"Gua gak tau kalian ada masalah apa atau terlibat apa, tapi tenang kalo terjadi apa-apa gua akan bantuin kok." Karel menepuk pundak Leo.
Apa Leo harus mencari tau tentang Karel sekarang?
"Papa gua telfon, gua angkat dulu." Allea mengangkat telfon nya sambil berjalan menjauhi yang lain ke tempat yang tidak terlalu bising.
Leo mengikuti Allea tapi Allea menoleh dan memberi kode untuk tidak usah mengikutinya. Tapi memang siapa yang bisa melarang Leo? Leo tetap berjalan mengikuti Allea namun dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Leo tidak mau mengambil resiko kalau sampai Allea menghilang dari pandangan nya, karena sedari tadi orang yang ditunjuk oleh Karel masih memantau Allea.
"Leo," panggil Karel.
Leo tidak memperdulikan nya.
"Leo tunggu dulu, kita awasi Allea dari jauh dulu coba kita liat orang itu mau apa." Karel menahan lengan Leo agar tidak terlalu dekat dengan Allea.
Ucapan Karel benar juga, tapi bisa saja itu jebakan yang Karel buat agar orang tadi lebih leluasa menyakiti Allea. Leo jadi bimbang harus mengikuti yang mana, Leo benar-benar merasa bodoh sekarang karena tidak tau mengambil keputusan yang mana.
"Kita awasi Allea dari sini aja."
Karel, entah sungguhan ingin membantu atau ini jebakan Leo tidak bisa memprediksi sama sekali. Apa ini Karel teman nya jadi tidak bisa berprasangka buruk atau justru karena teman nya jadi Leo berprasangka buruk seperti ini.
Leo ingin menghampiri Allea ketika melihat seorang pria dengan wajah yang tertutupi masker dan hoodie nya menabrak Allea.
"Jangan dulu, kita liat dulu." Tahan Karel memegang lengan Leo.
Leo itu memang orang yang tidak suka menunggu seperti ini, Leo terbiasa langsung mencegah daripada seperti ini melihat dulu apa yang dilakukan orang itu. Leo berpikir mencegah lebih baik, bahkan Leo tidak akan membuat Allea tersentuh sedikit pun oleh orang-orang aneh –peneror itu. Leo tidak akan membiarkan yang dijaga ya tersentuh sedikit pun. Tapi lihat sekarang Karel menahan nya untuk melihat apa yang dilakukan orang aneh itu pada Allea.
"Dia gak ngelakuin apa-apa?" Karel menatap orang yang sudah berlalu itu dengan bingung.
Leo masih diam saja memerhatikan Allea yang sudah mematikan ponsel nya dan berjalan kembali memasuki timezone.
"Ngapain pada disini?" tanya Allea pada Karel dan Leo yang berdiri di depan timezone.
"Tadi orang itu ngapain?" tanya Leo.
"Gak ngapa-ngapain."
"Tadi ngapain deket-deket."
"Apa sih Leo? orang tadi gak sengaja ke tabrak terus minta maaf doang," jawab Allea menjelaskan apa yang terjadi tadi.
Allea langsung masuk kembali menghampiri yang lain sambil menertawakan Verell.
"Lo beneran suka sama Allea?" tanya Karel yang lagi-lagi tidak di hiraukan oleh Leo.
Leo berjalan kembali masuk mengikuti Allea.
"Kan gua menang, udah lo jadi babu gua sekarang," ucap Allea.
"Gak, gak terima gua."
"Dih harus yang bener dong, udah kalah juga lo." Vela memukul bahu Verell.
"Tau lo."
"Gua cuma wasit ya di sini," sahut Alfi yang tidak mau ikut campur, padahal sedari tadi pun dia sudah ikut campur.
"Yes lo jadi babu gua selama tiga hari hahahha." Allea tertawa terbahak ketika dipikiran nya sudah tersusun untuk mengerjai Verell nanti.
"Yang wajar, awas lo nyuruh gua aneh-aneh," ujar Verell kesal karena kalah melawan Allea.
"Aneh-aneh gimana emang?" tanya Vela.
"Ya misalkan disuruh gak pake baju keliling sekolah atau disuruh minum air WC kan kejam lo, pembullyan itu auto gua aduin kasus pembullyan ya lo nanti," ancam Verell.
"Apa sih pikiran lo gak bagus banget, padahal gua gak sekejam itu. Tapi karena lo bilang gitu boleh deh di coba, pilihan pertama tadi juga bagus," ucap Allea sambil tertawa di susul dengan gelak tawa Vela dan Alfi.
Verell mendengus sebal dengan tingkah Allea ini. Verell tau pasti Allea sudah menyiapkan apa saja untuk mengerjainya nanti.
"Leo liat tuh calon pacar lo kejam banget," adu Verell sambil berjalan mendekati Leo.
"Padahal gua belum nyuruh lo apa-apa," balas Allea.
"Tapi gua udah tau isi otak lo ya."
"Apa? cenayang lo sekarang?"
"Udah sore," ucap Leo.
"Mau pulang?" tanya Karel.
"Nanti aja lah, sekalian nanti makan malem di cafe kakak lo aja gimana?" saran Verell.
"Kakak lo punya cafe?" tanya Vela pada Leo.
"Iya, nanti kita dapet diskon," sahut Alfi.
"Makan malem di cafe?" Leo tidak habis pikir dengan pemikiran teman nya itu.
"Makan di sini dulu aja nanti baru nongkrong di cafe," saran Karel yang di angguki Leo.
"Yaudah ayo makan." Allea jalan terlebih dahulu di depan mereka semua.
Leo hanya mengikuti saja kemana Allea melangkah.
Setelah makan mereka semua berjalan ke parkiran dengan gelak tawa karena guyonan yang di lontar kan oleh Verell, sesekali Leo hanya tersenyum membalas ocehan mereka.
"Lo gak mau nampung satu lagi apa Leo?" tanya Karel karena di mobil Leo hanya berdua saja dengan Allea sedangkan di mobil nya ber empat.
Leo menggeleng membalas pertanyaan Leo. Bukan tanpa sebab Leo hanya berdua saja di mobil nya, karena ia takut kalau sampai terjadi hal yang tidak di ingin kan contoh nya seperti kemarin berangkat sekolah ada yang mengikuti nya, Leo tidak mau melibatkan orang lain yang tidak mengetahui apa-apa. Kalau terjadi sesuatu Leo bisa mencari jalan lain untuk menjauhkan orang yang berniat jahat pada nya dari teman-teman nya yang lain juga tidak terkena masalah.
"Dibilang mau pdkt Leo tuh," sahut Verell yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil Karel.
"Yaudah hati-hati," ucap Karel pada Leo sambil masuk kedalam mobil.
"Tumben lo."
Leo masuk kedalam mobil bersama Allea untuk berangkat menuju cafe kakak nya.
"Leo lo di depan," teriak Karel dari dalam mobil nya dengan membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan kepala nya berbicara pada Leo.
Leo tidak menghiraukan ucapan Karel dan hanya diam saja menunggu mobil Karel terlebih dahulu.
"Leo jalan," ucap Allea.
"Mereka dulu."
"Lo dulu Rel," teriak Allea yang langsung di setujui oleh Karel dengan mengendarai mobil nya lebih dulu.
Leo menoleh pada Allea.
"Apa?" tanya Allea menatap Leo yang belum juga ada tanda-tanda ingin menjalankan mobil nya, hanya menyalakan mesin nya saja tanpa berniat untuk menjalan kan nya dan hanya menatap Allea.
"Leo lo kesurupan? jangan nakutin gua." Allea mengibaskan tangan nya di depan wajah Leo.
"Buka."
