini. Padahal Leo sama sekali tidak membutuh kan bantuan apalagi orang awam seperti Karel yang tidak mengerti dengan masalahnya ini.
"Tau tuh Leo."
Leo menoleh pada Verell yang tiba-tiba menyebut namanya, Leo tidak tau apa saja yang sudah mereka bicarakan sebelum nya, karena Leo yang terlalu sibuk berkutat pada pikiran nya sendiri.
"Ajarin kita bela diri lah," pinta Alfi.
Leo menoleh pada Alfi sambil menaik kan sebelah alis nya.
"Tau lo bilang gak bisa bela diri, tau gitu kemaren tuh gua gak akan tahan lo buat ribut sama si Sahan sama temen-temen nya yang udah buat kita babak belur gini," ujar Verell.
"Tau lo harus nya kemaren pas ribut lo abisin aja mereka semua," ucap Alfi.
"Karel kan jago bela diri juga, kalo kalian berdua berantem siapa yang bakal menang ya?" tanya Allea seraya menunjuk kearah Karel dan Leo bergantian lalu meletakkan jari nya di dagu nya seolah sedang mempertimbangkan akan kemenangan dari mereka berdua.
"Gak," jawab Leo cepat sebelum yang lain membuka suara terlebih dahulu.
"Gak? gak apa nih?"
"Kan dia mah emang ngeselin kalo ngomong dikit doang, bikin mikir mulu," adu Allea pada teman-teman nya sambil menyeruput minuman nya.
"Allea lo kalo pacaran sama Leo ngobrol nya gimana ya," sahut Verell.
"Ngobrol nya pake mata batin."
"Gak mau pacaran sama robot," balas Allea membuat yang lain tertawa kecuali Leo. Bagi Leo tidak ada yang lucu untuk ditertawakan.
***
Semalam Allea menginap di rumah Vela jadi Leo tidak perlu untuk mengantar Allea sekolah hari ini, dan itu kesempatan Leo untuk tidak masuk sekolah. Leo beralasan izin di sekolah karena ada urusan keluarga tapi sebenarnya tidak. Leo hari ini berada di kantor nya untuk mencari tau tentang Karel dan tentu saja masalah semalam, bagaimana mereka berhasil menjebak orang yang meletakkan alat pelacak itu atau tidak.
"Gak sekolah?" tanya Nanas yang sedang di depan laptop nya tanpa melihat kearah Leo.
"Males."
"Allea terus sekarang gak ada yang jagain?"
"Udah nyuruh orang buat awasi dia di sekolah," balas Leo.
Leo melemparkan tas nya ke sofa, karena memang Leo berangkat dari rumah memakai seragam sekolah dan berlaga akan berangkat sekolah yang nyatanya tidak menuju sekolah.
"Kemaren gimana berhasil?" tanya Leo.
"Mereka berdua ketangkep tapi mereka gak tau katanya siapa yang nyuruh mereka."
"Gak mungkin dia gak tau siapa yang nyuruh dia." Leo duduk di sofa sambil menyandarkan tubuh nya.
"Itu mereka berdua orang yang sama waktu ngikutin kamu ke sekolah itu," ucap Nanas.
"Bagus, terus desak mereka biar buka mulut."
"Mereka di perintah lewat ponsel, jadi mereka gak tau siapa yang nyuruh mereka."
"Lacak nomor ponsel nya."
"Lagi kita lacak."
Leo memainkan ponsel nya sambil melihat beberapa pesan dari teman-teman nya.
"Kamu curiga sama Karel itu?" tanya Nanas yang sudah tidak memerhatikan laptop nya dan beralih menatap Leo.
"Iya."
"Kenapa?"
"Terlalu ikut campur. Udah dapet?"
"Udah." Nanas berjalan menghampiri Leo di sofa sambil membawa map dan memberikan nya pada Leo.
Leo mengambil map itu, membuka nya dan membaca data-data tentang Karel teman nya itu. Leo menatap Nanas meminta jawaban atas apa yang telah di baca nya.
"Gimana?" tanya Nanas.
Leo mengerutkan dahi nya. Leo menatap Nanas seolah bertanya apa ini sungguhan atau tidak.
"Iya," balas Nanas yang mengerti kalau Leo meminta pembenaran dari apa yang telah di baca nya.