Leo meletakkan Allea di kasur nya dan menelfon Nanas.
"Kemana semua orang yang gua perintah buat ngawasin di sekitar rumah Allea?!"
Leo sangat tidak suka kalau perintah nya tidak di jalankan dengan baik seperti ini, rasanya Leo sangat ingin menghabisi mereka semua saat ini.
"Apa? Mereka berdua gak sadar? Sekarang dimana?"
"Iya aku ke sana sekarang." Leo menutup telfon nya lalu melirik Allea yang masih terlelap.
Leo sebenarnya ragu untuk meninggalkan Allea sekarang, takut ada sesuatu yang buruk kembali datang tapi mau bagaimana lagi, ia harus menemui Nanas dan melihat keadaan kedua mata-mata nya yang mengawasi rumah Allea itu sekarang tidak sadar kan diri.
Leo mengelus kepala Allea sebentar sebelum meninggalkan kamar Allea. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan kediaman Allea Leo sudah kembali memerintahkan pengganti untuk mengawasi kediaman Allea.
"Saya pulang dulu bi," pamit Leo pada bibi yang tinggal bersama Allea itu.
"Iya hati-hati ya," balas nya lalu kembali menjawab pertanyaan orang-orang yang sudah datang untuk melihat mayat satpam itu.
Mobil polisi dan ambulance datang bersamaan. Leo diam sejenak memerhatikan sekitar rumah Allea yang semakin di penuhi orang, Leo jadi ragu untuk meninggalkan Allea sendiri di dalam. Tidak menutup kemungkinan si peneror itu salah satu dari warga yang datang itu dan diam-diam kembali melaksanakan aksi nya dengan Allea yang sedang tertidur sendiri didalam karena bibi nya sedang sibuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pihak polisi.
Leo menghela napas mengurungkan niat nya untuk menemui Nanas dan kembali menemani Allea, sebelum nya Leo mengirimkan pesan pada Nanas terlebih dahulu mengatakan kalau ia harus menjaga Allea saat ini. Dan juga mengabarkan pada kedua orang tua dan kakak nya kalau malam ini ia menginap di rumah teman nya karena ada tugas.
Berbohong. Leo sering kali berbohong pada keluarga nya sendiri karena pekerjaan nya ini, sebenarnya Leo merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi, identitas nya tidak boleh di ketahui oleh siapapun karena nanti akan membahayakan orang lain terutama keluarga nya.
Leo ingin meminta izin terlebih dahulu pada bibi itu tapi sepertinya tidak perlu karena terlihat dia sangat sibuk bahkan terlihat kewalahan untuk menjawab semua pertanyaan nya. Leo berjalan masuk kedalam sambil memerhatikan sekitar nya apa ada yang mencurigakan.
"Mereka ternyata gak bodoh," gumam Leo sambil menyandarkan tubuh nya di sofa yang ia duduki.
Leo teringat pada ayah nya Allea, apa ia harus mengabari nya? tapi seperti nya tidak perlu, Nanas sudah memberitahu nya, lagipula Leo juga tidak mempunyai nomor ponsel ayah nya Allea.
"Papa nya bakal pulang gak ya denger kabar ini?" tanya Leo pada dirinya sendiri.
***
Leo dan Allea sudah di dalam mobil bersama untuk berangkat ke sekolah. Semalam menjadi malam yang mengerikan bagi Allea dan malam yang membuat Leo pusing. Leo tidak mengira orang itu akan melakukan hal sejauh itu bahkan sampai melenyapkan nyawa orang hanya untuk menakuti Allea.
"Makasih."
"Hm?" Leo melirik Allea yang sedang duduk di samping nya tidak bersemangat.
"Makasih semalem, maaf ngerepotin."
"Iya," balas Leo singkat.
Allea hanya terdiam memikirkan kejadian semalam, sangat tidak menyangka kalau teror kali ini sangat mengerikan, biasanya hanya bangkai hewan atau darah tapi sekarang mayat orang, bahkan Allea mengenali orang nya. Allea sangat merasa bersalah melihat keluarga dari satpam itu yang meraung menangisi kematian satpam itu, apalagi ketika melihat anak satpam itu yang terus meneriaki ayah nya. Melihat itu Allea merasa dirinya pantas di penjara karena membuat satu keluarga menangis di pekarangan rumah nya.
"Semua bakal baik-baik aja," ucap Leo.
Allea mengangkat kepala nya yang sedari tadi tertunduk lalu menatap Leo yang sedang fokus pada jalanan di depan nya.
"Satpam itu mati karena gua," ujar Allea dengan suara yang bergetar.
"Gua udah bilang kan, kalo lo masih nangis gak usah sekolah."
Allea menyentuh pipi nya yang sudah basah karena air mata nya, Allea bahkan tidak sadar kalau dirinya mengeluarkan air mata. Allea segera menghapus air mata nya ketika mendengar ucapan Leo tadi karena sebelum nya Leo menyuruh Allea jangan sekolah dulu tapi Allea tidak mau di rumah. Setelah teror yang dilaluinya ini ia selalu senang kalau harus sekolah dan merasa takut kalau waktu nya sudah untuk pulang, ia sudah tidak merasa aman lagi di rumah, ia takut, rumah tempat nya untuk berpulang beristirahat menjadi tempat yang menakutkan bagi Allea, dan sekarang semakin menakutkan.
"Kalo ada apa-apa telfon gua." Ucapan Leo menyadarkan Allea kalau diri nya sudah berada di parkiran sekolah.
"Makasih."
Allea hendak keluar dari mobil namun ditarik oleh Leo hingga kembali terduduk di bangku mobil.
"Ken..." ucapan Allea terpotong ketika Leo menarik dasi nya dan mengikat nya seperti kemarin dengan rapi. Allea mengalihkan pandangan nya agar tidak melihat wajah Leo yang berada di depan nya.
"Ma... makasih."
Allea buru-buru keluar dari mobil Leo sebelum Leo mengetahui wajah nya yang memerah tanpa alasan yang jelas. Tanpa Allea sadari Leo sudah menyadari pipi nya yang memerah itu dan tengah terkekeh melihat dirinya itu.
Leo keluar dari mobil nya dan membuka bagasi nya untuk mengambil sebuah kotak persegi panjang yang sudah ia siapkan kemarin ketika pulang sehabis bermain bersama teman-teman nya Leo menyempatkan diri nya untuk menghampiri sebuah toko untuk membelikan sesuatu yang sudah Leo katakan kemarin.
"Allea." Leo menghampiri Allea dengan langkah yang lebar untuk mengejar Allea yang sudah terlebih dahulu jalan di depan nya.
"Apa?" Allea menoleh menatap Leo yang sedang membawa kotak persegi panjang itu.
"Ganti." Leo menyodorkan kotak itu kepada Allea yang melihat nya dengan kebingungan .
"Ganti?" ulang Allea yang tidak mengerti ucapan Leo.
Leo berdecak kesal karena Allea yang tidak mengerti maksud dirinya. Leo segera berlutut di depan Allea.
"Heh lo ngapain?" Allea melihat sekeliling nya yang tengah menatap dirinya dan juga Leo.
"Wahh Leo gercep amat lo," pekik Alfi.
"Leo ih!" Allea menarik seragam di bahu Leo agar segera berdiri karena dirinya malu di lihat banyak orang seperti ini, bahkan Alfi, Verell dan juga Karel ada di sana, jangan lupakan sahabat Allea yaitu Vela yang tengah tertawa bersama teman-teman Leo.
"Leo ngapain sih?" Allea menunduk melihat Leo yang menarik kaki nya untuk membuka sepatu berwarna baby blue nya itu dan meletakkan kaki Allea yang terbalut kaos kaki di paha nya.
"Leo astaga kan bisa nanti."
Leo tidak memperdulikan ucapan Allea ataupun pandangan orang-orang yang lain. Leo memakaikan sepatu hitam sesuai peraturan sekolah yang telah ia beli kemarin, bahkan Leo membiarkan paha nya menjadi tempat pijakan kaki Allea yang tengah menahan malu.
"Lah gua kira mau di tembak," ucap Verell.
"Udah jadian kali," sahut Alfi.
"Sialan gebetan gua di ambil Allea," pekik salah satu siswi entah siapa Leo tidak mengenal nya.
"Sweet banget sialan!"
"Allea sialan gebetan gua itu woy!"
"Gila gila digantiin sepatu dong ."
"Allea auto tobat."
"Harus nya gua tuh."
"Gitu dong jadi laki!"
Allea menutup wajah nya karena malu di lihat banyak orang seperti ini ditambah dengan teriakan mereka yang menyebalkan.
"Jangan peduliin mereka," ucap Leo sebelum dirinya pergi sambil membawa kotak sepatu yang berisi sepatu baby blue Allea.
'Semoga gak dibuang,' batin Allea
Allea berjalan menuju kelas nya menunduk menghindari pandangan yang lain nya. Vela sambil tertawa menghampiri Allea.
"Lo jadian sama Leo?" tanya Vela sambil merangkul sahabat nya itu.
"Enggak!"
"Gak mungkin ih, masa Leo sweet banget gitu padahal sama cewek yang lain cuek banget tau kata yang lain."
"Gak tau."
"Ih jujur dong sama gua."
"Ya gua udah jujur itu."
"Iya iya deh, mungkin belum kali ya masih pdkt."
"Terserah," balas Allea malas dengan pembicaraan ini.
"Ah lo mah gitu aja ngambek."
"Bodo gua ngambek."
"Yaudah nanti gua traktir makan deh," bujuk Vela.
"Bener ya?"
"Iya."
"Ok gua gak ngambek lagi, udah gua maafin."
"Dasar, giliran gratisan aja lo demen."
"Makanan gratis itu paling enak," sahut Allea sambil tertawa.
Itu lah Allea di sekolah selalu bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan sahabat nya saja tidak tau kalau dirinya mengalami teror karena Allea tidak mau melibatkan sahabatnya ini. Allea tidak mau menyulitkan orang lain, cukup dirinya saja yang merasakan. Tapi entah kenapa sejak Leo mengatakan akan melindungi nya Allea dengan mudahnya menceritakan semua teror yang di alaminya, dan bahkan semalam pun Allea menelfon Leo, harusnya Allea menghadapi nya sendiri tanpa melibatkan orang lain kan.
Yang ditunggu-tunggu datang, bel istirahat Allea tidak sabar untuk menikmati makanan gratis nya sekarang.
"Ayo cepet gua laper." Allea menarik Vela menuju kantin.
"Allea lo pacaran sama Leo?" tanya anak kelas sebelah yang Allea saja tidak tau siapa nama nya.
"Eng..."
"Iya," potong Vela.
"Ih eng..."
"Ayo nanti keburu gak dapet bangku di kantin." Sekarang giliran Vela yang menarik Allea menuju kantin.
"Vela maksud lo apa bilang gitu hah?!" tanya Allea setelah memesan makanan.
"Biarin aja, biar dia panas. Dia tuh dari awal Leo dateng dia suka sama Leo."
"Ya aturan lo jangan bilang gitu lah nanti gua dilabrak gimana."
"Lea?" Vela menatap Allea bingung.
"Kenapa?" tanya Allea heran kenapa sahabat nya ini menatap nya seperti itu.
"Sejak kapan lo takut dilabrak hah?"
"Gua gak takut, cuma ... "
"Nih neng mie ayam nya," ucap abang penjual mie ayam itu sambil memberikan dua mangkuk mie.
"Iya makasih bang."
"Cari tempat duduk sana, gua mau ambil pesenan minum kita dulu," usir Vela.
"Iya."
Allea melihat-lihat sambil mencari bangku yang kosong. Allea berdecak kesal karena hampir seluruh kantin menatap dirinya sambil berbisik-bisik.
"Nyebelin banget sih," gumam Allea.
"ALLEA SINI."
Allea menoleh melihat Verell melambaikan tangan nya menyuruh Allea untuk menghampirinya. Allea tau disana pasti ada Leo, Allea tidak mau dekat-dekat dengan Leo nanti akan membuat tatapan-tatapan itu semakin banyak nanti.
"Allea ngapain diem aja itu dipanggil sama Verell tuh," ucap Vela yang sudah datang membawa dua gelas teh manis dingin.
"Lagi nyari bangku sekalian nungguin lo," balas Allea tidak mau melihat kearah Verell yang menyuruh nya untuk duduk disana, bahkan Alfi teman sekelas nya pun ikut meneriaki nya untuk duduk disana.
"Malu-malu in ih sumpah teriak-teriak gitu," ucap Allea.
"Ya...