Part 17

1661 Kata
"Yaudah makanya ayo kesana." Vela lagi-lagi menarik Allea untuk menghampiri mereka. Lagi-lagi mau tidak mau duduk di dekat Leo, membuat tatapan-tatapan semakin menusuk Allea. "Allea kembali populer nih kaya nya," ejek Verell. "Diem deh." "Gua ada ide." "Apa?" tanya Vela yang duduk di samping Verell. Dan jangan tanya dimana Allea duduk, Karel dengan tau diri nya pindah hingga Allea duduk bersebelahan dengan Leo. Jadi Leo berada di tengah Karel dan juga Allea. "Ayo lah kita kaya dulu," usul Verell. "Kita? lo aja kali sama Allea sama Alfi, gua mah enggak," sahut Karel. Leo menatap Verell bingung tidak mengerti maksud Verell karena dirinya anak baru jadi wajar saja tidak mengerti. "Apa sih?" tanya Alfi. Nah kecuali itu Alfi, tidak wajar. "b**o emang lo mah," ucap Verell. "Jangan aneh-aneh," sahut Karel. "Lo belum tobat banget kan Allea?" tanya Verell. "Belum, dia masih suka iseng tapi cuma ke murid udah gak ke guru lagi," jawab Vela. Allea hanya diam saja mengangkat bahu nya tidak peduli dengan pembicaraan mereka semua. "Nih Leo gua kasih tau kelakuan calon pacar lo ini tuh dia bandel banget, lo liat aja penampilan nya gak mencerminkan murid baik-baik kan," jelas Verell. Leo menoleh pada Allea dan melihat dasi nya yang sudah tidak terikat rapih lagi dan hanya disampirkan di leher nya. "Tapi sepatu udah ganti jadi item," balas Vela sambil melirik Leo. "Iya satu sekolah juga tau kaya nya sepatu Allea sekarang item," sahut Alfi. "Tunggu guru BK nyamperin Leo buat bilang makasih buat Allea jadi tobat," ucap Karel membuat mereka tertawa kecuali Allea dan juga Leo. "Ayo kapan kita mulai," ucap Allea tiba-tiba karena sedari tadi dia hanya diam saja. "Wah bener nih jadi?" "Iya udah lama juga gak ngerjain orang," balas Allea. "Besok?" "Sekarang aja gimana?" "Izin dulu lah sama calon pacar lo tuh," ujar Verell. Allea menoleh pada Leo lalu kembali menatap Verell, "ngapain?" "Nanti gak di bolehin." "Apa sih, udah lah ayo pikirin rencana." "Tuh Leo liat calon pacar lo tuh," ucap Vela. "Vela apa sih?!" "Yah gak jadi terima kasih dah ini mah guru BK," sahut Karel yang kembali membuat gelak tawa mereka lepas. Leo hanya tersenyum kecil melihat interaksi mereka, apalagi ketika melihat senyuman tawa Allea. Dia bisa seperti ini padahal semalam dia sangat ketakutan hingga menangis, sangat pintar menyembunyikan rupa nya. Apa Leo bisa kembali membuat Allea tersenyum dan tertawa lepas seperti ini tanpa rasa takut, tanpa perlu menyembunyikan kesedihan nya lagi. Ini memang tugas Leo kan untuk kembali membuat hidup Allea tenang seperti sebelum nya. Seperti biasa Leo akan mengantar Allea pulang ke rumah nya. Leo dan Allea berjalan bersamaan menuju parkiran. "Mereka kayanya lagi ribut deh." Allea menunjuk segerombolan orang yang berada di parkiran. Leo berjalan mendekati mereka ketika melihat Alfi juga disana, Allea mengikuti Leo di belakang nya. "Kenapa?" tanya Allea pada orang-orang yang melihat pertengkaran di tengah sana. Karel yang tengah berkelahi dengan tiga orang dan juga Verell yang baru saja terlempar mengenai Alfi yang sedang berdiri. "Lo gak apa-apa ?" tanya Alfi pada Verell. "Sakit lah bego." "Kenapa?" tanya Leo yang berjongkok menyamai tinggi Verell yang sedang terduduk kesakitan, Alfi juga ikut berjongkok di samping Verell. "Mereka ngegores mobil Karel, terus gak mau disalahin jadi ribut," jelas Alfi. "Mampus lo," pekik orang yang tadi melempar Verell sambil meludah di dekat kaki Verell. "Heh bangs*t lo." Alfi yang tidak terima teman nya di perlakukan seperti itu ikut turun tangan menghampiri orang itu dan memukul nya, hinga mereka saling memukul. Leo yang melihat itu hanya menghela napas. "Kenapa pada gak misahin?" "Mereka gak ada yang berani misahin," ucap Verell sambil meringis kesakitan karena sudut bibir nya yang sobek. Leo melihat Karel yang sedang melawan tiga orang sekaligus dan Alfi melawan satu orang. "Karel emang paling jago berantem, dia bisa bela diri soal nya," ucap Verell sambil berdiri dibantu dengan Leo. "Lo mau kemana?" cegah Verell ketika Leo ingin menghampiri teman nya yang sedang bertarung itu. "Misahin mereka," jawab Leo. "Jangan, nanti lo malah ikutan kena lo kan gak bisa berantem kata nya." "Kan misahin doang, kasian Alfi." Alfi terlihat kewalahan dengan wajah yang sudah babak belur. "Gua aja." Verell dengan sedikit berlari membantu Alfi untuk menghajar orang itu, tapi teman mereka yang lain nya menghampiri Verell dan menghajar nya. Leo tidak mau ikut campur tapi mereka teman nya, apalagi melihat Alfi yang akan di pastikan akan kalah. Leo melihat Karel yang bisa mengatasi tiga orang itu bahkan stau diantaranya sudah sangat babak belur oleh Karel. "Lo gak bantuin?" tanya Allea yang terlihat khawatir melihat teman-teman nya di hajar seperti itu. "Kayanya gak perlu." Leo masih menatap Karel yang sedang memukul perut salah satu orang yang lebih kurus dari nya sambil menendang kepala orang yang lebih besar dari nya. "Heh lo temen mereka ya?" tanya orang yang seperti nya kelompok dari orang-orang yang bertengkar dengan teman nya itu. Leo hanya mengangguk menjawab pertanyaan orang itu. "Sini lo gua hajar." Leo menggeleng tidak mau meladeni orang tidak jelas seperti itu, dia hanya takut... "Yaudah sini cewek lo aja yang gua hajar." "Jangan bro, kita pake aja cantik sih," sahut teman nya. "Apa sih lo!" pekik Allea tidak terima di perlakukan seperti itu. "Dia gak ada masalah kan sama lo, jangan ganggu," ucap Leo pada kedua orang yang menggoda Allea. "Sok jagoan lo." "Ngaca!" ucap Allea membuat dua orang itu geram. "Sialan." Orang itu menarik Allea. "Ayo kita pake bareng-bareng," ucap nya pada ke empat teman nya. Mereka semua kalau di jumlah dengan yang bertarung dengan Karel, Verell dan Alfi jumlah mereka sekitar sepuluh orang, sebagian yang tidak ikut bertarung hanya memanas-manasi mereka dan sialan nya menggoda Allea yang tidak tau apa-apa. "Jangan ganggu dia." Leo menahan tangan orang yang menarik Allea. "Hey anak baru, gua tau lo cupu menang cakep doang." "Tau lo gak usah belagu." "Gua pukul nanti ngadu ke emak lo lagi." "Orang kaya pasti di pukul dikit masuk rumah sakit hahaha." "Leo jangan ikut-ikut an," ucap Verell yang tengah saling memukul. Leo terkekeh, bisa-bisa nya Verell masih mengingat nya disaat dirinya saja sedang tidak baik-baik saja, bahkan masih mengingat ucapan Leo yang mengatakan kalau dirinya tidak bisa bertarung. "Lepas," ucap Leo sambil mencengkram tangan pria yang masih menggenggam tangan Allea yang sudah memerah karena Allea menarik nya tidak mau di sentuh oleh orang itu. "Ah... bangs*t." pria itu melepaskan cengkraman nya dari tangan Allea, namun Leo tetap tidak melepaskan cengkraman nya pada lengan pria itu. "Allea sana jangan deket-deket," ucap nya pada Allea yang langsung dilaksanakan oleh Allea. "Jangan ganggu orang yang gak bersalah kalo tangan lo gak mau gua patahin," ancam Leo dengan wajah yang datar. "Wah belagu banget," ucap teman nya yang lain. "Akkhhh... sakit bangs*t," pekik orang yang di genggam tangan nya oleh Leo. "Pergi, sekalian ajak temen lo semua pergi dari sini." "Belagu banget lo anak baru." Salah satu teman nya ingin memukul wajah Leo namun di tahan oleh Leo menggunakan tangan yang satu nya karena tangan kanan nya masih mencengkram kencang tangan pria yang menyentuh Allea. "Kurang ajar" Teman nya yang lain ingin memukul Leo tapi dengan cepat Leo mendorong orang yang di pegang menggunakan tangan kiri nya itu hingga mereka bertabrakan dan jatuh. "Lepasin tangan gua!" "Wah nyari gara-gara lo emang anak baru." Mereka berempat bersamaan ingin menerjang Leo, namun teriakan kencang membuat mereka terdiam sesaat, ketika dengan mudah Leo menekan pergelangan tangan orang yang ia pegang tadi kebelakang hingga menimbulkan bunyi patahan tulang. Orang itu menjerit kesakitan karena pergelangan tangan yang dipatahkan oleh Leo. Bahkan mereka yang sedang saling bertarung pun terhenti ketika mendengar pekikan kencang dari orang yang pergelangan tangan nya di patah kan oleh Leo. Ya ini yang Leo takutkan, Takut melukai mereka nanti nya seperti sekarang ini. "Leo," gumam Verell tidak menyangka dengan apa yang dilihat nya. Mereka semua terdiam terkejut dengan apa yang di lakukan Leo saat ini. Mereka tidak menyangka Leo bisa melakukan ini, terutama Verell. "Nanti biaya rumah sakit gua yang tanggung," ucap Leo sambil menghempaskan lengan yang sudah ia patah kan tulang nya itu. Teman-teman nya yang lain menghampiri nya yang tengah menangis kesakitan. Leo mengerutkan dahi melihat nya, padahal tadi sok kuat dan sekarang meraung kesakitan. "b******k lo." Salah satu dari mereka yang berbadan paling besar hendak memukul Leo tapi dengan cepat Leo menahan tangan nya. Orang itu membelalak tidak menyangka ada yang bisa menahan pukulan nya, karena dia satu-satu nya orang yang terkuat di sekolah ini dan belum ada yang bisa menahan pukulan nya, bahkan Karel pun tidak bisa. Karel yang melihat itu terkejut bukan main, pasal nya itu dirinya saja yang terkenal pandai bertarung tetap tidak bisa menahan pukulan pria berbadan besar itu. Walaupun Karel jauh lebih pandai bertarung daripada pria berbadan besar itu, tapi tetap saja kekuatan pukulan pria itu tidak bisa dia tahan, karena pria itu berbadan paling besar diantara anak-anak seumuran nya. "Leo bisa nahan pukulan si raksasa?" ucap Verell masih tidak percaya dengan apa yang dilihat nya. Orang-orang yang ikut melihat pertarungan mereka di buat terkejut dengan Leo hari ini. Anak baru yang mereka pikir anak manja yang mengandalkan ketampanan nya saja ternyata se mengejutkan ini. "Gua gak mau berantem." Leo menghempaskan kepalan tangan orang itu yang sama terkejutnya dengan yang lain. "Gila Sahan aja kalah," bisik salah satu teman nya. Orang berbadan besar itu yang dipanggil Sahan seperti nya mendengar ucapan teman nya itu dan tidak terima dengan pernyataan yang dilontarkan nya. "Rasain ini." Sahan pria yang berbadan besar itu menerjang Leo. Dengan cepat Leo menghindar."Gua gak mau main-main udah sore." Leo melanjutkan langkah nya untuk menghampiri Allea yang masih terkejut dengan apa yang dilihat nya. "Lo pikir gua main-main hah?" Sahan kembai menerjang Leo. Leo dengan santai lagi-lagi hanya menghindar ia tidak mau melukai orang lagi, apalagi masih di sekitar sekolah pasti nanti orang tua ya akan di panggil, ia tidak mau membuat orang tua nya khawatir. "SIALAN!" Sahan geram dengan tingkah Leo yang terlihat sangat santai, tidak taukah Leo saat ini Sahan tengah sangat geram akan dirinya itu apalagi sekarang orang-orang melihat nya. Sahan harus mempertahankan reputasi menjadi terkuat di sekolah ini. "Gua abisin lo!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN