Leo melirik kearah kaca spion mobil nya, mata nya menangkap motor yang sedari tadi mengikuti nya. Leo berpikir apa ia harus terus melanjutkan perjalanan ke sekolah atau harus menjauhi sekolah agar orang yang mengikuti nya itu tidak tau dimana sekolah mereka, tapi nanti mereka terlambat masuk sekolah. Jujur saja Leo sebenarnya tidak peduli dengan keterlambatan sekolah, hanya bingung saja mencari alasan nya nanti kepada Allea apalagi kalau nanti dirinya terlibat perkelahian.
"Perasaan gua aja apa emang tuh dua orang ngikutin kita sih?" Allea menoleh kebelakang melihat motor yang dikendarai oleh dua orang itu.
"Gak tau," jawab Leo padahal sebenarnya dirinya juga mencurigai orang itu mengikuti mereka.
"Kalo mereka bener ngikutin kita, mereka tuh ngapain ngikutin kita?" tanya Allea.
Leo hanya diam saja tidak membalas ucapan Allea. Leo mengambil ponsel disaku nya mengirimkan lokasi nya pada Nanas dan memerintahkan agent lain nya untuk mencari tau siapa yang mengikuti mereka.
"Leo gimana kalo mereka si peneror itu?"
Leo juga sebenarnya berpikir seperti itu, dan Leo sangat penasaran dengan wajah di balik helm yang mereka pakai itu. Leo melihat plat motor nya, mengingat nya dalam otak nya dan mengirimkan plat motor itu pada Nanas.
"Leo ih kok lo malah main hp terus sih."
Ya benar, Leo mengandarai mobil nya menggunakan satu tangan nya karena tangan lain nya di gunakan untuk mengetik pesan pada Nanas.
"Leo kalo mereka bener ngikutin kita terus berniat jahat gimana?" panik Allea, tapi tidak dengan Leo yang hanya diam saja tanpa sedikit pun rasa khawatir atau takut.
"Leo!" pekik Allea karena tidak mendapatkan respon dari Leo.
"Sumpah Leo lo gak tuli kan?!"
"Leo ih." Allea mengguncang lengan Leo yang sedang menyetir mengakibatkan mobil yang di kendarai nya sedikit oleng.
"Apa?" Leo mematikan ponsel nya dan menatap Allea sebentar karena pandangan nya kembali pokus pada jalanan di depan nya itu.
"Itu mereka ngikutin kita, terus gimana?"
Leo hanya mengangkat bahu nya seolah tidak peduli, padahal sedari tadi dirinya meminta bantuan pada Nanas.
"Leo! itu mereka ngikutin kit... " ucapan Allea terpotong ketika melihat motor yang mengikuti mereka telah hilang tidak terlihat dan tergantikan dengan mobil silver di belakang mereka.
"Hmm?" Leo melirik Allea karena berhenti mengoceh.
"Motor nya udah gak ada? kaya nya ketutupan mobil silver di belakang kita itu deh." Allea masih senantiasa memerhatikan ke belakang mencari motor itu berada.
Leo sedikit menyunggingkan senyuman tipis karena Nanas cepat tanggap, mobil silver yang di katakan oleh Allea tadi adalah orang yang telah diperintahkan untuk menghalangi motor itu untuk mengikuti mobil Leo.
"Kita sedikit terlambat," ucap Leo sambil memutar mobil nya berbelok ke jalan yang sedikit lebih jauh menuju sekolah setelah motor itu di halangi oleh dua mobil.
"Gak apa-apa yang penting udah gak di ikutin lagi," balas Allea yang sudah duduk tenang di bangku nya walaupun sesekali masih menoleh kebelakang.
"Leo kalo mereka bener peneror itu gimana?" Tanya Allea.
"Mau lapor polisi?" tawar Leo walaupun Leo tidak menyarankan itu. Leo curiga dalang dari semua ini bukan orang biasa, dan bisa jadi ikut berkomplotan dengan polisi kan siapa yang tau.
"Gak usah, mereka ribet. Gua udah lapor ke polisi sejak teror pertama tapi mana? mereka mau jalan kalo ada uang. Gua udah keluar uang aja tetep gak ada hasil. Udah ketangkep tapi mana? sampe sekarang masih berlanjut kan." Allea menyandarkan tubuh nya sambil melihat sepatu baru yang di berikan oleh Leo.
"Gak tau mereka yang terlalu pinter atau polisi nya yang males," lanjut Allea.
Leo mengangguk kecil mendengar cerita Allea. Leo sedikit setuju dengan Allea yang mengatakan mereka akan jalan kalau ada uang, tapi pasti tidak semua seperti itu juga. Hanya sebagian besar orang serakah, yang mengagungkan uang.
"Gua bingung sebenernya mereka mau apa, kalo mau bales dendam sama papa gua kenapa gua yang kena? Mereka pikir papa gua akan khawatir gitu? Papa gua gak peduli sama gua, bahkan kemaren pas kejadian itu aja dia cuma kirim pesan singkat doang," curhat Allea pada Leo yang sedari tadi mendengarkan keluh kesah Allea.
"Tanpa berniat buat pulang ketemu gua," lanjut Allea dengan suara yang lebih pelan dari sebelum nya, namun masih dapat di dengar oleh Leo.
"Semua akan baik-baik aja."
"Itu yang di ucapin papa gua juga, tapi apa sekarang baik-baik aja?"
***
"Sial bos, kita kehilangan jejak karena ada mobil yang menghalangi kita," ucap nya sambil menelfon seseorang.
"Apa kalian udah poto plat mobil nya?" tanya orang di sebrang telfon sana.
"Sudah bos, saya udah kirim tadi."
"Bagus, tapi bayarin kalian dipotong."
"Bos tapi kita ..."
Sambungan telfon nya di putus sepihak, membuat mereka berdua yang sedang berdiri di bawah pohon mengeluh kesal.
"Gimana?" tanya teman nya.
"Bayaran kita di potong," balas nya.
"Sialan gara-gara mobil itu tuh."
***
Disisi lain orang yang tadi mendapatkan telfon dari anak buah nya tadi kembali menelfon orang yang ia panggil bos juga untuk mengabarkan kalau orang suruhan nya hanya mendapatkan plat mobil anak itu saja.
Dan lagi, orang yang di kabarkan itu baru lah mengabarkan bos sesungguh nya, dalang dari semua nya yang sampai sekarang masih belum terdeteksi oleh Nanas maupun tim agent Leo. Mereka sangat pintar menyembunyikan bos mereka yang sesungguh nya karena anak-anak buah yang langsung mengerjakan tugas-tugas kecil itu tidak langsung terhubung dengan bos yang sesungguh nya. Mereka hanya tau siapa yang menyuruh mereka dari ponsel tanpa bertemu langsung, dan yang menyuruh mereka selalu menggunakan nomor ponsel yang berbeda supaya tidak bisa terlacak.
"Tuan, mereka mendapatkan plat mobil anak itu," adu nya pada bos sesungguh nya mereka, yang duduk di bangku besar nya sambil menyesap wine yang berada di tangan kiri nya, dan rokok yang berada di tangan kanan nya.
"Bagus, kalian bisa melacak nya."
"Iya Tuan, kami akan membawa anak itu ke hadapan Tuan," ujar nya sambil menunduk kan tubuh nya.
"Bagus, kerjakan tugas mu."
"Beberapa anak buah kecil kita ada yang tertangkap Tuan."
"Tidak apa, mereka hanya pion saja. Mereka tertangkap juga tidak merugikan kita."
"Iya Tuan."
"Yang terpenting tingkat dua seperti mu jangan sampai tertangkap," peringat nya pada anak buah nya itu.
Mereka memang pintar menyembunyikan kejahatan mereka, bahkan sampai sekarang semua kejahatan yang di lakukan nya mereka tetap tidak ketahuan, karena sistem mereka yang membuat Tuan mereka aman. Mereka di bagi empat tingkat. Tingkat pertama itu Tuan mereka –bos sesungguh nya mereka. Tingkat kedua, orang yang langsung terhubung dengan Tuan mereka. Tingkat ketiga, mereka yang memerintahkan tingkat ke empat untuk menjalan kan kejahatan-kejahatan mereka.
Yang biasa tertangkap adalah tingkat ke empat karena mereka langsung yang menjalankan nya, dan ketika ditanya siapa dalang dari itu semua mereka tidak akan bisa menjawab karena mereka saja tidak tau siapa bos mereka. Tingkat ke tiga selalu menghubungi tingkat ke empat melalui ponsel, dan kalau tingkat ke empat terlihat tertangkap, tingkat tiga akan segera menghancurkan nomor ponsel nya dan mengganti dengan nomor baru agar tidak bisa terlacak. Dan bagaimana pihak ketiga tau kalau pihak ke empat akan tertangkap atau sudah tertangkap, pihak kedua yang identitas nya tidak ada yang tau itu selalu mengawasi pihak ke empat dalam bertindak, jadi kalau tertangkap dia akan menghubungi pihak ke tiga.
"Baik Tuan."
***
"Gimana abis pulang sekolah kita kumpul bareng?" tanya Verell.
"Gua?" tanya Vela menunjuk dirinya.
"Iya sama lo sama Allea juga."
Seperti biasa Leo hanya diam saja sebelum makanan nya habis.
"Gimana Leo?" tanya Karel melihat kearah Leo menunggu jawaban dari nya. Leo mengangguk menjawab pertanyaan Karel.
"Verell yuk," ajak Allea yang baru saja membeli makanan ringan.
"Dimana?"
"Disini aja," Jawab Allea sambil membuka cemilan nya dan meletakkan pasta gigi di meja kantin.
"Nanti orang-orang liat."
"Biarin aja, tetep nanti mereka pasti kena."
"Kebiasaan," sahut Karel melihat Verell dan Allea yang sedang memisahkan krim dari biskuit berwarna hitam dan mengganti nya dengan pasta gigi rasa mint itu.
"Gua bagi dong oreo nya." Alfi mengambil cemilan yang krim nya belum di ganti pasta gigi.
"Setengah aja Rell, nanti kita juga ikutan makan biar mereka gak curiga," usul Allea.
"Iya," balas Verell yang tengah sibuk memisahkan krim itu dari biskuit hitam nya.
"Gua juga bagi dong." Vela mengambil yang masih baru.
"Jangan di abisin ini properti kita, kalo mau beli aja sana," ucap Verell.
"Beliin sana," ucap Vela.
"Dih jalan lah sana sendiri, punya kaki juga," balas Verell.
Leo hanya diam saja memerhatikan apa yang dilakukan kedua teman nya itu. Leo tidak habis pikir mereka mengganti krim makanan ringan itu dengan pasta gigi, lalu akan memberikan nya pada orang-orang, apa mereka tidak berpikir nanti orang-orang akan marah pada nya, pikir Leo.
"Guru juga gak nih?" tanya Allea.
"Jangan lah, nanti masuk bk lagi gua."
"Ah penakut lo, ayo lah tapi jangan guru bk atau guru killer," ajak Allea membujuk Verell.
"Lo bilang gak bisa bela diri," ucap Karel pada Leo mengabaikan pembicaraan rencana Allea dan Verell.
Leo menoleh melihat Karel setelah menghabiskan makan nya. Leo hanya berdehem saja menjawab Karel.
"Tapi kemaren apa? lo bisa tangkis pukulan Sahan, gila gua yang terkenal jago bela diri aja gak bisa, karena dia tuh kuat banget."
"Dia cuma ngandelin kuat doang bukan skill," ujar Leo sambil mengelap bibir nya dengan tisu.
"Iya emang, tapi tetep aja di tuh kuat banget."
"Iya kaya sumo dia mah kan," sahut Alfi.
"Nonjok dia susah ketutupan lemak, jadi capek doang mukul dia mah ketutupan lemak jadi gak berasa pukulan kita," ujar Verell yang sudah kembali memasuk kan makanan ringan itu di tempat nya bersiap untuk menawarkan pada teman-teman yang lain.
"Iya bener." Alfi menyetujui ucapan Verell.
"Karena kemaren gua gak percaya lo gak bisa bela diri," ucap Karel melihat kearah Leo.
"Ya bisa dikit," balas Leo.
"Gak mungkin. Udah sih jujur aja, emang kenapa kalo jujur?"
"Mungkin Leo gak mau pamer bakat nya aja," jawab Allea yang mendengar ucapan Karel tadi.
Sebenarnya itu juga salah satu alasan Leo tidak mengatakan nya kalau dirinya bisa bela diri. Dan alasan lain nya ia malas kalau nanti ada yang merasa tersaingi dan mengajak nya untuk bertarung lalu Leo menang, lalu dirinya akan menjadi pusat perhatian dan kembali mencolok di antara yang lain, itu tidak akan baik karena saat ini Leo harus menjaga Allea, akan mencurigakan kalau terlihat terlalu kuat.
"Leo."
Leo melihat kearah pojok kantin mendapati ...