"Hah?!" Allea membelalakkan mata nya sambil menatap Leo.
"A...apa?" tanya Allea yang sudah berpikiran tidak jernih.
"Buka." Leo kembali mengulang ucapan nya.
"Apa? kaca mobil?"
"Jaket."
"Gua?" tanya Allea sambil menunjuk diri nya sendiri, Leo mengangguk.
"Leo kok lo mesum." Allea menyilang kan kedua tangan nya di d**a nya.
Leo menghela napas, "buka."
"Gak!" Allea karena di dalam jaket nya ia hanya memakai pakaian tanpa lengan, sangat terbuka untuk berdua saja di dalam mobil bersama seorang pria.
Allea tidak menyangka kalau Leo bisa berperilaku seperti ini, Allea pikir Leo anak baik-baik karena selama ini telah membantu nya, tapi ternyata seperti ini. Jadi selama ini Leo baik pada nya karena ada tujuan tertentu seperti ini? pikir Allea.
"Jadi ini alesan lo mau berdua doang di mobil sama gua?!" tanya Allea yang marah pada Leo.
"Allea."
"Gua mau pulang naik taxi aja." Allea hendak membuka pintu tapi sudah di kunci oleh Leo.
"Leo buka gak!"
"Allea buka."
"GAK!"
Leo berdecak lalu menghela napas, "maaf."
Leo menahan tangan Allea memaksa nya untuk membuka jaket deni yang di pakai nya itu. Allea terus saja memberontak menghalangi Leo untuk membuka jaket nya.
"LEO!" pekik Allea ketika Leo sudah berhasil melepas jaket Allea.
Allea sudah ingin menangis karena dirinya sudah terjebak disini tidak bisa melakukan apapun lagi, dirinya sudah terkunci di mobil bersama Leo di parkiran yang sangat sepi. Orang-orang tidak akan mengetahui kelakuan b***t Leo kali ini, bahkan teman-teman nya pun tidak akan tau, Allea terlambat menyadari kalau Leo ternyata sama b******k nya dengan para peneror yang selama ini mengancam nya, –tidak Leo jauh lebih b******k dan b***t di banding kan para peneror nya selama ini.
"Hikss... jang..." Ucapan Allea terpotong kala melihat Leo yang lebih tertarik melihat-lihat jaket nya.
Apa Leo kleptomania? semacam gangguan tak tertahan kan untuk mencuri? pikir Allea.
Jadi Leo hanya menginginkan jaket nya bukan untuk melecehkan Allea. Jadi, Leo hanya menginginkan jaket nya?
"Ternyata bener," ucap Leo sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong jaket nya.
Allea masih terpaku melihat Leo sambil menyilang kan kedua tangan nya di d**a nya.
Leo menoleh pada Allea, "kenapa nangis?" tanya Leo.
"Lo... lo bukan mau apa-apain gua?" cicit Allea.
Wajah Leo mendekat membuat Allea reflek memundurkan wajah nya.
"Kepedean banget sih." Leo menyentil dahi Allea dan kembali memundurkan wajah nya.
"Aw sakit." Allea mengelus dahi nya.
"Nih." Leo melemparkan pelan jaket itu pada pemilik nya lagi.
Allea dengan cepat kembali memakai jaket nya sebelum terjadi sesuatu yang buruk.
"Itu apa?" tunjuk Allea pada sesuatu yang berbentuk kotak kecil yang telah di masuk kan ke dalam saku Leo.
Leo menjalan kan mobil nya dan menoleh pada Allea sambil menjawab, " pelacak."
"Gua gak bawa begituan kok tadi, gua aja baru tau itu alat pelacak."
"Iya."
"Kok bisa ada di jaket gua?" tanya Allea yang penasaran dari mana Leo tau di kantong jaket nya ada sesuatu seperti ini, bahkan Allea yang sebagai pemilik dan pemakai jaket itu saja tidak tau.
"...