Part 20

1683 Kata
Leo melihat kearah pojok kantin mendapati Sahan dan teman-teman nya yang melihat kearah mereka dengan penuh kebencian. Leo tidak terlalu menghiraukan nya, untuk apa menghiraukan hal tidak penting seperti itu. "Leo." Allea memukul bahu Leo. Leo menoleh pada Allea seolah bertanya 'ada apa?' "Nih jagain hp gua." Allea memberikan ponsel nya pada Leo. Leo mengangguk saja sambil memegang ponsel Allea. "Ayo Rell." Verell dan Allea membawa makanan ringan nya yang sudah di modifikasi itu, dan bergabung dengan yang lain nya. Menawari makanan palsu mereka dan meyakinkan mereka kalau makanan mereka aman dengan mereka yang juga ikut memakan yang asli. Leo menggelengkan kepala ya melihat tingkat Allea dan Verell. "Mereka emang gitu iseng," ucap Karel. "Nih ya malah menurut gua, mereka tuh yang satu geng," sahut Alfi. "Iya bener gua setuju." Vela menyetujui ucapan Alfi. "Padahal gua sahabat nya, tetep aja kalo beraksi gitu sama Verell," lanjut Vela. "Lo nya gak mau diajak cari masalah," kata Karel. "Iya lah, cari ilmu gua mah sekolah bukan cari masalah," balas Vela. "Kemaren lo pada berantem sama geng nya Sahan ya?" tanya Vela. "Iya, lo liat aja muka kita pada babak belur gini." "Yang menang siapa?" "Gak tau, tapi temen dia tangan nya ada yang patah." Alfi memberitahu kejadian kemarin pada Vela yang tidak ada di tempat kejadian. "Karena Karel?" "Bukan," jawab Karel. "Tapi Leo," sambung Alfi. "ALLEEAAAA." "VEREELLL." Mereka menoleh ke sumber suara dimana beberapa orang menjerit pada Allea dan Verell yang tengah tertawa lepas. "Sialan lo berdua." Beberapa ada yang langsung memuntahkan makanan yang di berikan oleh mereka di meja, ada yang di tisu bahkan ada yang berlari menuju rerumputan sekolah untuk memuntahkan biskuit berisi krim pasta gigi itu. "Calon pacar lu tuh Leo jail banget," ujar Vela pada Leo yang melihat kearah Allea. "Ajarin tobat dong Leo biar dia kalem dikit gitu." Leo diam saja tidak menanggapi. Leo masih dengan kegiatan nya seperti biasa mencari orang yang mencurigakan di sekolah ini, namun sampai sekarang Leo belum menemukan satu pun orang yang mencurigakan, sebenarnya sudah, orang yang mengintip dari balik pohon dan yang menusuk Allea itu pasti ada di dalam sekolah ini, tapi Leo sampai sekarang belum menemukan nya satu pun. "Lo nyari apa sih?" tanya Karel. Leo menggeleng menjawab Karel. "Kayanya lo pindah ke sekolah ini ada tujuan tertentu ya?" bisik Karel. *** Hari minggu, hari yang sangat di tunggu-tunggu para pelajar karena tanggal merah dan mereka tidak perlu bangun pagi untuk berangkat ke sekolah dan bermalas-malasan di rumah atau pun berlibur bermain bersama teman. Tapi tidak bagi Leo, hari minggu hari yang sibuk bagi nya karena Leo akan menghabiskan waktu nya di ruangan secret agent nya membahas strategi dan berbagai misi lain nya. Bisa di bilang tim Leo saat ini adalah tim terkuat karena memiliki beberapa orang-orang berbakat yang sudah berpengalaman, dan Leo anggota termuda. Biasanya yang masuk secret agent dan yang seusia Leo saat ini hanya berkerja di belakang layar belum boleh terjun langsung menjalan kan misi sebelum dua puluh tahun. Tapi siapa yang bisa melarang anak keras kepala seperti Leo, Nanas pimpinan secret agent pun hanya mampu pasrah dengan keinginan Leo. Lagipula Leo berbakat jadi sangat menguntungkan mereka kalau Leo ikut terjun langsung untuk menjalankan misi. Leo melihat ponsel nya yang ada beberapa pesan dari grup teman-teman nya yang di buat oleh Verell. Leo membaca beberapa pesan yang menyuruh nya untuk segera datang ke rumah Allea. Kemarin mereka membatalkan acara berkumpul ketika sudah pulang sekolah karena Allea dan Verell ketika pulang sekolah dihukum, tentu saja karena mereka berdua nekat mengerjai guru bk memakan makanan palsu nya, jadi mereka mengganti ya dengan hari minggu saja sekalian berjalan-jalan. Ya, hari ini hari minggu yang tidak akan Leo habiskan di kantor secret agent nya, kali ini Leo pergi berjalan-jalan bersama teman nya, sebenarnya Leo ingin menolak nya tapi di sana juga ada Allea jadi Leo mau tidak mau harus ikut untuk menjaga Allea. "Mom Leo pergi main dulu ya," pamit ya pada Salsha yang sedang menyirami tanaman di halaman depan. "Iya hati-hati, kalo pulang telat bilang loh jangan bikin khawatir." "Iya mom." "Mobil siapa itu?" tanya Angel yang juga sedang duduk di depan sambil melukis tanaman di depan yang sedang di sirami Salsha. "Temen." Bohong. Leo berbohong, itu mobil kantor secret agent nya walaupun sebenarnya Leo juga memiliki lebih dari satu mobil, tapi sekarang Leo menggunakan mobil kantor nya yang sudah terpasang pelacak, tersimpan pistol serta peluru nya dan beberapa pisau lipat untuk berjaga-jaga. Sebenarnya alasan Leo mengganti mobil nya karena kejadian kemarin ketika di ikuti orang asing itu, Leo tau pasti orang itu telah mengetahui plat mobil nya dan akan terus melacak nya. Jadi Leo menitipkan mobil nya di bengkel mobil seakan mobil nya rusak, dan sekarang ia menggunakan mobil kantor nya supaya lebih aman. "Mobil kamu kemana?" "Di bengkel." "Mobil kamu rusak? kenapa gak bilang, kan nanti kakak beliin yang baru." Salah. Harus nya Leo tidak mengatakan itu, harus nya Leo bilang saja sedang bertukar mobi dengan teman nya tadi. "Gak apa-apa, besok kalo belum bener Leo beli sendiri." Leo menolak tawaran kakak nya itu. "Yaudah nanti kalo mau apa-apa bilang kakak." "Iya kak." "Kalo bunda mau apa-apa di beliin juga gak nih?" tanya Salsha pada anak pertama nya itu. "Bunda mau apa?" tanya Angel. "Ayah baru gimana?" "BUNDA." "MOM." Ucap Angel dan Leo bersamaan karena candaan ibu nya itu. Salsha hanya tertawa mendengar protes dari anak-anak nya itu. "Bercanda doang kok." "PAH, MAMAH MAU CARI BRONDONG TUH," pekik Alvera yang baru saja lewat sambil menggendong toples kripik. "Heh enggak ya mamah gak ngomong gitu." "PAH! MAMAH CENTIL TUH." Alvera berlari menghampiri Aldi yang sedang menghampiri nya. "Kenapa?" tanya Aldi. "MAMAH MAU CARI BERONDONG." "SALSHAAA!!" pekik Aldi. "ENGGAK, ANAK KAMU TUH BOHONG AJA." Salsha mengejar Alvera yang berlari menghindari ibu nya itu takut kena pukul. "Yaudah sana Leo berangkat," ucap Angel. "Iya." Leo masuk ke dalam mobil nya dan menjalan kan mobil nya menuju rumah Allea karena mereka semua saat ini sedang berkumpul di rumah Allea. Leo melirik ponsel nya yang banyak pesan dari teman nya yang menyuruh nya agar lebih cepat sampai. Ketika sudah sampai rumah Allea, mereka semua sudah menunggu Leo di depan rumah Allea. "Lama banget," komentar Verell. "Mau kemana?" "Mall," jawab Allea dan Vela bersamaan. "Ngikut aja lah gua," jawab Alfi. "Masuk." Leo membuka pintu mobil nya untuk Allea, ingat kan Allea kalau ini pertama kali nya Leo membukakan pintu mobil untuk nya. Allea segera masuk kedalam mobil Leo. Vela yang sudah memegang pintu belakang mobil Leo terhenti ketika melihat tatapan Leo yang datar seolah tidak mengijinkan ada yang masuk kedalam mobil nya selain Allea. "Yaudah gua bareng Leo." Verell yang sudah membuka pintu mobil Leo mendapatkan tatapan tajam dari Leo. "Siapa yang suruh masuk?" "Oh mau berduaan aja sama Allea," ujar Verell kembali menutup pintu mobil Leo. "Loh kita berdua aja di mobil ini?" tanya Allea yang diangguki oleh Leo. "Ayo Vela ke mobil Karel aja." Verell dan Vela masuk kedalam mobil Karel. "Lah ngapain pada disini?" tanya Alfi. "Gak boleh sama Leo," jawab Vela. "Mau berduaan doang sama Allea," sahut Verell. "Wah bentar lagi tanda-tanda ada yang bakal jadian nih," ucap Alfi. Karel terkekeh, "Beneran suka dia sama Allea." *** "Timezone yuk," ajak Allea yang tentu saja Leo angguki. "Padahal tadi gua ngajak lo gak mau," ucap Verell pada Leo yang dengan mudah meng iya kan ucapan Allea. "Kalo Allea yang minta mah Leo mau-mau aja," ujar Alfi. "Ini sumpah jadi kaya nemenin orang lagi nge date, terus kita dayang-dayang nya," ujar Vela. "Apa sih Vela," protes Allea yang tidak setuju dengan ucapan Vela. "Iya bener, kaya pengawal nya kita tuh jadi nya," balas Verell. Leo mengabaikan ucapan teman-teman nya itu dan terus saja melihat sekitar berjaga-jaga siapa tau ada yang mencurigakan. Lagi-lagi Leo seperti itu, ya memang harus seperti itu karena sekarang Leo sedang menjalankan misi nya bukan hanya bermain. "Leo lo main juga gak?" tanya Allea yang memberikan kartu permainan nya pada Leo. Leo menggeleng menolak tawaran Allea. "Yaudah." Allea sedikit berlari menghampiri yang lain. "Verell ayo lomba masukin bola basket, yang kalah jadi babu dua hari gimana?" tawar Allea. "Tiga hari." "Ok." Allea dan Verell berjabatan tangan. "Ayo gua wasit nya," ujar Alfi yang mengawasi mereka bermain. Vela sedang bermain mengambil boneka yang tidak jauh dari mereka. Leo? tentu saja selalu berada dimana pun ada Allea. "Lo beneran suka Allea?" tanya Karel yang berdiri di samping Leo setelah tadi bermain tinju dan mendapatkan poin yang lumayan besar. Leo diam saja tidak menjawab pertanyaan Leo. "Lo gak berniat duduk?" "Enggak." "Itu bangku deket disitu kok." Karel menunjuk bangku yang dekat dengan Allea bermain bola basket bersama Verell. Leo berjalan mendekati bangku itu dan duduk disana sambil terus memerhatikan Allea. Katakan saja Leo saat ini ada babysitter Allea, karena kemana pun Allea melangkah Leo pun mengikuti nya dan kemana pun Allea berjalan Leo tidak pernah lepas untuk selalu memerhatikan Allea. Karel duduk di samping Leo dan berkata, "liat kearah jam tujuh." Leo menoleh kebelakang melihat kearah yang di tunjuk kan oleh Karel tadi dan terdapat seorang pria yang melihat kearah mereka. "Udah lebih dari sepuluh menit dia disitu merhatiin kita, lebih tepat nya merhatiin lo atau Allea gak tau gua soalnya lo kan sama Allea terus jadi gak tau dia merhatiin siapa," ucap Karel. "Tapi kayanya sih merhatiin Allea terus," lanjut Karel. Leo kembali melihat kearah Allea yang sedang tertawa melihat Verell yang sedang mengomel kesal dan juga Vela yang seperti menjadi pendukung memanasi mereka. "Lo lagi jagain Allea kan?" bisik Karel. Leo terdiam memikirkan semua perkataan Karel pada nya. Kenapa Karel sejak awal berkata seolah-olah mengetahui tujuan sebenarnya Leo bersekolah disini, kenapa Karel tau? Leo mencurigai Karel sebenarnya semenjak Karel yang selalu saja tau tentang nya dan Allea, tidak seperti kedua teman nya yang lain. Tapi kalau ternyata Karel terlibat dalam hal ini kenapa Karel memberitahu orang mencurigakan disana? apa Karel sedang mencari kambing hitam agar dirinya tidak dicurigai? "Kaya nya dia gak sendiri deh," ucap Karel masih dengan suara yang kecil. Leo melirik kearah Karel, bagaimana bisa Karel menyadari itu sedangkan Leo tidak menyadari nya, apa sekarang Leo sudah tidak berbakat dan bodoh? kenapa Leo tidak menyadari nya? "Gua gak tau kalian ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN