Part 18

1638 Kata
Sahan kembali menerjang Leo. Leo membalik kan tubuh nya dan lagi-lagi menahan pukulan Sahan. "Apa sih? udah cukup gua bilang," ujar Leo. "Cuih... belagu lo." Sahan meludahi seragam Leo. Verell, Alfi dan Karel tidak lagi bertarung mereka semua terfokus memerhatikan Sahan yang terus ingin menghajar Leo namun selalu gagal. "Kurang ajar dia ludahin Leo." "Gua kalo jadi Leo langsung gua hajar dia," ucap Verell Karel hanya diam melihat Leo takjub, bagaimana bisa anak baru yang mengaku tidak bisa bertarung menahan pukulan Sahan. Pasti Leo berbohong akan dirinya yang tidak bisa bertarung, pikir Karel. Leo melirik kearah seragam nya yang di ludahi Sahan. Menjijikan pikir Leo. "Lo mau apa? biaya temen lo kan nanti gua yang tanggung," ucap Leo yang mengira Sahan membela teman nya yang tangan nya di patahkan oleh Leo. Padahal sama sekali tidak, sahan hanya ingin mengembalikan reputasinya sebagai terkuat di sekolah ini setelah pukulan pertama nya di tahan oleh Leo. "Gua gak butuh!" Lagi-lagi Sahan tidak bisa menyentuh Leo. Leo melihat Sahan yang sangat marah melihat ke arah diri nya membuat Leo berpikir, apa yang membuat nya sangat marah? Lalu Leo melihat sekeliling nya, banyak yang memerhatikan mereka. Oh Leo mengerti, dia hanya tidak mau terlihat lemah dihadapan yang lain. Leo mengangguk, baik akan Leo kabulkan. kali ini Leo tidak akan menghindar atau pun menahan pukulan nya lagi. Ini kan yang di ingin kan pria besar didepan nya itu. Brukk. Tepat. Sahan akhirnya berhasil memukul Leo. Sudut bibir Leo sampai sobek terluka hanya karena satu pukulan saja. 'Dia kuat juga,' batin Leo. "Leo," pekik Allea melihat Leo yang terkena pukulan Sahan. Sahan menyeringai ketika berhasil memukul Leo. Akhirnya ia kembali mempertahan kan reputasi terkuat nya di sekolah ini. Karel terkekeh ketika menyadari kalau Leo hanya mengalah pada Sahan, Leo membiarkan Sahan memukul nya. "Apa-apaan anak itu," ucap Karel menggeleng melihat tingkah Leo yang membiarkan Sahan melukai wajah nya. "Udah kan?" tanya Leo santai tanpa merasakan takut atau pun sakit sedikit pun. "Lo pikir satu pukulan cukup buat ngehajar orang belagu kaya lo?!!" Sahan melayang kan pukulan nya. "Heh lo udah mukul kan, itu kan yang lo mau? Udah kan? Yaudah sana pergi." Karel berdiri di depan Leo menghalangi Sahan untuk memukul Leo lagi, Karel bahkan tidak peduli kalau nanti dirinya yang akan menjadi sasaran pukulan Sahan. Setidaknya sekarang ia menghalangi untuk kembali memukul Leo. "Lo juga mau kena tonjokan gua hah??!" Teriak Sahan pada Karel yang masih berdiri di depan Leo yang hanya diam saja memerhatikan. "Nih rasain." Sahan melayangkan pukulan nya, Karel memejamkan mata nya ia tau akan hal ini pasti terjadi pada nya karena telah menghalangi nya untuk memukul Leo. Ia sudah tau akan hal ini, ia tau ini akan terjadi pada diri nya. Karel harus siap kalau sampai masuk rumah sakit nanti. "Akkhh..." Karel membuka mata nya dan melihat Leo yang sedang memutar tangan Sahan hingga Sahan membalik tubuh nya dengan yang berada di belakang punggung nya dipegangi oleh Leo. "Udah cukup," ucap Leo pada Sahan dan mendorong nya. "Makasih," ujar Karel yang balas dengan anggukan oleh Leo. Leo berjalan mendekati Allea menarik nya ke mobil, sebelum nya Leo membuka seragam nya terlebih dahulu menyisakan kaos polos yang membalut tubuh nya. Leo membuka bagasi dan menggulung seragam yang di ludahi oleh Sahan tadi dan memasukan kedalam bagasi. "Lo gak apa-apa?" tanya Allea melihat Leo yang sudah masuk kedalam mobil seraya menutup pintu nya. Leo hanya berdehem membalas ucapan Allea. "Gara-gara gua ya?" Allea berpikir Leo terkena masalah seperti ini karena dirinya, coba saja kalau tadi dirinya bisa menghindar dan tidak di sentuh oleh orang itu pasti Leo tidak akan seperti ini kan. Leo hanya diam saja tidak menjawab ucapan Allea dan terus mengendarai mobil nya menuju rumah Allea. "Lo marah sama gua?" "Enggak," balas Leo singkat, karena memang benar Leo tidak marah pada Allea. Ini juga bukan salah Allea, dia tidak tau apa-apa. Orang sok jagoan itu yang salah. Allea kembali diam sampai mobil Leo berhenti di depan rumah Allea yang terdapat beberapa polisi yang masih mengusut peristiwa kematian satpam itu. "Baju lo gua cuci ya?" tawa Allea karena merasa tidak enak. Karena dirinya itu Leo jadi harus terkena pukulan seperti ini. Leo hanya diam saja menunggu Allea turun dari mobil. "Mau mampir dulu gak? gua obati dulu luka lo." Leo menatap Allea. "Gak usah, cepet sana turun." Allea masih diam saja karena berpikir kalau Leo marah pada nya. "Gua gak marah." Allea menatap Leo tidak percaya. Leo hanya menghela napas karena tingkah Allea. "Allea." "Iya iya gua turun, makasih." Leo hanya berdehem menjawab Allea yang sudah turun dari mobil nya. Leo melihat sekeliling nya seperti biasa mencari hal yang mencurigakan, bahkan Leo juga mencurigai para polisi itu. Kemarin mata-mata yang ia perintah kan tidak sadarkan diri karena dibius, oleh pistol bius dari jauh jadi tidak ketahuan siapa yang membius kedua mata-mata yang Leo perintah kan. "Gua harus terus berhati-hati." Leo mengendarai mobil nya pulang ke rumah. Sebenarnya Leo juga khawatir kalau keluarga nya sampai terkena masalah karena musuh mengetahui kalau dirinya secret agent. Leo sempat berpikir kalau dia harus tinggal saja di apartment milik nya yang di berikan oleh ayah nya itu tapi ibu nya selalu melarang karena Leo masih bersekolah. "Pulang telat mulu sih," ujar Alvera yanng melihat adik nya baru saja turun dari mobil. Leo berjalan membuka bagasi, mengambil seragam nya tadi lalu memberikan nya pada tukang kebun disitu. "Buang, gunting dulu nama." "Kenapa baju nya?" "Jangan dipegang yang itu." Leo menunjuk kan tempat di mana Sahan tadi meludahi nya. "Kenapa?" "Jangan dipegang, gunting aja nama nya." Nama di seragam tidak boleh sembarangan dibuang menurut nya. "Iya." tukang kebun itu menggunting name tag Leo dan memberikan nya pada Leo lalu membuang seragam Leo di tempat sampah. "Makasih." Leo berjalan memasuki rumah nya. "Kenapa seragam lo dek?" tanya Alvera yang sedari tadi duduk di depan rumah. "Kena kuman." "Terus dibuang?" "Iya." "Terus apa tadi yang digunting?" "Nama." "Oh." Leo masuk kedalam rumah menuju kamar nya. Leo segera mandi tidak mau menyentuh kasur nya karena dirinya masih kotor apalagi tadi terkena bakteri, Leo tidak mau kasur nya nanti jadi kotor dan harus dibuang. Setelah mandi Leo membuka ponsel nya memeriksa pesan dan email yang terkirim. Sebelum nya Leo memeriksa apa ada tugas sekolah atau tidak. Di sekolah nya dulu, guru-guru di sana tidak memberikan nya tugas untuk dikerjakan di rumah karena tugas harus diselesaikan saat itu juga jadi tidak memiliki tugas ketika pulang ke rumah dan hanya beristirahat saja. Dan ketika sudah pindah sekolah seperti ini Leo harus mengerjakan tugas di rumah yang biasanya digunakan untuk membaca email atau membahas tentang pekerjaan secret agent nya. "Sekarang jadi jarang latihan," keluh Leo karena dirinya jadi jarang berlatih bertarung. Setiap Agent memang di bekali bela diri, dan Leo memang sejak kecil sudah di latih dengan kakek nya, kedua kakak nya pun juga sama. Jadi ketika Leo masuk dalam secret agent ini dia tidak perlu lagi berlatih dari dasar hanya perlu mengasah kembali bakat nya menjadi lebih hebat dari sebelum nya. "Leo makan malem dulu," ajak kakak pertama nya sambil mengetuk pintu nya. Sebenarnya tanpa bersuara Leo sudah tau itu kakak pertamanya –Angel, karena kalau kakak keduanya itu sudah pasti langsung masuk kamar nya tanpa menngetuk pintu terlebih dahulu. Leo membuka pintu nya dan melihat kakak nya di depan pintu. "Makan dulu." "Iya," ucap Leo sambil berjalan turun bersama kakak nya. "Gimana Leo sekolah di situ enak?" tanya Aldi selaku ayah dari Leo. Leo mengangguk menjawab pertanyaan ayah nya itu sambil mengambil makan untuk dirinya. "Enak lah, seru lagi kan buktinya Leo dapet temen tuh," balas Alvera. "Gak aneh-aneh kan tapi?" "Enggak." "Kenapa sering pulang telat?" tanya Salsha selaku ibu dari Leo. "Main mulu tuh Leo semenjak ada temen nya jadi pulang telat mulu ya kan," sahut Alvera. Leo hanya mengangguk saja. "Kamu udah punya pacar?" tanya Salsha, Leo menggeleng menjawab ibu nya. "Kalo punya pacar gak mau tau lo harus kenalin ke gua pertama kali titik," ujar Alvera. "Loh kok kamu duluan, mommy dulu lah Leo yang di kasih tau." "Kok gitu? daddy lah yang harus di kasih tau duluan." "Angel aja lah dari pada ribut." Leo hanya menghela napas, "Leo belum punya pacar." "Iya tau, tapi nanti kalo udah punya kenalin mommy dulu ya." "Alvera dulu mah." "Papah dulu dong." "Kak Angel aja ya Leo." "Terserah deh." Leo tidak habis pikir dengan keluarganya kali ini, bisa-bisa berpikir seperti itu dan lagi berebut untuk di kenali pertama kali. Leo saja tidak berpikir untuk mencari kekasih saat ini karena dirinya masih sangat muda dan sibuk, dan yang paling utama belum ada gadis yang bisa membuat Leo terpesona. *** Leo sedikit tersenyum melihat Allea yang menggunakan sepatu hitam yang kemarin di belikan oleh nya, serta seragam yang di masuk kan kedalam rok nya dengan rapi. "Sepatu gua gak lo buang kan?" tanya Allea sambil memainkan ponsel nya di sebelah nya. Leo hanya berdehem membalas ucapan Leo. Baiklah sekarang Allea seperti nya mulai terbiasa dengan sikap Leo yang satu ini. "Udah sarapan?" tanya Leo tiba-tiba tanpa menoleh kearah Allea karena dirinya tengah fokus pada jalanan di depan nya. "Belum." "Makan." "Apa?" Allea mengalihkan pandangan nya dari ponsel nya dan menatap Leo. "Itu roti." Leo menunjuk ke bangku belakang. Allea mengikuti arah tangan Leo menunjuk, disana hanya ada tas nya dan juga tas Leo. "Di dalem tas." Allea mengerti. Maksud Leo menyuruh nya makan roti yang ada di dalam tas nya kan. Allea mungkin akan membiasakan diri untuk mengerti ucapan Leo kalau sedang tidak jelas seperti ini. Allea mengambil tas Leo yang berada di bangku belakang dan membuka nya mencari roti yang dimaksud oleh Leo. "Ini?" Allea mengangkat roti isi keju dari dalam tas Leo. Leo mengangguk setelah melirik kearah Allea melihat roti di tangan nya. "Wah keju, tau aja gua suka keju." Allea kembali meletakkan tas nya di bangku belakang dan membuka roti yang berada di tangan nya. Leo melirik kearah kaca spion mobil nya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN